
Setelah selesai mentertawai ku, bang Rian pun turun dari atas ranjang. Kemudian dia memakai pakaian dan sepatu pantofel nya.
"Kamu udah lapar belum, Ndah?" tanya bang Rian.
"Udah, emang nya kenapa, bang?" tanya ku balik.
"Kita cari makan di luar, yok!" ajak bang Rian.
"Oke," balas ku.
Aku bergegas memakai pakaian dan memoles sedikit wajah. Setelah itu, aku mengambil tas yang ada di atas meja rias, dan keluar dari dalam kamar bersama bang Rian, sambil bergandengan tangan menuju parkiran mobil.
Sampai di dalam mobil, bang Rian pun mulai menjalankan kendaraan nya secara perlahan ke jalan raya.
"Mau makan apa, sayang?" tanya bang Rian.
"Hmmmm, enak nya makan apa ya?" jawab ku bingung.
Melihat kebingungan ku, bang Rian pun kembali bertanya pada ku.
"Gimana kalau kita cari rumah makan yang ada di pinggir laut?" tanya bang Rian lagi
"Boleh, seru juga kayak nya tuh." jawab ku dengan senyum yang mengembang.
Bang Rian melihat ku sekilas, kemudian dia kembali menatap ke jalanan yang ada di depan nya.
"Naaah, gitu dong sayang! Kalau kamu tersenyum seperti itu, kamu jadi kelihatan semakin bertambah cantik loh." puji bang Rian sembari mencuri-curi pandang pada ku.
"Helehh, pintar banget gombal nya." balas ku sambil memanyunkan bibir.
"Bukan gombal, sayang. Abang memang ngomong apa ada nya kok. Kamu itu memang cantik luar dalam." balas bang Rian.
"Ya ya ya, terserah abang aja!"
Jawab ku semakin memanyunkan bibir ku ke depan. Dan itu berhasil membuat bang Rian tertawa terbahak-bahak, karena melihat wajah ku yang sangat lucu menurut nya.
"Hahaha, jangan manyun gitu lah bibir nya, Ndah! Abang jadi gak tahan nih lihat nya. Abang jadi pengen gigit bibir manis mu itu, sayang."
Bang Rian tertawa sembari melontarkan rayuan maut nya kembali pada ku.
"Nanti di kamar aja kalau mau gigit-gigitan. Sekarang kita ngisi tenaga dulu buat ngelanjutin tempur kita nanti." balas ku.
"Hehehe, bener juga ya. Emang nya nanti kita mau tempur berapa ronde lagi, sayang?" tanya bang Rian.
"Terserah abang mau berapa, kalau aku sih sampe berapa ronde pun masih sanggup kok." tantang ku.
"Wiiih, nantang nih ceritanya?" tanya bang Rian dengan menampilkan senyum aneh nya.
"Iya, aku tantang abang. Lakukan lah sampai seberapa abang sanggup nya!" lanjut ku lagi.
"Oke, siapa takut! Kita akan buktikan nanti di kamar."
Balas bang Rian sembari menoleh sekilas dan mengerlingkan sebelah mata nya pada ku.
"Oke, deal ya!" ujar ku.
"Iya, deal." balas bang Rian.
Setelah membuat kesepakatan, aku mendekat kan wajah ku ke pipi bang Rian dan, "cup" aku mengecup pipi kiri nya dan bergelayut manja di bahu nya.
Mendapatkan perlakuan manja dari ku, bang Rian pun tersenyum dan membelai pipi ku dengan tangan kiri nya. Sedangkan tangan kanan nya, dia gunakan untuk memegang stir kemudi nya.
Tak lama kemudian, bang Rian pun membelokkan mobil nya dan memarkirkan kendaraan roda empat nya itu, di depan rumah makan seafood yang berada tepat di pinggir pantai.
"Ayo turun, sayang! Kita udah nyampe nih."
Ajak bang Rian sembari membelai rambut panjang ku, yang tergerai bebas di belakang punggung ku.
"Oh oke, bang." balas ku.
Aku dan bang Rian keluar dari mobil, lalu berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam rumah makan seafood, yang cukup ramai pengunjung nya tersebut.
Sampai di dalam, kami berdua celingukan kesana kemari untuk mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Itu ada tempat yang masih kosong, Ndah. Ayo kita ke sana!"
Seru bang Rian sembari menunjuk ke arah pojok kanan. Pandangan mata ku mengikuti arah telunjuk bang Rian, lalu aku pun mengangguk sebagai jawaban.
Bang Rian terus saja menggandeng tangan ku untuk melewati orang-orang yang sedang menyantap makanan nya.
Dia sama sekali tidak perduli, walaupun banyak mata yang sedang menatap kami berdua. Dia tetap saja menggandeng ku sampai di tempat yang di tunjuk nya tadi.
Setelah sampai, aku dan bang Rian duduk bersebelahan menghadap laut yang terbentang luas di depan kami.
"Mau pesan apa, sayang?" tanya bang Rian.
Dia membuka buku menu yang sudah tersedia di atas meja.
"Sama in kayak pesanan abang aja!" jawab ku.
"Oh, ya udah kalo gitu." balas bang Rian.
__ADS_1
Setelah beberapa saat melihat buku menu, bang Rian pun memanggil pelayan laki-laki yang sedang melayani pelanggan lain nya.
"Mas, sini!" pekik bang Rian sambil melambaikan tangan nya.
"Bentar ya, pak!" balas si pelayan.
Tak lama berselang, pelayan laki-laki itu pun datang menghampiri kami berdua, sambil membawa buku catatan kecil dan pena di tangan nya.
"Mau pesan apa, pak?" tanya si pelayan.
"Yang ini, ini sama yang ini juga ya! Minum nya jus markisa dua." jawab bang Rian sembari menunjuk beberapa makanan yang ada di buku menu.
"Oke, pak. Mohon di tunggu sebentar ya, pak!"
Jawab si pelayan dengan ramah, lalu dia pun melangkah pergi dari hadapan kami berdua.
"Oke, mas." balas bang Rian.
Selesai memesan makanan, bang Rian menggenggam kedua tangan ku yang sedang berada di atas pangkuan ku.
"Sayang, nanti malam kamu gak usah kerja ya! Kita nginap satu malam lagi di hotel, gimana mau gak?" tanya bang Rian.
"Hah, satu malam lagi?" tanya ku balik dengan mata yang mendelik menatap bang Rian.
"Iya satu malam lagi, kenapa emang nya? Kamu gak mau ya?" tanya bang Rian lagi.
"Bu-bukan nya gak mau, bang. Tapi..."
"Tapi apa, sayang? Masalah kerjaan mu ya?" tebak bang Rian.
Aku langsung mengangguk mengiyakan ucapan bang Rian. Aku bingung mau menjawab apa kepada bang Rian.
Sebenarnya bukan masalah kerjaan saja yang sedang aku pikirkan. Tapi aku juga memikirkan Haris dan bang Hendra. Mereka berdua pasti akan kecarian kalau tidak ada kabar dari ku.
"I-iya, bang." jawab ku gugup.
"Oh, kalau soal itu sih gampang. Emang berapa denda nya kalau kamu libur kerja satu malam?" tanya bang Rian.
"Dua ratus ribu, bang." jawab ku jujur.
"Oh ya udah, nanti abang ganti uang denda nya itu!" balas bang Rian.
"Ta-tapi, bang..."
Belum sempat aku meneruskan ucapan ku, bang Rian pun kembali memotong kata-kata ku.
"Gak ada tapi-tapian lagi! Abang gak mau mendengar apapun alasan mu lagi." balas bang Rian.
"Anak pintar."
Ujar bang Rian tersenyum sembari mengacak-acak rambut ku. Setelah itu, dia mendekat kan punggung tangan ku ke hadapan nya, lalu dia pun mencium nya sampai berulang-ulang kali.
Aku tersenyum kecut melihat tingkah bang Rian yang di lakukan nya di depan banyak orang.
Selesai menciumi punggung tangan ku, bang Rian mendekat kan kursi nya dengan ku dan melingkarkan tangan nya ke pundak ku.
Beberapa menit kemudian, sang pelayan pun tiba dengan dua nampan yang berisikan makanan di kedua tangan nya.
"Silahkan di nikmati hidangan nya, pak, buk!"
Tutur si pelayan sambil membungkuk kan sedikit badan nya. Kemudian dia pun berlalu pergi, kembali melayani pelanggan yang lain nya.
"Ayo kita makan, sayang! Kamu pasti udah lapar kan?" tanya bang Rian.
"Iya bener, kok abang bisa tau sih?" tanya ku balik.
"Ya tau lah, sayang. Tadi kan abang ada dengar suara nyanyian dari dalam perut mu ini, hihihi." jawab bang Rian.
Bang Rian mengelus-elus perut ku sambil cekikikan sendiri. Aku yang merasa malu pun hanya bisa nyengir kuda, menanggapi ledekan bang Rian barusan.
Tanpa basa-basi lagi, aku dan bang Rian pun langsung menyantap hidangan lezat yang sudah tertata rapi di atas meja.
Tak butuh waktu lama, akhirnya semua makanan itu pun sudah ludes tak bersisa. Setelah selesai makan, aku langsung mengajak bang Rian untuk kembali ke hotel.
"Balek yok, bang! Mata ku ngantuk banget nih." ujar ku.
"Lah, udah kayak pacet aja wanita ku ini." ledek bang Rian
"Sembarangan bilangin orang pacet!" gerutu ku menepuk pelan lengan bang Rian.
"Hahahaha, kan emang bener dirimu kayak pacet yang ada di sawah-sawah itu. kalau udah kenyang menghisap darah, dia pasti akan jatuh sendiri." jawab bang Rian sembari tergelak.
"Hihihi, iya juga ya." balas ku cekikikan.
"Ya habis nya mau gimana lagi, mata ku udah ngantuk berat nih. Pengen tidur aja bawaan nya." lanjut ku.
"Ya udah deh, ayo kita bayar makanan dulu kesana! Siap tu kita langsung balek ke hotel." ujar bang Rian menunjuk ke arah meja kasir.
"Ayo," balas ku.
Aku dan bang Rian pun bangkit dari tempat duduk masing-masing, lalu melangkah kan kaki menuju meja kasir.
__ADS_1
Sesudah membayar tagihan makanan, kami berdua pun kembali melangkah ke arah parkiran mobil, dan langsung masuk ke dalam kendaraan tersebut.
Selesai memasang sealbeat masing-masing, bang Rian mulai melajukan mobil nya menuju hotel tempat kami menginap. Tak lama kemudian, kami pun sudah tiba di tempat tujuan.
"Udah nyampe, sayang. Mari kita keluar!" ajak bang Rian.
"Oke siap, bos ku." balas ku.
Setelah memarkirkan mobil nya di depan gedung hotel, bang Rian langsung menggenggam tangan ku dan mengajak ku untuk berjalan beriringan bersama nya.
Aku dan bang Rian persis seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Ke sana kemari selalu saja bermesraan dan bergandengan tangan. ABG tua lah istilahnya, hahaha.
Sesampainya di dalam kamar, aku langsung membuka baju dan celana lalu meletakkan nya di atas nakas.
Hanya dengan memakai pakaian dalam saja, aku segera bergegas naik ke atas ranjang dan berbaring telentang menatap langit-langit kamar.
Sedangkan bang Rian, dia malah terbengong melihat tingkah ku yang tampak sedikit aneh menurut nya.
"Kamu beneran ngantuk ya, sayang?" tanya bang Rian.
"Enggak, bang. Aku cuma pengen baring-baring aja. Pegel banget pinggang ku kalo kelamaan duduk." jawab ku santai.
"Loh, berarti tadi kamu bohong dong sama abang?" selidik bang Rian.
"Iya, hehehe." jawab ku cengar-cengir salah tingkah.
"Oalah, kirain tadi ngantuk beneran. Ternyata cuma bohongan toh." balas bang Rian.
Aku tidak menanggapi ucapan bang Rian lagi. Aku kembali memikirkan Haris dan bang Hendra.
Mereka berdua pasti akan kepikiran dengan ku. Apa lagi ponsel memang sengaja aku nonaktifkan dari semalam, agar tidak ada yang mengganggu kebersamaan ku dengan bang Rian.
"Aduuuh, gimana ini?Aku harus cari alasan apa ya? Apa aku bilang aja ya sama mereka, kalau aku lagi nginap di tempat Ririn." batin ku bingung.
"Wah, ide bagus tuh. Mudah-mudahan aja mereka berdua percaya, kalau aku nginap di tempat Ririn." lanjut ku lagi.
Setelah beberapa saat berperang dengan isi kepala, akhirnya aku pun beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel dari dalam tas.
Bang Rian yang sedang membuka pakaian nya pun tampak heran, melihat gelagat aneh ku sedari tadi. Karena penasaran, bang Rian pun kembali membuka suara nya.
"Mau ngapain, sayang?" tanya bang Rian menautkan kedua alisnya.
"Mau ngabarin Lisa, bang. Aku mau minta izin untuk libur malam ini." jawab ku.
"Oh, kirain mau ngubungi siapa." balas bang Rian lega.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Rian pun melanjutkan aktivitas nya yaitu membuka seluruh pakaian nya.
Lalu dia duduk bersandar di bahu ranjang dengan bantal yang ada di punggung nya.
Bang Rian terus saja memperhatikan gerak-gerik ku dari tempat duduk nya. Dia tampak curiga dengan gelagat ku yang terlihat sedikit gugup di depan meja rias.
"Lis, malam ini aku izin of ya!"
Aku mengirim kan pesan teks kepada Lisa, dan tak butuh waktu lama Lisa pun langsung menjawab nya.
"Oke, Ndah." balasan pesan dari Lisa.
Setelah selesai mengirim pesan kepada Lisa, aku lanjut mengirim pesan kepada Haris dan bang Hendra.
"Bang, dua malam ini aku nginap di kos-kosan Ririn. Ada urusan penting yang harus kami selesai kan."
Aku mengirim kan kata-kata itu untuk Haris dan bang Hendra. Tanpa menunggu balasan dari mereka berdua, aku pun langsung menonaktifkan ponsel ku kembali, lalu menyimpan nya ke dalam tas ransel hitam ku.
"Udah selesai, sayang?" tanya bang Rian.
"Udah, bang. Lisa udah mengizinkan ku untuk libur malam ini." jawab ku.
"Oh, syukur lah kalau gitu." balas bang Rian.
Aku merangkak naik ke atas ranjang, lalu menyadarkan kepala ku di bahu bang Rian. Aku membingkai dada bidang bang Rian dengan jari-jari ku, sembari berucap...
"Kenapa abang meminta ku untuk menginap lagi malam ini?" tanya ku.
"Abang harus jawab jujur atau bohong?" tanya bang Rian balik.
"Ya jujur lah, bang. Masa bohong sih, aneh-aneh aja." gerutu ku.
"Hahahaha," bang Rian langsung tertawa ngakak mendengar ocehan ku.
"Hmmmm, kasih tau gak ya!" canda bang Rian.
"Iiihhhh, di tanyain bener-bener kok malah bercanda terus kerjaan nya." gerutu ku sembari mencubit pinggang bang Rian.
Alhasil, bang Rian pun langsung memekik keras akibat kejahilan tangan ku barusan.
"Adoooh, sakit pinggang abang, sayang!"
Bang Rian meringis kesakitan sambil mengelus-elus bekas cubitan ku.
"Kapok, siapa suruh bercanda terus dari tadi, hihihi!" cibir ku.
__ADS_1
Aku cekikikan melihat raut wajah bang Rian yang berubah masam sambil mengerucutkan bibir nya.