
"Udah dapat jatah masing-masing kan, sekarang kita bobok ya!" tutur ku.
"Oke, sayang." jawab mereka bersamaan.
"Hufff, akhirnya mereka akur juga. Berasa kayak lagi ngasuh dua anak aja aku ini, hihihi." batin ku terkikik geli.
Aku, Alex dan bang Hendra pun mulai memejamkan mata dan tertidur pulas, dengan posisi ku yang di peluk oleh kedua lelaki tampan yang ada disisi kanan dan kiri ku.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku mulai membuka mata dan melirik ke arah gorden jendela yang sedikit tersingkap, sehingga menampakkan sinar terang dari luar jendela.
"Lah, udah siang ternyata." gumam ku.
Aku menoleh ke sisi kanan dan ke kiri ku secara bergantian. Setelah itu, aku pun tersenyum kecut melihat dua lelaki yang sedang memelukku dengan mata yang masih terpejam.
"Nyenyak banget tidur nya dua lelaki ku ini." gumam ku lagi.
Aku membelai kedua pipi mereka dengan lembut, dan itu berhasil membuat mereka langsung terbangun dari tidur lelap nya.
"Selamat pagi para lelaki tampan ku." sapa ku dengan senyum yang mengembang.
"Pagi juga, sayang." jawab bang Hendra dan Alek serempak.
"Hari ini kalian berdua gak pergi ya?" tanya ku sambil terus membelai pipi mereka.
"Ya enggak lah, Ndah. Ini kan hari minggu, jadi karyawan pada libur semua." jelas Alex.
"Oiya, aku lupa kalo hari ini hari minggu, hehehe." balas ku sembari terkekeh.
Alex hanya tersenyum menanggapi ucapan ku. Dia kembali mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajah nya di leher ku.
Sedangkan bang Hendra, dia masih saja setia dengan posisi nya semula. Dia tidak bergerak atau pun menggeser posisi nya sedikit pun dari badan ku.
"Mandi yok, Ndah. Siap tu kita cari makan ke luar!" bisik bang Hendra.
"Ayo," jawab ku.
Kami bertiga langsung turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai, aku berjalan ke luar dengan rambut yang basah dan handuk yang melilit di tubuh ku.
Begitu juga dengan Alex dan bang Hendra. Mereka keluar dari kamar mandi dalam keadaan polos, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.
"Glek,"
Aku terpaku dan menelan ludah dengan kasar, sambil terus memandangi tubuh mereka berdua yang sangat menggiurkan bagi ku.
__ADS_1
Alex dan bang Hendra pun mulai melangkah kan kaki nya untuk mendekati ku, dengan senyuman aneh mereka.
"Ka-kalian mau ngapain?" tanya ku gugup.
"Kami ingin memakan mu sebentar, sayang." jawab bang Hendra.
"Iya, sayang. Kami ingin menikmati mu lagi." sambung Alex menimpalinya ucapan bang Hendra.
"Lololoh, tadi kata nya mau nyari makan ke luar. Kok malah yang bawah pulak yang mau makan." ujar ku bingung.
"Nyari makan nya nanti aja, sekarang kita kasih makan yang di bawah dulu." jawab Alex.
"Oh ya udah, terserah kalian aja." balas ku pasrah.
Sesudah mendengar jawaban ku, bang Hendra pun langsung menarik handuk yang menutupi tubuh ku, dan mencampakkan nya ke sembarang arah.
Setelah itu, giliran Alex yang mengangkat tubuh polos ku dan merebahkan nya perlahan ke atas ranjang. Dan akhirnya, pergumulan panas pun kembali terjadi di antara kami bertiga dengan durasi waktu yang cukup lama.
Selesai melakukan tugas nya, Alex dan bang Hendra pun langsung berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri kembali. Setelah selesai, bang Hendra memakai pakaian nya kembali.
Sedang kan Alex, dia kembali duduk di tepi ranjang dengan hanya menggunakan handuk di pinggang nya.
"Kamu mau makan apa, Ndah?" tanya bang Hendra.
"Oke siap, nona cantik." balas bang Hendra sambil memeluk dan mencium kening ku di depan Alex.
"Kalau kau mau makan apa, Lex?" tanya bang Hendra.
Bang Hendra menoleh kepada Alex tanpa melepaskan pelukannya pada ku.
"Sama in aja kayak makanan Indah tadi." jawab Alex dengan tatapan sinis nya.
Raut wajah Alex berubah masam dan mengerucutkan bibir nya, karena melihat kemesraan ku dengan bang Hendra.
Alex tampak sangat cemburu dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Aku yang mengerti tentang suasana hati Alex pun, langsung melepaskan pelukan bang Hendra sembari berkata...
"Udah ah, abang cepetan pergi sana! Kapan nyari makan nya kalau meluk terus kaya gini." omel ku.
"Iya iya, abang berangkat sekarang. Kamu hati-hati disini ya, sayang. Jaga dirimu baik-baik, soal nya ada kucing garong yang siap menerkam mu kapan saja nanti nya." ujar bang Hendra.
Bang Hendra mewanti-wanti ku agar selalu waspada terhadap Alex yang sedari tadi menatap sinis kepada nya.
"Iya, abang gak usah khawatir. Kucing garong nya udah kenyang kok, jadi dia gak bakalan gangguin aku lagi." balas ku berusaha meyakinkan bang Hendra.
__ADS_1
"Hahaha, ya udah kalo gitu. Abang pergi dulu ya, sayang."
"Kalau seandainya dia berani mengganggu mu, kamu teriak aja kuat-kuat! Biar semua penghuni hotel ini datang untuk menolong mu." tutur bang Hendra panjang lebar.
"Iya, baweeel." balas ku kesal.
"Oke, abang pergi ya, bye!" pamit bang Hendra sembari berjalan keluar dari kamar.
"Iya, hati-hati di jalan." balas ku.
Setelah kepergian bang Hendra, aku melangkah mendekati Alex dan duduk di sebelah nya.
"Gak usah sinis kali gitu lihatin nya! Horor banget tatapan mata nya, kayak sedang lihat hantu aja." sindir ku sambil menyalakan rokok.
"Gimana gak horor coba, kalau tingkah kalian dari tadi bikin aku cemburu terus?" balas Alex ketus.
Alex langsung beranjak dari tempat nya dan duduk di belakang punggung ku. Dia meluruskan kedua kaki nya dan meletakkan dagu nya di bahu ku. Setelah itu, Alex juga melingkarkan kedua tangan nya di pinggang ramping ku.
"Kenapa bisa cemburu?" selidik ku.
"Ya karena aku menyukai mu lah, Ndah. Masa kamu gak paham juga sih dengan perasaan ku ini." jawab Alex.
Kening ku langsung mengkerut saat mendengar penuturan Alex. Sambil menghisap rokok, aku pun kembali melontarkan pertanyaan kepada lelaki tampan yang ada di belakang punggung ku itu.
"Kenapa kamu bisa menyukai wanita malam seperti aku ini, Lex? Kan masih banyak wanita baik-baik di luaran sana yang pantas untuk kau sukai, kenapa harus aku?" tanya ku lagi.
"Entah lah, Ndah. Aku sendiri juga bingung tentang perasaan ku saat ini. Tapi yang pasti nya, aku sangat menyukai mu."
Jawab Alex sambil mempererat pelukannya tangan nya di perut ku, dan dia juga menyibakkan rambut ku lalu menciumi leher ku.
"Hentikan, Lex! Geli tau gak." ujar ku sembari menggeliat-geliat karena menahan rasa geli akibat ulah nakal Alex.
Bukan nya menghentikan ulah nya, Alex malah semakin menjadi-jadi. Ciuman yang tadi nya hanya di leher saja, kini semakin menjalar ke pundak dan punggung ku.
Dan itu membuat ku semakin gelisah tidak karuan dengan nafas yang mulai tidak beraturan lagi.
"Tolong hentikan, Lex. Aku makin gak tahan kalau kau giniin terus, Lex!" rengek ku semakin gelisah.
"Kalau kamu gak tahan, ayo kita main sekarang!" ujar Alex.
"Hah, ta-tapi nanti kalau bang Hendra tau gimana coba?" tanya ku bingung.
"Ya gak papa, lah. Dia gak akan marah kok, percaya lah!" jawab Alex dengan santai nya.
__ADS_1