
"Ndah, bangun Ndah, Indah bangun! Nanti di marahin bos loh, Ndah."gerutu Ririn.
Ririn menggoncang-goncang pundak ku yang masih ketiduran di sofa ruang karaoke akibat mabok berat.
"Apa sih, Rin? Kepala ku masih sakit nih gara-gara minum tadi." balas ku kesal.
Aku memegangi kepala dan duduk menyandar di sofa dengan mata tertutup.
"Pulang aja kalau memang kau udah gak tahan, Ndah! Dari pada tidur disini nanti kena omel bos loh." tambah Ririn.
"Oke lah, aku pulang aja, Rin! Makasih ya udah ingetin aku." balas ku.
Aku langsung merogoh ponsel yang ada di saku celana. Dengan setengah kesadaran, aku melihat jam dan memencet nomor Haris untuk melakukan panggilan pada nya.
"Udah jam satu, rupa nya." gumam ku.
Tut tut tut...
"Halo ada apa, Ndah?" Haris bertanya setelah menerima panggilan ku.
"Bang, kepala ku pusing banget nih. Aku mau pulang ke kos aja. Tolong chas kan aku untuk pulang sekarang ya, bisa gak bang?"
Tanya ku pada Haris dengan suara serak khas orang mabok. Aku terus memegangi kepala yang masih terasa sedikit berat.
"Bisa, Ndah. Kebetulan abang juga belum bisa tidur nih dari tadi." jawab Haris.
"Syukur lah kalo gitu. Abang jemput aku sekarang ya, aku tunggu, nih!" ujar ku.
"Oke, Ndah. Abang meluncur sekarang. Tunggu bentar ya, gak nyampe setengah jam abang udah sampe situ kok!" balas Haris.
"Iya, bang aku tunggu. Makasih ya, bang." balas ku.
"Iya, Ndah." jawab nya.
Tak butuh waktu lama, mobil Haris pun sudah memasuki area parkir depan gedung karaoke kami.
"Halo, Ndah. Abang udah di luar nih, sini lah!" titah Haris.
"Oke, aku kesana sekarang." jawab ku.
Setelah menutup panggilan dari Haris, aku langsung bergegas beranjak dari sofa dan berjalan sempoyongan ke pintu utama.
Aku berjalan menghampiri Haris yang sudah berdiri di samping mobil nya.
"Ini uang chas nya, Ndah. Bayar lah sana!" titah Haris lagi.
Haris menyerah uang dua ratus ribu pada ku untuk membayar chas pulang ku kepada kasir.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dan kembali berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke menunju meja kasir.
"Billy, ini uang chas ku. Aku mau pulang sekarang!" ujar ku.
Aku menyerahkan uang dua ratus ribu itu kepada Billy sang kasir. Billy pun langsung menerima uang pemberian ku itu sambil bertanya...
"Kau mabok ya, Ndah?"
Billy bertanya karena heran melihat keadaan ku yang sudah acak-acakan dan berjalan sempoyongan.
__ADS_1
"Iya, Bil. Kepala pusing banget, maka nya aku mau pulang sekarang." jawab ku.
Aku segera mengambil tas selempang, yang berada tepat di samping meja kasir tersebut.
"Sama siapa kau pulang, Ndah? Jangan pulang sendirian, Ndah! Bahaya tau gak." balas Billy.
"Keadaanmu lagi mabok soal nya, nanti takut nya di apa-apain orang pulak kau di jalan!" ujar Billy khawatir.
"Tenang aja, Billy ku sayang! Aku pulang sama pacar ku kok, jangan khawatir ya!"
Aku membalas ucapan Billy sambil mengelus pipi nya. Lalu aku pun kembali berjalan keluar untuk menghampiri Haris, yang sedari tadi sudah stand by di samping mobil nya.
"Dasar, Indah edan."
Umpat Billy menggeleng-gelengkan kepala nya, karena mendapatkan belaian dari ku di pipi nya.
"Ayo kita ke kos ku, bang!" seru ku.
Aku mengajak Haris sambil bergelayut manja di lengan nya. Haris hanya mengangguk tanda setuju.
Kami berdua pun langsung masuk ke dalam mobil, dan Haris langsung melajukan kendaraan roda empat nya itu secara perlahan menuju kos ku.
"Kamu mabok ya, Ndah?"
Haris bertanya pada ku karena heran melihat tingkah laku ku sedari tadi yang tidak seperti biasa nya.
Aku hanya mengangguk kan kepala, dan menyandarkan tubuh ku di kaca pintu mobil sambil memejamkan mata.
"Kita langsung ke kos ku aja, bang! Jangan kemana-mana lagi ya, kepala ku sakit banget soal nya. Badan ku juga lemas."
Pinta ku pada Haris sambil terus memejamkan mata.
Jawab Haris tanpa menoleh pada ku, dia tetap fokus menatap jalanan yang ada di depan nya.
Sesampainya di depan gerbang kos, Haris memarkir mobil nya di area yang sudah tersedia di depan gedung kos.
Setelah mobil terparkir rapi, Haris berjalan mengitari mobil nya dan membuka kan pintu untuk ku.
Lalu kemudian, Haris memapah ku untuk keluar dari mobil nya. Dia terus saja memapah ku sampai masuk ke dalam gedung kos.
"Lantai berapa kamar mu, Ndah?"
Haris bertanya setelah sampai di lorong lantai satu. Aku pun langsung menjawab sambil menunjuk ke arah atas.
"Lantai tiga, bang." jawab ku.
"Oh oke, Ndah." balas Haris.
Haris terus memapah tubuh ku menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai tiga.
Sesampai nya di lantai tiga, Haris pun kembali bertanya sambil celingukan kesana sini mencari keberadaan kamar ku.
"Yang mana kamar mu, Ndah?" tanya Haris lagi.
"Itu, yang di pojok dekat kamar mandi, bang."
"Oke Ndah." balas Haris.
__ADS_1
Aku menjawab dan menunjuk kamar yang paling ujung, yang berada tepat di samping kamar mandi. Haris pun kembali memapah ku sampai ke depan kamar.
"Mana kunci nya, Ndah?"
Haris bertanya lagi setelah sampai di depan pintu kamar ku. Aku langsung merogoh saku celana untuk mengambil kunci dan menyerahkan nya pada Haris .
Setelah mendapatkan kunci, Haris segera membuka kamar dan memapah ku masuk ke dalam.
Haris membaringkan tubuhku di atas kasur. Lalu, dia menutup dan mengunci pintu kembali.
"Bang, tolong buka kan sepatu ku ya! Sekalian gantiin pakaian ku juga ya, sayang!"
Aku meminta Haris mengganti seluruh pakaianku. Aku masih terus memejamkan mata sambil memijat-mijat kepala ku sendiri.
Haris hanya mengangguk, mengiyakan permintaan ku itu. Dia mulai melepaskan sepatu baju serta celana panjang ku dengan perlahan dan sangat berhati-hati.
Lalu, Haris menggantungkan semua pakaian ku itu di belakang pintu, dan meletakkan sepatu ku di atas rak.
Selanjutnya, Haris mengambil selimut di dalam lemari pakaian. Dia menyelimuti tubuh ku yang saat ini hanya memakai dalaman saja.
Setelah itu, aku langsung membuka mata yang sedari tadi terpejam karena kepala yang masih terasa berat.
Aku menoleh pada Haris yang masih berdiri di samping kasur sambil menatap ku aneh. Dia hanya terdiam, dan tidak bersuara apa pun pada ku.
"Kok masih berdiri di situ, sih? Sini dong, sayang!" tanya ku.
Aku merengek manja dan merentangkan kedua tangan ku pada Haris. Aku meminta nya untuk bergabung di atas kasur bersama ku.
Itu lah kebiasaan jelek ku kalau sudah mabok. Ingin di belai, di manja, dan di ehem-ehem tentu nya. Seperti layak nya orang yang haus akan kasih sayang.
Haris tersenyum manis melihat tingkah laku ku yang genit dan manja pada nya. Dia menyambut uluran tangan ku dan naik ke atas kasur. Haris ikut bergabung dengan ku di dalam satu selimut.
Aku masih dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh alkohol. Tanpa rasa malu lagi, aku langsung memeluk tubuh Haris yang sudah berbaring di samping ku.
"Bang, aku pengen!" bisik ku.
Dengan nafas yang memburu, aku berbisik di telinga nya sambil mengelus-elus dada bidang milik nya.
Lalu, aku mulai menciumi pipi nya dengan mesra. Satu kaki ku juga aku letakkan di atas perut nya.
Tingkah ku yang genit karena masih dalam pengaruh alkohol itu pun, membuat ku seperti kesetanan.
Gairah ku naik sampai ke ubun-ubun. Karena mendengar bisikan ku, Haris pun langsung menoleh pada ku. Dia menatap mata ku yang sayu karena sudah di selimuti oleh gairah ku sendiri.
"Kamu yakin meminta abang untuk melakukan hal itu pada mu, Ndah?" tanya Haris heran.
"Iya, sayang. Aku menginginkan dirimu untuk menghangat kan tubuh ku malam ini!" jawab ku.
"Kalau tidak di salur kan, kepala ku bakalan tambah sakit nanti nya, sayang!"
Aku terus saja menciumi pipi Haris dengan nafas yang mulai ngos-ngosan.
"Baik lah, Ndah. Abang akan menuruti semua keinginan mu malam ini." jawab Haris.
"Abang akan melayani mu sampai kau merasa puas, sayang!" lanjut Haris.
"Makasih ya, bang." balas ku.
__ADS_1
Aku menenggelamkan wajah ku di ceruk leher Haris. Dan dia pun membalas nya dengan memeluk erat tubuh ku, dan membawa ku ke dalam dekapan nya.