Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Diajak Kencan


__ADS_3

"Trus anak abang kemana?" tanya ku penasaran.


"Belom ada, dek."


Bang Hendra menjawab sambil menunduk, dan semakin erat menggenggam tangan ku.


"Sabar, bang! Mungkin belom rezeki." balas ku menyemangati.


Aku mengelus pelan pundak bang Hendra. Dia langsung mendongak dan menatap ku sambil tersenyum-senyum. Aku mengerutkan kening melihat senyuman aneh bang Hendra.


"Kenapa, bang? Kok senyum-senyum gitu? Bikin aku merinding aja." tanya ku.


Aku mengusap-usap kasar lengan ku, karena bulu tangan ku sudah pada berdiri semua melihat wajah bang Hendra.


"Hahaha, kok aku kayak sedang nengok demit aja ya, pake acara merinding segala." batin ku geli.


"Dek, mau gak buat anak sama abang?" tanya bang Hendra dengan wajah memelas.


"APA?" pekik ku kuat.


Aku langsung terpekik dan terlonjak kaget, mendengar penuturan bang Hendra yang cukup aneh menurut ku.


Beberapa saat kemudian, tamu-tamu yang lain pun mulai berdatangan. Mereka mulai memenuhi meja-meja yang masih kosong di dalam ruangan karaoke.


Berhubung malam semakin larut, maka semakin ramai pula lah para dedemit malam gentayangan ke tempat karaoke kami ini.


Suasana pun semakin riuh dan berisik dengan ocehan dan canda tawa mereka semua, dan juga tingkah konyol mereka tentunya.


Aku dan bang Hendra hanya bisa memperhatikan tingkah-tingkah aneh mereka semua, sambil ngemil kacang kulit dan menghisap rokok.


Kami berdua saling berdiam diri. Tidak ada lagi percakapan di antara kami berdua.


"Jadi gimana, Ndah? Mau gak?"


Bang Hendra kembali bertanya pada ku. Dia membuka percakapan kembali setelah hening beberapa menit.


"Mau apa nya, bang?" tanya ku pura-pura lupa.


"Astaga, pura-pura amnesia pula dia!" ujar bang Hendra.


Bang Hendra mencubit pipi ku, dia gemas melihat tingkah ku yang berpura-pura lupa di depan nya.


"Auww! Sakit banget, bang!" rengek ku manja.


"Maaf aku gak bisa, bang. Tugas ku disini hanya menemani minum dan happy-happy seperti ini aja, gak bisa lebih." tolak ku.


Aku menjawab pertanyaan bang Hendra, sambil menatap wajah nya yang mulai tidak bersemangat karena mendengar jawaban ku barusan.


Bang Hendra langsung tertunduk lesu. Beberapa detik kemudian, dia mendongak kan kepala kembali dan menatap wajah ku.


"Iya gak papa, Ndah. Maaf ya kalau saya udah lancang sama mu, Ndah!"


"Iya gak papa kok, bang. Aku udah maklum, aku juga udah biasa mendapatkan permintaan seperti yang abang ucap kan tadi." balas ku santai.


"Di tempat hiburan malam seperti ini, hal seperti itu sudah biasa kami dengar kan, bang!" balas ku.


"Tinggal tergantung orang nya aja, mau atau tidak nya menerima ajakan seperti itu." tambah ku.

__ADS_1


Aku berceloteh dan tersenyum pada bang Hendra. Waktu terus berlalu, tidak terasa minuman yang ada di meja kami pun sudah habis.


Bang Hendra pun menyuruh ku untuk mengambil nota tagihan minuman nya.


"Ambil nota nya, Ndah! Abang mau pulang." titah bang Hendra.


"Oke tunggu bentar ya, bang!" jawab ku.


Aku langsung beranjak dari sofa dan berjalan ke arah meja kasir.


"Billy, tolong hitung nota di meja ku, ya!" pinta ku.


"Oke, Ndah." jawab Billy sang kasir.


Billy pun langsung mengotak-atik mesin penghitung nya. Setelah menerima kertas nota dari Billy, aku kembali berjalan ke meja bang Hendra.


"Ini nota nya, bang!" ujar ku.


Aku menyerahkan kertas nota kepada bang Hendra. Setelah menerima kertas itu, bang Hendra langsung mengeluarkan dompet nya.


Dia menarik beberapa lembar uang merah, lalu menyerahkan kan uang itu kepada ku. Aku pun kembali berjalan ke meja kasir, dan menyerahkan uang pembayaran itu kepada Billy.


Selesai membayar, aku kembali ke meja bang Hendra dan duduk manis di samping nya.


"Udah selesai, bang. Terima kasih atas kunjungan nya ya, bang!" ujar ku.


Saat aku sedang menyalami tangan nya, bang Hendra langsung menggenggam tangan ku.


Bang Hendra mencium punggung tangan ku dengan lembut, lalu dia menyelipkan beberapa lembar uang merah ke dalam genggaman tangan ku.


"Makasih ya, Ndah. Sudah mau nemani abang minum malam ini!" ucap bang Hendra.


"Iya, bang. Makasih kembali atas uang jajan nya, hehehe."


Aku menjawab sambil cengar-cengir salah tingkah. Setelah itu, aku dan bang Hendra mulai berjalan menuju pintu keluar dan terus berjalan sampai ke parkiran motor.


Bang Hendra pamit dan dia pun memeluk erat tubuh ku. Aku hanya diam terpaku menerima perlakuan nya.


Setelah acara perpisahan berakhir, bang Hendra mulai menaiki kendaraan roda dua nya. Dia langsung berlalu pergi meninggalkan ku yang masih terpaku di tempat.


Setelah kepergian bang Hendra, aku kembali masuk ke dalam ruangan karaoke. Aku membersihkan meja yang kami tempati tadi sampai bersih seperti semula.


Selesai membersihkan meja, aku kembali bergabung bersama teman-teman lain nya, yang masih duduk di bangku panjang di luar ruangan karaoke.


Setelah duduk di bangku panjang, aku kembali memoles tipis wajah ku dengan bedak padat dan lipstik.


Kemudian, aku menyemprot kan parfum ke seluruh tubuh ku dan merapikan rambut kembali. Selesai berdandan, Lisa sang kapten pun datang menghampiri ku di luar.


"Ndah, ayok masuk ke dalam! Ada tamu yang nyariin kamu tuh di dalam." tutur Lisa.


Lisa memberitahu ku sambil menarik-narik lengan ku.


"Iya bentar, Lis! Gak sabaran amat sih." balas ku mulai sewot.


"Maka nya cepetan dong, Ndah! Orang nya udah nungguin tuh dari tadi." balas Lisa.


"Karena kamu tadi sedang nemani tamu lain, maka nya dia masih sendirian aja tuh duduk nya." tambah Lisa.

__ADS_1


"Dia gak mau di temani sama cewek lain kata nya. Kecuali sama kamu, Ndah!"


Tutur Lisa panjang lebar sampai muncrat-muncrat air liur nya menjelaskan kepada ku.


"Siapa sih tamu itu, ribet amat jadi orang?" tanya ku kesal.


"Entah, aku juga gak kenal." balas Lisa.


"Begitu banyak nya cewek di luar sana yang belum di chas. Kenapa harus dengan ku yang baru aja selesai nemani tamu lain?" gerutu ku dalam hati.


"Oke lah kalo gitu, ayok!" ajak ku pada Lisa.


Aku berjalan mengikuti langkah Lisa dari belakang. Kami berdua langsung masuk ke dalam ruangan, dan terus berjalan melewati meja para tamu lain nya.


"Itu orang nya, Ndah! Yang duduk sendirian di pojok." ujar Lisa.


Lisa menunjuk ke meja yang berada di pojok tempat lelaki itu duduk.


Berhubung pencahayaan di dalam ruangan itu remang-remang, wajah lelaki itu pun tidak begitu jelas terlihat dari pandangan ku. Samar-samar lah istilahnya.


Aku langsung bergegas berjalan ke meja lelaki itu. Setiba nya di sana, baru lah terlihat jelas wajah orang yang sedang menunggu ku itu.


Lelaki itu pun tersenyum melihat kehadiran ku yang sudah berdiri tepat di hadapan nya. Aku pun langsung berhambur ke dalam pelukan nya, dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.


"Aku kangen, bang. Kangeeen banget!"


Aku berbisik pelan dan masih di dalam pelukan hangat nya.


"Sama, Ndah. Abang juga kangen." jawab nya.


Haris menjawab ucapan ku dan membelai lembut rambut ku. Ya, ternyata lelaki itu adalah Haris. Orang yang sangat aku rindukan.


"Udah berapa lama abang duduk disini?" tanyaku penasaran.


"Kurang lebih setengah jam, Ndah. Tadi kan dirimu masih nemani tamu lain, maka nya abang gak mau ganggu!" jelas Haris.


"Jadi ya abang diam aja disini, nungguin kerjaan mu sampai selesai." tambah Haris.


"Setelah abang lihat tamu mu itu pulang. Baru lah abang menyuruh kapten mu itu untuk memanggil mu kesini!" jelas Haris.


"Temani abang disini sampai jam kerja mu habis ya, Ndah!" pinta Haris.


"Oke, bang." balas ku.


Aku kembali memeluk tubuh Haris, dan aku juga menemani nya minum sambil berkaraoke ria.


Aku duduk membelakangi Haris, dan dia pun memeluk ku dari belakang. Kaki kami sama-sama selonjoran di atas sofa panjang.


Haris menempelkan dagu nya di atas bahu ku. Hembusan nafas nya begitu hangat menerpa pipi, leher, dan telinga ku.


"Sayang, abang merindukan mu." bisik Haris pelan.


"Sama, bang. Aku juga merindukan mu, bahkan sangat merindukan mu,


lebih dari yang kau tau, bang."


Aku menjawab dengan jujur, sambil menggenggam tangan nya yang sedang melingkar indah di perut ku.

__ADS_1


"Nanti kita pulang bareng ya, Ndah!" pinta Haris.


"Iya, sayang." balas ku sambil mengelus lembut pipi Haris yang masih setia bertengger di bahu ku.


__ADS_2