
Haris kembali membawa tubuh ku ke dalam dekapan nya. Aku pun langsung menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.
Sambil memeluk dan membelai rambut panjang ku, Haris pun kembali bertanya tentang perlengkapan untuk berangkat besok.
"Barang-barang yang mau di bawa besok, udah pada di siap kan belum?" tanya Haris.
" Udah beres semua, tuh!" balas ku.
Aku menunjuk ke arah koper dan bungkusan yang ada di samping kemari pakaian.
"Oh, kirain belum di siap kan." balas Haris.
"Udah dong, cayang." balas ku manja.
"Ndah, berhubung malam ini malam terakhir kita. Boleh gak abang minta ehem-ehem?" tanya Haris.
Aku langsung tersenyum saat mendengar permintaan Haris, dan aku pun kembali berpura-pura polos untuk menggoda lelaki ku itu.
"Ehem-ehem itu apa?" tanya ku.
"Ndah...Ndah...Pake tanya pulak, kayak anak kecil aja pake acara tanya segala." balas Haris.
Haris memprotes pertanyaan ku yang terdengar konyol di telinga nya. Dia mencubit hidung ku karena saking gemas nya dengan ucapan ku tadi.
"Masa harus abang jelas kan sedetail-detailnya, sih" lanjut Haris lagi.
"Oalah, kirain apa an. Hahaha, baru paham aku." balas ku.
Aku langsung tertawa lepas setelah mendengar ocehan Haris. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung menyetujui permintaan nya.
"Boleh dong, sayang. Aku hanyalah milik mu seorang untuk saat ini dan seterusnya." balas ku meyakinkan Haris.
"Iya, abang percaya kok. Makasih ya, sayang." balas Haris.
Haris kembali mengecup kening ku dan mempererat pelukan nya di pinggang ramping ku. Setelah mendapat kan persetujuan dari ku, Haris pun tidak ingin membuang-buang waktu lagi.
Dia mulai menggerayangi tubuh ku, dan menciumi seluruh wajah dan tubuh ku tanpa terlewatkan satu inci pun.
Mendapatkan cumbuan dan sentuhan lembut dari Haris, aku pun tidak tinggal diam begitu saja. Aku juga tidak mau kalah untuk membalas semua cumbuan nya.
Dan akhirnya, pergumulan panas pun terjadi. Malam yang panjang kami lewati dengan bercucuran keringat di atas kasur. Aku dan Haris saling memberi dan menerima satu sama lain.
Setelah pergumulan panas yang berulang-ulang kali itu berakhir, aku dan Haris pun akhirnya tertidur lelap. Kami berdua saling berpelukan di bawah selimut tanpa sehelai benang pun.
Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa hari sudah terang benderang. Suara riuh kendaraan bermotor yang berlalu-lalang pun, mulai mengganggu kegiatan tidur kami berdua.
Di sekitaran kos ku, memang sangat langka terdengar suara kicauan burung di pagi hari. Karena posisi kos-kosan ku ini terletak di tengah-tengah kota Batam yang padat penduduk.
__ADS_1
Jadi ya, yang terdengar hanyalah suara berisik dari kendaraan bermotor saja. Setiap pagi, siang, sore, dan malam tentu nya.
Aku mulai membuka mata perlahan, dan merenggang kan pelukan Haris yang tidak lepas-lepas dari semalam.
"Mungkin dia takut kalau aku di culik wewe gombel kali. Maka nya dia terus memeluk ku sampai pagi." gerutu ku dalam hati.
Setelah berusaha melepaskan diri dari pelukan Haris, aku mulai menggeliat-geliat kan tubuh ku yang masih terasa sangat pegal dan kaku.
Setelah itu, aku mengucek-ngucek mata dan melirik jam dinding sambil menguap lebar.
"Hoam, jam berapa ini ya?" gumam ku
"HAH, udah jam tujuh!" pekik ku.
Aku langsung terkejut dan membelalakkan mata, setelah melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Bangun, bang! Udah jam tujuh, tuh. Nanti terlambat pulak berangkat nya." seru ku.
Aku membangun kan Haris sambil menguncang-guncang pelan lengan nya. Haris yang masih setia dengan mimpi indah nya itu pun langsung tersentak kaget mendengar suara ku.
Setelah Haris membuka mata, bukan nya beranjak dari kasur Haris malah kembali memeluk tubuh ku dan menyelimuti ku kembali.
"Iiihhh, apaan sih, bang. Ayok bangun, nanti aku bisa terlambat check in nya loh!" rengek ku manja.
Aku merengek pada Haris dan kembali melepaskan diri dari pelukan nya yang semakin erat di tubuh ku.
"Iiiisss, mulut masih bau jigong pun malah minta cium pulak." gerutu ku.
Aku meledek Haris sambil berpura-pura menutup hidung. Melihat tingkah ku itu, Haris malah semakin kekeuh dan ngeyel dengan permintaan nya.
"Mana ada bau jigong, sayaang. Wangi gini kok di bilang bau pulak." balas Haris.
"Huh, dari pada gak siap-siap ngoceh nya, mendingan aku ngalah aja lah." batin ku pasrah.
"Cup, udah!" ujar ku.
Akhirnya aku pun mengalah dan mencium kilat bibir Haris. Bukan nya senang, Haris malah protes dengan kecupan kilat ku tersebut.
"Kok cuma gitu aja sih? Lagi lah, yang agak lama nyium nya!" pinta Haris.
Karena saking kesal dan jengkel nya dengan Haris, aku pun langsung mencium bibir nya dengan rakus dan menggigit pelan lidah nya.
"Adoooh! Sakit, Ndah." pekik Haris.
Haris langsung memekik kuat karena mendapatkan gigitan berbisa dari ku. Dia memegangi lidah nya sambil meringis kesakitan.
"Kapok, siapa suruh minta yang aneh-aneh! Udah tau waktu nya mepet gini masih aja banyak tingkah." balas ku kesal.
__ADS_1
Setelah mendengar ocehan ku, Haris bukan nya beranjak dan bergegas mandi. Dia malah kembali meminta jatah pada ku. Dia merengek dan bergelayut manja di lengan ku.
"Sekali lagi yok, Ndah! Ini yang terakhir loh. Bakalan lama lagi kita ketemu nya. Mau ya, sayang?" pinta Haris.
Tanpa mendapatkan persetujuan dari ku, Haris pun langsung mencium kembali bibir ku dengan lembut.
"Hadehh, dasar semprul. Udah tau jam nya mepet gini, bisa-bisa nya dia minta jatah lagi." gerutu ku dalam hati.
Dan akhirnya, aku pun hanya bisa pasrah menerima perbuatan Haris yang bisa membuat ku melayang-layang tersebut.
Haris kembali melancarkan aksi nya di atas tubuh ku, dengan ganas dan semangat empat lima.
Dia kembali menggerayangi seluruh tubuh ku dari atas sampai bawah. Haris pun mulai berpacu dengan gerakan cepat, dan keringat yang mengucur di seluruh tubuh nya.
Olahraga pagi yang penuh dengan keringat pun akhirnya terjadi lagi, lagi dan lagi di kamar kos ku.
Dengan gairah yang semakin menggebu-gebu, Haris tidak henti-hentinya memacu gerakan nikmat nya pada ku.
Setelah kurang lebih setengah jam, akhirnya Haris pun selesai dengan kegiatan panas nya. Dia pun langsung ambruk di atas tubuh ku.
"Makasih ya, sayang ku." tutur Haris.
Haris mengecup kening ku tanda terima kasih nya pada ku. Aku hanya tersenyum manis menanggapi ucapan nya.
Setelah pergumulan panas selesai, aku dan Haris pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.
Setelah itu, kami langsung memakai pakaian dan bersiap-siap untuk berangkat ke bandara Hang Nadim Batam.
"Udah siap semua, Ndah? Mau makan dulu, gak?" tanya Haris.
Haris bertanya sambil memakai sepatu nya dan menyampirkan tas kecil di lengan kiri nya.
"Gak usah, bang. Aku makan nya di bandara aja nanti." balas ku.
"Jaga diri baik-baik di sana ya, sayang! ujar Haris.
Haris kembali memeluk ku sambil mengecup kening dan kedua pipi ku. Aku pun langsung membalas pelukan nya, dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.
"Iya, bang. Abang juga jaga diri baik-baik di sini ya, jangan nakal-nakal dan jangan keluyuran malam!" balas ku.
"Siap, sayang. Abang akan selalu setia menanti kepulangan mu." balas Haris.
"Janji ya, bang!" ujar ku.
Aku mengarahkan jari ku ke hadapan Haris, dia pun menyambut jari ku dan mengeratkan nya.
"Ya udah, ayok kita jalan!" ajak ku.
__ADS_1
Haris langsung mengangguk dan menarik koper ku keluar dari kamar menuju ke lantai satu. Aku pun langsung menggandeng lengan Haris dan berjalan beriringan dengan nya.