Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Perlakuan Kasar Haris


__ADS_3

"Ternyata ampuh juga rayuan maut ku, hahaha." gelak ku dalam hati.


Setelah selesai olahraga malam dengan Haris, aku segera beranjak dari kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Sesudah membersihkan diri, aku kembali masuk ke dalam kamar, lalu melihat Haris yang masih berbaring telentang dengan mata terpejam.


"Lololoh, kok malah molor pulak dia. Bukan nya di bersihin dulu junior nya, malah merem pulak mata nya."


Gerutu ku sembari memunguti pakaian ku yang berserakan di atas lantai, lalu memakai nya. Setelah itu, aku mendekati Haris dan duduk di samping nya dengan punggung yang menyandar di dinding.


Merasa ada pergerakan di atas kasur, Haris langsung membuka mata nya dan memiringkan tubuh nya untuk memeluk pinggang ku. Dia menempelkan wajah nya di perut ku, lalu berkata...


"Ndah, jangan lakukan hal itu lagi ya!" pinta Haris.


"Lakukan hal apa?" tanya ku bingung sambil menautkan kedua alis.


"Menduakan ku dan mengkhianati kepercayaan ku." jawab Haris.


Aku menghela nafas panjang saat mendengar permintaan Haris. Ternyata dia masih saja membahas, tentang masalah yang menjadi pemicu pertengkaran kami tadi siang.


Dengan berat hati, aku pun menolak permintaan nya itu. Aku tidak ingin menyusahkan nya, hanya karena ingin memenuhi kebutuhan keluarga ku.


"Maaf, bang. Aku gak bisa." jawab ku lirih.


Mendengar jawaban ku, Haris langsung mendongak lalu meletakkan kepala nya di pangkuan ku. Dia memandangi ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Kenapa gak bisa?" tanya Haris dengan kening mengkerut.


"Banyak perut yang harus aku kasih makan." jawab ku sembari menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


"Kalau cuma masalah itu, abang kan bisa membantu mu dikit-dikit. Kau gak perlu menjual harga dirimu kayak gitu." oceh Haris.


"Kau gak akan sanggup, bang. Aku gak mau menyusahkan mu, dan aku juga gak mau membebani mu dengan masalah ku itu." jawab ku.


"Tapi kan kasian keluarga mu di sana, Ndah. Masa kau kasih makan mereka dengan uang dari hasil seperti itu."


"Dosa tau gak. Kau berdosa mereka juga ikutan berdosa, karena ikut memakan hasil nya." oceh Haris lagi.


"Kalau masalah itu gak perlu abang pikirkan. Biar lah semua dosa itu aku yang menanggung nya, yang penting keluarga ku tidak kekurangan di sana." jawab ku.

__ADS_1


"Ck, keras kepala kali sih di bilangin." gerutu Haris kesal.


Aku dan Haris terdiam sesaat. Kami berdua sibuk dengan pikiran dan renungan masing-masing. Haris tampak sangat kesal dan kecewa dengan keputusan ku.


Dia seperti nya tidak rela, jika aku terus-terusan melakukan pekerjaan hina seperti itu.


"Terserah kau aja lah situ! Udah capek aku ngomongin nya, tapi masih aja tetap bandel. Kalo nanti kena penyakit, gimana coba?" tanya Haris ketus.


"Ya, jangan doain yang aneh-aneh lah. Doain aja badan ku itu sehat terus, biar aku bisa menghasilkan uang yang banyak." jawab ku sewot.


"Huh, ya lah terserah kau aja. Kau yang jalani, dan kau juga yang nikmati." balas Haris pasrah sambil membuang nafas kasar.


Mendengar ucapan Haris, aku langsung menunduk dan menatap sinis pada nya. Aku tidak suka mendengar kata-kata sindiran nya barusan.


"Maksud abang apa ngomong kayak gitu?" tanya ku.


"Ya kan bener sih, apa yang ku bilang tadi. Kau juga pasti menikmati nya kan? Maka nya kau gak mau berhenti dari pekerjaan mu itu." jawab Haris.


Emosi ku langsung meledak seketika, saat dengan enteng nya Haris mengucapkan kata-kata menyakitkan itu pada ku.


Karena sudah merasa geram dan emosi, aku pun semakin memanas-manasi Haris, dengan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi bagi nya.


"Kalo iya emang kenapa, hah? Aku memang menikmati permainan-permainan mereka. Aku bahkan sangat puas dengan pelayanan mereka semua." jawab ku lantang.


Raut wajah nya tampak horor dan menakutkan. Dia mengeraskan rahangnya, lalu melayangkan telapak tangan nya di pipi kiri ku, dan...


Plak...


Cap lima jari pun mendarat indah di pipi mulus ku. Haris benar-benar tampak murka setelah mendengar kejujuran ku tersebut.


"Dasar, perempuan gak tau diri. Di bilangin bagus-bagus bukan nya nurut, malah semakin ngelunjak pulak." maki Haris dengan wajah sangar nya.


"Kau pikir kau itu siapa, hah? Kau itu tak ubah nya seperti kotoran yang sangat menjijikkan saat ini."


"Jangan mentang-mentang aku mencintaimu, trus kau bisa seenak nya memperlakukan ku seperti ini."


"Masih banyak perempuan di luaran sana yang mau dengan ku. Jangan kau pikir aku gak laku sama perempuan lain, hanya karena terus mengejar mu." lanjut Haris masih dengan emosi yang membludak.


Mendengar kata-kata yang sangat menyayat hati dari bibir Haris, aku pun berusaha untuk tetap tegar dan menahan air mata ku, agar tidak menetes di depan Haris.

__ADS_1


"Ya udah, pergilah! Temui perempuan itu, dan tinggal kan aku sendiri disini." jawab ku lirih sembari memalingkan wajah ke samping.


Haris langsung terdiam dan tidak mengeluarkan suara apa pun lagi, setelah mendengar jawaban ku. Dia tampak heran melihat reaksi ku, yang masih terlihat santai dan tenang di depan nya.


"Kau serius nyuruh aku pergi mencari perempuan lain?" tanya Haris.


"Ya, aku serius. Dan aku gak pernah main-main dengan ucapan ku." jawab ku.


"Kenapa bisa semudah itu? Apa karena kau sudah memiliki banyak lelaki di luar sana?" selidik Haris.


"Itu bukan urusan mu. Jangan kau campuri hidup ku lagi, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan ku, ingat itu!" jawab ku ketus.


"Loh, kok kau pulak yang marah? Seharusnya yang marah itu kan aku, bukan kau. Kok malah terbalik pulak jadi nya, aneh." protes Haris.


"Udah, gak usah banyak omong. Cepat pergi dari sini!" usir ku tanpa menoleh sedikit pun kepada Haris.


"Loh, kok malah ngusir pulak sekarang?" tanya Haris semakin bingung dengan sikap ku.


"Kau yang berbuat salah, kau pulak yang emosi." gerutu Haris.


Dada ku semakin terasa sesak mendengar ucapan-ucapan Haris. Dengan hati yang sudah tersulut emosi, aku pun mengusir Haris dengan suara yang cukup menggelegar.


"PERGI DARI KAMAR KU SEKARANG JUGA!" pekik ku kuat.


Haris langsung terlonjak kaget dengan mata yang terbelalak lebar. Dia sama sekali tidak menyangka, aku yang biasa nya lembut dan mesra, kini berubah menjadi monster yang sangat mengerikan di depan nya.


"Oke, aku pergi sekarang. Tapi ingat, jangan pernah menyesal dengan keputusan mu ini." balas Haris.


"Ya, aku gak akan pernah menyesali apa yang sudah aku putuskan." jawab ku mulai melunak.


Tanpa berkata apapun lagi, Haris langsung memakai pakaian nya dan berlalu pergi dari hadapan ku. Dia membanting pintu dengan kuat, hingga membuat ku sedikit terkejut sembari mengelus dada.


"Maafkan aku, aku terpaksa melepas mu demi kebaikan kita berdua." gumam ku pelan.


Setelah kepergian Haris, air mata yang sedari tadi aku tahan kini mulai mengalir di kedua pipi ku. Aku sangat sedih dan terluka, mendapat hinaan dan cacian dari orang yang aku cintai.


"Aku ikhlas melepas mu, bang. Pergi lah, berbahagia lah dengan wanita baik-baik, yang ada di luaran sana! Jangan perduli kan aku lagi."


"Biar lah aku hidup dengan cara ku sendiri. Aku tidak ingin menjadi beban buat mu, atau pun menjadi beban buat orang lain yang ada di sekeliling ku."

__ADS_1


Lanjut ku masih dengan deraian air mata yang membanjiri pipi ku.


Setelah menangisi nasib diri selama beberapa jam, akhirnya aku pun merebahkan diri dan tertidur lelap di atas kasur empuk ku.


__ADS_2