
"Pokok nya ayah gak mau tau, Ndah. Kau harus mengirimkan uang, tiga juta lima ratus ribu besok siang!" ucap ayah sembari menutup panggilan nya.
"Tapi, yah..."
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kata ku, karena ayah langsung menutup panggilan nya.
Dengan hati yang sedih dan terluka, aku meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja. Kemudian, aku merebahkan diri di atas kasur sembari merenung.
"Sebenarnya, aku ini anak tiri atau anak kandung sih? Kok ayah sampai setega itu dengan ku." gumam ku.
Aku menghapus air mata, yang sedari tadi tiada henti-hentinya mengalir di kedua pipi ku. Sedang asyik dengan lamunan ku, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Ndah, buka pintu nya, ini abang!" pekik Haris.
"Ya, bang bentar!" balas ku.
Aku beranjak dari kasur, dan bergegas membuka kan pintu untuk Haris. Aku menautkan kedua alis, setelah melihat keadaan Haris yang sedang sempoyongan di depan pintu.
"Kau mabuk ya, bang?"
Aku bertanya sembari memapah tubuh Haris, dan membaringkan nya di atas kasur. Setelah menutup pintu, aku membuka sepatu dan semua pakaian Haris. Setelah itu, aku menggantung kan pakaian nya di belakang pintu.
"Ndah, abang mencintai mu. Jangan pernah tinggalkan abang ya, sayang!"
Haris mengoceh dengan suara serak dan mendayu-dayu. Dia juga menatap wajah ku dengan mata sayu nya.
"Sini, sayang! Abang mau peluk dirimu. Abang sangat merindukan mu, Ndah." lanjut Haris.
Haris melambaikan tangan nya pada ku. Aku yang sedang berdiri di samping nya pun langsung mendekat, dan berbaring di samping nya.
"Abang sangat mencintai mu, Ndah. Abang gak bisa hidup tanpa mu." bisik Haris sembari memeluk erat tubuh ku.
"Iya, bang. Aku juga mencintai dan menyayangi mu." balas ku.
Aku menenggelamkan wajah ku di ceruk leher Haris, dan membalas pelukan nya.
"Sayang, abang lagi pengen nih. Kita main, yok!" bisik Haris manja.
"Aduh, dia minta jatah pulak. Pikiran ku sedang semerawut kayak gini, mana bisa aku konsentrasi meladeni nya." batin ku gelisah.
Aku tidak menjawab permintaan Haris. Aku hanya berdiam diri di dalam pelukan nya.
"Kenapa gak di jawab, sayang? Kamu gak mau ya, meladeni abang sekarang?" selidik Haris.
"Bu-bukan gitu, bang. Aku...aku..."
Aku menjeda ucapan ku, lalu melepaskan diri dari pelukan Haris. Aku menatap wajah Haris yang tampak memelas.
Dia sangat berharap agar aku mau memenuhi keinginan nya itu. Dengan berat hati, aku pun menyetujui permintaan nya. Aku mengangguk dan tersenyum kepada nya.
"Oke, bang." balas ku.
Mendengar jawaban ku, Haris pun langsung tersenyum sumringah. Dia kembali menarik tubuh ku ke dalam dekapan hangat nya.
"Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah mau memenuhi kebutuhan abang." ucap Haris.
"Iya, bang." balas ku.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Haris pun mulai melakukan kegiatan panas nya. Dia menciumi seluruh wajah dan juga tubuh ku, dari atas sampai bawah. Tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun.
Dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh alkohol, Haris semakin beringas dan ganas, dalam melakukan pergumulan nya dengan ku.
Aku yang tadi nya tidak bersemangat untuk melayani Haris, kini mulai bergairah dan membalas semua cumbuan Haris.
Aku dan Haris saling memberi dan menerima satu sama lain. Keringat yang mulai membasahi seluruh tubuh, sama sekali tidak kami hiraukan lagi.
Yang terpenting hanya lah, kenikmatan dan kepuasan yang sedang kami rasa kan saat ini. Haris memacu gerakan nya dengan semangat yang sangat menggebu-gebu.
Setelah kurang lebih dua jam bergumul di atas kasur, aku dan Haris pun akhirnya menyudahi permainan itu.
"Makasih ya, sayang. Kau memang wanita yang hebat, dalam masalah ranjang." ucap Haris sembari mengecup kening dan pipi ku.
"Iya, abang ku sayang." balas ku.
Dalam keadaan sama-sama polos, aku dan Haris mulai memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, kami berdua pun langsung terlelap, dan saling berpelukan di bawah selimut.
Saking nyenyak nya tertidur, tanpa terasa hari sudah siang. Aku mulai membuka mata perlahan, dan melirik ke arah jam dinding.
Aku mengucek mata berulang-ulang, untuk memastikan bahwa penglihatan ku tidak salah.
"Waduhhh, udah jam dua belas lewat sepuluh."
Aku memekik dengan mata yang membulat sempurna, akibat saking terkejut nya melihat jam dinding. Haris yang sedang asyik dengan mimpi nya pun, langsung tersentak kaget, karena mendengar suara cempreng ku.
"Ada apa sih, Ndah? Pagi-pagi gini kok, udah teriak-teriak gitu? Kayak orang kesurupan aja?" tanya Haris.
Haris mengucek mata nya, dan duduk bersandar di dinding. Setelah itu, dia menguap lebar dan menggaruk-garuk kepala nya.
"Pagi-pagi apa nya? Tengok tuh, udah jam dua belas lewat!" gerutu ku sembari menunjuk ke arah jam.
Haris langsung bergegas menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu. Lalu dia masuk ke kamar mandi, sambil menenteng keranjang sabun di tangan nya.
Beberapa menit kemudian, Haris kembali masuk ke dalam kamar, dan memakai pakaian nya.
Setelah selesai berpakaian dan memakai sepatu nya, Haris mengecup kening ku sembari berucap...
"Abang pergi dulu ya, Ndah. Kalo ada perlu apa-apa, telpon aja ya!" pamit Haris.
"Iya, hati-hati di jalan ya, bang. Jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya!" balas ku.
"Iya, sayang." jawab Haris.
Haris mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kamar, dan terus melangkah menuju lantai dasar. Sampai di parkiran, Haris langsung melajukan kendaraan nya menuju tempat kerja nya.
Setelah kepergian Haris, aku bergegas merapikan kasur yang berantakan seperti kapal pecah. Akibat pergumulan panas semalam. Selesai beberes, aku segera membersihkan diri ke kamar mandi.
Sedang tergesa-gesa memakai pakaian, tiba-tiba ponsel ku berdering tanda panggilan masuk. Aku langsung mengambil ponsel yang tergeletak di atas bufet, lalu menerima panggilan dari Ririn.
"Ada apa, kamvret? Ganggu orang lagi pakai baju aja." omel ku.
"Widiih, judes amat kau lampir. Bukan nya ngucapin salam dulu kek, ini malah langsung nyerocos aja muncung nya." balas Ririn sewot.
"Iya deh, iya. Assalamualaikum, bestie ku yang bawel, yang cerewet, yang dekil, yang kucel, yang..."
"Stop, gak usah di teruskan lagi! Bikin sakit kepala ku aja dengar nya." gerutu Ririn semakin kesal.
__ADS_1
"Hahahaha, sukurin!" ledek ku sembari terkekeh.
"Udah, gak usah pake acara cekikikan segala! Jam berapa kau datang ke kos ku?" tanya Ririn.
"Ini aku udah siap-siap mau berangkat." jawab ku.
"Oh ya udah, cepetan dikit gerak nya! Lelet kali sih, kayak keong aja gerak mu itu." oceh Ririn lagi.
"Iiiisss, ngebet kali sih! Sabar dikit napa? Rempong amat nih bocah." gerutu ku.
Aku terus saja menggerutu pada Ririn, sambil memoles wajah dan menyisir rambut di depan cermin.
"Makanya cepetan! Biar nanti kita gak kesorean pulang nya." desak Ririn.
"Gimana aku mau cepat, kalau kau masih nyerocos terus kayak gini?" balas ku.
"Oke, aku matiin ponsel nya. Tapi kau harus cepat, ya!" ucap Ririn sembari memutuskan panggilan nya.
"Iya, aku langsung on the way, nih" jawab ku.
Setelah panggilan berakhir, aku pun langsung bergegas memakai sandal dan menyampirkan tas selempang kecil di pundak ku. Setelah itu, aku keluar dari kamar dengan langkah yang tergesa-gesa menuju ke lantai satu.
Sampai di depan gerbang, aku memanggil ojek yang sedang mangkal, tak jauh dari lokasi kos ku.
"Ojek, BANG!" pekik ku dengan sekuat tenaga.
Aku melambaikan tangan ke arah tukang ojek tersebut.
"Oke, kak."
Jawab si tukang ojek sambil mengacungkan jempol nya pada ku. Dia mulai menyalakan motor nya, dan datang menghampiri ku yang sedang berdiri, tepat di depan pintu gerbang.
"Tolong antar kan ke kompleks perumahan Kamboja ya, bang!" pinta ku.
Aku langsung naik ke atas motor, dan memakai helm yang di berikan oleh si tukang ojek.
"Oke siap, kak." balas nya.
Si tukang ojek pun mulai menjalankan motor nya, menuju alamat yang aku sebut kan tadi. Sepuluh menit kemudian, kami pun sudah tiba di depan pintu gerbang kos-kosan Ririn.
Aku bergegas turun dari motor dan membuka helm. Kemudian, aku menyerahkan ongkos dan helm itu ke tangan si tukang ojek.
"Makasih ya, bang." ucap ku.
"Iya, sama-sama, kak." balas nya.
Setelah menerima ongkos dan helm dari ku, tukang ojek itu pun kembali melajukan kendaraan roda dua nya ke jalan raya, menuju tempat mangkal nya tadi.
Dengan langkah yang sedikit terburu-buru, aku berjalan masuk ke dalam kos-kosan Ririn. Aku menyusuri lorong yang cukup panjang. Dan aku juga melewati beberapa kamar, yang tampak sepi dan mencengkam.
"Kamar-kamar ini kok sepi amat, sih? Bikin bulu kuduk ku merinding aja, hiiiii."
Aku menggerutu sambil bergidik ngeri, melihat keadaan sekitar yang terlihat menyeramkan.
Aku terus melangkah dengan perasaan sedikit gelisah menuju kamar Ririn, yang berada di pojok lorong. Sampai di depan kamar Ririn, aku langsung menggedor-gedor pintu nya, sembari memanggil-manggil nama nya.
Dor dor dor...
__ADS_1
"Rin, buka pintu nya!" pekik ku kuat.
"Iya, sebentar!" jawab Ririn dari dalam.