Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
JJM (Jalan-Jalan Malam)


__ADS_3

Bang Rian terus saja merengek seperti anak kecil, sambil bergelayut manja di bahu ku.


"Ayo lah, sayang! Abang pengen banget jalan-jalan malam ini." ujar bang Rian dengan suara manja nya.


Aku tidak langsung menjawab ucapan bang Rian. Aku terdiam sambil memikirkan tentang ajakan nya tersebut. Setelah beberapa menit berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya aku pun memutuskan untuk menuruti keinginan nya.


"Oke, aku akan libur malam ini." ujar ku.


"Yey, makasih ya, sayang." balas bang Rian girang.


Setelah itu, aku pun merentangkan tangan untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu mengirim kan pesan kepada Lisa.


"Lis, aku izin libur malam ini. Ada keperluan mendadak yang harus aku urus."


Selesai mengetik kata-kata itu, aku pun segera mengirimkan nya ke nomor Lisa. Tak lama kemudian, balasan dari Lisa pun muncul di layar ponsel ku.


Ting...


"Oke, Ndah." balas Lisa.


Chattingan sama siapa, sayang?" tanya bang Rian, sembari memanjangkan leher nya untuk melihat ke arah ponsel ku.


"Sama Lisa, aku minta izin libur sama dia." jawab ku lalu menunjukkan pesan itu kepada bang Rian.


"Oh, ya udah kalo gitu. Ayo kita siap-siap!" seru bang Rian lalu bangkit dari kasur, dan melangkah masuk ke kamar mandi.


"Emang mau berangkat sekarang ya?" tanya ku sembari mengikuti langkah nya dari belakang.


"Iya," jawab bang Rian.


"Oh, oke lah." balas ku.


Sesampainya di kamar mandi, bang Rian membuka seluruh pakaian nya dan menggantung nya di belakang pintu. Begitu juga dengan ku, aku membuka semua pakaian dan mencampakkan nya ke dalam keranjang pakaian kotor.


Saat hendak mengambil odol dan sikat gigi di keranjang sabun, tiba-tiba aku terlonjak kaget ketika mendapat pelukan dan ciuman mendadak dari bang Rian.


"Aaaaaaa, lepasin!" pekik ku kuat sambil memukul-mukul pelan lengan nya.


Bukan nya melepaskan pelukannya, bang Rian malah semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya. Ia menyandarkan punggung ku ke dinding, dan kembali menciumi bibir ku secara brutal. Hingga membuat nafas ku terasa sesak akibat ulah nya tersebut.


"Iiiiihhh, lepasin!" rengek ku dengan nafas ngos-ngosan.


Lalu aku pun mendorong tubuh bang Rian, agar sedikit menjaga jarak dari ku.

__ADS_1


Abang mau ngapain sih?" tanya ku kesal.


"Mau minta jatah." jawab bang Rian dengan enteng nya.


Mendengar jawaban bang Rian, aku pun langsung mengerutkan kening dan kembali berceloteh.


"Loh, kok minta jatah sih? Tadi kata nya mau berangkat sekarang, kok malah lain lagi sih cerita nya?" tanya ku heran.


"Bentar aja kok, sayang. Palingan satu jam doang. Boleh ya, pliiiiss!" balas bang Rian sembari mengatupkan kedua tangan nya ke arah ku.


Aku menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Setelah itu, aku pun menyetujui permintaan nya.


"Oke, tapi jangan lama-lama ya! Keburu sore soalnya." ujar ku penuh peringatan.


"Oke, siap tuan putri."


Balas bang Rian, dengan senyum yang mengembang lebar di bibir nya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat wajah imut lelaki ku tersebut.


Setelah mendapat persetujuan ku, bang Rian pun mulai melakukan serangan-serangan ganas nya. Ia kembali menciumi wajah, bibir, dan juga leher ku, dengan gairah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.


Setelah puas mencumbui ku dari atas sampai bawah, bang Rian pun mengarahkan tombak keras nya ke depan gua ku.


Setelah itu, ia pun memasukkan tombak nya dengan sekali hentakan kuat, hingga membuat tombak yang berukuran hampir satu jengkal itu pun masuk dengan sempurna.


"Kenapa sayang, kok muka nya gitu? Sakit ya?" tanya bang Rian, sambil terus memandangi wajah ku dengan tatapan heran.


"Iya, maka nya punya dedek jangan panjang-panjang, sakit tau gak?" omel ku sembari memanyunkan bibir.


"Loh, kok malah nyalahin dedek abang sih? Kan dari sono nya memang udah begini. Punya mu kali yang kesempitan, maka nya jadi sakit gitu." oceh bang Rian.


"Ya, mungkin juga sih. Emang gak bisa di potong dikit ya dedek nya?" canda ku.


Mendengar pertanyaan ku yang tidak masuk di akal, tawa bang Rian pun langsung pecah seketika.


"Hahahaha, edan! Masa dedek yang gagah perkasa gini di suruh potong dikit, aneh-aneh aja." gelak bang Rian.


"Hehehehe, siapa tau aja bisa." balas ku sembari tersipu malu.


Selesai mentertawai ku, bang Rian pun kembali bersuara.


"Jadi gimana ini? Mau di lanjutin atau tidak?" tanya bang Rian, masih dengan posisi tombak yang menancap di gua ku.


"Ya udah lanjutin aja. Udah terlanjur masuk juga." jawab ku lalu memalingkan wajah ke samping.

__ADS_1


"Oke, sayang." balas bang Rian, sembari tersenyum sumringah mendengar jawaban ku.


Setelah melewati perbincangan yang cukup rumit, akhir nya bang Rian pun melanjutkan kegiatan nya. Ia melakukan gerakan nya dengan kecepatan tinggi dan semangat yang menggebu-gebu.


Setelah melakukan penyatuan selama hampir satu jam, bang Rian pun menyudahi aksinya dan menyemburkan lahar hangat nya ke dalam rahim ku.


Setelah permainan panas nan nikmat itu berakhir, aku dan bang Rian pun melanjutkan ritual mandi yang sempat tertunda akibat ulah nakal nya.


Sesudah membersihkan diri masing-masing, kami berdua pun bergegas memakai pakaian dan bersiap-siap untuk berangkat ke jembatan Barelang.



"Udah siap, sayang?" tanya bang Rian sembari memakai sepatu sport nya.


Penampilan Bang Rian tampak santai dan cool, dengan kaos abu-abu dan celana panjang nya.


"Udah, ayo kita jalan!" jawab ku, lalu mengambil tas ransel dan menyampirkan nya ke bahu.


"Oke, yok!" balas bang Rian.


Setelah mengunci pintu kamar, aku dan bang Rian pun jalan beriringan menuju parkiran. Setibanya di depan mobil, bang Rian pun membukakan pintu untuk ku sembari berucap...


"Silahkan masuk, tuan putri!" ujar bang Rian sembari tersenyum manis pada ku.


"Oke, terima kasih, tuan raja." balas ku lalu membalas senyuman nya, dan masuk ke dalam mobil.


Setelah itu, bang Rian pun ikut masuk dan duduk di belakang kemudi. Sesudah memakai sealbeat ke badan masing-masing, bang Rian pun mulai menjalankan kendaraan nya menuju jembatan satu Barelang.


Setelah menempuh jarak sekitar kurang lebih satu jam, kami pun tiba di tempat tujuan. Sesudah memarkirkan mobil nya, bang Rian pun menggandeng tangan ku, dan mengajak ku ke berjalan bersama nya menuju bibir pantai.



Sampai di lokasi, aku menatap takjub ke arah hamparan laut yang sangat luas di depan ku.


"Waaahh, indah banget pemandangan nya, bang." puji ku sembari tersenyum lebar.


"Iya, bener-bener indah seperti yang ngomong." balas bang Rian.


"Iiiiihhh, apaan sih." balas ku malu-malu kucing, lalu mencubit pelan lengan nya.


Bang Rian hanya tersenyum dan terus memandangi ku dengan mata indah nya. Untuk mengalihkan perhatian nya, aku pun mengajak nya untuk mencari tempat duduk.


"Kita kesana yok, bang! Kaki ku udah pegel nih berdiri terus dari tadi." ujar ku sembari menunjuk ke arah tenda-tenda, yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.

__ADS_1


"Yok!" balas bang Rian.


__ADS_2