
Melihat ku kembali menangis, bang Rian pun langsung memeluk ku dan membawaku ke dalam dekapan nya. Dia membelai rambut panjang ku dengan lembut, dan sesekali mengecup pucuk kepala ku.
"Udah ah, gak usah cengeng. Itu kan cuma mimpi, bukan kenyataan." ujar bang Rian melepas pelukan nya, dan mengusap air mata ku dengan jari nya.
"Iya sih, tapi tetap aja aku takut." balas ku lirih.
"Apa yang kamu di takut kan?" tanya bang Rian.
"Takut jadi kenyataan." jawab ku dengan mata yang masih berair.
"Ah, kamu terlalu berlebihan. Mana mungkin mimpi bisa jadi kenyataan, aneh-aneh aja." balas bang Rian santai.
"Ya...Siapa tau aja, bang." balas ku lalu menunduk kan kepala.
Bang Rian menatap nanar pada ku. Raut wajah nya tampak sedang memikirkan sesuatu. Setelah beberapa saat terdiam, bang Rian pun kembali bersuara.
"Ya udah, sekarang gini aja. Kalau pacar mu itu datang dan mengganggu mu lagi, cepat hubungi abang! Biar abang yang akan menghadapinya." ujar bang Rian.
"Gimana saran abang? Cocok gak menurut mu?" lanjut bang Rian.
"Iya, cocok." jawab ku sembari mengangguk.
Bang Rian langsung tersenyum setelah mendengar jawaban ku. Kemudian dia mengacak-acak rambut ku, lalu berucap...
"Ya udah, sekarang kita bobok lagi yok! Abang masih ngantuk nih, hoam." ujar bang Rian sambil menguap lebar.
"Oke," balas ku.
Setelah perbincangan selesai, aku dan bang Rian mulai memejamkan mata kembali. Tak lama kemudian, kami berdua pun tertidur lelap, dengan posisi yang saling berpelukan di bawah selimut tebal.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Matahari pagi pun mulai menampakkan sinar nya, dari balik gorden jendela kamar. Aku mulai terjaga dari tidur lelap ku, dan menggeliat kan badan ke kanan dan ke kiri.
Setelah itu aku memandangi wajah tampan, yang masih terlelap di sebelah ku dengan serius.
"Jangan di pandangi terus, entar kamu gak bisa tidur nyenyak, karena terbayang-bayang wajah ganteng abang."
Sindir bang Rian dengan mata yang masih terpejam, dan suara serak khas bangun tidur. Aku hanya tersenyum dan tersipu malu, saat mendengar ucapan nya barusan.
Wajah ku langsung memerah seperti tomat busuk, karena menahan malu akibat tertangkap basah oleh si empunya badan.
"Yeeee, siapa juga yang mandangin abang, ge er." cibir ku sembari memalingkan wajah ke samping.
"Halaaah, gak usah malu-malu gitu lah. Abang tau kok, dari tadi dirimu mandangin abang terus. Ya kan, ngaku aja deh!" ledek bang Rian lalu membuka mata nya, dan tersenyum manis pada ku.
"Gak lah, perasaan abang aja kali tuh." balas ku masih tetap kekeuh menolak tuduhan bang Rian.
Untuk mengalihkan perhatian bang Rian, aku pun berinisiatif untuk menanyakan perihal pekerjaan nya.
"Hari ini abang gak kerja?" tanya ku basa-basi.
"Kerja dong, sayang. Kalau abang gak kerja, trus dari mana abang bisa dapatkan uang untuk mu?" tanya bang Rian balik.
__ADS_1
"Ya... Siapa tau aja abang punya tuyul. Jadi kan abang gak perlu capek-capek kerja lagi. Tinggal duduk manis aja di rumah, sambil jagain lilin, hihihi." oceh ku sembari cekikikan.
Mendengar ocehan ku yang tidak masuk akal, tawa bang Rian pun langsung pecah seketika. Dia tampak sangat terhibur dengan kata-kata ku barusan.
"Hahahaha, gila. Makin lama kok makin ngawur aja omongan nya." umpat bang Rian sembari menoyor jidat ku.
Aku kembali tersenyum, sambil terus memandangi wajah bahagia bang Rian. Setelah selesai dengan tawa nya, bang Rian pun mulai memiringkan badan nya, dan melingkar kan satu tangan nya di perut ku, lalu berbisik...
"Mandi yok, sayang!" ujar bang Rian.
"Oke," balas ku mengangguk.
Setelah mengecup kening dan kedua pipi ku, bang Rian pun langsung mengangkat tubuh ku ala bridal style ke dalam kamar mandi.
Mendapat perlakuan mendadak seperti itu dari bang Rian, aku pun reflek melingkar kan kedua tangan di leher nya, dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher lelaki gagah nan tampan tersebut.
Aku memejamkan mata, lalu menghirup aroma wangi tubuh bang Rian. Ada rasa yang berbeda di hati ku, saat melakukan hal itu pada nya. Jantung ku dag-dig-dug tidak karuan, ketika melirik wajah bang Rian dengan ekor mata ku.
"Ya Allah, ada apa dengan hati ku ini? Apakah aku mulai jatuh cinta dengan nya?" batin ku gelisah.
Sedang asyik-asyiknya berperang dengan isi kepala, tiba-tiba aku tersentak dan langsung membuka mata, saat bang Rian menghentikan langkah nya dan mendekatkan bibir nya ke wajah ku.
"Udah nyampe, sayang. Mau sampe kapan kamu nemplok terus kayak gini, hah? Udah kaya anak tokek aja, hahaha." ledek bang Rian sembari tergelak.
"Sembarangan, bilangin orang anak tokek! Mau minta di libur kan sebulan ya, jatah nya?" ancam ku lalu turun dari gendongan bang Rian, dan menepuk pelan bahu nya.
"Gak mau, enak aja di liburkan sebulan. Bisa-bisa karatan lah dedek abang ini, kalau gak di celupkan selama itu." oceh bang Rian sembari memanyunkan bibir nya.
Melihat wajah masam bang Rian, aku pun kembali meledek nya sambil menoel-noel dagu lancip nya.
"Ciye ciye, ngambek niyeee." ledek ku sembari tersenyum miring.
"Gak lah, siapa yang ngambek?" ujar bang Rian.
Dia memalingkan wajah nya dari tatapan mata ku. Lalu mengulurkan tangan nya ke arah shower yang ada di sebelah nya, lalu menyalakan nya.
"Mau mandi pakai air hangat atau air dingin?" tanya bang Rian mengalihkan pembicaraan.
"Air dingin aja, biar segar." jawab ku.
"Oh, oke." balas bang Rian lalu menyetel suhu air tersebut.
Setelah selesai, bang Rian menarik lengan ku dan memeluk ku dari belakang. Dia mulai menggerayangi tubuh ku di bawah guyuran shower.
Bang Rian menjalarkan jari-jari nakal nya, dan menempel bibir nya di leher ku. Aku yang sudah mengerti dengan kode alam nya itu pun, hanya pasrah dan mengikuti alur permainan nya.
Dengan tubuh yang sama-sama basah kuyup, bang Rian terus saja melancarkan aksinya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada ku.
Setelah merasa puas, bang Rian memutar posisi berdiri ku untuk menghadap pada nya. Setelah itu, dia pun kembali melanjutkan kegiatan nya.
Bang Rian mulai mengarah kan bibir nya di dua benda kenyal ku. Aku hanya tersenyum, saat melihat bayi kolot ku sedang asyik menikmati ulah nakal nya.
__ADS_1
"Lagi ngapain, bang? Mimik cucu ya, hihihi." ledek ku sembari terkikik geli, dan membelai lembut rambut nya.
"Udah tau, nanya." balas bang Rian dengan senyum menyeringai, dan kembali melanjutkan perbuatan nya.
Setelah merasa kenyang meminum susu nya, bang Rian pun mulai melakukan tugas utama nya. Dia memacu gerakan nya dengan cepat dan sedikit kasar. Hingga membuat ku sedikit kewalahan, menghadapi hasrat nya yang sedang menggebu-gebu tersebut.
Setelah berpacu selama kurang lebih satu jam, bang Rian pun menyelesaikan kegiatan panas nya, dengan menyemburkan benih nya ke dalam milik ku.
"Ah, lega nyaaaa." tutur bang Rian dengan mata terpejam, dan kepala yang mendongak ke atas, serta kedua tangan yang masih memegangi pinggang ku.
"Baru aja tadi di bilang libur sebulan. Eeehh, malah udah di coblos aja." omel ku.
"Hehehehe, maaf sayang abang khilaf. Libur nya lain kali aja ya, waktu dirimu datang bulan." balas bang Rian sembari nyengir kuda.
"Lah, kalau itu sih memang wajib libur. Apa mau di sosor juga waktu datang bulan?" tanya ku dengan kening mengkerut.
"Ya enggak lah, gilak apa? Abang gak setega itu juga kali. Bejat-bejat gini, abang masih punya hati nurani tauuuu." jawab bang Rian membantah ucapan ku.
"Oh, bagus lah kalo gitu. Kirain mau di embat juga." balas ku cuek.
"Ya gak mungkin lah, sayang. Abang pun tau kok, mana waktu yang tepat untuk melakukan nya." ujar bang Rian sembari mengecup kening ku.
"Syukur lah, kalo abang ngerti." balas ku lega.
Setelah perdebatan sengit berakhir, aku dan bang Rian pun mulai membersihkan diri masing-masing, di bawah guyuran air shower yang dingin.
Setelah selesai, kami berdua bergegas memakai pakaian, dan bersiap-siap untuk check out dari hotel tersebut.
"Udah siap, sayang?" tanya bang Rian, sambil merapikan rambut nya di depan cermin meja rias.
"Udah, yok keluar!" jawab ku sembari menggandeng lengan bang Rian, dan berjalan beriringan menuju pintu.
Sesampainya di meja resepsionis, bang Rian pun menyerahkan kunci kamar kepada wanita yang sedang bertugas.
Setelah itu, kami kembali berjalan menuju parkiran yang berada di halaman hotel, tempat kami menginap tersebut.
Sampai di dalam mobil, aku dan bang Rian memasang sealbeat ke badan masing-masing.
"Mau langsung balek, atau mau makan dulu?"
Tanya bang Rian sambil menyalakan mesin kendaraan nya, dan mulai melajukan nya ke jalan raya.
"Langsung balek aja, bang. Aku belum lapar soal nya." jawab ku.
"Oke siap, tuan putri." balas bang Rian sembari menoleh, dan menyunggingkan senyum manis nya pada ku.
Aku membalas senyuman maut nya, dan mengecup kilat pipi nya. Setelah itu, aku menyandarkan kepala ku di bahu kiri nya.
Melihat tingkah manja ku itu, bang Rian pun kembali tersenyum, dan mengelus-elus kepala ku dengan satu tangan nya.
"I love you, sayang." ujar bang Rian lalu mengecup kening ku.
__ADS_1
"Iya, aku juga l love you." balas ku dengan senyum yang mengembang di bibir ku.