Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Penyakit Ketagihan


__ADS_3

"Duuuh, ini orang kok ganteng banget sih, bikin nyut-nyutan aja." gerutu ku dalam hati.


Selesai memijat kedua kaki ku, bang Rian pun beranjak dari duduk nya, dan melepas handuk yang melilit di pinggang sixpack nya.


Melihat pemandangan yang menggiurkan di depan mata ku, aku pun langsung reflek memalingkan wajah ke samping.


Bukan nya malu atau pun sungkan dengan keadaan polos nya di depan ku, bang Rian malah mengerlingkan mata nya, dan mulai mendekati ku dengan senyum horor nya.


Dia merangkak naik ke atas ranjang, dan terus merangkak hingga ke atas badan ku. Aku yang sedari tadi hanya diam membisu pun, langsung menyilang kedua tangan di dada, lalu berkata...


"Eits, mau ngapain?" Sana jauh-jauh, entar khilaf lagi kayak di kamar mandi tadi." oceh ku dengan tatapan sinis.


"Hahaha, seuzon aja otak mu ini. Abang gak mau ngapa-ngapain kok, sayang. Abang cuma mau peluk aja kok, sumpah!" gelak bang Rian sembari menoyor jidat ku, lalu membentuk jari nya menjadi huruf V.


"Bukan nya seuzon, tapi waspada aja. Takut nya abang khilaf lagi nanti, hehehe." balas ku sambil nyengir kuda.


"Ya enggak lah, sayang. Abang gak setega itu kalee. Abang juga tau kok, kalau dirimu masih capek." oceh bang Rian.


"Oh, syukur lah kalo abang ngerti." balas ku lega.


Bang Rian hanya tersenyum menanggapi kelegaan ku. Lalu dia mulai mendekat kan bibir nya pada ku dan...


Cup cup cup...


Bang Rian mendarat kan kecupan-kecupan nakal nya di kening, pipi, dan juga bibir ku. Setelah itu, dia pun menjatuhkan diri di sebelah ku dan memeluk erat tubuh ku, lalu bertanya...


"Besok malam kamu kerja ya, Ndah?" tanya bang Rian.


"Iya, emang nya kenapa?" tanya ku penasaran.


"Ya...gak papa sih. Abang pikir kamu gak kerja, mau abang bawa jalan-jalan soal nya." jawab bang Rian.


"Jalan-jalan kemana?" tanya ku lagi.


"Ya terserah kamu, mau kemana aja. Yang penting kamu happy, dan mikirin cowok sinting itu lagi." jawab bang Rian.


Mendengar ucapan aneh bang Rian, aku pun mendongak dan menatap wajah bang Rian dengan kening mengkerut.


"Cowok sinting? Siapa maksud abang?" tanya ku bingung.


"Siapa lagi kalau bukan pacar mu yang sok kegantengan itu. Muka pas-pasan aja belagu. Kalau di bandingkan sama abang, ya udah pasti kalah jauh lah." oceh bang Rian dengan pede nya.


"Wah wah wah, air laut ngasin sendiri ya bang, hihihi." cibir ku sembari cekikikan.


"Hehehe, tapi bener kan yang abang bilang tadi?" tanya bang Rian cengar-cengir salah tingkah.


"Iya sih, abang lebih macho dan gagah. Baik di luar maupun di dalam." jawab ku jujur.

__ADS_1


"Di dalam maksud nya?" tanya bang Rian tidak mengerti.


"Di ranjang loh, baaang. Masa gitu aja gak paham sih. Kayak anak kecil aja mesti di jelasin segala." omel ku.


"Ya...Kan memang kenyataan nya abang masih kecil sih. La wong abang aja masih mimik cucu sama mu, hahaha." balas bang Rian sembari tertawa ngakak.


Aku langsung membelalakkan mata, saat mendengar ocehan bang Rian yang ceplas-ceplos.


"Hm hm hm, gak usah mancing-mancing gitu lah. Entar malah kepengen pulak." ujar ku ketus.


"Bukan entar sayang, tapi sekarang." balas bang Rian dengan senyum menyeringai.


"Tuh kan, bener dugaan ku tadi. Kalau ngomong nya udah mulai bengkok-bengkok, pasti ujung-ujungnya minta jatah." gerutu ku.


Bang Rian hanya senyam-senyum mendengar segala ocehan ku. Dia sama sekali tidak marah atau pun tersinggung, dengan kata-kata mu yang asal njeplak.


"Gak minta jatah kok, sayang. Abang cuma mau mimik cucu aja kok, boleh gak?" tanya bang Rian sambil menaik turun kan kedua alisnya.


"Halah, modus. Nanti akhirnya nya, ya bakalan ke jatah juga lari nya." cibir ku.


"Gak lah, sayang. Abang janji, abang cuma mimik cucu aja gak lebih. Boleh ya, pliiiiss!" rengek bang Rian sambil bergelayut manja di bahu ku.


Bang Rian terus saja meyakinkan ku, agar aku mau menuruti permintaan nya. Dia tidak henti-hentinya merengek dan memelas, seperti layak nya anak kecil.


Aku pun terdiam sejenak sambil membelai rambut bang Rian, yang masih saja menempel di bahu kanan ku. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun menyetujui keinginan nya tersebut.


"Yeyy, makasih ya, sayang. Iya iya, abang janji."


Balas bang Rian dengan senyum yang mengembang, dan kembali mendarat kan kecupan kilat nya di kening ku. Setelah mendapatkan izin dari ku, bang Rian pun langsung melancarkan aksinya. Dia mulai menempelkan bibir nya di atas benda kenyal ku tersebut.


Bang Rian tampak sangat kehausan, dan melahap nya dengan semangat yang menggebu-gebu. Sedangkan aku, aku hanya diam sambil terus membelai rambut nya.


Setelah merasa kenyang dan puas dengan aksinya, bang Rian pun mulai melepaskan bibir nya dari benda kenyal ku itu. Dia kembali memeluk tubuh ku, dan membawa ku ke dalam dekapan nya.


"Udah kenyang kan, sekarang kita istirahat ya!" ujar ku.


"Iya, makasih ya, sayang ku." balas bang Rian.


"Kalau seandainya tiap hari abang mimik cucu terus kayak gini, pasti badan abang semakin sehat nanti nya. Ya gak, sayang?" bang Rian.


"Gak lah, mana pulak tambah sehat. Tambah penyakitan lah ya." jawab ku asal.


Bang Rian mengerutkan kening nya saat mendengar jawaban nyeleneh ku. Dia mendongak kan kepala ku dan menatap wajah ku dengan serius.


"Kok malah penyakitan sih? Emang bisa bikin penyakit apaan?" tanya bang Rian bingung.


"Penyakit ketagihan, hihihi." jawab ku sembari terkikik geli.

__ADS_1


"Oalah, kirain penyakit apaan." balas bang Rian menepuk jidat nya sendiri.


"Kalau itu sih abang malah seneng, biar abang makin ketagihan terus minta mimik cucu sama mu, hahaha." lanjut bang Rian kembali cekakakan.


"Huuuuu, dasar mesum! Isi kepala nya kok gak jauh-jauh dari itu terus." cibir ku.


Bang Rian hanya tersenyum sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal, setelah mendengar celotehan ku barusan. Dia tampak malu dan salah tingkah, karena merasa tersindir dengan kata-kata ku.


"Ya wajar lah, sayang. Nama nya juga laki-laki normal. Kalau gak mikirin masalah itu, trus abang harus mikirin apa dong? Masa iya abang harus mikirin kapan kucing bertelur, kan aneh nama nya." oceh bang Rian.


Tawa ku langsung pecah, ketika mendengar penuturan bang Rian yang sangat tidak masuk akal menurut ku.


"Hahahaha, edan. Abang mikirin sampe bangkotan pun, gak akan mungkin kucing bertelur, aneh-aneh aja." gelak ku.


"Tu lah, maka nya abang gak mau mikirin itu. Abang mau nya mikirin dirimu aja." balas bang Rian.


"Udah ah, lama-lama kok tambah ngaco aja ngomong nya. Kita tidur yok, biar besok fit lagi badan nya!" ujar ku.


"Oke, cayang." balas bang Rian.


Bang Rian kembali mendekat kan bibir nya, dan memberikan kecupan menghantar tidur di seluruh wajah ku. Setelah itu dia pun menarik selimut, dan menyelimuti tubuh kami berdua dari ujung kaki sampai sebatas bahu.


"Good night, sayang. Jangan lupa mimpiin abang ya, hehehe." bisik bang Rian.


"Iya, kalau ingat." balas ku asal.


"Hahaha, gendeng!" gelak bang Rian.


Selesai bercanda dan berhaha-hihi berdua, aku dan bang Rian pun mulai memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami pun tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing.


Baru satu jam terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Aku langsung tersentak, dan mengucek-ngucek mata yang masih terasa berat akibat mengantuk.


"Ck, siapa sih tengah malam gini ketuk-ketuk kamar orang? Kurang kerjaan banget." gerutu ku kesal.


Dengan gerakan lemas, aku segera bangkit dari ranjang, dan memakai handuk yang tergantung di belakang pintu. Setelah itu, aku pun membuka pintu dan...


Ceklek...


Mata ku langsung membulat dengan mulut yang menganga lebar, saat melihat sosok lelaki yang sangat aku kenal. Dia berdiri tegak di depan pintu, sambil membawa sebilah pisau di tangan nya.


Tatapan mata nya yang tajam, mampu membuat ku bergidik ngeri saat melihat nya. Karena merasa takut, aku pun langsung reflek melangkah mundur ke belakang.


"Ma-mau ngapain kau kesini, hah?" tanya ku mulai panik, karena dia melangkah masuk ke dalam kamar dan semakin mendekati ku.


"Aku ingin melenyapkan kalian berdua, hahaha." jawab Haris dengan tawa horor nya.


Ya, ternyata laki-laki itu adalah Haris. Kekasih hati ku yang sudah aku khianati kepercayaan nya.

__ADS_1


__ADS_2