
Setelah selesai makan, aku dan Ririn kembali bergabung dengan teman-teman lainnya.
Waktu terus bergulir, satu jam kemudian datang lah tamu sebanyak dua mobil yang berisikan delapan orang di dalam nya.
Selesai memarkir kan kendaraan roda empat nya, mereka semua berjalan menuju pintu masuk. Lisa sang kapten kami pun turut mengikuti langkah mereka dari belakang.
Setelah para tamu lelaki itu duduk, Lisa menanyakan pesanan minuman kepada salah satu lelaki itu.
"Mau pesan minuman apa, bang?" tanya Lisa dengan ramah.
"Minuman hitam sepuluh botol ya, dek! Sama rokok nya delapan bungkus, dan kacang kulit nya empat bungkus! Satu lagi, dek. Panggil para cewek kesini delapan orang ya!" jawab lelaki itu pada Lisa.
"Oke siap, bang." balas Lisa.
Lisa bergegas berjalan menuju ke meja kasir untuk memesan minuman. Setelah itu, Lisa kembali keluar ruangan dan memanggil kami para waiters, yang sedang duduk di bangku panjang.
"Girls, tamu butuh delapan orang untuk menemani mereka di dalam! Ririn, Rara, Santi, Yani, Diana, Tia, Yumi, Indah. Kalian semua masuk ya!" titah Lisa.
"Sekalian bawa kan minuman mereka yang ada di kasir!" tambah Lisa.
"Oke siap, kapten!" balas kami bersamaan.
Setelah mendapat kan perintah dari Lisa, kami langsung bergegas masuk ke dalam ruangan karaoke.
Kami segera membawa kan minuman rokok dan cemilan, yang sudah di sediakan oleh Billy di meja kasir.
Sesampainya di meja tamu itu, kami para waiters langsung menuangkan minuman ke dalam gelas-gelas yang sudah tersedia di atas meja.
Setelah semua gelas terisi, teman ku Rara bertanya kepada lelaki itu sambil mengambil kertas kecil dan pena yang sudah tersedia di dalam kotak tisu.
"Mau nyanyi lagu apa, bang?" tanya Rara.
Para tamu lelaki itu pun langsung menyebut kan judul lagu nya masing-masing.
Setelah selesai mencatat semua lagu permintaan mereka, Rara segera berjalan ke ruangan DJ dan menyerahkan kertas kecil itu kepada sang DJ.
Lalu kemudian, Rara pun menerima dua buah microfon dari sang DJ.
Acara pun di mulai, para lelaki itu mulai meminum minuman nya. Mereka bernyanyi dan berjoget ria bersama pasangan nya masing-masing.
Lelaki yang aku temani mulai membuka suara nya menanyakan nama ku. Dia mengulurkan tangan nya pada ku, dan aku pun menyambut uluran tangan nya sambil menyebut kan nama ku.
"Nama nya siapa, dek?" tanya lelaki itu.
__ADS_1
"Indah, bang." jawab ku.
"Ohh, Indah. Kalau aku Heru, dek. Kamu udah lama kerja disini, dek?" tanya nya lagi.
Heru kembali bertanya sambil menatap wajah ku.
"Udah setahun, bang. Emang nya kenapa, bang?" tanya ku penasaran.
"Oh, gak papa. Cuma tanya aja kok, dek." jawab Heru.
"Oh, kirain ada apa." balas ku.
Heru tersenyum pada ku dan kembali berbincang dengan teman yang ada di sebelah nya.
Setelah selesai tanya jawab dengan Heru, aku mengangkat gelas milik Heru dan memberikan minuman itu pada nya.
"Mari kita bersulang, guys!"
Aku memekik dan mengangkat gelas ku ke udara. "Cheers" mereka semua pun melakukan hal yang sama dengan ku.
Malam semakin larut, para tamu lain nya pun mulai berdatangan memenuhi meja-meja yang masih kosong.
Suasana di dalam ruangan karaoke ini pun semakin ramai dan meriah dengan suara canda tawa, dan segala macam tingkah aneh mereka tentunya.
Di tambah lagi dengan lampu kelap-kelip dan dentuman musik DJ yang cukup memekakkan telinga, semakin menambah keseruan mereka semua.
Selesai pembayaran tagihan minuman di meja kasir, para tamu lelaki itu pun keluar ruangan. Mereka berjalan ke parkiran menuju kendaraan roda empat mereka.
"Dek, abang pulang dulu ya!" pamit Heru.
Heru berpamitan pada ku sambil membuka dompet nya. Dia mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribuan.
Heru menggenggam tangan ku dan menyelipkan uang itu ke dalam nya. Aku langsung mencium punggung tangan nya takzim.
"Makasih ya, bang." ujar ku.
"Kapan-kapan kalau abang kesini lagi, kamu mau kan temani abang lagi, dek?" tanya Heru penuh harap.
"Iya aku mau, bang." jawab ku.
Aku mengangguk kan kepala dan tertunduk malu di hadapan Heru.
"Ya udah kalo gitu, abang pamit dulu ya, dek!" ujar Heru.
__ADS_1
"Oke, bang. Hati-hati di jalan ya, bang." balas ku.
Heri mulai melangkah menuju mobil nya, sambil melambaikan tangan nya padaku. Aku membalas lambaian tangan nya sambil tersenyum manis pada nya.
"Lumayan, dapat uang makan buat besok." gumam ku pelan.
Setelah kepergian Heru, aku kembali masuk ke dalam ruangan dan berjalan menuju tempat penyimpanan tas para waiters.
Setelah mengambil tas, aku kembali berjalan keluar dan langsung pulang ke kos.
Sesampainya nya di depan pintu kamar, aku membuka langsung pintu dan melangkah masuk ke dalam sambil mengucap kan salam.
"Assalamualaikum."
Aku menutup pintu kembali dan mengunci nya dari dalam.
"HAH, capek nyaa." gumam ku.
Aku membuang nafas kasar dan membuka sepatu, lalu meletakkan tas di atas meja.
Aku bergegas berganti pakaian, dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Selesai membersihkan diri, aku kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang sambil menyandarkan punggung ke dinding.
Dengan posisi kaki selonjoran di atas kasur, aku menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan. Aku mulai merenung dengan tatapan kosong lurus ke depan. Aku terus menghisap rokok yang ada di tangan ku itu.
"Andai ayah tau, betapa tersiksanya aku bekerja seperti ini. Setiap malam aku harus menemani pada lelaki hanya untuk mendapatkan uang." batin ku.
"Andai ayah tau, betapa hina nya pandangan orang-orang pada ku sekarang karena pekerjaan ku ini."
"Andai ayah tau, betapa sakit nya badan ku ini karena harus meminum minuman keras setiap hari nya."
"Dan andai ayah tau, kalau aku terpaksa menjadi wanita penghibur seperti ini, hanya untuk mendapatkan banyak uang demi memenuhi semua permintaan nya."
"Aku lelah, aku capek hidup seperti ini, ya Allah."
"Kapan kah kata-kata "akan indah pada waktunya" itu datang menghampiri hamba mu yang hina ini, ya Allah?"
Aku menangis sesenggukan mengingat nasib hidup ku yang penuh dengan dosa ini. Aku berucap dengan linangan air mata di pipi ku. Aku sedih, aku terluka, aku kecewa, pada ayah kandung ku sendiri.
Yang tega mengorbankan hidup ku, demi memenuhi kebutuhan anak-anak nya yang lain. Tanpa memperdulikan nasib ku di tanah perantauan ini.
Setelah kurang lebih satu jam merenung, aku mulai membaringkan diri di atas kasur. Aku pun mulai menarik selimut sampai ke dada.
__ADS_1
Setelah itu, aku memeluk guling dan memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, aku pun tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi.
"Semoga saja mimpi buruk ini cepat berlalu. Semoga saja hari esok akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Amin amin ya rabbal a'lamin." doa ku sebelum tidur.