
"Bang, kita tidur yok! Aku udah mulai ngantuk nih, hoam." ajak ku sembari menguap selebar-lebar nya.
"Loh, udah ngantuk ya, Ndah. Padahal niat nya, abang mau minta nambah lagi." jawab bang Hendra.
"Besok aja ya, bang. Kalau sekarang badan ku lagi capek banget, aku mau istirahat dulu." ujar ku.
"Oh, ya udah deh kalo gitu. Tapi janji ya, besok kita main lagi!" balas bang Hendra.
"Iya, bang. Aku janji, besok kita ulangi lagi main nya." jawab ku.
"Oke, sayang ku. Sekarang kita tidur ya. Kita ngumpulin tenaga dulu, buat lembur besok, hahaha."
Bang Hendra langsung tertawa lepas, setelah selesai mengucapkan kata-kata itu.
"Sini tidur nya, Ndah! Biar abang peluk, biar dirimu gak kedinginan."
Bang Hendra berucap, sembari menepuk-nepuk lengan nya. Dia meminta ku, agar meletakkan kepala ku di atas lengan nya.
"Iya, bentar bang." jawab ku.
Seperti kerbau yang di cucuk hidung nya, aku pun langsung menurut, dan merebahkan diri di samping nya.
"Naaah, kalau gini kan anget, hehehe." ujar bang Hendra memeluk tubuh ku.
"Halah, modus. Bilang aja mau..."
"Ssstttt, diem! Jangan berisik lagi, takut nya nanti di bawah bangun lagi. Kalau dia bangun, emang nya kamu mau tanggung jawab, Ndah?" bisik bang Hendra.
"Ogah ah, capek." tolak ku.
"Tu lah, maka nya jangan berisik! Jangan gerak-gerak lagi. Kalau kesenggol dikit aja, nanti bisa nyetrum dia, hihihi." lanjut bang Hendra sembari terkikik geli.
"Siap, bos ku!" jawab ku asal.
Bang Hendra hanya tersenyum melihat tingkah ku. Dia menenggelamkan wajah ku ke dalam dekapan nya. Lalu, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kami berdua.
Tak lama berselang, aku dan bang Hendra pun mulai terlelap, dan hanyut ke dalam mimpi yang indah.
Kring kring kring, kring kring kring...
"Hadehh, siapa sih nelpon pagi-pagi buta gini? Mengganggu istirahat orang aja kerjaan nya!"
__ADS_1
Bang Hendra menggerutu kesal, dengan mata yang masih tertutup rapat. Dia merentangkan tangan nya, untuk mengambil ponsel yang terletak di atas nakas, yang berada di samping kepala nya.
"Halo, siapa nih?"
Tanya bang Hendra dengan suara serak khas bangun tidur. Dia menjawab panggilan itu, tanpa membuka mata nya sedikit pun.
Aku yang mulai terganggu dengan suara bang Hendra pun, langsung menggeliat dan menoleh pada nya. Bang Hendra sedang menempel kan ponsel di telinga kiri nya, tepat di atas kepala ku.
Berhubung suara ponsel bang Hendra sedikit kuat, sehingga membuat ku bisa mendengar percakapan mereka berdua.
"Ini aku, Mardi. Kau mau check out jam berapa, Hen?" tanya Mardi.
"Bukan urusan mu, kamvret! Ngapain kau tanya-tanya, kapan aku mau check out? Kurang kerjaan banget." jawab bang Hendra ketus.
"Widiih, serem amat sih jawaban nya. Apa aku sedang mengganggu permainan kalian ya?" selidik Mardi.
"Iya, kau memang lagi mengganggu permainan ku. Orang lagi asyik-asyiknya gini, malah kau ganggu pulak!" umpat bang Hendra.
"Waduhhh, maaf ya, Hen! Aku gak sengaja. Lagian aku mana tau, kalau kau sedang asyik bermain dengan wanita mu." ucap Mardi.
"Ya udah, aku tutup dulu ya. Aku lagi sibuk nih, nanti aku hubungi kalau kami sudah siap." bohong bang Hendra.
"Oke, Hen. Selamat bersenang-senang ya, sahabat ku. Awas, jangan sampe copot lutut nya, gara-gara kecapekan bertempur, hahaha." ledek Mardi.
"Huh, dasar bocah gila! Mengganggu istirahat ku aja." gerutu bang Hendra, sembari meletakkan ponsel nya kembali ke atas nakas.
Setelah panggilan berakhir, bang Hendra membuang nafas kasar. Dia terlihat begitu kesal dengan Mardi, karena ulah teman resek nya barusan.
"Ada apa, bang?" tanya ku.
Aku berpura-pura tidak tahu, tentang percakapan nya dengan Mardi tadi. Mendengar suara ku, bang Hendra pun langsung menoleh. Dia menatap wajah ku sambil tersenyum.
"Gak ada apa-apa, sayang. Kita tidur lagi, yok! Abang masih ngantuk nih."
Jawab bang Hendra sembari mencium kening ku, dan kembali memeluk tubuh ku.
"Abang sendiri aja yang lanjut tidur, ya! Aku udah gak ngantuk lagi. Aku mau mandi aja, biar segar." jawab ku.
"Oh, mau mandi ya? Oke lah kalo gitu, ayo kita mandi bareng!" ajak bang Hendra.
Dengan semangat empat lima, bang Hendra langsung beranjak dari ranjang. Dia mengangkat tubuh ku ala bridal style, dan melangkah menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku langsung reflek melingkar kan kedua tangan ku di leher bang Hendra, sambil tersenyum manis pada nya.
Kalau sudah begini cara nya, pasti lagi ada mau nya nih." sindir ku.
"Hahaha, tau aja kamu, Ndah." jawab bang Hendra.
Setelah sampai di dalam kamar mandi, bang Hendra langsung menurunkan tubuh ku di depan wastafel. Kemudian bang Hendra menyalakan shower, dan menyetel nya dengan suhu yang hangat.
Setelah selesai, bang Hendra langsung mendekati ku. Dia menarik tangan ku, dan menyandarkan punggung ku ke dinding.
Kemudian, bang Hendra mulai menciumi bibir ku dengan lembut, di bawah guyuran air shower yang hangat.
"Sayang, kita lakukan disini ya, mau gak?" bisik bang Hendra.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Bang Hendra langsung tersenyum sumringah, melihat anggukan kepala ku. Tanpa basa-basi lagi, bang Hendra pun mulai melancarkan aksi nya.
Dan pada akhirnya, pergumulan panas pun terulang kembali. Bang Hendra memanja kan tubuh ku, dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia juga melakukan gerakan nya, dengan berbagai gaya dan posisi.
Hingga membuat nafas dan suara ku, semakin tidak terkendali. Karena sudah merasa kelelahan, akhir nya aku pun meminta bang Hendra untuk menyudahi kegiatan nya.
"Udah, aku capek, bang. Kita istirahat dulu, nanti kita lanjutkan lagi." bisik ku.
"Oke, sayang ku." jawab bang Hendra.
Karena mendengar ucapan ku, bang Hendra pun semakin mempercepat gerakan nya. Dan tak lama kemudian, bang Hendra pun mencapai puncak kenikmatan nya.
"Makasih ya, sayang ku." ucap bang Hendra sembari mencium kedua pipi ku
Setelah selesai bergumul ria di bawah guyuran shower, aku dan bang Hendra pun melanjutkan acara mandi, yang sempat tertunda karena kelakuan nakal bang Hendra.
"Mau makan apa, Ndah?" tanya bang Hendra sembari memakai pakaian dan sepatu nya.
"Hmmmm, enak nya makan apa ya, bang?" tanya ku balik.
"Kalau nasi Padang, mau gak?" tanya bang Hendra.
"Oke lah, itu pun jadi. Lauk nya rendang daging sama ayam goreng kremes ya, bang! Minum nya jus jeruk." jawab ku.
"Oke, Ndah. Tunggu bentar, ya!" ujar bang Hendra.
"Iya, bang. Hati-hati ya!" balas ku.
__ADS_1
"Iya, sayang. Makasih ya atas perhatian nya." jawab bang Hendra sembari tersenyum, dan mengecup kening ku.
Setelah berpamitan, bang Hendra mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kamar, dan mengunci pintu dari luar.