
"Aku takut merepotkan mu, Ndah." balas Ririn.
Ririn menunduk kan kepala nya, sambil memilin-milin ujung baju kemeja putih nya. Melihat ekspresi wajah Ririn yang tampak gelisah, aku langsung merangkul pundak nya dan menepuk-nepuk pelan lengan nya.
"Coba ceritain sama aku, ada masalah apa rupanya? Sampai membuat mu gak ada megang uang sedikit pun." bisik ku pelan.
Ririn mendongak kan kepala nya, dia menatap ku dengan mata yang sudah berair.
"Ayo lah, Rin. Cerita kan aja masalah mu, mana tau aku bisa bantu!" bujuk ku sambil terus merangkul pundak nya.
"Iya, Rin. Ceritain aja sama kami berdua! Biar kami bisa cari solusi buat masalah mu itu." sambung Rara menimpali ucapan ku.
Dengan air mata yang sudah berlinangan di kedua pipi nya, Ririn pun mulai menceritakan keluh kesah yang sedang di alami nya saat ini.
"Aku...aku kehabisan uang karena..."
Ririn menjeda kata-kata nya, dia terlihat sangat ragu untuk mengungkapkan isi hati nya kepada ku dan juga Rara.
"Ayo lah, bestie! Ngomong nya jangan di gantung-gantung gitu kenapa, sih? Bikin kepo aja nih, bocah gendeng." ledek Rara.
"Ssstttt, muncung mu itu!"
Aku menempel kan jari telunjuk ke mulut Rara, sambil menatap tajam pada nya, dengan mata yang membulat sempurna. Rara langsung terdiam sambil cengar-cengir, melihat mata ku yang sudah hampir keluar dari sarangnya.
"Ayo, lanjutkan cerita mu, Rin!" ujar ku pada Ririn.
Dengan ragu dan berat hati, akhir nya Ririn pun kembali menceritakan masalah nya.
"Ibu ku di kampung sedang sakit keras, Ndah. Saat ini lagi di rawat di rumah sakit. Dan sekarang, mereka lagi butuh uang buat biaya pengobatan nya." jelas Ririn.
Aku dan Rara hanya manggut-manggut, mendengar kan cerita Ririn. Kami berdua belum memberikan komentar apa pun, sampai Ririn menyelesaikan cerita nya.
"Semua uang tabungan ku, udah aku kirimkan ke sana. Tapi tetap aja masih kurang, Ndah. Ternyata, uang yang aku kirim itu gak cukup, buat biaya pengobatan ibu ku." lanjut Ririn.
"Emang nya berapa lagi kekurangan nya, Rin?" tanya ku.
"Tiga juta lagi, Ndah." balas Ririn.
"Kenapa kau gak ngomong dari tadi, dodol. Kalo aku tau begini cerita nya, aku pasti akan memberikan uang yang lima juta itu, untuk kau pakai dulu." gerutu ku geram.
"Aku gak berani, Ndah. Aku takut menyusahkan mu." balas Ririn.
__ADS_1
Setelah mendengar penuturan Ririn, aku segera merogoh tas ransel, untuk mencari dompet. Setelah mendapatkan nya, aku langsung mengeluarkan surat cincin, dan menyerahkan nya ke tangan Ririn.
"Nah, kau pegang dulu surat nya!" ujar ku sambil melepaskan satu cincin di jari manis ku.
"Nah, ini cincin nya. Besok kau jual aja cincin ku itu! Harga nya tiga juta lima ratus ribu." jelas ku.
Aku menyerahkan cincin itu ke tangan Ririn, yang masih memegangi surat emas pemberian ku tadi. Mata Rara langsung terbelalak, melihat tingkah ku barusan. Dia sama sekali tidak menyangka, aku akan melakukan hal itu kepada Ririn.
"Kau serius, Ndah?" tanya Rara.
"Iya, aku serius." jawab ku mantap.
Ririn langsung memeluk ku dengan deraian air mata, yang masih setia mengalir di kedua pipi nya.
"Makasih banyak ya, Ndah. Aku gak tau lagi, harus ngomong apa, buat berterima kasih pada mu." bisik Ririn di telinga ku.
"Udah ah, gak usah nangis lagi, malu tau! Udah tua kok cengeng." ledek ku.
Aku melepaskan pelukan Ririn, dan menghapus air mata nya dengan kedua tangan ku.
"Senyum dong, bestie! Jelek kali muka mu, kau kalo lagi mewek gitu." goda Rara.
"Alhamdulillah, akhir nya satu masalah sudah terselesaikan."
Aku membatin, sambil tersenyum bahagia, melihat sahabat karib ku kembali ceria seperti biasa nya.
Tidak terasa waktu kerja telah usai. Kami para waiters bergegas pulang menuju kos masing-masing. Sesampainya di dalam kamar, aku menggantung kan tas di belakang pintu, dan mengganti pakaian kerja dengan setelah baju tidur.
Setelah mencuci muka, tangan, kaki, dan menyikat gigi, aku langsung menjatuhkan diri di atas kasur.
"Huh, capek banget rasa nya badan ini. Baru aja dua malam bekerja, udah remuk gini rasa nya. Gimana lagi kalau hari esok dan seterusnya, ya?" gumam ku.
"Eh, ayang beib ku apa kabar, ya?"
Aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Setelah menyalakan layar nya, aku melihat ada banyak pesan masuk dari Haris. Aku membaca pesan itu satu persatu, sambil menautkan kedua alis ku.
"Maaf ya, Ndah. Malam ini abang gak bisa datang ke kos mu. Karena hari ini abang banyak kerjaan. Abang lembur sampe malam. Jangan marah ya, sayang!"
"Oh iya, Ndah. Abang hampir lupa, abang mau tanya masalah uang kemarin. Itu sebenarnya uang siapa?"
Itu lah pesan yang di kirim oleh Haris. Dia masih saja mempertanyakan masalah uang, dari bang Hendra kemarin. Tampak nya Haris masih penasaran, dengan uang itu.
__ADS_1
"Wah gawat nih, aku pikir dia udah lupa sama uang kemarin. Ternyata, dia masih ingat aja."
Aku bergumam, sambil terus menatap layar ponsel yang sedang menyala, yang ada di genggaman tangan ku.
"Balas gak, ya?" gumam ku lagi.
Aku bingung harus membalas apa pada Haris. Belum ada alasan yang tepat, untuk menjawab pertanyaan nya.
Setelah beberapa saat bergelut dengan hati dan isi kepala. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak membalas pesan Haris.
"Ah, gak usah di balas lah. Dari pada nanti jadi berabe urusan nya. Mendingan pura-pura linglung aja, hihihi."
Aku cekikikan sendiri di atas kasur. Kemudian, aku menonaktifkan ponsel dan meletakkan kembali ke atas meja.
"Maaf ya, bang. Aku terpaksa melakukan semua ini. Demi kelancaran dan keamanan hubungan kita." gumam ku.
Setelah selesai bermonolog dengan diri sendiri, aku bangkit dari kasur dan duduk bersila di atas lantai. Kemudian, aku mengambil rokok yang berada di atas bufet, lalu menyalakan nya.
"Kasian banget si Ririn, dia sampai gak megang uang sepeser pun, demi membantu pengobatan ibu nya." gumam ku.
Aku merenung dengan pandangan kosong, dan menatap lurus ke arah pintu kamar.
"Mudah-mudahan aja, bantuan ku itu bisa berguna buat ibu mu, Rin."
Aku berucap, seolah-olah Ririn ada di depan ku saat ini. Sedang asyik merenung, tiba-tiba pintu kamar ku di ketuk tiga kali.
Tok tok tok...
"Buka pintu nya, Ndah! Indah, buka pintu nya, sayang!" pekik Haris dari luar kamar.
"Waduh, mati aku! Tamat lah riwayat ku kali ini. Aku harus jawab apa ya, kalau dia nanyain soal uang itu lagi?"
Aku membatin sambil menepuk jidat, dan mulai merasa gelisah dengan kehadiran Haris.
"Ayo, mikir, Ndah mikir!"
Gumam ku sembari mondar-mandir di depan pintu. Sedangkan Haris, dia masih saja mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama ku.
Tok tok tok...
"Indah, udah tidur belum? Kok lama banget sih, buka pintu nya?" tanya Haris.
__ADS_1