
Karena sudah terbakar gairah, akhirnya aku pun menyetujui permintaan bang Rian dan mengangguk kan kepala.
"Oke, tapi jangan lama-lama ya, bang. Soal nya badan ku lemes banget hari ini," ujar memperingati nya.
"Iya, sayang. Gak lama-lama kok, paling satu jam aja," jawab bang Rian.
Aku hanya tersenyum menanggapi jawaban nya. Setelah mendapat persetujuan ku, bang Rian pun mulai menyerang ku dengan brutal. Ia mengangkat tubuh ku ke atas kasur, dan mulai mencumbui ku dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun.
Selesai dengan cumbuan-cumbuan mesra nya, bang Rian pun mulai mengarahkan tombak keras nya ke depan bibir gua ku. Dan dengan sekali hentakan kuat, tombak itu pun masuk dengan sempurna tanpa hambatan apa pun.
Setelah itu, bang Rian pun mulai memaju-mundur kan pinggul nya dengan kecepatan penuh. Aku mulai memejamkan mata dan menikmati pelayanan nya. Aku semakin terlena dan terbuai oleh permainan buas nya.
Suara-suara desah*n nikmat pun mulai keluar dari bibir kami berdua. Dengan nafas ngos-ngosan dan keringat di sekujur badan, bang Rian pun semakin mempercepat laju gerakan nya.
Hingga akhirnya, ia pun menyemburkan cairan kental nya ke dalam gua ku dengan tubuh menegang dan kepala mendongak ke atas.
Kedua tangan nya juga mencengkram kuat dua benda kenyal ku. Hingga membuat ku sedikit meringis menahan sakit, akibat terkena kuku tajam nya.
Setelah permainan selesai, bang Rian pun mulai mengeluarkan tombak nya dari dalam gua ku, dan menjatuhkan tubuh lemas nya di sebelah ku.
Dengan keadaan sama-sama polos, kami berdua pun berbaring telentang untuk beristirahat sejenak, dan mengatur nafas yang masih terasa sesak tidak karuan.
Setelah keadaan tubuh sudah stabil, aku segera bangkit dari kasur dan mengajak bang Rian untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
"Bersihin dulu yok, bang! Entar di kerubungi lalat loh itu nya," seru ku menunjuk ke arah tombak nya, dan mengambil handuk yang tergeletak di lantai dan memakai nya.
"Iya, sayang kuuu," jawab bang Rian lalu beranjak dari kasur dan melangkah dengan gerakan malas menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri masing-masing, kami berdua pun memakai pakaian kembali, dan duduk bersila di atas lantai yang sudah di alasi karpet merah.
"Kita makan dulu ya, sayang!" ujar bang Rian lalu mengambil bungkusan yang ada di atas meja dan membuka nya.
"Iya," jawab ku mengangguk.
Setelah makanan itu terbuka, aku dan bang Rian pun langsung menyantap nya dengan lahap dan cepat. Selesai makan, kami berdua kembali bersantai sambil menyalakan rokok masing-masing.
"Bang, ada yang ingin aku omongin tentang hubungan kita," tutur ku membuka percakapan.
"Ngomong aja, sayang. Nggak usah ragu-ragu, biar abang dengerin," ujar bang Rian sambil menghisap rokok nya.
Aku menghela nafas berat, lalu mulai menyampaikan pesan dari ayah dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan.
"Semalam aku sudah ngomong sama ayah, kalau abang ingin melamar ku. Ta-tapi..."
Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kata ku. Lidah ku mendadak kelu, untuk menyampaikan kepada bang Rian, tentang mahar yang di minta oleh ayah.
"Tapi apa?" desak bang Rian dengan kening mengkerut.
"Ta-tapi ayah minta mahar nya du-dua puluh ju-juta," jawab ku tergagap lalu tertunduk lesu.
Aku tidak berani menatap wajah bang Rian. Aku sangat malu dan tidak enak hati dengan lelaki yang ada di hadapanku itu.
Melihat reaksi ku seperti itu, bang Rian pun mengulurkan tangan nya untuk menyentuh dagu ku. Ia mendongakkan kepala ku, lalu tersenyum manis pada ku.
"Ooohhh, jadi ayah minta uang mahar nya dua puluh juta ya?" tanya bang Rian lagi.
__ADS_1
"I-iya," jawab ku semakin gugup dan gelisah, lalu menatap wajah tampan nya dengan mata berkaca-kaca.
Melihat mata dan wajah sayu ku, bang Rian pun semakin melebarkan senyuman nya, lalu berucap...
"Jangan mewek gitu, ah! Jelek tau gak?" ledek bang Rian lalu membawaku ke dalam dekapan nya.
Ia membelai rambut panjang ku, dan sesekali mengecup ujung kening ku dengan penuh kasih sayang.
"Nggak usah sedih, sayang. Abang sama sekali nggak keberatan kok, kalau ayah meminta mahar segitu. Abang akan turuti keinginan ayah itu, yang penting kita sudah mendapatkan restu dari nya," tutur bang Rian panjang lebar.
Mendengar ucapan bang Rian, aku pun langsung melepaskan dekapan nya dan menatap wajah nya dengan serius.
"Beneran?" tanya ku tidak percaya.
"Ya beneran lah, sayang. Masa bohongan sih? Aneh-aneh saja kamu itu," jawab bang Rian lalu mencubit gemas hidung ku.
Tangis ku pun langsung pecah seketika, setelah mendengar penuturan bang Rian. Aku sangat terharu dengan kesungguhan bang Rian, yang ingin menjadikan ku sebagai pendamping hidup nya kelak.
Dengan deraian air mata di kedua pipi, aku pun kembali berhambur ke dalam pelukan nya.
"Terima kasih banyak ya, bang. Aku tidak tau, harus bagaimana lagi aku membalas semua kebaikan abang selama ini, hiks hiks hiks..."
Aku menangis sesenggukan dalam pelukan hangat nya. Rasa sedih dan bahagia, campur aduk jadi satu dalam hati ku.
Melihat tangis ku yang semakin menjadi-jadi, bang Rian pun semakin mengeratkan pelukannya dan kembali mendarat kan kecupan-kecupan mesra nya di wajah ku.
"Udah, nggak usah cengeng. Hubungi ayah sekarang, abang ingin berbicara dengan nya!" titah bang Rian lalu melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata ku dengan jari tangan nya.
Kemudian aku pun mengambil ponsel dan mencari nomor kontak ayah, lalu menghubungi nya. Setelah panggilan itu terhubung, aku pun langsung mengaktifkan pengeras suara nya, agar kami berdua bisa sama-sama mendengarkan perkataan ayah.
Tut tut tut...
"Halo assalamualaikum, yah," salam ku.
"Wa'laikum salam, ada apa, Ndah?" tanya ayah langsung to do point.
"Ini, ada yang mau ngomong sama ayah," jawab ku lalu menyerahkan ponsel itu ke tangan bang Rian.
"Siapa?" tanya ayah.
Aku tidak menjawab pertanyaan ayah, dan langsung di sambut dengan salam oleh bang Rian.
"Halo yah, assalamualaikum," salam bang Rian dengan suara lembut.
"Ya, wa'laikum salam. Siapa ini?" tanya ayah.
"Saya Rian, yah. Orang yang akan melamar Indah," jawab bang Rian sembari menatap wajah ku.
"Oooohhh, kamu. Ya, Indah semalam sudah cerita tentang rencana kalian. Trus, bagaimana dengan uang mahar nya? Apakah kamu sanggup memberikan nya?" tanya ayah tanpa rasa canggung sedikit pun.
Aku langsung tertunduk malu, ketika mendengar pertanyaan ayah. Melihat reaksi ku, bang Rian pun langsung menarik tangan ku dan menggenggam nya dengan erat. Ia seolah-olah sedang memberikan semangat dan kekuatan untuk ku.
"Ya, saya sanggup, yah. Saya akan mengirimkan uang itu secepatnya," jawab bang Rian mantap.
__ADS_1
"Oh, syukur lah kalo gitu. Jadi, kapan rencana kalian melangsung kan niat baik itu?" tanya ayah lagi.
"Secepat nya, yah. Setelah pengurusan surat-surat selesai, kami akan segera melangsungkan nya," jawab bang Rian.
"Oh, iya lah. Semoga kalian hidup bahagia, dan langgeng hingga akhir hayat." tutur ayah penuh harap.
"Aaamiiiiin, makasih atas doa nya, yah," balas bang Rian.
"Ya, sama-sama. Tapi ingat, jaga Indah baik-baik. Jangan pernah sakiti jiwa dan raga nya. Dia itu anak yang baik, ayah sangat bangga pada nya. Jadi, tolong kamu sayangi dia dengan sepenuh hati mu. Jangan pernah sia-siakan wanita baik seperti dia, paham!" tutur ayah tegas.
"Paham, yah. Ayah jangan khawatir. Saya janji, saya akan mencintai dan menyayangi nya dengan sepenuh hati saya," balas bang Rian.
"Oke, ayah akan pegang janji kamu. Ayah percayakan anak kesayangan ayah itu pada mu." tutur ayah.
"Iya, makasih ya, yah. Sudah memberikan restu untuk kami berdua," balas bang Rian sembari tersenyum pada ku.
Aku yang sedari tadi hanya diam pun, langsung membalas senyuman maut nya.
"Ya sudah, nanti kabari saja kalau sudah menjelang hari H nya ya, biar ayah yang jadi wali si Indah," tutur ayah lagi.
"Oke siap, yah. Nanti pasti saya kabari," jawab bang Rian.
"Ya udah kalo gitu, ayah tutup dulu ya, assalamualaikum," pamit ayah menutup panggilan sepihak.
"Iya yah, wa'laikum salam," jawab bang Rian.
Setelah panggilan berakhir, bang Rian pun meletakkan ponsel ku ke atas meja, lalu kembali membawaku ke dalam pelukan nya. Raut wajah nya tampak sangat bahagia, setelah selesai berbicara dengan ayah.
"Alhamdulillah, sayang. Satu masalah sudah selesai. Sekarang tinggal mengurus surat-surat kepemilikan nya saja," tutur bang Rian.
"Surat-surat kepemilikan? Maksud nya?" tanya ku bingung.
"Tuh kan, kumat lagi oon nya. Masa gitu aja gak tau sih?" cibir bang Rian kesal.
"Hehehehe, nama nya juga masih lugu, bang. Jadi gak tau apa-apa soal itu," jawab ku sembari nyengir kuda dan memasang wajah seimut mungkin.
"Helehh, lugu apa nya? Udah janda gini kok masih di bilang lugu? Anda sehat, bos?" ledek bang Rian lalu mengacak-acak rambut ku.
Ia tampak gemas dengan tingkah ku yang terlihat lucu menurut nya. Sedangkan aku, aku hanya cengar-cengir menanggapi ledekan nya tersebut.
"Ndah, mulai malam ini kamu nggak usah kerja lagi ya? Bilang sama bos mu, kamu resign karena kamu akan segera menikah," pinta bang Rian.
"Oke," jawab ku mengangguk.
Bang Rian pun langsung tersenyum lebar, setelah mendengar jawaban ku. Lagi-lagi, ia menciumi ku dan mencubit kedua pipi ku dengan gemas.
"Makasih ya, sayang," ucap bang Rian.
"Makasih untuk?" tanya ku bingung.
"Makasih karena kamu mau menuruti perintah abang," ujar bang Rian.
"Oooohhh, itu toh. Abang kan calon suami aku, jadi ya aku harus nurut lah. Kalau aku ngelawan, takut nya nanti jadi istri durhaka pulak, hehehe," tutur ku sembari terkekeh.
"Naaah, tu tau. Anak pintar, hahahaha," gelak bang Rian kembali mengacak-acak rambut ku.
__ADS_1