
Tanpa terasa hari sudah mulai terang. Sinar mentari pagi memancarkan cahaya nya, hingga masuk ke dalam kamar dari balik gorden jendela yang sedikit terbuka.
"Wah, udah terang benderang rupanya."
Gumam ku sembari mengucek-ngucek mata, dan melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Aku segera bangkit dari kasur, lalu berjalan dengan langkah yang sedikit sempoyongan menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali masuk ke dalam kamar dengan handuk yang melilit di tubuh ku.
Saat hendak membuka pintu lemari pakaian, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu beberapa kali sambil mengucapkan salam.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum," salam seseorang dari luar kamar kos ku.
"Wa'laikum salam, ya bentar!" pekik ku.
Dengan keadaan yang masih memakai handuk, aku pun segera membuka kan pintu. Dan saat pintu terbuka, mata ku langsung terbelalak saat melihat lelaki yang ada di depan ku tersebut.
"Hai, Ndah. Apa kabar?" tanya bang Rian.
"Ka-kabar baik, bang." jawab ku gugup.
Ya ternyata yang datang itu adalah bang Rian, tamu minum dan juga tamu kencan ku. Dan dia juga yang sudah mengirim kan uang sebesar lima juta kepada ayah ku.
"Ndah, Ndah, kok malah bengong sih? Abang gak di suruh masuk ke dalam ya?"
Tanya bang Rian sembari melambai-lambai kan telapak tangan nya di depan wajah ku. Dia heran melihat reaksi ku yang tampak syok, dan terkejut melihat kedatangan nya.
"Eh iya, mari silahkan masuk, bang!" jawab ku gelagapan.
Aku mempersilahkan bang Rian untuk masuk ke dalam, lalu mengunci pintu kembali. Setelah itu, aku membentang karpet permadani di atas lantai, kemudian menyuruh bang Rian untuk duduk di atas karpet tersebut.
"Silahkan, bang." seru ku sembari duduk bersila di atas karpet yang baru aku bentang.
Mendengar ucapan ku, bang Rian pun menurut dan duduk tepat di hadapan ku. Dia memandangi ku dari atas sampai bawah dengan tatapan aneh nya. Aku pun reflek mengikuti arah pandangan nya, sembari bertanya...
"Kenapa, bang? Apa ada yang aneh dengan ku?" tanya ku bingung.
Bukan nya menjawab, bang Rian malah tersenyum dan bertanya balik pada ku.
"Kamu baru siap mandi ya?" tanya bang Rian.
"Iya, emang nya kenapa?" selidik ku.
Ya, gak kenapa-kenapa sih. Pantesan aja udah nampak segar plus wangi, hehehe." jawab bang Rian salah tingkah.
__ADS_1
"Oh, kirain kenapa tadi. Aku sampe takut lihat nya." gumam ku pelan.
"Takut kenapa? Emang nya wajah abang seseram itu ya?" tanya bang Rian bingung.
"Iya, serem dan horor, hihihi." canda ku sembari cekikikan.
"Ah, masa sih? Wajah tampan gini kok di bilang serem, apa mau minta di hukum ya?" tanya bang Rian sembari mengerlingkan sebelah mata nya.
"Iya," jawab ku lirih.
Tanpa ku sadari, ternyata aku mengiyakan ucapan bang Rian. Hingga membuat bang Rian langsung tersenyum bahagia, saat mendengar jawaban ku itu.
"Serius, mau minta di hukum?" tanya bang Rian mulai mendekati ku.
"Ups, mampus aku. Kok bisa salah jawab gitu sih tadi." gerutu ku dalam hati.
"Eh, enggak enggak, bang. Aku salah jawab tadi." jawab ku panik sembari menutup mulut dengan telapak tangan ku.
"Loh, tadi kata nya iya. Kenapa cepat kali berubah pikiran nya?" tanya bang Rian bingung.
"Eh, itu anu. Aku...aku..."
Aku semakin gugup dan gelisah dengan ucapan ku sendiri.
"Itu anu apa sih, sayang? Apa mau minta di anu sama abang ya?" goda bang Rian dengan senyum menyeringai.
Kemudian dia melingkarkan kedua tangan nya di pinggang ku, lalu dia juga menyibakkan sedikit rambut ku yang masih basah ke bahu kiri ku.
Setelah itu bang Rian mulai mencium pundak sampai ke leher ku, dengan lembut dan nafas yang mulai memburu.
Aku hanya diam dan membiarkan bang Rian berbuat sesuka hati nya dengan ku. Karena tidak mendapat respon dari ku, bang Rian pun semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya.
Dan itu berhasil membuat ku terlena dan hanyut dalam cumbuan nya. Melihat reaksi ku yang sudah mulai merespon perbuatan nya, akhirnya bang Rian pun menghentikan aksinya, lalu berbisik...
"Kita lanjutin di situ yok, sayang!" ajak bang Rian sembari menunjuk ke arah kasur ku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ajakan bang Rian. Melihat anggukan kepala ku, bang Rian langsung tersenyum dan membawa ku ke atas kasur.
Dia mengangkat tubuh ku dan merebahkan nya ke atas kasur secara perlahan. Kemudian bang Rian membuka handuk yang melilit di tubuh ku, lalu mencampakkan nya ke sembarang arah.
Hingga terpampang lah tubuh polos ku di depan mata bang Rian. Dia terus saja memandangi ku dengan tatapan lapar, dan senyum yang menyeringai di bibir nya.
"Abang boleh melakukan nya gak, sayang?" tanya bang Rian meminta persetujuan ku terlebih dahulu.
"Boleh, bang. Silahkan aja, lakukan lah sesuka hati mu! Aku akan menerima nya dan membalas nya dengan senang hati." jawab ku sembari tersenyum manis pada nya.
__ADS_1
"Oke, sayang." jawab bang Rian dengan wajah yang berbinar cerah.
Tanpa buang-buang waktu lagi, bang Rian pun mulai menyerang ku. Dia melakukan cumbuan nya dari ujung rambut sampai ujung kaki ku, dengan semangat yang menggebu-gebu.
Setelah puas mengabsen seluruh tubuh ku, kini tibalah saat nya bang Rian melakukan kegiatan utama nya.
"Abang mulai ya, sayang!" bisik bang Rian sembari menggigit-gigit kecil daun telinga ku.
"Iya, bang." balas ku.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Rian pun langsung melancarkan aksinya. Dia mulai melakukan gerakan maju mundur nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hingga membuat ku semakin tidak terkendali dengan aksinya tersebut.
Suara-suara indah dari bibir kami berdua pun mulai menggema, di dalam kamar kecil ku.
Satu jam kemudian, bang Rian pun menyudahi permainan nya, lalu terbaring lemas di sebelah ku dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya.
"Terima kasih ya, sayang. Abang sangat bahagia hari ini." tutur bang Rian.
"Iya, aku juga bahagia bisa bertemu abang hari ini." balas ku.
"Kamu percaya gak, Ndah. Kalau abang bilang, abang udah mulai candu dengan tubuh mu ini." ujar bang Rian.
"Ah, ada-ada aja abang ini. Kita kan baru dua kali bertemu, masa bisa candu sih, aneh." cibir ku.
"Iya serius, abang gak bohong. Setiap hari abang selalu membayangkan dirimu. Abang juga selalu teringat dengan pertemuan pertama kita, sewaktu di hotel haritu." jelas bang Rian.
"Iya, aku percaya, deh." balas ku pasrah.
"Naaah, gitu dong. Kamu memang harus percaya dengan semua kata-kata abang, hahaha." gelak bang Rian.
Bang Rian tertawa ngakak mendengar ocehan nya sendiri. Dia merasa lucu dengan kata-kata nya tersebut.
Setelah lelah mentertawai diri nya sendiri, tiba-tiba bang Rian menatap serius ke arah ponsel ku yang hancur berantakan, dan masih teronggok di sudut lemari pakaian.
"Loh, itu ponsel mu kenapa hancur gitu, sayang?" tanya bang Rian heran.
"Gak papa, bang. Semalam gak sengaja terjatuh dari atas lemari." bohong ku.
"Ah, masa jatuh dari atas lemari bisa hancur kayak gitu, mustahil." oceh bang Rian tidak percaya.
"Hehehe, tau aja kalo di bohongi." balas ku sembari nyengir kuda.
"Ya tau lah, kalau melihat keadaan ponsel mu itu sih, kayak nya karena di banting kuat tuh, bukan karena jatuh." tebak bang Rian.
"Iya, bener banget tebakan abang. Pintar abang ya, bisa menebak dengan benar. Apa abang anak dukun ya." canda ku.
__ADS_1
"Hahahaha, ada-ada aja. Cuma nebak gitu aja kok di bilang anak dukun sih. Anak kecil juga bisa nebak, kalo melihat kondisi nya seperti itu." oceh bang Rian sembari tergelak.
"Oh, gitu. Kirain karena abang anak dukun, maka nya bisa nebak, hihihi." balas ku sembari cekikikan.