
Setelah kepergian Alex, kami pun kembali bersenang-senang. Suara hiruk pikuk tamu-tamu dan keras nya suara dentuman musik, semakin menambah semarak suasana di tempat karaoke kami.
Sekitar dua jam kemudian, minuman yang ada di meja kami pun habis. Hanya menyisakan botol-botol kosong, dan sampah kacang yang berserakan dimana-mana.
Dengan keadaan kepala yang sedikit puyeng, akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, aku pun menoleh kepada bang Hendra, lalu bertanya...
"Minuman nya udah habis tuh, bang. Mau nambah lagi atau gimana?" tanya ku dengan mata sayu, dan rambut yang sedikit berantakan.
"Udah cukup, gak usah nambah lagi. Kepala abang udah mulai pusing nih. Kita langsung istirahat di hotel aja." jawab bang Hendra sambil memegangi kepala nya.
"Oh, ya udah kalo gitu." balas ku.
"Ambil nota nya sana, Ndah! Biar kita cabut dari sini." titah bang Hendra.
"Oke, tunggu bentar ya!" balas ku lalu beranjak dari kursi, lalu melangkah sempoyongan ke arah meja kasir.
Setelah beberapa langkah berjalan, akhirnya aku pun tiba di meja kasir, dan langsung meminta Billy untuk menghitung tagihan minuman bang Hendra.
"Bil, hitung minuman kami!" titah ku pada sang kasir.
"Oke," balas Billy lalu mengambil mesin penghitung nya.
Dengan gerakan jari yang cepat, Billy pun langsung menghitung jumlah minuman kami. Setelah selesai, Billy pun menyodorkan kertas tagihan itu ke tangan ku, sembari berucap...
"Nah, ini nota nya!" ujar Billy sambil memperhatikan penampilan ku yang acak adut tidak karuan.
"Oke, makasih ya." balas ku.
Bukan nya membalas ucapan terima kasih ku, Billy malah melontarkan pertanyaan pada ku dengan kening mengkerut.
"Kau mabok ya, Ndah?" tanya Billy.
"Dikit, hehehe." jawab sambil nyengir kuda.
"Mana pulak dikit, jalan mu aja udah sempoyongan gitu kok di bilang dikit." balas Billy.
"Apa iya? Perasaan, jalan ku biasa aja kok. Mata mu udah mulai rabun ya, sampe gak bisa bedain jalan orang normal sama jalan orang mabok." oceh ku dengan suara mendayu-dayu, khas orang mabuk.
"Sembarangan, bilangin mata orang rabun! Ku unyel-unyel kau nanti, baru tau." ancam Billy dengan senyum menyeringai.
"Coba aja kalau berani, hahaha!" tantang ku sembari tergelak, dan melangkah pergi meninggalkan Billy.
Mendengar tantangan ku, Billy pun hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu bergumam...
"Baiklah, kalau memang itu mau mu, aku akan terima tantangan mu itu. Kita lihat aja nanti, aku pasti akan membuktikan ucapan ku tadi." gumam Billy sambil terus menatap kepergian ku.
Sesampainya di meja bang Hendra, aku pun kembali duduk di sebelah nya, lalu menyerahkan kertas tagihan itu ke tangan nya.
"Ini nota nya, bang!" ujar ku.
Bang Hendra hanya mengangguk, dan menerima kertas pemberian ku itu. Setelah melihat jumlah nya, bang Hendra pun langsung mengambil dompet dari saku celana nya.
Setelah itu, dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah lalu menyerahkan nya pada ku, sambil berkata...
"Nah, ini uang nya! Sekalian bayar uang chas keluar mu." ujar bang Hendra.
"Oke," balas ku.
Aku kembali berjalan menuju kasir untuk membayar tagihan minuman, lalu mengambil tas di dalam boks penyimpanan, yang berada di samping meja kasir.
__ADS_1
"Nah, Bil. Ini uang minuman kami, sama uang chas keluar ku." ujar ku kepada Billy.
"Loh, kok pake chas keluar? Emang kau mau kemana?" tanya Billy penasaran.
"Ke hotel." balas ku jujur.
"Hah, hotel? Sama siapa?" tanya Billy dengan mata terbelalak.
Billy tampak sangat terkejut, ketika mendengar jawaban ku.
"Ya sama tamu ku lah, kan gak mungkin sama dirimu." jawab ku cuek.
"Kenapa gak mungkin? Kau pikir aku gak ada uang buat bayar hotel?" tanya Billy sewot.
"Bukan cuma untuk bayar hotel aja, tapi kau juga harus membayar jasa ku. Apa kau sanggup membayar ku? Kalau sanggup, besok malam kita nginap di sana. Gimana, mau gak?" tantang ku sembari menaik turun kan kedua alis ku.
"Oke, siapa takut. Janji ya, besok kita nginap di sana. Awas aja kalau kau bohong!" ujar Billy menerima tantangan ku.
"Iya, aku gak bakalan ingkar janji kok, suer!" balas ku sembari membentuk jari ku menjadi huruf V.
"Oke, sip." balas Billy mengacungkan jempol nya, lalu tersenyum manis pada ku.
Aku pun mengangguk, dan membalas senyuman maut nya.
"Oke lah, aku pergi dulu ya, bye. Sampai ketemu besok." pamit ku sambil melambaikan tangan pada Billy.
"Ya, hati-hati di jalan. Jangan lupa sama janji mu besok!" pekik Billy.
"Iya, baweeel." balas ku.
Setibanya di meja bang Hendra, aku pun mengajak lelaki gagah itu untuk segera pergi dari ruangan karaoke tersebut.
"Udah, bang. Ayo, kita berangkat sekarang!" seru ku sambil menggandeng lengan bang Hendra, dan bergelayut manja pada nya.
Kemudian dia pun beranjak dari tempat duduk nya, dan mengajak kedua teman nya untuk pulang.
"Bro, balek yok! Kepala ku udah pusing banget nih." seru bang Hendra.
"Oke," jawab mereka serempak, lalu beranjak dari tempat duduk masing-masing.
Sesudah memberikan uang tip kepada Ririn, kedua teman bang Hendra pun mengikuti langkah kami dari belakang. Sampai di luar ruangan, tiba-tiba Ririn mendekati ku lalu berbisik...
"Mau kemana kau, lampir?" tanya Ririn.
"Biasa lah, macam gak tau aja. Kalau udah ketemu bang Hendra, pasti pulang nya langsung di culik, hihihi." jawab ku sembari cekikikan.
"Oh, oke lah. Hati-hati ya, jangan ganas-ganas main nya. Takut nya roboh pulak ranjang hotel tu kau buat, hahaha." ledek Ririn sambil tertawa ngakak.
"Ssstttt, berisik!" ujar ku lalu membungkam mulut rombeng Ririn, dengan kedua tangan ku.
"Iiiiihh, lepasin. Sampe sesak nih nafas ku, tau gak!" pekik Ririn sembari melepaskan tangan ku dari mulut nya.
"Sorry genk, saya khilaf, hehehe." canda ku.
"Huuuuu, dasar lampir gila! Untung aja kau itu sohib karib ku, kalau enggak pasti udah aku bejek-bejek muka jelek mu itu." umpat Ririn lalu menepuk lengan ku.
"Uluh-uluh, sampe segitu nya, hahaha." balas ku sembari mencubit gemas kedua pipi Ririn.
Melihat tingkah aneh kami berdua, bang Hendra pun menoleh dan mendehem dua kali.
__ADS_1
"Ehem-ehem, mau sampe kapan bercanda nya?" tanya bang Hendra dengan wajah kesal nya.
Mendengar pertanyaan bang Hendra, aku dan Ririn pun langsung terdiam dan menoleh ke arah pemilik suara.
"Sampe besok, hehehe." jawab ku asal.
Bang Hendra langsung mendelik kan mata nya, setelah mendengar jawaban ku. Dia memasang wajah masam dengan bibir mengerucut.
Melihat ekspresi wajah bang Hendra yang lagi ngambek, Ririn pun langsung pamit lalu kembali duduk di bangku panjang, dan bergabung dengan teman-teman waiters lain nya.
"Ya udah deh, besok aja kita lanjutin lagi ngerumpi nya. Aku mau balek ke situ dulu. Hati-hati ya, bye!"
Ujar Ririn sambil menunjuk ke arah bangku panjang, yang berada tepat di samping gedung karaoke kami.
"Oke, bye!" balas ku.
Setelah Ririn pergi, aku pun kembali menoleh kepada bang Hendra, yang masih setia dengan wajah kecut nya.
"Udah, gak usah pake acara merajuk segala. Jelek tau gak?" ledek ku sembari tersenyum miring.
Bang Hendra sama sekali tidak menggubris perkataan ku. Dia masih saja tampak anteng dengan ngambek nya. Karena tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya aku pun mengalah dan kembali menggandeng lengan lelaki ku itu.
"Ayo, berangkat! Aku udah gak sabar nih, pengen di jahili sama abang." goda ku.
Wajah bang Hendra yang tadi nya masam dan kecut, kini langsung berubah manis seketika, saat mendengar godaan maut ku.
"Hah, beneran?" tanya bang Hendra dengan mata berbinar.
"Iya beneran, sayang. Ayo, buruan kita pergi!"
Desak ku sambil menyeret lengan bang Hendra menuju mobil, yang terparkir rapi di samping kantin, dan di ikuti oleh kedua teman bang Hendra dari belakang.
Sampai di depan mobil, bang Hendra menyuruh kedua teman nya untuk pulang ke kos masing-masing, dengan menggunakan taksi online.
"Bro, kalian naik taksi online aja ya. Aku mau bersenang-senang dulu dengan kekasihku ini." ujar bang Hendra sambil merangkul pundak ku.
"Emang kalian mau kemana?" tanya salah satu dari mereka.
"Kepo," jawab bang Hendra cuek, lalu menyuruh ku untuk masuk ke dalam mobil.
"Ayo masuk, sayang! Kita jalan sekarang." seru bang Hendra sembari membukakan pintu mobil nya untuk ku.
"Ya," jawab ku singkat, lalu masuk ke dalam mobil dan memasang sealbeat ke badan ku.
Setelah itu bang Hendra pun mengitari mobil nya, dan duduk di belakang kemudi. Setelah memasang sealbeat ke tubuh nya, bang Hendra pun mulai menyalakan mesin mobil nya, dan melajukan kendaraan roda empat nya itu menuju hotel.
Tak butuh waktu lama, kami berdua pun sudah tiba di depan gedung hotel yang cukup megah menurut ku. Sesudah memarkirkan mobil, bang Hendra pun mengajak ku untuk keluar dari kendaraan nya tersebut.
"Ayo, sayang! Kita udah nyampe nih." seru bang Hendra sembari melepas sealbeat nya.
"Ya," balas ku.
Aku dan bang Hendra keluar dari mobil secara bersamaan, lalu masuk ke dalam gedung hotel sambil bergandengan tangan.
Sesampainya di meja resepsionis, bang Hendra pun segera memesan kamar kepada resepsionis wanita yang sedang bertugas.
Setelah mendapatkan kunci, bang Hendra pun kembali menggandeng tangan ku dan membawaku berjalan bersama nya, menuju kamar yang berada di lantai dua gedung tersebut.
Sampai di depan kamar, bang Hendra segera membuka pintu dengan kunci yang di berikan oleh resepsionis tadi. Setelah pintu terbuka, bang Hendra pun segera membawa ku masuk ke dalam, lalu mengunci pintu itu kembali.
__ADS_1
Setelah itu, bang Hendra langsung memeluk ku dari belakang, sembari berbisik...
"Ayo sayang, kita langsung mulai aja main nya. Abang udah gak tahan nih, pengen cepat-cepat memakan mu." ujar bang Hendra dengan nafas yang mulai tidak beraturan.