
Aku menangis sejadi-jadinya di atas kasur dengan posisi telungkup, dan menenggelamkan wajah ku ke bantal. Aku sedih karena sudah menyakiti hati orang yang aku cintai.
Tapi aku juga tidak menyesali perbuatan ku itu, karena aku memang membutuhkan uang tambahan, untuk memenuhi kebutuhan ayah dan juga nenek ku tercinta.
"Maafkan aku, bang. Maafkan aku!" jerit ku dalam hati.
Setelah hampir satu menangisi nasib diri, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang berasal dari atas meja.
Dengan gerakan malas, aku pun berusaha meraih ponsel dengan menggunakan kedua kaki ku. Setelah berusaha keras, akhirnya aku pun mendapatkan nya.
Setelah ponsel itu ada di tangan ku, kening ku pun langsung mengkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Ayah, ada perlu apa lagi ayah menghubungi ku?" batin ku curiga.
Dengan perasaan yang sedikit was-was, aku pun menerima panggilan dari ayah dengan suara serak akibat menangis tadi.
"Halo, assalamualaikum. Ada apa, yah?" tanya ku tanpa basa-basi.
"Wa'laikum salam, kau ada megang uang lagi gak, Ndah?" tanya ayah.
"Gak ada, yah. Uang ku cuma ada dua ratus ribu aja sekarang, aku belum gajian." bohong ku.
"Masa cuma dua ribu?" tanya ayah tidak percaya.
"Iya, cuma dua ratus ribu. Itu pun untuk pegangan ku sampai nunggu gajian bulan depan." jawab ku.
"Pinjam kan lah dulu sama bos mu dua juta, nanti suruh potong kan aja dari uang gaji mu." pinta ayah.
"Ya gak bisa gitu lah, yah. Mana boleh minjam-minjam gitu sama bos. Bisa kena marah aku nanti." bohong ku.
"Ya di coba aja lah dulu, siapa tau dia mau ngasih." desak ayah masih tetap kekeuh dengan keinginan nya.
"Aku gak berani." jawab ku lirih.
"Masa minjam uang gitu aja gak berani sih. Bodoh kali kau jadi orang." umpat ayah ketus.
Mendengar ucapan kasar ayah, air mata ku pun kembali menetes membasahi kedua pipi ku. Aku menangis dalam diam, sambil terus mendengarkan omelan dan umpatan ayah yang cukup menyakitkan bagi ku.
"Orang tua lagi butuh uang, masa kau gak mau bantu dikit pun sih. Kualat nanti kau di sana, kalau gak mau bantu orang tua mu sendiri." umpat ayah semakin menjadi-jadi.
Air mata ku semakin bercucuran mendengar penuturan pedas ayah. Aku tidak menyangka kalau ayah sampai sekasar dan setega itu dengan ku.
__ADS_1
Padahal belum ada seminggu, aku kirimkan uang lima juta pada nya. Itu pun hasil dari berkencan dengan bang Rian.
"Ya Allah, sebegitu mudahkan nya kah mulut ayah mengucapkan kata-kata itu untuk ku." jerit ku dalam hati sambil terus menetes kan air mata.
Aku masih tetap diam dan sama sekali tidak menjawab semua umpatan pedas ayah. Aku tidak ingin di bilang anak durhaka, karena sudah melawan perkataan orang tua ku tersebut.
Karena tidak mendengar jawaban apa pun dari ku, ayah pun kembali melontarkan kata-kata menyakitkan pada ku.
"Kau itu seharusnya bersyukur. Udah di besar kan, udah di kasih makan dan di biayai dari kecil. Kalau tau besar nya bakalan bodoh kayak gini, mendingan dulu ayah titip kan aja kau ke panti asuhan." oceh ayah panjang lebar.
Hati ku langsung terasa perih dan sakitj, menerima kata-kata menyakitkan yang bertubi-tubi dari ayah.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di hati, akhirnya aku pun mulai bersuara lagi.
"Ya udah, nanti aku usaha kan."
Balas ku sembari menutup panggilan, lalu melemparkan ponsel itu ke dinding dengan sekuat tenaga, hingga membuat ponsel itu hancur berantakan di atas lantai.
"Untuk apa kalian membesarkan ku, kalau hanya untuk di sakiti seperti ini? Kenapa gak kalian lenyap kan aja nyawa ku dari dulu, kenapa?" jerit ku sambil menarik-narik kuat rambut ku sendiri.
Berhubung suasana di kos-kosan sekitar ku selalu sepi di waktu siang, maka dari itu tidak akan ada satu orang pun yang merasa terganggu dengan teriakan-teriakan histeris ku.
Aku kembali membenamkan wajah ke dalam bantal, dan meluapkan emosi dan kekesalan ku di atas bantal tersebut.
Setelah tertidur selama empat jam lebih, aku terbangun karena mendengar suara adzan yang berkumandang di seluruh penjuru kota Batam.
Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Setelah itu, aku kembali masuk ke dalam kamar lalu menunaikan shalat magrib. Selesai menunaikan ibadah, tiba-tiba kepala ku berdenyut nyeri.
Saking sakit nya, pandangan ku langsung buram dan berputar-putar tidak karuan. Dan akhirnya aku pun pingsan dengan posisi separuh badan di lantai, dan masih menggunakan mukena lengkap dengan sajadah nya.
Aku tidak sadarkan diri selama berjam-jam, tanpa ada satu orang pun yang tahu tentang keadaan ku tersebut.
Hingga akhirnya aku tersadar, saat ada tangan seseorang yang memangku kepala ku, dan mengguncang-guncang bahu ku sambil terus memanggil nama ku.
"Indah bangun, Ndah. Indah bangun, sayang! Kenapa keadaan mu bisa jadi seperti ini? Tolong buka mata mu, Ndah. Jangan buat aku takut, sayang!" pekik Haris histeris.
Ya, ternyata laki-laki itu adalah Haris. Dia datang kembali ke kamar kos ku, dan langsung terkejut saat melihat keadaan ku yang tidak sadarkan diri.
Karena tidak ada respon apa pun dari ku, Haris menjadi semakin panik dan celingukan kesana kemari untuk mencari minyak angin.
__ADS_1
Saat melihat ada botol minyak angin di atas meja bufet, Haris pun langsung mengambil nya dan mengoleskan nya ke hidung ku.
Setelah beberapa kali mengoleskan minyak angin itu ke hidung dan juga perut ku, akhirnya aku pun kembali sadar dan mulai membuka mata perlahan.
"Alhamdulillah, akhirnya kau sadar juga, Ndah." ujar Haris lega.
"Emang nya aku kenapa?" tanya ku bingung.
"Tadi kau pingsan, waktu abang masuk kesini, abang lihat kau udah terbaring di lantai." jelas Haris.
"Oh," balas ku.
"Kok cuma oh, sih?" tanya Haris heran.
"Lah, trus aku harus jawab apa?" tanya ku balik.
"Ya, seharusnya jelasin dulu lah. Kenapa bisa sampai seperti itu? Apa penyebab nya? Apa karena pertengkaran kita tadi siang?" selidik Haris.
"Gak lah, bukan karena itu." jawab ku.
"Kalau bukan karena itu, trus karena apa?" desak Haris.
"Gak papa." jawab ku dingin.
"Bohong, gak mungkin gak ada masalah apa-apa. Tengok tuh, ponsel mu aja sampe hancur lebur kayak gitu."
Oceh Haris sembari menunjuk ke arah ponsel ku yang masih berserakan di lantai.
"Oh, itu. Tadi ada kelabang di situ, trus karena saking kaget nya, aku langsung reflek melempar kan ponsel ku kesitu." bohong ku.
"Ah, gak mungkin. Kau pasti bohong kan?" tebak Haris.
Aku tidak menjawab sepatah kata pun ucapan Haris. Aku memejamkan mata sejenak, lalu mengingat kembali tentang percakapan ku dengan ayah tadi siang.
Melihat reaksi ku seperti itu, Haris kembali melontarkan pertanyaan-pertanyaan nya pada ku.
Udah lah, Ndah. Jujur aja kenapa sih! Kenapa juga harus di tutup-tutupi gitu?" desak Haris.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan mu? Apakah ada orang yang menyakiti mu tadi?" tanya Haris.
"Gak ada." jawab ku.
__ADS_1
"Kalau gak ada, trus kenapa bisa sampe pingsan gitu?" tanya Haris penasaran.
"Tadi kepala ku sakit, maka nya sampe pingsan." jawab ku.