
"Kok malah diem, Ndah? Kenapa, kamu gak mau nemani abang ke hotel ya?" tanya bang Rian.
"Bu-bukan gitu, bang. Aku...aku..."
Aku menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuang nya secara kasar. Bang Rian yang sedari tadi menatap ku dengan penuh harap pun, langsung tertunduk lesu setelah melihat reaksi seperti itu.
"Tolong turuti keinginan abang, Ndah! Sekali ni aja, Ndah." pinta bang Rian dengan wajah memelas.
"Ta-tapi, bang..."
"Kamu tidak usah khawatir, Ndah. Abang akan memberikan uang yang cukup kepada mu."
Bang Rian memotong ucapan ku. Dia mengeluarkan seikat uang biru, yang masih berlabel salah satu nama bank dari saku celana nya. kemudian, bang Rian menyerahkan uang itu kepada ku.
"Uang ini akan menjadi milik mu, kalau kamu mau menemani abang malam ini, Ndah." bisik bang Rian.
Mata ku langsung membulat sempurna setelah melihat seikat uang yang ada di tangan ku.
"Aduuuh, uang ini bikin goyah pendirian ku aja pun." gerutu ku dalam hati sambil terus memandangi uang yang ada di depan mata ku itu.
"Gimana, sayang? Apakah kamu masih menolak ajakan abang?" tanya bang Rian.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku pun memutuskan untuk menerima tawaran bang Rian untuk menemani nya ke hotel.
"Baik lah, bang. Aku akan menemani abang malam ini." jawab ku lirih.
"Syukur lah kalau kamu mau, Ndah. Abang sangat bahagia mendengar jawaban mu itu."
Bang Rian kembali memeluk tubuh ku, dan mendarat kan kecupan-kecupan mesra nya di wajah ku.
"Ndah, apakah teman mu itu juga mau kalau di ajak ke hotel oleh teman abang?" bisik bang Rian.
"Mau, bang." jawab ku.
"Oke lah kalau begitu, nanti kita pergi bareng dengan mereka ya!" bisik bang Rian lagi.
"Iya, bang." balas ku.
Bang Rian melepaskan pelukan nya dan beralih merangkul pundak ku. Aku dan bang Rian memandang ke arah Ririn, yang tampak sedang asyik bersenda gurau dengan teman bang Rian.
Beberapa saat kemudian, minuman yang berada di atas meja pun sudah habis. Bang Rian pun meminta ku untuk mengambil tagihan minuman nya ke meja kasir.
"Ambil nota nya, Ndah! Biar kita langsung pergi dari sini." titah bang Rian.
"Oke, bang." balas ku.
Aku beranjak dari tempat duduk, dan melangkah menuju meja kasir dengan langkah yang sedikit sempoyongan.
Kepala ku terasa sedikit pusing, akibat minuman yang aku minum bersama bang Rian tadi. Sesampainya di meja kasir, aku pun meminta Billy untuk menghitung tagihan nya.
"Bil, tolong hitung nota minuman kami!" pinta ku pada Billy sang kasir.
"Sekarang ya, Ndah?" tanya Billy sembari senyum miring meledek ku.
"Gak, tahun depan." balas ku asal.
"Hahaha," Billy tertawa ngakak mendengar jawaban ku.
Setelah selesai menghitung, Billy pun menyerahkan kertas nota itu ke tangan ku, sembari tersenyum lebar menatap wajah ku.
"Gak usah pake acara senyam-senyum segala, serem tau gak!" cibir ku.
"Mana pulak serem, muka ganteng gini kok di bilang serem, rabun mata mu ya!" balas Billy.
"Ya, mata ku memang rabun kalo lihat muka jelek mu itu."
Aku membalas ucapan Billy, sembari melangkah meninggalkan nya yang tampak masih setia dengan senyum aneh nya.
"Dasar, lampir!" umpat Billy.
Aku sama sekali tidak menghiraukan umpatan Billy. Aku tetap terus melangkah menuju ke arah meja bang Rian.
"Ini nota nya, bang!" ucap ku menyodorkan kertas itu ke tangan bang Rian.
Setelah menerima kertas tagihan minuman itu, bang Rian pun langsung melihat jumlah nya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet nya.
"Nah, ini uang nya, Ndah. Ayo, sekalian kita keluar!" ajak bang Rian.
__ADS_1
"Iya, bang." balas ku sembari menoleh ke arah Ririn.
"Ayo kita keluar, Rin! Ada yang mau aku omongin sama mu." seru ku.
"Oke, Ndah." jawab Ririn.
Ririn pun beranjak dari tempat duduk nya dan datang menghampiri ku. Kami berdua melangkah sambil bergandengan tangan menuju kasir.
Sedangkan bang Rian, dia berjalan keluar dari ruangan karaoke menuju parkiran mobil bersama teman nya.
Selesai membayar nota dan uang chas keluar kepada Billy, aku pun langsung menarik lengan Ririn sampai ke depan pintu utama, lalu berbisik di telinga nya.
"Rin, kau mau ikut kami ke hotel gak?" tanya ku.
"Ya mau lah, Ndah. Aku juga lagi butuh duit nih." jawab Ririn dengan wajah berbinar.
"Ya udah kalo kau mau, ambillah tas mu sana! Biar kita berangkat sekarang." titah ku.
Aku menunjuk ke arah tempat penyimpanan tas para waiters, yang berada tepat di samping meja kasir.
Setelah mengambil tas nya, Ririn pun kembali menghampiri ku dan mengajak ku untuk keluar dari ruangan karaoke tersebut.
Aku dan Ririn pun berjalan bersama menuju mobil bang Rian. Setelah sampai, aku langsung duduk di depan, untuk menemani bang Rian mengemudi kan kendaraan nya.
Sedangkan Ririn, dia duduk di bangku tengah bersama teman bang Rian. Setelah aku dan Ririn masuk, bang Rian pun mulai menjalankan mobil nya ke jalan raya menuju hotel.
Tak berselang lama, bang Rian pun memarkirkan mobil nya di depan gedung hotel yang cukup besar menurut ku.
Setelah mobil terparkir rapi, bang Rian langsung mengajak kami bertiga untuk keluar dari kendaraan nya tersebut.
"Ayo keluar, kita udah nyampe nih!" seru bang Rian.
"Oke, bang." balas kami bersamaan.
Setelah keluar dari mobil, bang Rian langsung menggenggam tangan ku dan mengajak ku untuk masuk ke dalam gedung hotel tersebut.
Begitu juga dengan Ririn dan pasangan nya, mereka berdua mengikuti langkah kami dari belakang sembari bergandengan tangan.
Selesai memesan kamar di meja resepsionis, kami pun kembali berjalan menyusuri lorong untuk menemukan nomor kamar masing-masing.
"Akhirnya, abang berhasil juga mendapatkan mu, Ndah. Abang ingin menghabiskan malam ini bersama mu, sayang. Kita akan bercinta bersenang-senang di atas ranjang ini."
Bang Rian menunjuk ke arah ranjang empuk yang ada di hadapanku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk, untuk menanggapi bisikan mesra dari bang Rian.
"Apakah kamu sudah siap untuk melakukan nya dengan abang, sayang?" tanya bang Rian dengan tatapan sayu nya.
"Iya, bang. Aku sudah siap melakukan nya. Aku juga akan melayani abang, sampai abang merasa puas bermain dengan ku." balas ku sembari tersipu malu.
"Benar kah, sayang?" tanya bang Rian.
"Iya benar, bang. Lakukan lah, nikmati lah sampai sepuasnya! Malam ini, aku hanya lah milik mu seorang, sayang." jawab ku dengan suara serak.
Aku melingkarkan kedua tangan ku di leher bang Rian, kemudian aku menciumi bibir nya dengan nafas yang sudah mulai tidak beraturan lagi, akibat terbakar oleh gairah ku sendiri.
Mendapatkan serangan mendadak dari ku, bang Rian pun langsung membalas perbuatan ku itu dengan lembut dan mesra.
Karena sudah tidak tahan lagi, bang Rian pun langsung mengangkat tubuh tanpa melepaskan ciumannya di bibir ku.
Bang Rian membaringkan tubuh ku secara perlahan di atas ranjang, dan dia pun mulai melepaskan ciuman nya sembari berucap...
"Abang udah gak tahan lagi nih, sayang. Kita mulai sekarang aja permainan nya, ya!" pinta bang Rian.
"Iya, bang." balas ku dengan mata terpejam.
Tanpa berkata apa pun lagi, bang Rian pun langsung turun dari ranjang dan bergegas membuka semua pakaian nya. Kemudian, dia pun beralih membuka seluruh pakaianku sampai polos tak bersisa.
Setelah selesai, bang Rian langsung melancarkan aksinya pada ku. Dia tampak sangat menikmati dan menghayati setiap gerakan nya.
Sedangkan aku jangan di tanya lagi, aku terus saja memejamkan mata dan mengeluarkan suara-suara indah dari bibir ku.
Dua jam kemudian, bang Rian pun menyelesaikan permainan nya. Dia menjatuhkan tubuh nya di samping ku, dengan keringat yang bercucuran di seluruh tubuh nya.
Aku dan bang Rian sama-sama kecapekan, akibat permainan ranjang yang baru saja kami lakukan.
Setelah beberapa saat beristirahat, bang Rian pun memiringkan badan nya untuk menghadap pada ku. Dia menopang kan kepala di atas telapak tangan nya, lalu berkata...
__ADS_1
"Apakah kamu menikmati permainan abang tadi, Ndah?" tanya bang Rian sembari membingkai wajah ku dengan jari-jari nya.
"Pasti dong, bang. Aku sangat menikmati nya tadi." jawab ku jujur.
Aku memeluk tubuh bang Rian, dan menempelkan wajah ku di dada bidang nya. Aku menghirup aroma wangi yang berasal dari tubuh nya tersebut.
Melihat tingkah manja ku seperti itu, bang Rian pun langsung membalas pelukan ku dan membawa tubuh ku ke atas badan nya.
Kedua tangan kekar nya mendekap erat tubuh ku, dan membelai rambut panjang ku dengan lembut.
"Abang sangat menyukai gerakan-gerakan liar mu, saat membalas permainan abang tadi, sayang. Kamu memang sangat pandai dan lihai, dalam memuaskan pasangan mu di atas ranjang." tutur bang Rian.
"Ah, abang terlalu berlebihan memuji ku. Bikin malu aku aja." balas ku tersipu malu.
Aku semakin menenggelamkan wajah ku di ceruk leher bang Rian. Aku menjadi malu saat mendengar kejujuran nya barusan.
"Beneran abang gak bohong, sayang. Abang jadi ketagihan bermain dengan mu." lanjut bang Rian sambil terus membelai rambut ku.
"Kalau abang ingin melakukan nya lagi, kira-kira boleh gak, Ndah?" tanya bang Rian ragu.
"Ya tentu boleh dong, bang. Tadi kan udah aku bilang, lakukan lah sesuka hati abang sampai abang merasa puas." jawab ku.
"Seriusan, Ndah?" tanya bang Rian dengan senyum sumringah nya.
Aku mendongak kan kepala untuk menatap wajah bang Rian, yang tampak sangat senang dan bahagia saat ini.
"Iya serius, bang." jawab ku meyakinkan bang Rian.
"Ah, sayang. Abang memang tidak salah memilih mu untuk menemani abang malam ini. Kau benar-benar wanita yang sangat istimewa yang pernah abang kenal, Ndah." jelas bang Rian.
"Heleh, gombal." cibir ku sembari tersenyum miring.
Aku bangkit dari badan bang Rian dan duduk di atas perut nya. Kemudian, aku merentang kan kedua tangan nya dan mencengkram nya dengan erat.
Dengan senyum yang menyeringai, aku pun mendekat kan wajah ku pada bang Rian.
"Apakah abang ingin merasakan permainan ku yang sebenarnya?" tanya ku.
Aku menggoda bang Rian dengan mengigit bibir bawah ku, dan mengerlingkan sebelah mata ku kepada nya.
Setelah mendengar godaan maut yang keluar dari bibir ku, bang Rian pun langsung tersenyum dan mengangguk kan kepala nya.
"Mau dong, sayang. Lelaki mana sih yang sanggup menolak tubuh indah mu ini."
Jawab bang Rian sembari menyunggingkan senyum manis nya pada ku.
"Baik lah, aku akan memegang kendali untuk melayani mu, bang. Dan aku akan memberikan yang terbaik untuk mu." balas ku.
"Silahkan, sayang. Berikan lah kenikmatan itu pada abang, agar abang semakin terlena dan terbuai oleh sentuhan-sentuhan lembut mu itu." tutur bang Rian.
Setelah mendengar penuturan bang Rian, tanpa basa-basi lagi aku pun langsung menyerang bang Rian secara brutal dan ganas.
Dengan gairah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, dan deru nafas yang mulai ngos-ngosan. Aku menggerayangi tubuh bang Rian dengan rakus, persis seperti orang yang sedang kesurupan.
Saat hendak mencapai puncak kenikmatan, aku langsung memekik kuat sambil menyebut nama bang Rian. Begitu juga dengan bang Rian, dia ikut memuncak sembari menyebut nama ku.
Dan pada akhirnya, kami berdua pun sama-sama terkulai lemas tidak berdaya di atas ranjang.
"Kau benar-benar sangat hebat, sayang. Kau mampu membuat abang melayang-layang, karena saking nikmatnya merasakan pelayanan mu tadi." jelas bang Rian.
Bang Rian mengecup kening ku dan kembali memeluk tubuh ku.
"Syukur lah kalau abang suka, aku sangat senang mendengar nya." balas ku lega.
Setelah selesai melayani bang Rian, aku pun bangkit dari ranjang dan mengajak bang Rian ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Siap ni, kita langsung tidur ya, bang! Badan ku capek banget nih."
Ujar ku sembari mencuci muka dengan sabun cair di depan cermin wastafel. Bang Rian yang sedang menyikat gigi pun langsung menoleh dan menganggukkan kepala nya.
"Oke, sayang. Besok kita lanjutin lagi main nya, ya!" balas bang Rian.
"Oke siap, bos." jawab ku.
Selesai bersih-bersih, kami berdua pun kembali naik ke atas ranjang dan mulai memejamkan mata masing-masing.
Tak lama kemudian, aku dan bang Rian pun terlelap dengan keadaan polos di dalam selimut, dan posisi yang saling berpelukan.
__ADS_1