
Saat sedang asyik bersantai ria dia atas kasur, tiba-tiba ponsel ku pun berdering kembali. Aku langsung merentang kan tangan ke atas meja, untuk meraih ponsel tersebut..
Setelah mendapat kan nya, aku melihat layar ponsel yang sedang menyala sambil mengerut kan kening.
"Ayah, ada apa ya kira-kira?" batin ku.
Aku agak sedikit ragu untuk menerima panggilan dari ayah. Setelah beberapa saat berpikir, akhir nya aku pun memutuskan menerima panggilan dari ayah.
"Halo assalamualaikum, yah." salam ku.
"Wa'laikum salam," jawab ayah.
"Ada apa, Yah?" tanya ku tanpa basa-basi.
"Ada pegang uang gak, Ndah?" tanya ayah.
Setelah mendengar pertanyaan ayah, aku pun langsung terpaku di tempat. Ternyata firasat benar, ayah menghubungi ku pasti karena ada mau nya.
"Buat apa, yah?" tanya ku balik.
"Buat bayar listrik sama bayar hutang, Ndah. Ayah ada hutang sama orang tiga ratus ribu, dan uang listrik seratus lima puluh ribu." jelas ayah.
"Ayah butuh nya kapan, trus uang yang baru aku kirim kemaren kemana?"
Aku bertanya sambil memijat kening yang mulai berdenyut nyeri. Padahal baru dua minggu yang lalu, aku kirim kan uang gaji ku sebesar satu juta lima ratus ribu.
"Kenapa sekarang ayah udah minta lagi?" batin ku heran.
Memang ada uang satu juta di tangan ku saat ini, pemberian dari Haris kemarin. Tapi kan uang itu untuk bayar kos dan untuk pegangan ku juga, sampai menunggu gajian bulan depan.
"Uang kemaren udah habis buat ini itu, Ndah." jawab ayah dengan santai nya.
"Ya Allah, yah." balas ku lirih.
Aku langsung mengelus dada mendengar jawaban enteng dari ayah. Ingin rasa nya aku menangis sekuat-kuatnya, untuk menghilangkan sedikit beban pikiran ini.
"Ayah perlu uang nya kapan?" tanya ku lagi sambil menarik-narik rambut yang semakin berdenyut.
"Sekarang bisa gak, Ndah?" jawab ayah.
Ayah mendesak ku agar aku mengirim kan uang itu sekarang juga.
"Jujur ya, yah. Kalau sekarang uang ku cuma ada untuk bayar kos, dan untuk pegangan buat makan ku sehari-hari aja." balas ku.
"Nanti malam lah, yah. Aku coba pinjamkan sama teman-teman ku. Mana tau mereka ada yang bisa pinjam kan aku uang buat ayah." lanjut ku lagi.
"Oh, ya udah kalau gitu. Nanti malam kalau udah di transfer kabari ya, assalamualaikum." ayah langsung menutup panggilan nya, secara sepihak.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Setelah panggilan dari ayah berakhir, aku kembali merebahkan diri di atas kasur, sambil terus memijat kepala yang semakin berdenyut tidak karuan.
Tak butuh waktu lama, akhir nya aku pun tertidur kembali. Setelah tidur kurang lebih satu jam, aku terbangun dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
"Hah! Udah setengah tujuh. Mana belom shalat lagi." pekik ku.
Mata ku langsung membulat sempurna saat melihat ke arah jam dinding. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun segera berlari ke kamar mandi untuk berwhudu. Setelah itu, aku langsung menunaikan shalat magrib.
"Alhamdulillah."
Ucap syukur ku setelah selesai melaksanakan shalat. Sambil menunggu waktu shalat isya tiba, aku pun mulai membereskan kamar.
Aku menyapu dan merapikan kasur yang sangat berantakan, seperti kapal pecah. Lalu kemudian, aku lanjut mencuci piring-piring yang kotor.
Tidak terasa waktu shalat isya pun tiba. Aku kembali berwhudu dan melaksanakan shalat. Setelah selesai, aku langsung berganti pakaian, memakai celana jeans biru dan kemeja kotak-kotak pink.
Aku memoles sedikit wajah, dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Selanjut nya, memakai sepatu sport putih dan menyampirkan tas selempang di pundak.
"Oke selesai, bismillahirrahmanirrahim."
Aku mengunci pintu kamar, dan mulai melangkah menuruni anak tangga sampai ke lantai satu. Aku terus melangkah kan kaki sampai ke tempat kerja.
Sesampai nya di lokasi tempat ku bekerja, aku melihat teman-teman seprofesi ku, yang sudah pada berkumpul di bangku panjang. Tempat biasa kami menunggu para tamu karaoke datang.
Setelah mengisi absen, aku beranjak menuju kantin yang terletak tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Sampai di kantin, aku langsung memesan ayam bakar dan es teh kepada si pelayan kantin.
Sambil menunggu pesanan datang, aku mengambil ponsel dan bermain game. Salah satu teman ku yang bernama Ririn, diam-diam mengagetkan ku dari belakang tempat duduk ku.
"Woy." pekik Ririn sambil menepuk kedua pundak ku.
Aku langsung terlonjak kaget dan reflek melatah.
__ADS_1
"Eh mampus kau eh mampus kau." pekik ku sembari mengelus dada.
"Kau mau makan apa, Ndah? Udah pesan belom?" tanya Ririn sambil duduk di samping ku dan celingukan kesana sini.
"Udah, aku pesan ayam bakar sama es teh. Kau mau makan apa?" tanya ku balik.
"Sama in aja lah kayak pesanan mu. Enak kayak nya, tuh!" jawab Ririn.
Ririn langsung memanggil pelayan kantin, dan memesan makanan yang sama seperti pesanan ku. Selesai memesan, Ririn kembali duduk di samping ku sambil memainkan ponsel nya.
"Rin, kau ada uang simpanan gak? Aku mau pinjam, nanti kalau udah gajian langsung aku balekkan!" bisik ku pelan.
"Ada sih, tapi gak banyak. Emang nya mau pinjam berapa?" tanya Ririn tanpa menoleh pada ku. Dia masih tetap fokus dengan ponsel nya.
"Kalau lima ratus ribu ada gak? Soal nya aku butuh buat kirim ke ayah ku!" jawab ku.
"Kalau lima ratus ribu gak ada, Ndah. Tapi kalau tiga ratus ribu ada. Soal nya aku juga mau bayar kos lima ratus ribu besok." jawab Ririn.
"Nanggung kalau cuma segitu, Rin. Aku butuh nya itu lima ratus ribu. Ya udah deh kalau gitu, aku gak jadi pinjam uang mu."
Aku menjawab, sambil menunduk kan kepala di depan nya. Melihat reaksi ku seperti itu, Ririn pun langsung meledek dan mencubit kuat lengan ku.
"Cieee, marah niyee!" ledek Ririn.
"Adoooh! Sakit dodol." umpat ku kesal.
Aku meringis dan mengelus-elus lengan yang di cubit Ririn barusan.
"Yaelah, lampir! Cuma di sentuh dikit doang, kok teriak nya kayak orang lagi di aniaya aja lu." balas Ririn santai.
"Kalau gak sakit, gak mungkin aku sampe teriak-teriak kayak gitu, kamvret!" umpat ku lagi.
Aku langsung menoyor jidat Ririn yang lebar seperti lapangan voli tersebut.
"Silahkan di nikmati hidangan nya, kak!" si pelayan kantin meletakkan pesanan ku dan Ririn di atas meja.
"Oke makasih ya, mbak." balas ku sembari tersenyum.
Setelah makanan terhidang rapi di atas meja, aku dan Ririn langsung menyantap ayam bakar kecap itu dengan lahap. Kami berdua memakan makanan itu sampai tandas tak bersisa sedikit pun, kecuali tulang ayam tentu nya.
Setelah selesai mengisi perut, kami berdua melangkah menuju bangku panjang dan kembali bergabung dengan teman-teman lainnya.
Setelah memarkirkan kendaraan roda empat nya tepat di samping kantin, mereka berlima pun berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke, dan di ikuti oleh kapten kami yang bernama Lisa dari belakang.
Lisa menyambut kedatangan mereka dengan senang hati, dan senyum yang sumringah pasti nya. Kapten itu, adalah istilah dari tangan kanan bos. Dia lah yang mengatur segala urusan yang ada di tempat kerja kami.
Setelah para tamu itu masuk dan duduk di dalam ruangan yang sudah di sediakan, Lisa pun kembali keluar untuk memanggil satu persatu wanita, yang akan menemani lima orang tamu di dalam termasuk diriku.
Selanjutnya, kami berlima pun berjalan ke dalam dan menghampiri para tamu itu, lalu duduk bergabung dengan mereka.
Di meja sudah tersedia berbagai macam minuman beralkohol dosis tinggi, dan ada juga beberapa bungkus rokok serta cemilan. Seperti kacang dan kuaci sebagai pelengkap.
Aku mulai menuangkan minuman ke dalam gelas kecil, dan memberikan sedikit es ke dalam nya.
Kami semua bersukacita di bawah kelap kelip lampu berwarna-warni, yang menyinari ruangan karaoke. Di tambah lagi dengan suara dentuman musik DJ yang mengalun indah, di telinga siapa pun yang mendengar kan nya.
Setelah semua gelas sudah terisi dengan minuman, kami semua mengangkat gelas masing-masing ke udara dan "cheers."
Kami semua bersulang, dan meneguk minuman itu sampai tandas dalam satu nafas. Setelah itu, kami para wanita menuangkan kembali minuman itu ke dalam gelas yang sudah pada kosong di atas meja.
Setelah semua gelas terisi penuh, tiba-tiba salah satu tamu laki-laki berdiri dari tempat duduk nya sambil berkata...
"Untuk para cewek-cewek, mau ikutan main game gak?" tanya lelaki itu
"Main game apa, bang?" tanya ku penasaran.
"Aku akan memberikan uang lima puluh ribu per gelas. Tapi, dengan satu syarat! Minum nya jangan pakai es dan dalam satu gelas itu, harus habis dalam satu nafas!" jelas lelaki itu.
"Berapa gelas pun yang sanggup kalian minum, aku akan membayar nya lima puluh ribu per gelas! Gimana para cewek-cewek, apa kalian sanggup?"
Tanya lelaki itu sambil mengeluarkan segepok uang pecahan lima puluh ribuan, dari dalam tas kecil nya.
"Wow! Mantap tuh duit." gumam ku.
Kami semua langsung melongo, dengan mulut yang menganga lebar melihat segepok uang tersebut.
"Oke, siapa takut!" jawab ku lantang.
Teman-teman ku pun setuju, dan mengucap kan hal sama dengan ku untuk mengikuti game yang di tawarkan lelaki itu.
"Lumayan, buat tambahan untuk di kirim kan ke ayah besok."
__ADS_1
Aku berucap dalam hati, sambil mengambil rokok yang ada di atas meja dan menyala kan nya.
Permainan pun di mulai, kami para wanita mulai meminum minuman keras itu sambil meringis, menahan kan rasa pahit dan panas dari minuman tersebut.
Lidah dan kerongkongan rasa nya terbakar, karena saking keras nya minuman itu.
Walau pun rasa minuman itu sangat menyiksa, aku tetap meminum nya sampai tandas. Putaran gelas pertama terlewati dengan aman.
Lelaki itu langsung membagi kan uang, lima puluh ribu per orang kepada kami para wanita. Putaran gelas kedua dan ketiga juga masih aman, dan belum ada yang tumbang di antara kami berlima.
Walau pun kepala sudah mulai puyeng dan mual, kami para wanita tetap melanjut kan nya.
Pada gelas ke empat dan kelima, tiga orang teman ku tumbang. Mereka menyerah, karena sudah tidak tahan lagi meneguk minuman itu.
Sekarang tinggal dua orang yang masih bertahan. Yaitu aku dan satu teman ku yang bernama Yani.
"Aduuh, aku udah puyeng banget nih, Yan."
Aku mengeluh pada Yani sambil memegangi kepala ku, yang sudah mulai sempoyongan di tempat duduk.
"Sama, Ndah. Kepala ku juga udah mulai pusing nih." balas Yani.
Sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi, untuk meneguk minuman itu. Rasa mual dan pusing, benar-benar sangat menyakitkan bagi ku. Dan pada akhirnya, aku dan Yani pun ikut tumbang juga, kami berdua pun menyerah.
Setelah menerima uang sebesar tiga ratus ribu dari lelaki itu. Aku langsung memasukkan uang itu ke dalam saku celana. Lalu aku beranjak dari tempat duduk, dan berjalan sempoyongan ke toilet wanita.
Sesampainya di dalam toilet, aku langsung memuntahkan semua isi perut sampai habis ke dalam kloset.
Tubuh ku sampai bergetar akibat mengeluarkan semua isi perutku itu. Selesai memuntahkan semua nya, aku langsung kumur-kumur dengan air kran, dan membersihkan area mulut ku dengan tisu.
"Aduuh, kepala ku pusing banget." gumam ku.
Aku memegangi kepala dan mulai berjalan keluar dari toilet. Aku kembali berjalan menghampiri mereka dan duduk di tempat ku semula.
Teman-teman ku sudah pada tumbang semua. Mereka berbaring di sandaran sofa, di tempat duduk nya masing-masing.
Minuman yang ada di atas meja pun sudah pada kosong. Aku menoleh pada lelaki yang ada di samping ku, dengan mata sayu dan lemas akibat muntah di toilet barusan.
"Ambil nota nya, dek!" titah lelaki itu.
Lelaki itu menyuruh ku untuk mengambil tagihan minuman nya ke meja kasir. Aku pun hanya mengangguk sebagai jawaban dan mulai berjalan ke meja kasir.
"Billy, hitung nota di meja kami!" ujar ku pada Billy sang kasir.
"Oke, Ndah." balas Billy.
Billy pun segera mengotak-atik mesin penghitung nya. Setelah selesai menghitung, Billy menyerahkan kertas nota itu pada ku.
Aku kembali berjalan ke meja dan kembali duduk di samping lelaki itu, sambil menyodorkan kertas nota pada nya.
"Ini nota nya, bang!" ucap ku.
Lelaki itu menerima nota dari tangan ku sambil tersenyum manis.
Setelah melihat jumlah tagihan yang ada di nota, lelaki itu langsung memberikan sejumlah uang seperti yang tertera di kertas nota. Kemudian dia memberikan uang lagi sebesar satu juta kepada ku.
"Uang ini untuk apa, bang?" aku bertanya sambil menatap uang satu juta yang ada di tangan ku itu.
"Itu uang tip untuk kalian berlima! Makasih ya, kalian sudah menemani kami malam ini! Lain kali, kami akan datang lagi kesini."
Lelaki itu berucap sambil mengecup kedua pipi ku dengan lembut.
"Makasih banyak ya, bang." aku pun membalas kecupan nya itu dengan memeluk tubuh nya mesra.
"Oke lah kalau begitu, kami balek dulu ya, dek!" pamit nya.
Lelaki itu mulai beranjak dari duduk nya, dan mengajak teman-teman nya untuk segera pulang.
"Oke, bang. Hati-hati di jalan, ya!" balas ku.
Setelah para tamu itu pulang, aku bergegas membangun kan teman-teman ku yang masih terkapar di meja tadi.
Lalu, aku mulai membagikan uang dua ratus ribu per orang kepada mereka. Uang tip yang di berikan lelaki itu tadi pada ku.
Selanjut nya, kami berlima pun membersihkan meja sampai bersih seperti semula. Setelah semua nya bersih, aku kembali duduk di sofa sambil menarik-narik rambut ku.
"Ya, ampuun! Sakit banget kepala ku." gumam ku.
Aku merintih karena menahan kan rasa sakit kepala yang semakin menjadi-jadi.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan sakit, aku merebahkan diri di atas sofa yang aku duduki. Dan akhirnya, aku pun tertidur di sofa.
__ADS_1