
"Hm hm hm, mau ngapain dekat-dekat kayak gitu?" tanya ku mulai curiga dengan gerak-gerik Haris.
"Hehehe, kita main dulu ya, sayang! Siap tu, baru abang pijatin badan mu, boleh gak?" tawar Haris.
Aku dengan cepat menggelengkan kepala, menolak mentah-mentah permintaan Haris. Aku mulai membuka pakaian satu persatu, dan berbaring telungkup di atas kasur, sembari berkata...
"Gak boleh, pijatin dulu badan ku! Habis tu, baru kita main! Gak ada tawar-menawar lagi, titik." jawab ku tegas.
Wajah Haris yang tadi nya berbinar cerah, kini berubah menjadi masam, karena mendengar penolakan ku. Dengan tidak bersemangat, Haris pun mulai mengolesi handbody ke seluruh punggung ku. Kemudian, dia mulai memijat badan, pinggang, kaki dan tangan ku.
Setelah acara pijat memijat selesai, Haris menelentang kan tubuh ku. Lalu, dia langsung menindih ku, dan mulai menciumi seluruh wajah, leher, dan tubuh ku.
Aku membalas semua cumbuan Haris dengan lincah. Dan pada akhirnya, permainan panas pun kembali terulang. Aku dan Haris saling memberi dan menerima, satu sama lain.
"Makasih ya, Ndah!" ucap Haris.
"Iya, sayang." jawab ku sembari tersenyum manis pada nya.
Haris mengecup kening ku dengan lembut, setelah menyelesaikan permainan panas nya. Setelah itu, Haris langsung menjatuhkan tubuh nya di samping ku.
Aku segera beranjak dari kasur, dan membersihkan diri di kamar mandi, begitu juga dengan Haris. Dia turut mengikuti langkah ku dari belakang.
Setelah selesai membersihkan diri masing-masing, aku dan Haris kembali merebahkan diri di atas kasur. Kami berdua mulai memejamkan mata, dan terlelap dalam keadaan sama-sama polos di bawah selimut.
Siang menyapa, aku mulai terjaga dari tidur yang lumayan panjang. Aku langsung beranjak dari kasur, dan berjalan ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku membangun kan Haris yang masih tampak tertidur pulas.
"Bang, bang bangun, bang! Udah siang nih, emang nya gak kerja ya?"
Aku mengguncang pelan bahu Haris, hingga dia terbangun dan mengucek-ngucek mata nya. Haris mulai menggeser tubuh nya dan menyandar di dinding, yang sudah di alasi dengan bantal di punggung nya.
Haris melihat ke arah jam dinding, dengan mata yang membulat sempurna. Dia tampak sangat terkejut, melihat jarum jam yang sudah menunjuk tepat di angka dua.
"Jam nya rusak ya, Ndah?" tanya Haris.
"Rusak?" tanya ku bingung.
Aku mengerutkan kening, mendapat pertanyaan aneh dari Haris. Aku menatap Haris yang masih sibuk menguap, dan mengusap-usap wajah nya, dengan telapak tangan nya.
"Yang rusak itu bukan jam nya, tapi mata abang. Mandi sana, gih! Biar gak rabun tu mata." lanjut ku.
__ADS_1
"Hahaha! Iya iya, abang mandi sekarang. Cerewet banget sih." balas Haris.
Haris tergelak sambil berdiri dari kasur, dan mengambil handuk dari belakang pintu, lalu melilitkan nya di pinggang. Setelah Haris masuk ke dalam kamar mandi, aku pun bergegas membereskan tempat tidur, dan menyiapkan baju ganti untuk Haris.
Selesai mandi, Haris masuk kembali ke dalam kamar, dan memakai pakaian yang sudah aku sediakan di atas kasur.
"Udah lapar belum, Ndah?" tanya Haris.
"Udah, bang." jawab ku.
"Mau makan di luar, atau disini?" tanya Haris.
Aku duduk selonjoran di lantai, sambil memperhatikan Haris yang masih sibuk dengan diri nya sendiri.
Haris merapikan rambut nya di depan cermin, lalu menyemprot parfum ke badan nya. Setelah rapi dan wangi, Haris mengambil kunci mobil nya di atas meja, dan mengantongi dompet di saku belakang celana nya.
"Disini aja, bang. Aku lagi malas keluar, di bungkus aja ya makanan nya!" pinta ku.
"Oke, mau makan apa?" tanya Haris.
"Sama in aja, dengan makanan abang." jawab ku.
Setelah mencium kening ku, Haris melangkah keluar dari kamar dan pergi membeli makanan, dengan mengendarai mobil nya. Aku menutup pintu kembali dan merebahkan diri di atas kasur.
Tak lama berselang, Haris kembali masuk dengan membawa beberapa bungkusan di tangan nya. Melihat kedatangan Haris, aku kembali mendudukkan diri di lantai, dan membuka bungkusan itu satu persatu.
Setelah makanan sudah terhidang, aku dan Haris duduk berhadapan, dan mulai menyantap makanan itu dengan lahap. Selesai makan, ponsel Haris tiba-tiba berdering nyaring di atas bufet.
"Halo, ada apa, Fer?"
"Kapan, dia datang?"
"Oh, oke lah kalo gitu, aku kesana sekarang. Kau tunggu disitu, ya!" jawab Haris.
Haris menerima panggilan dari teman nya yang bernama Ferdi. Setelah menutup panggilan nya, Haris bergegas berganti pakaian dan berpamitan pada ku.
"Abang pergi dulu ya, Ndah. Ada urusan sedikit sama Ferdi."
"Oke, bang. Hati-hati di jalan ya, bang!" balas ku.
__ADS_1
Haris memeluk tubuh ku, dan mencium kedua pipi ku. Lalu, Haris berjalan turun ke lantai satu, dan melajukan kendaraan nya untuk menjumpai teman nya.
Setelah Haris pergi, aku mengunci pintu kamar dan kembali mengistirahatkan tubuh ku di atas kasur. Tak butuh waktu lama, aku pun kembali tertidur pulas, sambil memeluk guling.
Beberapa jam kemudian, aku terbangun dan segera bergegas membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah itu, aku langsung memakai pakaian kerja, dan memoles wajah dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa.
Setelah semua nya selesai, aku mengambil dua kotak Bika Ambon, dan memasukkan nya ke dalam kantong plastik besar.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
Aku berucap, sembari melangkah kan kaki menuju ke tempat kerja. Sesampainya di lokasi, aku segera mengisi absen dan berjalan beberapa langkah menuju bangku panjang, tempat markas para waiters.
"Hai, guys! Apa kabar semua nya?" sapa ku.
Aku melambaikan tangan, menyapa teman-teman seprofesi ku, yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Hai," jawab mereka serempak.
"Kapan kau balek dari kampung, Ndah?" tanya salah satu teman ku yang bernama Yanti.
"Kemaren sore, Yan." jawab ku.
"Oh," balas Yanti.
Setelah selesai berbincang dengan Yanti, aku celingukan kesana kemari, mencari kedua sosok sahabat resek ku, yaitu Rara dan Ririn.
"Rara sama Ririn dimana, Yan? Kok gak ada kelihatan batang hidung nya?" tanya ku.
"Oh, mereka belum datang, Ndah. Mungkin bentar lagi nyampe." jawab Yanti.
"Oh, kirain udah datang. Pantesan aja, gak ada terdengar suara cempreng mereka di sini." balas ku asal.
"Hahaha, ada-ada aja kau, Ndah."
Yanti langsung tertawa, karena mendengar ocehan ku. Tak lama kemudian, kedua sahabat resek ku itu pun datang. Ririn mengejutkan ku dari belakang, sambil menepuk kedua pundak ku.
"Duaarr,"
"Eh mampus kau eh mampus. Dasar, kamvreeet!" pekik ku pada Ririn.
__ADS_1
Aku melatah sembari mengelus dada, dengan jantung yang berdebar-debar kencang. Rara, Ririn, dan Yanti pun langsung tertawa berjamaah. Mereka bertiga mentertawai ku, karena merasa lucu, mendengar ucapan ku tadi.