
Selesai bersenda gurau dengan teman gendeng ku, tiba-tiba Alex datang bersama satu teman nya. Mereka berdua menggunakan mobil nya masing-masing.
"Lah, baru aja di omongin. Udah nongol aja tuh orang." batin ku.
"Eh, itu orang nya udah datang, Ndah." bisik Ririn sembari menyenggol lengan ku.
"Iya, aku juga nampak, dodol." balas ku.
Mata semua para waiters tertuju pada dua mobil yang sudah terparkir rapi di halaman gedung karaoke, termasuk aku dan Ririn.
Setelah keluar dari mobil, Alex dan teman nya pun mulai melangkah mendekati ku yang sedang duduk berdua bersama Ririn di bangku panjang, tepat di dekat pintu utama.
"Ayo kita masuk, sayang!"
Seru Alex sembari menggenggam tangan ku, dan membawa ku masuk ke dalam ruangan karaoke.
"Ayo ikut aku, Rin." seru ku pada Ririn.
"Oke," balas Ririn sembari mengekori langkah kami dari belakang.
Sampai di dalam, aku memilih meja yang pas buat kami berempat. Setelah mendapatkan nya, aku mempersilahkan Alex dan teman nya untuk duduk di tempat yang sudah aku pilihkan tersebut.
"Silahkan duduk abang-abang ganteng!" ujar ku sembari tersenyum manis kepada kedua lelaki tampan itu.
Melihat senyuman maut ku, teman Alex pun langsung membalas nya dengan senyum yang mengembang di bibir nya. Alex yang melihat reaksi teman nya itu pun langsung terlihat kesal, dan mengoceh di depan kami.
"Hm hm hm, gak usah senyum-senyum gitu sama dia, Ndah! Senyum mu itu cukup untuk aku aja, jangan di bagi-bagikan sama dia juga." oceh Alex.
"Yaelah, Lex. Cuma senyum doang kok sampe segitu nya sih, aneh." jawab teman Alex.
"Ya iya lah, nanti kau kepincut pulak sama wanita ku ini." jawab Alex ketus.
"Hahaha, tau aja dia tentang isi kepala ku" balas teman Alex yang bernama Andre itu sambil tergelak.
"Ya tau lah, kau itu kan playboy cap kadal. Aku udah hapal semua seluk beluk tentang kelakuan mu itu." balas Alex.
"Iya iya, aku ngalah aja deh. Dari pada kena cakar sama kucing garong nanti, mendingan aku mundur aja." ujar Andre pasrah.
"Bagus lah kalau kau sadar." balas Alex sembari tersenyum miring.
"Heh heh heh, kenapa jadi ribut gini sih. Bikin malu aja, udah pada tua juga." omel ku.
"Ntah tu Alex, kayak bocah aja pake acara rebutan segala." cibir Andre.
"Maka nya kau jangan berani macam-macam sama wanita ku." balas Alex masih dengan nada ketus nya.
"Siapa yang macam-macam? Aku kan cuma membalas senyuman nya aja tadi, bukan berbuat yang aneh-aneh. Ya kan, Ndah?" tanya Andre.
__ADS_1
"Iya, dia gak macam-macam kok, Lex. Gak usah khawatir." jawab ku membenarkan ucapan Andre.
"Ya siapa tau dia ngincar dirimu juga, sayang." ujar Alex sembari memeluk ku yang sedang duduk di sebelah nya.
"Ya gak lah, aku juga tau kok kalau dia itu punya mu." bantah Andre.
"Udah udah, gak usah pada berantem lagi, ah! Sekarang kalian mau minum apa, biar aku ambilkan ke kasir?" tanya ku menengahi perdebatan mereka.
"Kita minum nya gak usah banyak-banyak ya, biar kita bisa cepat check in nya." ujar Alex.
"Ya terserah abang aja lah, aku ngikut aja." balas ku.
"Loh, emang kalian mau check in dimana? Kok gak ngajak-ngajak aku sih? Tega banget ninggalin aku sendirian." tanya Andre.
"Ya hotel lah, emang nya kau pikir kami mau check in di kolong jembatan! Kalau kau mau ikut, kau bawa aja cewek yang ada di samping mu itu. Biar kau gak mengganggu kesenangan kami nanti di sana." oceh Alex.
Alex menunjuk ke arah Ririn yang sedari tadi hanya berdiam diri, memperhatikan percakapan kami bertiga.
Mendengar ucapan Alex, Ririn pun langsung tersentak kaget dan langsung menoleh pada ku. Dia seakan-akan meminta pendapat ku tentang ucapan Alex barusan.
Mendapat tatapan dari Ririn, aku pun langsung mengangguk kan kepala tanda setuju dengan kata-kata Alex.
"Gimana, dek? Kamu mau gak kalau di ajak ke hotel sama kawan ku ini?" tanya Alex pada Ririn.
"Ma-mau, bang." jawab Ririn gugup.
"Ya udah deh, aku ikut kalian. Dari pada bikin pusing kepala nanti nya, udah siap minum gak salurkan kemana-mana." balas Andre menyetujui ucapan Alex.
"Ya udah kalau kau mau ikut, nanti habis minum kita langsung jalan aja, oke." ujar Alex lagi.
"Oke," balas Andre sembari tersenyum.
Sesudah membuat kesepakatan, Alex pun memesan empat botol minuman, dua bungkus kacang, dan empat bungkus rokok pada ku.
Setelah mendengar pesanan Alex, aku dan Ririn pun langsung beranjak dari tempat duduk masing-masing. Lalu kami berdua melangkah bersama menuju ke arah meja kasir.
"Bil, pesan minuman hitam empat botol, rokok empat bungkus sama kacang kulit nya dua bungkus." pinta ku.
"Cepat ya gerak nya, jangan lelet kayak keong racun!" goda ku sembari tersenyum miring pada Billy sang kasir.
"Iya, cerewet kali sih lampir gila satu ini." umpat Billy sembari menyiapkan pesanan ku.
"Maka nya kau jangan lelet kali gerak nya, biar muncung ku ini gak cerewet terus sama mu." balas ku tak mau kalah.
"Ya lah, sukak mu lah situ. Kalo ngomong sama orang setres, lama-lama aku juga ikutan stres pulak nanti, hiiiiii." balas Billy sembari bergidik ngeri.
"Hahahaha, udah tau gitu pun masih aja kau ladeni terus." gelak ku.
__ADS_1
"Udah, ah! Kalian ini kayak kucing sama gukguk aja pun dari tadi. Kalau udah jumpa, pasti cakar-cakaran terus kerjaan nya." omel Ririn menengahi percekcokan ku dan Billy.
"Maka nya bilangin sama kawan sedeng mu itu. Kalo dia mau gila, ya gila sendiri aja. Jangan bawa-bawa aku segala." cibir Billy.
"Helehh, sama-sama gila aja kok. Ya gak, Ndah?" ujar Ririn.
"Yoi, betul sekali, hahaha." jawab ku sembari tertawa ngakak.
Aku dan Ririn tertawa berjamaah melihat ekspresi wajah Billy yang berubah masam sambil memanyunkan bibir nya ke depan.
"Udah, gak usah cekakakan terus. Balek ke meja kalian sana, bikin semak aja disini!" usir Billy.
"Siap, bos." balas ku.
Sedangkan Ririn, dia malah senyam-senyum sendiri melihat tingkah ku, yang sedari tadi terus saja menggoda Billy.
Sampai di meja Alex, aku dan Ririn langsung menuangkan minuman itu ke dalam gelas, lalu menghidangkan nya di depan kedua lelaki tampan tersebut.
"Silahkan di minum, Lex!" ujar ku.
"Ya makasih, sayang." balas Alex.
"Iya, sama-sama." balas ku sembari mendudukkan diri di sebelah Alex.
Aku dan Alex meminum minuman itu sampai tandas satu gelas dalam satu nafas. Setelah itu, aku kembali menuangkan minuman itu ke dalam gelas Alex dan juga gelas ku.
Begitu juga dengan Ririn dan Andre. Mereka juga melakukan hal yang sama, seperti yang aku lakukan dengan Alex.
"Kalian mau nyanyi gak, Ndah?" tanya Ririn.
Mendengar pertanyaan Ririn, Alex pun langsung menyahuti nya, tanpa memberikan ku kesempatan untuk menjawab nya.
"Gak usah, kalian aja yang nyanyi. Kami mau mesra-mesraan aja disini." jawab Alex.
"Loh, yang di tanya tadi kan aku, kenapa dirimu pulak yang jawab?" protes ku pada Alex.
"Ya kan sama aja sih, sayaaaang. Apa beda nya coba, kau yang jawab sama aku yang jawab?" tanya Alex sambil terus memeluk tubuh ku.
"Iya, sih." jawab ku lirih.
Setelah selesai otot-ototan dengan Alex, aku kembali menoleh ke arah Ririn sembari berkata...
"Kami gak nyanyi, Rin. Kalau kalian mau nyanyi, ya nyanyi lah. Biar kami dengerin suara cempreng kalian berdua, hihihi." ledek ku sambil cekikikan.
Mata Ririn langsung terbelalak lebar saat mendengar ledekan ku barusan.
"Enak aja bilangin suara ku cempreng, suara merdu-merdu gini kok di bilang cempreng. Udah rusak kuping ya?" omel Ririn tak mau kalah.
__ADS_1
"Kayak nya sih, iya. Soal nya kuping ku langsung berdengung kalo dengar suara merdu mu itu, hihihi." balas ku sambil kembali cekikikan.