
Setelah memutuskan panggilan, aku pun menenggelamkan wajah ku di dada bidang bang Rian. Aku menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan emosi dan luka yang teramat sakit di hati ku.
"Yang sabar ya, sayang. Mudah-mudahan saja suatu saat nanti ayah mu bisa berubah, dan mengerti dengan keadaan mu disini," ujar bang Rian menyemangati ku.
Bang Rian mengeratkan pelukan nya dan mengecup pucuk kening ku dengan lembut. Raut wajah nya terlihat sedih melihat ku yang sedang terluka.
"Ya, mudah-mudahan saja bang," balas ku.
Aku melepaskan pelukan bang Rian dan mengusap air mata ku dengan tisu. Tak lama kemudian, makanan yang kami pesan pun tiba dan tertata rapi di atas meja.
Setelah menghidangkan makanan dan minuman itu, sang pelayan pun pamit undur diri sembari berucap...
"Silahkan di nikmati hidangan nya kakak," ujar sang pelayan dengan ramah, dan senyum yang mengembang di bibir nya.
"Oke, makasih ya, mbak."
Balas ku dengan suara serak dan mata yang memerah akibat menangis tadi. Setelah pelayan itu pergi, aku dan bang Rian pun mulai menyantap makanan itu dengan santai dan hening, sambil memandangi pemandangan yang sudah mulai redup.
"Eegghh, alhamdulillah kenyang," bang Rian bersendawa.
"Enak juga ternyata makan disini ya. Suasana nya romantis banget. Cocok untuk pasangan muda-mudi yang lagi kasmaran seperti kita berdua," ujar bang Rian.
Tawa ku langsung pecah seketika, saat mendengar penuturan bang Rian yang sangat lucu menurut ku.
"Hahahaha, muda-mudi apaan? Udah pada bangkotan gini kok di bilang muda-mudi, ngelindur abang ya?" ledek ku sambil terus tergelak.
"Mana pulak bangkotan? Orang masih fresh dan gagah gini kok di bilang bangkotan. Mata mu tuh yang udah korslet. Gak bisa bedain mana yang udah alot, sama mana yang masih seger," omel bang Rian panjang lebar.
Bang Rian memanyunkan bibir nya ke depan. Ia tampak kesal dan jengkel karena perkataan ku tadi. Melihat lelaki ku yang sedang merajuk, aku pun berinisiatif untuk menggoda nya dengan rayuan maut ku.
"Ya ya ya, abang memang gagah, baik hati, penyayang, dan tidak sombong. Tapi ada satu salah nya," balas ku.
__ADS_1
Bang Rian menautkan kedua alisnya saat mendengar penuturan ku. Ia tampak penasaran dengan kata-kata terakhir yang aku ucapkan.
"Salah? Emang apa salah nya?" tanya bang Rian.
"Mau tau aja, atau mau tau banget?" tanya ku sembari tersenyum dan menaik turun kan kedua alis ku.
"Dua-duanya," jawab bang Rian dingin.
"Yakin mau denger?" tanya ku lagi.
"Ya... Yakin lah. Kenapa pulak gak yakin?" balas bang Rian dengan nada sedikit ragu.
Bang Rian menatap ku dengan mimik wajah serius. Ia tampak begitu penasaran dengan teka-teki ku.
"Oke lah, kalau memang abang yakin, aku akan mengatakan nya sekarang. Salah nya adalah, karena abang bukan milik ku seutuhnya, hehehe," balas ku sembari tersenyum kecut.
Bang Rian terlihat syok dan terkejut mendengar perkataan ku. Ia tidak menyangka jika aku akan mengatakan hal itu kepada nya. Sedangkan aku, aku mengalihkan pandanganku kembali ke hamparan laut lepas.
"Emang kamu udah siap, kalau seandainya abang jadi kan kamu sebagai pendamping hidup abang?" tanya bang Rian.
"Abang lagi sakit ya? Tapi kok gak panas?" aku menempelkan punggung tangan ke dahi bang Rian.
"Ck, apaan sih? Abang serius nih. Kamu udah siap apa belum?" tanya bang Rian, lalu menurunkan tangan ku dan mencium nya dengan mesra.
Aku langsung kikuk melihat manik mata bang Rian yang sangat indah.
"Haduuh, ganteng banget sih nih cowok. Bikin badan ku panas dingin aja di buat nya," gerutu ku dalam hati.
Melihat reaksi ku yang sedang terpesona oleh ketampanan nya, bang Rian pun tersenyum dan menoel-noel ujung hidung ku sembari berucap...
"Abang memang udah ganteng dari orok, Ndah. Jadi gak usah heran," ujar bang Rian dengan pede nya.
__ADS_1
"Idiih, narsis amat. Amat aja gak narsis," cibir ku dengan bibir mengerucut.
"Hahahaha, makanya jangan di lihatin terus. Entar ganteng abang luntur," tambah bang Rian sembari tertawa terpingkal-pingkal.
"Iya lah, abang memang paling guanteng seantero Batam ini, hihihi," ledek ku lalu cekikikan di depan nya.
"Naaah, tu tau, hahaha." Lagi-lagi bang Rian tertawa ngakak, hingga membuat orang-orang yang berada di sekitar kami melihat ke arah bang Rian.
Aku hanya tersenyum melihat bang Rian yang tampak bahagia dengan segala tingkah konyol ku. Selesai mentertawai ku, bang Rian pun kembali mempertanyakan tentang perkataan nya tadi.
"By the way, jadi gimana pertanyaan abang tadi, sayang? Apakah dirimu sudah siap, jika abang melamar mu saat ini juga?" tanya bang Rian dengan wajah serius nya.
"Hah, melamar ku sekarang?" pekik ku dengan suara tertahan.
Mata ku langsung terbelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Aku sama sekali tidak menduga, jika bang Rian akan mengutarakan perasaan nya padaku.
"Abang serius?" tanya ku tidak percaya.
"Iya serius, emang kenapa? Kamu gak mau ya?" tanya bang Rian balik.
"Bu-bukan nya gak mau. Ta-tapi..."
Kelu rasa nya bibir ini untuk mengatakan yang sejujurnya, tentang kebutuhan hidup ayah dan juga nenek yang harus aku tanggung.
"Tapi kenapa?" desak bang Rian tidak sabar.
"Hmmmm, gak papa. Nanti-nanti aja kita bahas masalah ini ya, bang. Aku belum siap untuk menjawab nya sekarang," jawab ku lalu menunduk dan memilin-milin ujung baju ku.
Bang Rian mendengus kesal. Raut wajah nya tampak sangat kecewa dengan jawaban ku. Jujur, sebenarnya aku sangat bahagia saat mendengar bang Rian ingin melamar ku. Tapi aku juga tidak bisa melepas tanggung jawab ku sebagai tulang punggung keluarga.
Masih banyak perut yang harus aku beri makan. Masih banyak biaya yang harus aku tanggung, dan masih banyak pula kebutuhan lain yang wajib aku penuhi. Dan itu membuat nyali ku ciut, untuk menjawab pertanyaan lelaki yang ada di hadapanku itu.
"Ya udah, abang juga tidak bisa memaksakan kehendak abang. Tapi kalau sewaktu-waktu kamu sudah siap lahir dan batin, kata kan saja. Abang pasti akan langsung menikahi mu saat itu juga," jelas bang Rian lalu membawaku ke dalam dekapan hangat nya.
__ADS_1
"Iya, makasih banyak ya, bang. Abang sudah mau ngertiin keadaan ku," balas ku sembari melingkarkan kedua tangan ku ke perut sixpack nya.
"Iya sama-sama, sayang." Bang Rian semakin mengeratkan pelukannya.