Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Nenek Terharu


__ADS_3

"Ada yang mau di beli lagi gak, nek?" tanya ku.


"Gak ada, Ndah. Kita pulang aja yok!" ajak nenek.


"Ya udah kalo gitu, kita pulang sekarang." jawab ku.


Aku pun mulai celingukan kesana kemari untuk mencari tukang becak.


"Becak, BANG!" pekik ku.


Aku melambaikan tangan kepada tukang becak yang sedang mangkal tak jauh dari tempat kami berdiri.


"Iya, kak."


Jawab abang becak sambil menganggukkan kepalanya. Tukang becak itu pun datang menghampiri kami berdua. Setelah sampai, aku langsung menyuruh nenek untuk naik duluan ke atas becak.


Tunggu sebentar ya, nek! Aku mau kesana dulu." ucap ku.


Aku meminta nenek untuk menunggu sebentar, sambil menunjuk ke arah penjual martabak Bangka.


"Jangan lama-lama ya, Ndah!" ujar nenek.


"Iya, nek." balas ku.


Aku mengangguk dan mulai berlari kecil menuju tempat penjual martabak.


"Bang, martabak nya dua bungkus ya!" pinta ku.


"Oke siap, kakak." jawab nya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhir nya martabak yang aku pesan pun sudah siap.


"Ini martabak nya, kak!" ujar si penjual martabak.


Dia langsung menyerah kan dua kotak martabak yang sudah di masukkan ke dalam kantong plastik hitam ke tangan ku. setelah menerima nya, aku pun segera menyerahkan uang martabak itu ke tangan nya.


"Makasih ya, kak."


"Iya sama-sama, bang." balas ku.


Setelah mendapatkan martabak, aku kembali berlari kecil menuju becak yang sedang di tumpangi nenek.


"Udah, bang. Ayok kita jalan!" titah ku.


"Oke, kak." jawab si tukang becak.

__ADS_1


Aku mulai naik ke atas becak dan duduk di samping nenek, lalu meletakkan bungkusan martabak itu di pangkuan ku.


Becak yang kami tumpangi pun mulai melaju ke jalan raya dengan santai menuju ke rumah nenek.


"Makasih ya, bang." ucap ku sambil menyerahkan uang ongkos kepada si tukang becak.


"Iya, kak." balas nya.


Aku segera turun dari becak sambil membawa bungkusan martabak tadi. Setelah itu, aku pun mulai memegangi tangan nenek untuk turun dari atas becak.


Setelah kepergian si tukang becak, aku dan nenek pun mulai melangkah menuju ke arah rumah nenek.


Sesampainya di rumah nenek, kami berdua pun langsung duduk melantai sambil selonjoran.


Aku mulai mengeluarkan dompet yang berisikan emas tadi dari saku celana panjang ku, kemudian memakai kan gelang dan kedua cincin itu ke tangan nenek.


"Makasih ya, Ndah. Udah belikan nenek gelang sama cincin ini." ujar nenek.


Nenek berucap dengan mata yang mulai berembun. Beliau tampak sangat senang dengan pemberian ku itu.


"Selama ini gak ada yang pernah belikan nenek emas kayak gini. Mau itu anak-anak nenek, atau pun cucu-cucu yang lain nya." lanjut nenek.


Nenek menghapus air mata nya yang mulai menetes membasahi pipi keriput nya. Setelah itu, nenek pun kembali membuka suara nya.


"Cuma kau lah satu-satunya orang yang mau membelikan nenek emas kayak gini." ujar nenek.


Tangis nenek pun pecah seketika. Beliau tampak sangat terharu dan bahagia atas ketulusan ku pada nya.


"Iya, nek. Alhamdulillah, mumpung lagi ada rezeki ku. Aku sangat senang, bisa melihat nenek bahagia kayak gini." balas ku.


Aku juga ikut menetes kan air mata sambil memeluk tubuh renta nenek. Setelah beberapa saat saling terharu, aku pun mulai merenggang pelukan ku pada nenek.


"Habis maghrib nanti kita ke rumah ayah ya, nek!" ajak ku.


"Iya, nanti kita kesana. Ayah mu udah tau belom kalau kau pulang hari ini?" tanya nenek sambil menghapus air mata nya kembali.


"Belom, nek. Ayah belom tau kalo aku pulang. Aku gak ada kasih kabar ke ayah." jawab ku.


"Oh, nenek pikir ayah mu udah tau. Pasti nanti ayah mu senang kali lihat kau udah pulang kesini." balas nenek.


"Iya mungkin, nek." ucap ku lirih.


"Kok mungkin sih, Ndah? Ya udah pasti senang kali lah ayah mu itu, lihat anak nya udah pulang." balas nenek lagi.


Aku menghela nafas berat, lalu menatap wajah nenek yang tampak sedikit sembab akibat menangis tadi.

__ADS_1


"Aku sering cekcok sama ayah, nek. Karena ayah minta uang terus sama aku." jawab ku.


"Sedang kan aku di perantauan sana juga butuh biaya hidup, nek. Ayah selalu aja menekan ku untuk terus-menerus mengirim kan uang, untuk biaya sekolah dan keperluan lain kedua anak nya itu."


"Maka nya aku sering marah sama ayah, nek." lanjut ku.


"Astaghfirullah, kok gitu pulak sifat ayah mu itu. Seharusnya dia gak boleh lah kayak gitu. Kalo di kasih uang sama anak, seharusnya dia itu bersyukur. Bukan malah maksain gitu." balas nenek.


Nenek beristighfar sambil mengelus dada nya. Beliau tampak sangat terkejut, mendengar penuturan ku barusan. Sedangkan aku, hanya tertunduk lesu mendengar semua kata-kata nenek.


"Entah lah, nek. Aku juga bingung dengan sikap ayah dengan ku sekarang. Aku di perlakukan kayak anak tiri aja sama ayah." balas ku.


Aku mengusap wajah dengan kedua telapak tangan ku. Aku sedih dengan sikap ayah yang semakin menekan ku seperti itu.


"Nanti nenek marahin ayah mu itu. Udah di bantu sama anak kok malah gak bersyukur sama sekali." ucap nenek mulai geram.


"Seharusnya ayah mu itu mikir, punya anak banyak tapi gak pernah ada yang mau bantu dia, selain kau aja." lanjut nenek.


"Biarin aja lah, nek. Gak usah di marahin, biarin aja sampe ayah sadar sendiri!"


Aku menjawab sambil membuka kotak martabak, dan menyodorkan nya ke depan nenek.


"Ini martabak nya, nek! Mumpung masih hangat, kalo udah dingin nanti gak enak lagi." ucap ku.


Setelah selesai ngerumpi panjang lebar bersama nenek, kami berdua pun mulai memakan martabak manis itu dengan santai dan tenang.


Aku tahu kalau sedari dulu nenek paling suka yang namanya martabak. Beliau paling suka dengan makanan yang manis-manis.


Begitu juga denganku, aku juga menyukai makanan dan minuman yang manis. Maka nya wajah ku juga ikutan manis, eaakk.


Tidak terasa hari pun mulai gelap. Setelah aku dan nenek melaksanakan shalat magrib, kami berdua pun mulai bersiap-siap untuk pergi ke rumah ayah.


"Udah siap, nek?"


Aku bertanya sambil menenteng dua bungkusan, yang berisikan oleh-oleh dan martabak yang masih utuh.


"Udah, Ndah." jawab nenek sambil berjalan keluar dari kamar nya.


"Ayok, kita berangkat sekarang!" ajak ku.


Aku dan nenek pun mulai berjalan keluar rumah. Setelah mengunci pintu, kami kembali berjalan menuju pangkalan becak yang berada tidak jauh dari rumah nenek.


Sesampainya di pangkalan, aku langsung memberikan alamat rumah ayah kepada si tukang becak


"Tolong antar kan kami ke alamat ini ya, wak!" pinta ku pada si tukang becak yang tampak seumuran dengan ayah.

__ADS_1


"Oke, siap. Naik lah, dek!" balas nya.


Aku dan nenek pun langsung naik ke atas becak. Setelah aku dan nenek duduk di dalam, tukang becak itu pun mulai menjalankan kendaraan roda tiga nya menuju ke rumah ayah.


__ADS_2