Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Berbohong pada Haris


__ADS_3

"Boleh kah abang melakukan nya sekarang, sayang?" tanya bang Hendra.


Aku mengangguk sambil tersenyum, menjawab pertanyaan bang Hendra. Setelah melihat anggukan ku, bang Hendra pun langsung tersenyum sumringah. Raut wajah nya yang tampan, terlihat begitu sangat bahagia.


"Oh, sayang. Lama-lama abang bisa gila, karena memikirkan mu terus."


Bang Hendra berkata, sembari menciumi wajah ku. Aku tidak menjawab atau pun membalas perlakuan nya. Aku hanya berdiam diri saja di bawah kungkungan nya.


"Malam ini kau hanya milik ku, Ndah. Kita akan menghabiskan waktu bersama, tanpa ada yang bisa mengganggu. Kita akan bersenang-senang di atas ranjang ini, sayang." oceh bang Hendra.


"Iya, bang. Lakukan lah tugas mu, aku akan menerima nya dengan senang hati." balas ku.


"Oke, sayang ku. Abang akan menuruti keinginan mu itu. Abang akan memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa untuk mu." tambah bang Hendra.


Tanpa pikir panjang lagi, bang Hendra pun mulai mencumbui ku dengan lembut. Dia sangat lihai dalam memainkan jari-jari dan lidah nya. Dan dia juga sangat pandai membuat ku terbuai, dengan gerakan-gerakan liar nya.


Setelah selesai melakukan pergumulan panas dengan ku, bang Hendra langsung menjatuhkan diri nya di atas tubuh ku.


"Huh, abang capek banget, Ndah." ucap bang Hendra sembari membuang nafas panjang.


"Gimana gak capek? Lah wong abang aja main nya, hampir dua jam setengah." jawab ku.


"Hah, masa sih, Ndah?" balas bang Hendra.


Dia tampak sangat terkejut, mendengar penuturan ku. Bang Hendra mulai mengangkat badan nya dari atas tubuh ku, lalu dia berbaring telentang di samping ku.


"Kalo gak percaya, coba abang lihat jam tangan abang! Udah jam berapa sekarang?" balas ku.


Karena penasaran, bang Hendra pun mengambil jam tangan nya, yang tergeletak di atas nakas samping ranjang.


"HAH, ternyata bener dugaan mu, Ndah. Kita main sampai dua jam setengah." pekik bang Hendra dengan mata terbelalak lebar.


"Maka nya kalo di bilangin itu jangan ngeyel, perkiraan ku itu jarang meleset soal nya." balas ku.


"Iya juga ya, Ndah. Mungkin karena saking enak nya tadi, maka nya abang sampai lupa waktu kayak gini, hehehe." jawab bang Hendra salah tingkah.


"Mungkin juga." balas ku pelan.


Sedang asyik berbincang dengan bang Hendra, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang berasal dari dalam tas ransel hitam ku.


Dengan keadaan tubuh yang masih polos, aku langsung bergegas bangkit dari ranjang, dan menyambar handuk di atas meja rias. Kemudian, aku melilitkan handuk itu ke tubuh ku.

__ADS_1


Setelah itu, aku berjalan dua langkah ke samping tv. Kemudian, aku membuka tas untuk mengambil ponsel, yang sedang memekik dengan kuat sedari tadi.


"Haris," gumam ku dengan mata yang membulat lebar.


"Panggilan dari siapa, Ndah? Kok gak di angkat-angkat?"


Bang Hendra heran dengan tingkah ku, yang sedari tadi hanya diam sambil memandangi ponsel yang terus berdering, di dalam genggaman tangan ku.


"Da-dari kekasih ku, bang." jawab ku gugup.


"Ya di angkat aja lah, Ndah! Mana tau dia lagi ada di kos mu." ucap bang Hendra.


"Iya, bang. Tapi abang diem aja ya, jangan bersuara sedikit pun!" balas ku.


"Oke, abang gak akan bersuara." jawab bang Hendra.


Dengan perasaan ragu, aku pun memberanikan diri untuk mengangkat panggilan dari Haris.


"Halo, bang. Ada apa?" tanya ku.


"Lagi dimana, Ndah?" tanya Haris balik.


"A-aku lagi di kos Ririn, bang." jawab ku semakin gugup.


Aku melirik ke arah bang Hendra, yang sedang duduk anteng di atas ranjang, sambil menyalakan rokok.


Karena melihat ku yang sedang terpaku di depan meja rias, bang Hendra pun memberikan kode, dengan menaikkan dagu nya ke arah ku. Dia seakan-akan sedang bertanya, ada apa?


Aku hanya menggelengkan kepala, untuk menanggapi kode bang Hendra. Setelah itu, aku kembali menjawab pertanyaan dari Haris.


"Gak ada acara apa-apa kok, bang. Cuma lagi pengen aja, nginap di kos Ririn ini. Abang lagi dimana sekarang?" tanya ku.


"Oh gitu, sekarang abang lagi di rumah, Ndah. Tadi sih niat nya mau ke kos mu, untung aja abang gak jadi kesana." jawab Haris.


"Bang udah dulu, ya. Gak enak sama Ririn, takut mengganggu tidur nya." bohong ku.


"Oke, istirahat lah! Abang pun mau lanjut tidur lagi nih, assalamualaikum." pamit Haris menutup panggilan nya.


"Iya, wa'laikum salam." balas ku.


"Fiuh, akhir nya selesai juga." gumam ku lega.

__ADS_1


"Udah selesai bohong nya, Ndah?" ledek bang Hendra sambil tersenyum miring.


"Yang membuat aku jadi berbohong kayak gini, siapa coba?" balas ku sewot.


"Hahaha, iya iya. Ini semua gara-gara abang." jawab bang Hendra sembari tertawa ngakak.


Aku menonaktifkan ponsel, dan menyimpan nya kembali ke dalam tas. Lalu, aku naik ke atas ranjang dan duduk di samping bang Hendra. Aku berbaring, dan meletakkan kepala ku di atas pangkuan bang Hendra.


"Apa yang abang sukai dari wanita penghibur seperti ku ini, bang?" tanya ku.


Aku menatap wajah bang Hendra, yang berada tepat di atas kepala ku. Mendengar pertanyaan ku, bang Hendra pun menunduk kan kepala nya.


"Banyak yang abang sukai dari diri mu itu, Ndah."


Bang Hendra menjawab, sembari membelai rambut ku yang tergerai bebas di atas kedua pahanya.


"Abang suka sifat mu yang humoris, ramah, baik, dan cantik tentunya." tambah bang Hendra.


"Oh, kalau cuma itu sih, wanita lain juga banyak yang memiliki sifat seperti itu, bang. Bukan cuma aku aja." balas ku santai.


"Iya, memang banyak sih, Ndah. Tapi tetap aja beda dengan mu." ucap bang Hendra.


"Sejak pandangan pertama, abang sudah menyukai mu, Ndah. Maka nya abang nekat mendekati mu terus, sampai abang bisa mendapatkan mu." jelas bang Hendra.


"Kau adalah wanita satu-satunya, yang mampu membuat abang jatuh cinta lagi, semenjak kepergian mantan istri abang, Ndah." ungkap bang Hendra.


Bang Hendra yang tadi nya menunduk menatap wajah ku, kini dia mengalihkan pandangannya. Bang Hendra menatap lurus ke depan, dengan pandangan kosong.


Melihat ekspresi wajah bang Hendra yang berubah muram, aku pun mengalihkan pembicaraan, dan membahas masalah lain.


"Bang, kira-kira mereka lagi ngapain ya?" tanya ku.


Bang Hendra reflek menunduk kan kepala nya kembali. Dia melihat ku dengan kening yang mengkerut.


"Mereka siapa, Ndah?" tanya bang Hendra bingung.


"Ya teman-teman abang lah, emang nya siapa lagi?" jawab ku.


"Oh, mereka toh. Abang pikir siapa. Ya udah pasti mereka lagi bersenang-senang lah, sayang. Sama seperti yang kita lakukan tadi." jawab bang Hendra sembari menoel hidung ku.


"Ya, mana tau aja mereka lagi main petak umpet. Atau malah lagi main kelereng, di dalam kamar nya masing-masing." balas ku asal.

__ADS_1


"Hahaha, ya gak mungkin lah, Ndah. Aneh-aneh aja tebakan mu itu."


Bang Hendra tertawa terbahak-bahak, mendengar ocehan receh ku. Sedangkan aku, hanya nyengir kuda menanggapi tawa nya.


__ADS_2