
Setelah terlelap selama kurang lebih tiga jam, aku mulai mengerjap-ngerjap kan mata dan menggeliat kan badan.
"Hoamm, udah jam berapa ya kira-kira?" gumam ku sembari menguap selebar-lebar nya.
Karena merasakan ada pergerakan di sebelah nya, bang Rian pun akhirnya ikut terbangun dari tidur lelap nya. Dia menguap lalu mengucek-ngucek mata nya sembari bertanya...
"Laper ya, Ndah?" tanya bang Rian.
"Hehehe, iya. Kok abang tau sih?" tanya ku sembari tersenyum malu.
"Ya tau lah, suara perut mu aja kedengaran sampe ke kuping abang kok." jawab bang Rian.
"Ah, masa sih? Perasaan dari tadi gak ada bunyi apa-apa kok." balas ku pura-pura bingung.
"Ada, coba lah kau dengar kan sendiri perut mu itu! Pasti kedengaran tuh, suara cacing mu lagi demo minta makan." ujar bang Rian tersenyum geli.
Aku terdiam seketika, lalu fokus menatap wajah tampan bang Rian dengan tatapan sayu akibat masih mengantuk. Dan tiba-tiba...
Kriuk kriuk kriuk...
Terdengar suara-suara aneh dari dalam perut ku, dan itu membuat bang Rian langsung tertawa terbahak-bahak, lalu menarik ku dan membawa tubuh ku ke dalam dekapan nya.
"Hahaha, tuh kan bener kata abang tadi. Cacing mu udah pada nyanyi-nyanyi di dalam." ledek bang Rian.
"Iya, hehehe." balas ku sembari menenggelamkan wajah di dada nya.
"Ya udah, ayo kita mandi! Siap tu, kita keluar cari makan." seru bang Rian.
Bang Rian melepaskan dekapan nya, lalu turun dari ranjang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Aku pun turut mengekori langkah nya dari belakang dan ikut mandi bersama nya.
Aku berdiri tepat di bawah guyuran shower yang hangat, untuk membasahi seluruh tubuh ku dari atas sampai bawah.
Saat hendak mengambil sabun cair yang tergantung di samping wastafel, tiba-tiba bang Rian memeluk ku dari belakang.
Mendapat serangan mendadak seperti itu, aku pun langsung terlonjak kaget dan reflek memekik kuat.
"Aaaaaa," pekik ku.
"Ssstttt, jangan berisik! Nanti di kira orang lagi di apa-apain pulak."
Bisik bang Rian sembari menutup mulut ku dengan telapak tangan nya. Setelah suara ku mereda, bang Rian mulai melepaskan tangan nya dari mulut ku, lalu mengalihkan tangan nya ke bagian depan badan ku.
"Sayang, boleh gak abang minta jatah disini?" bisik bang Rian lagi sambil mengecup tengkuk leher ku.
"Iya boleh, apa sih yang enggak buat abang." jawab ku.
"Ciyeee, udah pandai menggombal sekarang ya!" ledek bang Rian.
"Dikit, hehehe." balas ku.
Aku senyam-senyum sendiri melihat ulah nakal bang Rian, dari pantulan cermin wastafel yang ada di depan ku.
"Berhubung udah mendapatkan izin dari yang punya badan, berarti abang udah bisa mulai sekarang dong, ya?" tanya bang Rian.
"Iya," jawab ku singkat.
Wajah bang Rian langsung berbinar cerah ketika mendengar jawaban ku. Dia tampak sangat bahagia dengan senyum yang terus mengembang di bibir nya.
Dan pada akhirnya, pertempuran panas pun terjadi di dalam kamar mandi hotel tersebut. Di bawah guyuran air shower yang hangat, bang Rian terus saja melakukan kegiatan nya.
Ritual mandi yang seharusnya hanya memakan waktu sekitar lima atau sepuluh menit, kini menjadi berkali-kali lipat lama nya akibat ulah nakal bang Rian.
__ADS_1
Setelah bertempur selama hampir satu jam, bang Rian menyudahi kegiatan nya. Setelah itu, kami berdua pun melanjutkan ritual mandi yang sempat tertunda tadi.
Selesai mandi, aku dan bang Rian melangkah keluar dengan handuk yang melilit di tubuh masing-masing.
"Kita mau makan dimana, sayang?"
Tanya bang Rian sembari memakai celana panjang dan baju kemeja nya.
"Cari warung makan yang ada jual soto Medan aja, bang. Aku pengen makan itu soal nya." jawab ku.
Selesai berpakaian, aku berdiri di depan meja rias untuk memoles wajah dengan bedak tabur dan lipstik. Setelah itu, menyemprot sedikit parfum ke bagian depan dan belakang badan ku.
"Oh, oke." jawab bang Rian sambil berdiri di sebelah ku dan menyisir rambut nya.
Aku terpaku sejenak, sambil terus menatap wajah bang Rian dari cermin. Aku sempat terpana melihat wajah tampan nan rupawan bang Rian.
"Duuuh, ganteng banget lelaki ku ini." ujar ku sembari mencubit kedua pipi bang Rian dengan gemas.
"Adoooh, sakit pipi abang, sayang!" pekik bang Rian sembari mengelus-elus kedua pipi nya.
"Maka nya, punya muka jangan ganteng-ganteng kali, biar aku gak gemes lihat nya." ledek ku sembari tersenyum manis pada nya.
"Loh, mana bisa gitu? Ini muka kan memang udah dari sono nya begini. Mana bisa di rubah-rubah lagi, aneh." oceh bang Rian.
"Hahahaha, iya juga ya." gelak ku.
"Emang mamak abang dulu nya ngidam artis mana, sih? Kok bisa punya anak ganteng nya kayak gini?" tanya ku dengan mimik wajah serius.
"Entah, nanti lah abang tanya kan." jawab bang Rian santai.
Aku hanya tersenyum menanggapi jawaban bang Rian, sambil terus memandangi wajah nya. Karena merasa di perhatikan, bang Rian pun berpura-pura cuek, dan kembali merapikan rambut nya sembari berkata...
Ledek bang Rian tanpa menoleh sedikit pun pada ku. Dia tetap fokus menatap ke depan, sambil sesekali melirik ku dari pantulan cermin yang ada di depan nya tersebut.
"Emang nya kenapa kalo aku jatuh cinta beneran? Gak boleh ya?" tanya ku.
"Ya, boleh lah. Boleh banget malah." jawab bang Rian dengan wajah datar nya.
Dia masih saja terlihat cuek, sambil terus berpura-pura sibuk merapikan rambut nya.
"Oh, kirain gak boleh." balas ku lega.
"Kalau abang bilang gak boleh, aku mau hapus nama abang dari sini."
Ujar ku sembari menunjuk ke bagian hati ku. Setelah mendengar ucapan ku, bang Rian langsung reflek menoleh, dan melihat jari telunjuk ku yang masih menempel di bagian hati ku.
"Eh eh eh, jangan dong, sayang! Masa mau di hapus sih. Udah, biarin aja nama abang ada di situ. Dan jangan pernah coba-coba untuk menghapus nya, ingin itu!" ujar bang Rian tegas.
"Lololoh, kok malah ngancem pulak jadi nya." balas ku sewot.
"Ya iya lah, maka nya jangan di hapus. Biarkan aja nama abang abadi di dalam hati mu itu." tutur bang Rian.
"Hmmmm, ya udah deh ngalah aja. Percuma juga di lawan, gak bakalan menang juga."
Gumam ku pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga bang Rian.
"Hah, apa? Ngomong apa tadi?" tanya bang Rian penasaran.
"Siapa yang ngomong? Abang salah denger kali? Tadi tu ada cicak lewat, maka nya aku ngomel-ngomel nyuruh dia pergi." jawab ku asal.
"Ah, ngeles aja. Orang jelas-jelas tadi kamu bilang, ngalah aja di lawan pun gak bakalan menang. Ya kan, gitu tadi ngomong nya kan?" tanya bang Rian.
__ADS_1
"Naaah, tu tau. Kenapa mesti nanya lagi kalau udah tau?" tanya ku balik.
"Ya, abang pengen dengar kejujuran mu aja sih tadi, hehehehe." jawab bang Rian sembari nyengir kuda.
"Huuuu, dasar biawak!" umpat ku sambil menepuk pelan lengan nya.
"Loh, kok biawak sih? Bukan nya buaya ya?" tanya bang Rian heran.
"Kalau buaya, udah terlalu banyak dimana-mana. Maka nya abang biawak aja, biar saingan nya dikit, hahahaha." jelas ku sembari tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, dasar gendeng!" umpat bang Rian.
Akhirnya, aku dan bang Rian pun tertawa berjamaah, akibat ocehan dan candaan kami sendiri. Selesai berhaha-hihi berdua, bang Rian langsung menggandeng tangan ku, lalu membawa ku keluar dari kamar, sambil berkata...
"Ayo, kita berangkat sekarang!" seru bang Rian.
"Oke, bos!" balas ku sembari memberi hormat pada bang Rian.
"Hahaha, gemblung," gelak bang Rian sambil menoyor jidat ku.
Setelah mengunci pintu kamar, bang Rian kembali menggandeng tangan ku. Dia membawaku menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju ke lantai dasar, dan terus berjalan sampai ke parkiran.
Sampai di depan mobil, kami berdua langsung naik dan memakai sealbeat ke tubuh masing-masing.
Setelah selesai, aku kembali menatap ke depan. Dan tiba-tiba, mata ku langsung membulat sempurna saat melihat sebuah mobil yang sangat familiar bagi ku.
Mobil itu baru saja tiba, dan parkir di depan gedung hotel yang sama dengan tempat ku menginap dengan bang Rian.
"Kayak mobil Haris." batin ku mulai gelisah.
Dada ku langsung berdegup kencang, saat melihat mobil Haris yang berada tepat di depan kami.
"Mudah-mudahan aja itu bukan mobil Haris." batin ku penuh harap.
Saat bang Rian ingin melajukan kendaraan nya, aku langsung mencegahnya sambil memegangi lengan nya dengan kuat.
"Tunggu bentar, bang! Jangan jalan dulu, aku mau lihat siapa orang yang mengendarai mobil itu." ujar ku sembari menunjuk ke arah mobil yang ada di depan kami.
"Oh, oke." balas bang Rian.
Bang Rian juga ikut memandangi mobil itu tanpa bertanya apa pun pada ku. Dengan hati yang berdebar-debar tidak karuan, aku mulai menajamkan penglihatan ku saat kedua pintu mobil itu terbuka.
Dan akhirnya, mata ku langsung terbelalak saat melihat sepasang manusia yang keluar dari mobil tersebut.
"Haris," gumam ku pelan sembari menutup mulut dengan telapak tangan ku.
Tanpa sadar, air mata ku langsung mengalir di kedua pipi ku, saat melihat Haris menggandeng mesra lengan wanita yang ada bersama nya.
"Loh, kok malah nangis sih, sayang? Emang dia siapa? Kok bisa membuat mu sampai nangis seperti ini?"
Tanya bang Rian bingung, sembari mengusap air mata ku dengan jari tangan nya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi pertanyaan bang Rian. Aku tidak sanggup untuk berkata apa-apa lagi.
Hatiku rasa nya remuk dan hancur berkeping-keping, ketika melihat Haris bersama wanita lain dengan mata kepala ku sendiri.
Bang Rian semakin heran melihat keadaan ku yang tampak sangat bersedih, dengan deraian air mata yang terus mengalir tanpa henti di pipiku.
"Apa jangan-jangan, lelaki tadi itu pacar mu ya?" tebak bang Rian.
"Iya," jawab ku lirih sembari mengangguk kan kepala.
__ADS_1