
"Abang tidak akan pernah menyesali apa pun, yang sudah menjadi keputusan abang sendiri, Ndah." jawab Haris.
Haris menghela nafas dalam-dalam, lalu kembali menghisap rokok nya. Raut wajah nya tampak sedih dan kecewa karena mendengar jawaban yang keluar dari bibir ku.
Aku mengangkat kepala ku dari bahu Haris, dan merubah posisi duduk ku menjadi berhadapan dengan nya.
Aku melingkarkan kedua tangan ku ke pundak Haris, lalu menarik tengkuk leher nya untuk mendekat pada ku.
Aku menciumi bibir Haris dengan lembut dan mesra, dalam durasi waktu yang cukup lama. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari ku, Haris pun mulai memejamkan mata nya. Dia tampak sangat menikmati perbuatan nakal ku itu.
Haris membalas ciuman ku dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang ku. Berhubung tempat yang kami duduki pencahayaan nya minim dan remang-remang, jadi perbuatan kami itu tidak terlihat oleh orang lain.
"Kita cari hotel dekat sini, yok!" bisik Haris.
Haris mulai melepaskan ciuman ku, dan mengajak untuk mencari hotel terdekat. Aku langsung mengerutkan kening mendengar ajakan nyeleneh nya.
Nafas Haris tampak sudah mulai tidak beraturan lagi, dengan tatapan mata yang sayu akibat hasrat nya sendiri.
"Mau ngapain cari hotel?" tanya ku bingung.
"Ya mau ngapain lagi, kalau bukan mau nerusin kelakuan nakal mu tadi? Masa gitu aja gak paham sih? Ayok lah, sayang!" rengek Haris.
Haris bergelayut manja di lengan ku. Dia merengek-rengek dan menghentak-hentakkan kaki nya. Persis seperti anak kecil yang lagi minta di belikan mainan kepada ibu nya
"Kalo cuma untuk olahraga malam, ngapain mesti ke hotel? Buang-buang duit aja, di kamar kos kan juga bisa sih." balas ku.
Haris memanyunkan bibir nya karena mendapatkan penolakan dari ku. Dia menunduk kan kepala dan wajah yang di tekuk lesu. Aku hanya terkikik geli melihat tingkah kekanak-kanakan lelaki ku itu.
"Gak usah di maju-maju in gitu muncung nya! Jelek tau, hihihi." ledek ku sembari cekikikan.
Mendengar ledekan ku, Haris pun mulai mengangkat kepala nya dengan senyum yang di paksakan. Setelah melihat wajah Haris yang terlihat lucu seperti itu, aku langsung tertawa ngakak sambil berkata...
"Hahaha, bukan nya tambah ganteng, malah tambah serem aku lihat nya!" canda ku lagi.
Aku terus saja tertawa di depan Haris. Hingga akhirnya, Haris pun langsung beranjak dari tempat duduk nya dan menarik tangan ku untuk ikut berdiri bersama nya.
Setelah itu, Haris merangkul pundak ku dan menuntun ku sampai ke parkiran. Dia mengajak ku masuk ke dalam mobil, dan langsung menyalakan kendaraan nya tersebut.
__ADS_1
Haris sama sekali tidak bersuara pada ku. Dia hanya berdiam diri sejak mendengar ledekan ku, sewaktu duduk di tepi jembatan tadi. Haris mulai melajukan mobil nya dengan santai di jalan raya.
Pandangan nya fokus lurus ke depan melihat jalanan, dan kedua tangan nya tampak sangat lihai dan lincah memainkan stir kemudi nya. Aku melirik sedikit ke arah Haris, dan tersenyum melihat wajah serius nya.
"Ngapain senyum-senyum, emang nya ada yang lucu ya?" tanya Haris memecah keheningan.
"Siapa yang senyum-senyum?" tanya ku pura-pura tidak tahu.
Aku menautkan kedua alis sambil menatap wajah Haris yang masih tetap fokus dengan stir kemudi nya. Haris menoleh sekilas pada ku, lalu kembali menatap ke depan.
"Abang lagi lihatin perempuan yang ada di samping mu itu. Dari tadi senyum-senyum terus dia sama abang." jawab Haris asal.
Haris berucap dengan mimik wajah yang sangat serius, hingga membuat ku reflek menoleh ke samping kiri.
Setelah menoleh, aku pun langsung berteriak sekuat-kuatnya karena saking kaget nya, melihat pantulan bayangan ku sendiri yang ada di kaca pintu mobil Haris.
"Aaaaaa! Astaghfirullahal'azim, ya Allah." pekik ku kuat.
Aku mengelus-elus dada yang berdebar-debar tidak karuan, akibat keterkejutan yang sangat luar biasa. Nafas ku juga terasa ngos-ngosan karena kejahilan Haris barusan.
Aku memukul-mukul pelan bahu Haris sambil mengumpat kesal pada nya. Bukan nya meminta maaf atau merasa bersalah, Haris malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah ku yang sangat kocak menurut nya.
"Iiiihhhh, malah ketawa pulak dia bikin kesal aja!" gerutu ku semakin kesal.
Aku melipat kedua tangan di atas perut sambil mengerucutkan bibir ku ke depan. Haris tersenyum miring sambil melirik ku yang sedang memasang wajah masam di samping nya.
"Jangan marah lah, sayang! Abang cuma bercanda kok, jangan ngambek gitu ah! Abang jadi horor lihat muka nya tuh." ledek Haris.
Bukan nya membujuk, Haris malah semakin tertawa kuat dan meledek ku sembari mencubit pipi ku dengan gemas.
"Bodo amat!" balas ku cuek.
Setelah lelah mentertawai ku, Haris kembali fokus mengendarai mobil nya. Sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah ku dengan ekor mata nya.
"Kita mau jalan-jalan kemana lagi, sayang?" tanya Haris.
"Pulang ke kos aja, aku capek badan ku juga pegel banget nih." jawab ku tanpa menoleh pada nya.
__ADS_1
"Oke siap, tuan putri ku yang cantik!" goda Haris.
"Heleh, lebay. Kalo udah ngomong kayak gitu, pasti ada udang di balik perkedel tuh." cibir ku.
"Bukan udang di balik perkedel, sayang. Tapi udang di balik batu, hahaha. Aneh-aneh aja jawaban nya bocah gendeng satu ini." jawab Haris.
Haris kembali tertawa, sambil mengacak-acak rambut ku dengan tangan kiri nya.
Aku hanya tersenyum menanggapi ulah jahil tangan nya. Tak lama kemudian, kami berdua pun tiba di depan gerbang kos tempat tinggal ku.
Setelah memarkirkan mobil nya, Haris dengan cepat menggandeng lengan ku. Dan kami berdua pun jalan beriringan menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai tiga.
Sampai di dalam kamar, Haris langsung mengunci pintu dan mendekap tubuh ku dengan erat dari belakang.
"Kita lanjutin yang tadi, yok!" bisik Haris.
"Oke, tapi ada syarat nya." balas ku
Mendengar jawaban ku, Haris melepaskan pelukan nya dan memutar badan ku untuk menghadap kepada nya. Dia menatap ku sambil bertanya...
"Syarat apa an, tuh?" tanya Haris penasaran.
"Abang harus pijatin seluruh badan ku dulu. Siap tu, baru kita lanjut kan main nya. Gimana mau gak?" tanya ku.
Tanpa pikir panjang lagi, Haris pun menyetujui permintaan ku dan mulai membuka satu persatu pakaian nya, tanpa tersisa satu helai benang pun yang melekat di badan nya.
Aku langsung melongo melihat keadaan lelaki ku itu yang sudah polos seperti bayi.
"Lololoh, kok malah abang pulak yang polos? Yang mau di pijat itu kan aku, kenapa jadi abang yang buka pakaian duluan? Sampe polos pulak tu." gerutu ku heran.
"Hehehe, biar sekalian lah, sayang. Biar nanti tinggal masukin aja dari belakang kalo udah siap mijat nya." jelas Haris sembari cengar-cengir salah tingkah.
"Huuuu, dasar genit! Gak sabaran banget jadi orang." balas ku.
Aku mengumpat sambil melempar kan bantal ke arah Haris. Dengan gerakan cepat, Haris langsung menangkap bantal itu. Dia berjalan mendekati ku dengan senyuman yang sulit di jelaskan.
"Hm hm hm, mau ngapain dekat-dekat kayak gitu?" tanya ku mulai curiga dengan gerak-gerik Haris.
__ADS_1