
"Gak ah, aku gak mau mengecewakan bang Hendra." tolak ku pada Alex.
"Hmmmm, ya udah deh kalo gak mau. Tapi kalau aku ajak kamu nginap di hotel berdua aja mau gak, Ndah?" tanya Alex.
"Iya aku mau, asal kan jangan tau bang Hendra. Takut nya nanti dia marah dan kalian berantem pulak gara-gara masalah itu." jawab ku.
"Kalo masalah itu sih gampang. Kamu tenang aja ya, Hendra gak bakalan tau kok." balas Alex.
Alex berusaha meyakinkan ku agar aku tidak perlu khawatir tentang bang Hendra. Dia ingin mengajak ku menginap hanya berdua saja, tanpa ada nya bang Hendra.
Setelah selesai berbincang-bincang, Alex pun semakin mempererat pelukannya sambil terus menciumi ceruk leher ku.
Saat Alex sedang asyik dengan kegiatan nya di belakang punggung ku, tiba-tiba bang Hendra datang dengan menenteng beberapa bungkusan di kedua tangan nya.
"Eh eh eh, itu anak cicak ngapain nemplok kayak gitu di punggung mu, Ndah?"
Tanya bang Hendra sembari meletakkan bungkusan yang di bawa nya ke atas meja.
Setelah itu, bang Hendra pun langsung mendekati ku dan Alex, lalu melepas paksa kedua tangan Alex yang sedari tadi melingkar di perut ku.
"Awas minggir, lancang kali tangan mu ini megang-megang wanita ku!" omel bang Hendra.
Bang Hendra menarik kedua tangan ku dan membawa ku ke dalam dekapan nya. Dia sama sekali tidak rela jika Alex terus mendekati ku. Bang Hendra terus saja berusaha menjauhkan ku dari sahabat nya.
"Argh, kau ini mengganggu kesenangan ku aja pun kerjaan nya." gerutu Alex.
"Kalau kau mau senang-senang, kau cari wanita lain aja sana! Jangan kau gangguin wanita kau lagi!" balas bang Hendra ketus.
Alex memajukan bibir nya saat mendengar ucapan bang Hendra. Dia terlihat sangat kesal dan jengkel dengan kata-kata yang terlontar dari mulut bang Hendra.
"Ayo kita makan, Ndah! Kamu pasti udah lapar kan?" tanya bang Hendra sembari membawa ku untuk duduk di kursi.
"Iya, bang." jawab ku.
"Heh, kutu kupret! Kau mau makan gak?" tanya bang Hendra kepada Alex.
"Ya mau lah, kau pikir cuma kau aja yang lapar. Aku juga lapar tau." balas Alex sewot.
Alex bergegas beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati meja yang ada di samping ku.
Saat Alex hendak duduk di kursi yang ada di sebelah ku, dengan gerakan cepat bang Hendra menarik tangan Alex dan langsung mendudukkan dirinya di kursi yang akan di duduki Alex tadi.
"Kau makan di sana aja!" ujar bang Hendra sambil menunjuk ke arah ranjang.
"Masa makan nya di atas ranjang sih, Hen. Ya kotor lah nanti seprei nya kena makanan ini." protes Alex.
Alex menatap sinis ke arah bang Hendra, sambil memegangi bungkusan makanan di kedua tangan nya.
"Kalau gak mau di situ, disini aja kau makan nya!" balas bang Hendra sembari menunjuk lantai keramik yang ada di dekat kaki nya.
"Ck, masa kau tega sih nyuruh aku makan di bawah." gerutu Alex kesal.
"Jadi kau mau makan dimana, kamvret? Kalo gak mau makan disini, makan di kamar mandi aja sana!" ujar bang Hendra lagi.
"Iiiisss, kejam kali pun sama kawan sendiri. Masa iya aku di suruh makan di kamar mandi, kayak gak ada tempat lain aja." tambah Alex.
"Ah, mau makan aja kok ribet amat sih jadi orang. Terserah kau lah mau makan dimana, pusing aku lama-lama meladeni omongan mu terus." omel bang Hendra.
"Ayo kita mulai makan nya, sayang! Gak usah pikirkan si kamvret satu itu lagi, barin aja dia mau makan dimana." ujar bang Hendra.
"Oke, bang. Hihihi,"
Balas ku sembari melirik ke arah Alex, yang masih berdiri di depan kami berdua dengan wajah masam nya. Aku cekikikan sendiri melihat perdebatan yang tiada henti-hentinya oleh kedua lelaki tampan ku itu.
Dengan terpaksa, akhirnya Alex pun mengalah dan memilih tempat untuk makan di pinggir ranjang.
Setelah acara makan selesai, kami bertiga pun kembali berbincang sembari menghisap rokok masing-masing.
"Kita check out jam berapa, bang?" tanya ku pada bang Hendra.
__ADS_1
"Kamu mau nya jam berapa?" tanya bang Hendra balik.
"Hmmm, gimana kalau jam sebelas aja?" tanya ku lagi.
"Oke, terserah kamu aja mau nya jam berapa." jawab bang Hendra.
Aku langsung tersenyum sumringah mendengar jawaban bang Hendra. Sedangkan Alex, dia tetap saja memasang wajah masam nya sambil memandangi ku dan bang Hendra secara bergantian.
"Kau mau ikutan pulang, atau mau lanjut nginap disini, Lex?" tanya bang Hendra.
"Ya pulang lah, ngapain juga aku nginap disini sendiri."
"Kalau Indah mau nemani aku disini sih gak papa, biar aku bayar satu malam lagi kamar ini." jawab Alex sembari menghisap rokok nya.
"Gak boleh, panggil cewek lain aja lah untuk nemani kau tidur disini!" balas bang Hendra.
"Malas ah, aku gak mau sama cewek lain. Aku mau nya sama Indah aja." ujar Alex tetap bertahan dengan keinginan nya.
"Memang dasar gila nih anak!" umpat bang Hendra semakin kesal.
Selesai bercekcok ria dengan Alex, bang Hendra pun mematikan api rokok nya dan langsung mengangkat tubuh ku dari kursi, kemudian dia membaring kan ku di atas ranjang secara perlahan.
Bang Hendra memiringkan tubuh nya dan menopang kepala di atas telapak tangan kanan nya. Dia membingkai wajah ku dan menatap manik mata ku dengan serius sembari bertanya...
"Sebelum pulang, boleh gak kita main sekali lagi, sayang?" tanya bang Hendra.
"Iya, boleh." jawab ku sembari tersenyum manis pada bang Hendra.
"Uuuhh, manis banget sih senyum nya!" ujar bang Hendra gemas sembari mencubit pelan dagu ku.
Melihat tingkah bang Hendra yang sedang bermanja-manja dengan ku, Alex pun tidak mau kalah. Dia juga membaring tubuh nya di samping ku dan langsung memeluk separuh badan ku.
"Woy, kamvret! Kau itu gak bisa lihat orang senang dikit apa? Hobi kali mengganggu kemesraan orang lain."
Bang Hendra mengomel sambil menoyor jidat Alex. Bukan nya marah atau pun menjawab ucapan bang Hendra, Alex malah semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh ku.
"Kau ini apa-apaan sih, Lex? Main nyosor gitu aja tanpa permisi sama yang punya badan." gerutu bang Hendra.
Bang Hendra menjauh kan wajah Alex dari leher ku dan melepaskan pelukan Alex dari tubuh ku.
"Ck, kau ini cerewet kali pun. Si Indah nya aja gak marah kok aku gini in, kau sendiri aja yang kesibukan terus dari tadi." balas Alex.
"Udah udah, kok malah jadi perang lagi sih! Ini mau di lanjutin atau enggak main nya?" tanya ku menengahi percekcokan mereka berdua.
"Ya di lanjutin lah, sayang." jawab bang Hendra.
"Ya udah cepetan lah mulai! Jangan pake acara berantem-berantem lagi. Bosan kuping ku dengar kalian cekcok terus dari semalam." omel ku panjang lebar.
Bang Hendra dan Alex pun langsung tatap-tatapan saat mendengar celotehan ku. Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun menjawab ucapan ku.
"Oke, sayang." balas bang Hendra dan Alex bersamaan.
Tanpa ada nya perdebatan lagi, Alex dan bang Hendra pun mulai melakukan serangan nya pada ku.
Mereka mencumbui seluruh tubuh ku dari ujung rambut sampai ujung kaki, tanpa ada yang terlewat kan satu inci pun. Setelah puas mencumbui ku, bang Hendra mulai melakukan gerakan-gerakan liar nya dengan ganas.
Setelah selesai, bang Hendra menjatuhkan diri nya di sebelah ku dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya, dan nafas yang ngos-ngosan tidak karuan.
Kini tiba giliran Alex yang melakukan permainan nya pada ku. Alex melancarkan aksinya dengan berbagai gaya dan posisi dengan gerakan cepat.
Dan itu membuat ku semakin tidak terkendali, dan kembali mengeluarkan suara-suara indah dari bibir ku.
"Aku mencintaimu, Ndah!"
Alex memekik kuat dengan mata yang terpejam saat dia mencapai puncak kenikmatan nya.
Aku yang sedari tadi terlena di bawah kendali Alex pun langsung menatap wajah Alex dengan mata yang terbelalak lebar. Begitu juga dengan bang Hendra, dia tampak sangat marah saat mendengar pekikan Alex barusan.
Karena merasa di perhatikan, Alex pun langsung tersadar dan menjatuhkan tubuh nya di samping ku, dengan keringat yang mengalir di sekujur badan nya.
__ADS_1
"Kau bilang apa tadi, Lex?" tanya bang Hendra dengan kening mengkerut.
"Hah, emang nya aku ada bilang apa?" tanya Alex balik.
"Gak usah pura-pura amnesia kau, kamvret! Mustahil kalau kau gak ingat jeritan mu tadi." cibir bang Hendra.
"Kalau aku ingat, ngapain aku mesti nanya sama mu lagi?" balas Alex.
Karena malas berdebat, bang Hendra pun mengalah dan tidak membahas masalah itu lagi.
"Udah lah, lupain aja!" jawab bang Hendra pasrah.
Bang Hendra dan Alex pun langsung terdiam. Mereka berdua sibuk dengan pikiran dan lamunan nya masing-masing.
Untuk mencairkan suasana, aku pun mengajak mereka untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
"Kita mandi yok, sayangku, cintaku! Siap tu kita langsung pulang." seru ku.
Aku sengaja menggoda Alex dan bang Hendra dengan sebutan sayangku dan cintaku. Agar mereka kembali tersenyum dan tidak berdebat lagi.
"Hehehe, udah pandai menggombal sekarang ya wanita ku ini." ujar bang Hendra sembari tersenyum genit pada ku.
"Dikit, hahaha." gelak ku.
"Itu gombalan nya untuk Hendra atau untuk ku, Ndah?" tanya Alex penasaran.
"Untuk kalian berdua, sayang." jawab ku.
Mendengar jawaban ku, Alex pun langsung menyunggingkan senyum manis nya pada ku. Dia tampak sangat bahagia atas rayuan maut ku barusan.
"Beneran, Ndah?" tanya Alex lagi.
"Ya beneran dong, masa bohongan sih." jawab ku.
Aku membelai lembut pipi Alex dan juga pipi bang Hendra.
"Kita mandi sekarang yok!" ajak ku.
"Yok!" balas mereka dengan senyum yang mengembang di bibir kedua lelaki tampan ku itu.
Sesudah membersihkan diri, kami pun mulai sibuk memakai pakaian dan membereskan barang masing-masing.
Setelah selesai kami bertiga pun keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai dasar.
Sampai di meja resepsionis, Alex pun menghentikan langkah nya untuk menyerahkan kunci kamar.
Sedangkan aku dan bang Hendra, terus saja berjalan sambil bergandengan tangan menuju parkiran mobil.
Setelah kami bertiga duduk di dalam mobil, bang Hendra mengeluarkan seikat uang merah dari dalam tas kecil nya.
"Ini uang jajan dari kami berdua, Ndah." ujar bang Hendra.
Bang Hendra menyerahkan itu ke tangan ku sambil tersenyum dan memeluk erat tubuh ku. Dia juga mendarat kan kecupan-kecupan kilat nya di wajah ku.
Begitu juga dengan Alex, dia yang sedang duduk di belakang ku pun langsung mendekat dan melakukan hal yang sama, seperti yang di lakukan bang Hendra pada ku.
"Makasih banyak ya, bang. Makasih juga ya, Lex." balas ku.
"Iya sama-sama, Ndah." balas Alex.
"Iya, abang juga terima kasih atas waktu nya, sayang." balas bang Hendra.
Aku kembali tersenyum menanggapi ucapan bang Hendra dan Alex. Setelah itu, bang Hendra pun mulai menyalakan mesin mobil nya dan melajukan kendaraan nya menuju kos tempat tinggal ku.
Sesampainya di depan gerbang kos, aku pun berpamitan sembari mencium kedua pipi dan punggung tangan mereka berdua secara bergantian.
"Aku pamit ya, assalamualaikum." salam ku.
"Wa'laikum salam," balas Alex dan bang Hendra.
__ADS_1