
"Yaelah, Ndah... Ndah... Kata nya aku ini best friend mu, masa pegang dikit aja gak boleh? Medit amat jadi orang." oceh Ririn masih terus memprotes ku.
"Udah, gak usah pake acara protes segala. Kalo ku bilang gak boleh, ya gak boleh. Budeg kuping mu ya?" ujar ku tegas.
"Iya iya, bawel banget sih." balas Ririn masih dengan bibir manyun nya.
"Naaah, gitu dong. Jadi anak itu harus nurut, jangan ngelawan terus kerjaan nya. Entar kualat loh, hihihi." oceh ku sembari terkikik geli.
Ririn tidak menanggapi ocehan ku. Dia hanya menggerakkan bibir nya tanpa mengeluarkan suara, persis seperti mbah dukun yang sedang baca mantra untuk pasien nya.
Bang Rian hanya senyam-senyum mendengar percekcokan kami berdua, sambil terus mengunyah makanan di mulut nya.
Selesai makan, bang Rian pun segera membayar makanan ku dan juga Ririn kepada si pelayan kantin.
Setelah itu, kami bertiga pun langsung beranjak dari kursi masing-masing, dan berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke. Bang Rian terus saja menggandeng tangan ku, sampai ke depan kursi yang akan kami duduki.
"Mau minum apa, bang?" tanya ku sembari duduk di sebelah bang Rian.
"Minuman hitam tiga botol, rokok dua bungkus, kacang kulit satu bungkus. Kita minum nya dikit aja ya, biar bisa cepat ke hotel." ujar bang Rian.
"Iya, gak papa. Aku juga lagi males minum malam ini." balas ku lalu bangkit dari kursi dan berjalan menuju meja kasir.
Setelah melihat ku pergi, bang Rian pun mengeluarkan ponsel nya, lalu dia pun mulai sibuk mengotak-atik benda pipih nya tersebut.
Sesampainya di meja kasir, aku pun langsung duduk di kursi bartender lalu memesan minuman kepada Billy.
"Bil, minuman hitam tiga, rokok dua, kacang satu. Cepat ya, gak pake lama." titah ku sembari tersenyum manis pada nya.
"Siap, tuan putri!" balas Billy sambil membalas senyuman ku.
Setelah mendapat orderan dari ku, Billy pun langsung menyiapkan pesanan ku dengan cepat dan lincah. Setelah selesai, dia pun membuka suara kembali.
"Malam ini kita jadi kan, Ndah?" tanya Billy sambil mendekatkan wajah nya ke arahku.
"Hah, jadi apa maksud nya?" tanya ku bingung.
Melihat reaksi ku yang tampak kebingungan, Billy pun langsung berdecak kesal.
"Ck, masa kau bisa lupa sih sama janji mu sendiri?" oceh Billy.
Visual : Billy
Usia : 30 tahun
Pekerjaan : Kasir karaoke
__ADS_1
Aku mengerutkan kening, lalu menajamkan tatapan ku pada nya. Aku benar-benar tidak mengerti, apa maksud dari kata-kata Billy barusan.
"Kau ini ngomong apa sih? Lagi kumat kau ya? Siapa juga yang pernah janji sama mu, salah orang kali?" tanya ku masih dengan mode bingung.
Billy tampak semakin kesal dengan ucapan ku. Dia menghembuskan nafas kasar, lalu mengacak-acak rambut nya sendiri. Setelah itu dia menarik tengkuk leher ku, dan mendekatkan bibir nya ke telinga ku.
"Janji ke hotel, ingat gak?" bisik Billy lalu mengecup kilat pipi ku.
Mata ku langsung mendelik dengan mulut terbuka lebar. Aku tidak menyangka, jika manusia kutub seperti Billy berani melakukan hal itu pada ku.
Setelah beberapa saat termenung, aku pun kembali tersadar setelah Billy mengguncang-guncang pelan lengan ku.
"Heh, Ndah. Kok malah bengong sih? Kau masih ingat gak, apa yang aku bilang tadi?" tanya Billy lagi.
"I-ingat sih, tapi..." aku sengaja menggantung kata-kata ku, karena bingung harus menjawab apa pada Billy.
"Tapi apa? Kau udah ada janji dengan yang lain ya?" tebak Billy.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Melihat anggukan ku, Billy pun langsung mendengus kesal, lalu mengusap wajah nya dengan kasar. Dia terlihat sangat kecewa, karena aku tidak bisa menepati janji pada nya.
"Kalau besok siang gimana, bisa gak?" tanya Billy.
"Bisa," jawab ku sambil mengangguk kembali.
"Ya udah deh, besok siang aja ku jemput ke kos mu." ujar Billy.
"Oke, kabari aja kalo mau otewe." balas ku.
"Ya udah kalo gitu, aku kesana dulu ya, bye." pamit ku, lalu pergi dari hadapan Billy sambil membawa pesanan bang Rian.
Billy hanya mengangguk mengiyakan ucapan ku. Setelah itu, dia pun kembali menyibukkan diri untuk melayani pesanan tamu lain nya.
Sesampainya di meja bang Rian, aku pun langsung mendudukkan diri di sebelah nya sambil berkata...
"Maaf ya bang, agak lama. Soal nya tadi ada urusan dikit sama kasir nya." bohong ku.
"Iya gak papa, santai aja." jawab bang Rian sembari tersenyum, lalu menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana.
Selesai menuangkan minuman ke dalam gelas, aku pun mengajak bang Rian untuk bersulang.
"Ayo kita bersulang, bang!" seru ku sambil mengangkat gelas.
"Oke, sayang." balas bang Rian lalu ikut mengangkat gelas nya dan, Cherrs...
Kami berdua pun meminum minuman itu sampai tandas satu gelas. Setelah itu, aku pun menuangkan minuman itu kembali lalu menyalakan rokok.
"Abang mau nyanyi gak?" tanya ku sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
__ADS_1
"Gak usah, suara abang jelek. Nanti rusak pulak microfon nya, hehehe." jawab bang Rian sembari cengar-cengir salah tingkah.
Tawa ku langsung pecah seketika, saat mendengar candaan receh bang Rian.
"Hahahaha, edan." gelak ku sambil menepuk pelan lengan nya.
Saat sedang asyik bercanda ria dengan bang Rian, tiba-tiba pandangan ku beralih ke arah sepasang mata elang, yang sedang memperhatikan gerak-gerik ku dari kejauhan.
"Ada apa dengan nya? Kenapa dia menatap ku seperti itu?"
Batin ku heran sambil sesekali melirik ke arah meja kasir, yang berada tidak jauh dari tempat duduk kami.
Ya, sepasang mata elang itu adalah Billy. Dia terus saja menatap ke arah ku dengan pandangan yang sedikit berbeda. Seperti ada aura-aura kecemburuan yang sedang menyelimuti diri nya.
"Apa dia cemburu melihat kemesraan ku dengan bang Rian? Ah, mana mungkin si manusia kutub itu cemburu dengan ku. Secara kan dia itu tipikal cowok yang dingin banget sama cewek." lanjut ku.
Aku terus saja membatin dan menduga-duga tentang Billy, yang masih terlihat mencuri-curi pandang ke arah ku, di sela-sela kesibukan nya melayani orderan.
Melihat keterdiaman ku, bang Rian pun melingkarkan tangan nya di pundak ku, lalu menarik ku ke dalam dekapan hangat nya. Dia mencium bibir ku di bawah sinaran lampu kelap-kelip, dan dentuman musik DJ yang sangat memekakkan telinga.
Wajah Billy tampak semakin kesal, saat melihat aku dan bang Rian saling memainkan lidah. Dia langsung memalingkan wajah nya ke arah lain, dan berpura-pura tidak melihat kegiatan yang sedang kami lakukan.
Setelah puas mencium ku, bang Rian pun mulai melepas pelukannya lalu berkata...
"Abang ke toilet dulu ya, sayang."
Pamit bang Rian lalu berdiri dari tempat duduk nya, dan berjalan menuju toilet laki-laki yang berada di sudut kiri ruangan karaoke.
"Ya," jawab ku.
Setelah kepergian bang Rian, aku pun segera beranjak dari kursi dan melangkahkan kaki menuju toilet wanita, yang berada di sudut kanan ruangan.
Sesampainya di toilet, aku celingukan kesana kesini sambil terus memperhatikan pintu-pintu toilet yang sedang terbuka lebar, tanda tak berpenghuni.
Entah kenapa, tiba-tiba bulu kuduk ku langsung meremang seketika, akibat suasana yang cukup mencekam di dalam toilet tersebut.
Dengan perasaan yang sedikit was-was, aku pun kembali berjalan menuju salah satu toilet yang sedang terbuka tersebut. Saat hendak menutup pintu dari dalam, tiba-tiba...
"Aaaaaaa,"
Aku terpekik kuat, saat ada seseorang yang menyusup masuk ke dalam toilet yang akan aku gunakan tersebut.
"Ssstttt, berisik! Entar kalo ada yang denger gimana coba?" ujar Billy sambil menutup mulut ku dengan telapak tangan nya.
Setelah melihat ku sudah agak tenang, Billy pun mulai melepas tangan nya.
"Ka-kau mau ngapain?" tanya ku gugup.
__ADS_1
Bukan nya menjawab, Billy malah semakin mendekati ku dan menarik ku ke dalam pelukan nya. Setelah itu, dia pun mulai mencium wajah dan bibir ku dengan rakus.
"Aku cemburu, Ndah. Jangan pernah melakukan hal itu lagi di depan ku ya!" pinta Billy.