Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Terharu Bukan Cengeng


__ADS_3

"Maksud nya?" tanya Billy bingung.


Aku menghela nafas berat, lalu menoleh ke arah Billy dan memegang kedua pipi nya. Aku menatap mata nya dalam-dalam, dan berkata...


"Kau mencintai orang yang salah, Bil. Aku hanya wanita malam yang penuh dosa, aku tidak layak mendapatkan cinta suci mu. Berikan saja cinta mu itu kepada wanita yang lebih pantas dan lebih berhak, jangan aku." jelas ku.


Billy tidak menjawab ucapan ku. Dia hanya diam sambil terus menatap manik mata ku yang sudah mulai berembun. Melihat air mata ku yang hampir menetes, Billy pun kembali memeluk ku dengan sangat erat.


"Kau gak boleh ngomong gitu, Ndah. Aku mencintaimu dengan setulus hati. Aku tidak perduli dengan pekerjaan ataupun status mu, yang terpenting bagi ku adalah aku bisa memiliki mu seutuh nya." ujar Billy dengan kesungguhan hati nya.


Air mata yang sedari tadi aku tahan pun akhirnya tumpah, dan membasahi kedua pipi ku. Aku sangat terharu mendengar penuturan Billy yang sangat menyentuh hati. Aku tidak menyangka, jika cinta Billy sedalam itu pada ku.


"Udah ah, jangan nangis lagi! Masa udah tua gini masih cengeng sih? Malu sama umur." ledek Billy lalu melepas pelukannya, dan menghapus air mata ku dengan jarinya.


Tangisan ku pun langsung terhenti seketika, setelah mendengar ledekan Billy yang sangat menjengkelkan menurut ku.


"Ini nama nya bukan cengeng, dodol. Tapi terharu. Masa gak bisa bedain sih, mana yang cengeng dan mana yang terharu? Oon banget jadi orang." cibir ku.


Tawa Billy langsung pecah seketika, saat mendengar celotehan ku. Dia merasa sangat terhibur dengan kata-kata ku barusan.


"Hahahaha, aku cuma bercanda kok, Ndah. Masa langsung di ambil hati sih, baperan banget jadi cewek." oceh Billy sambil terus tergelak.


Aku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kocak lelaki yang ada di hadapan ku itu.


Selesai berbincang-bincang dengan Billy, aku pun merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi telentang dan kaki yang masih menjuntai ke bawah.


Dengan hanya memakai handuk dan berbantalkan lengan, aku pun menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.


Melihat posisi ku yang cukup menantang, Billy pun menelan saliva nya berulang-ulang sambil terus memandangi tubuh ku dari atas sampai bawah.


Karena sudah tidak tahan dengan pemandangan yang sangat menggiurkan di depan mata nya, akhirnya Billy pun kembali mengoceh.


"Ndah, baring nya jangan kayak gitu kenapa sih? Tutupi pake selimut sana, jangan cuma pake handuk aja! Sakit mata ku lihat nya." protes Billy lalu memalingkan wajah nya ke samping.


Aku yang tadi nya sedang melamun pun langsung tersentak, dan menoleh ke arah sumber suara dengan kening mengkerut.


"Lah, emang kenapa sih? Aku kan cuma baring doang, kenapa bisa bikin sakit mata, aneh?" tanya ku heran.

__ADS_1


"Ck, aku gak tahan lihat penampilan mu seperti itu. Bikin badan ku panas dingin aja lihat nya. Nanti kalau aku khilaf, gimana coba?" tanya Billy masih tetap memalingkan wajah nya dari ku.


Mendengar penuturan polos Billy, aku pun langsung terkikik geli.


"Hihihi, ini cowok kok lempeng banget sih, udah kayak jalan tol aja. Kerjain dikit ah." batin ku.


Aku pun berinisiatif untuk menggoda dan merayu Billy, agar dia semakin gelisah akibat ulah nyeleneh ku.


"Bil, lihat nih!" panggil ku.


Lalu aku pun membuka handuk yang melilit di tubuh ku, dan mencampakkan nya ke lantai. Setelah itu, aku mengelus-elus gua milik ku sambil menggigit bibir bawahku, dan mengerlingkan mata pada nya.


Mendengar suara ku Billy pun langsung menoleh, dan memandangi tubuh ku dengan mata terbelalak lebar. Dia menelan saliva nya dengan kasar, lalu berkata...


"Jangan mancing-mancing gitu, ah! Lihat nih, dedek ku udah bangun gara-gara ulah mu." oceh Billy sambil menunjuk ke arah benda keras yang sudah tampak menonjol di balik handuk nya.


Aku tidak menghiraukan kicauan Billy, aku tetap saja melakukan kegiatan ku di depan nya sambil sesekali mendes*h dan menggeliat.


"Indaaah, jangan gitu, dong! Aku jadi gak tahan nih, tega banget sih nyiksa aku kayak gini! Nanti aku terkam lagi, baru tau rasa." omel Billy semakin gelisah melihat tingkah genit ku.


Setelah itu, aku pun duduk di atas perut nya dan merentangkan kedua tangan nya. Sambil tersenyum genit, aku pun membuka paksa handuk nya dan dan melemparnya ke sembarang arah.


"Eh eh eh, mau ngapain?" tanya Billy dengan wajah ketakutan.


"Aku ingin memperkaos mu, sayang. Tenang ya, gak bakalan sakit kok, malah bikin ketagihan nanti nya." goda ku sambil terus bertingkah genit pada nya.


Billy langsung terperangah dengan mulut terbuka, ketika mendengar suara manja ku barusan. Dia tampak sangat terkejut dengan aksi nekat ku tersebut.


Melihat wajah Billy yang semakin menegang, aku pun mulai melakukan serangan-serangan liar ku pada nya. Aku mendekatkan wajah ku dan mulai mencium bibir nya dengan rakus. Aku memainkan lidah ku untuk mengabsen isi mulut nya.


Billy yang tadi nya hanya mematung, kini mulai hanyut dalam permainan ku. Dia mulai membalas cumbuan ku dengan tak kalah ganas nya.


Setelah beberapa saat saling bertukar saliva, aku pun melanjutkan ciuman ku ke leher dan juga dada nya. Setelah meninggalkan beberapa tanda merah di sana, aku pun kembali melanjutkan cumbuan ku ke pangkal paha nya.


Aku kembali menggigit bibir bawahku, saat melihat tongkat keras yang hampir sebesar pergelangan tangan ku itu, sudah berdiri tegak di depan ku.


"Wow, mantap betul nih tongkat." puji ku sembari tersenyum.

__ADS_1


Aku sangat terpesona melihat junior Billy yang sangat menggiurkan bagi ku. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun memasukkan nya ke dalam mulut ku dan mulai memanjakan dengan permainan lidah ku.


Billy tampak sangat menikmati kegiatan ku. Hingga membuat nya menggeliat-geliat, dan mulai mengeluarkan suara erangan yang sangat seksi di telinga ku.


"Owh, nikmat sekali sayang. Terus sayang, aakkhh." racau Billy dengan mata terpejam.


Karena sudah tidak sanggup menahan hasrat nya, Billy pun langsung bangkit dari baring nya lalu menarik tubuh ku. Dengan nafas yang tersengal-sengal, dia pun memasukkan milik nya dan mulai melakukan permainan ganas nya.


Dan pada akhirnya, kegiatan-kegiatan nikmat pun kembali terjadi. Billy tampak sangat bersemangat dan brutal dalam melakukan setiap gerakan nya, hingga membuat ku sedikit kewalahan menghadapi hasrat nya tersebut.


Setelah merasa puas, Billy pun semakin mempercepat pergerakan nya, hingga akhirnya kami berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


"Bil, aakkhh." pekik ku dengan mata terpejam dan mencengkram kuat seprai ranjang.


Begitu pun dengan Billy, dia mengerang dengan tubuh yang menegang dan dan kepala yang mendongak ke atas.


"Aku sampai sayang, aakkhh." pekik Billy, bersamaan dengan semburan lahar hangat yang membasahi rongga rahim ku.


Dengan nafas yang masih terlihat sesak, Billy pun menjatuhkan tubuh nya di sebelah ku sambil berucap...


"Haduuh, capek banget sayang. Ampun DJ lah pokoknya." ujar Billy.


"Tapi enak kaaaan?" goda ku sembari tersenyum genit pada nya.


"Bukan enak lagi, enak banget malah, hehehe." balas Billy dengan senyum sumringah di wajah tampan nya.


"Hahahaha, gendeng. Asal jangan ketagihan aja. Kalo sampe ketagihan, bisa gawat urusan nya." oceh ku sembari tertawa ngakak.


"Emang gawat kenapa?" tanya Billy penasaran.


Billy menoleh dan menatap ku dengan penuh tanda tanya. Dia tampak sangat penasaran dengan kata-kata ku tadi.


"Ya karena... karena... Ah, susah jelasin nya. Tanya mbah google aja lah, biar dia yang jelasin semuanya." balas ku.


"Hahahaha, edan. Masa masalah beginian di suruh nanya mbah google, aneh-aneh aja." oceh Billy sembari menoyor jidat ku.


"Ya siapa tau aja kau mau, hehehe." balas ku sembari nyengir kuda menanggapi ucapan nya.

__ADS_1


__ADS_2