
Sesudah membayar tagihan makanan, Billy langsung pergi tanpa berkata apapun lagi pada kami berdua.
"Ndah," panggil Ririn lalu menunjuk ke arah Billy dengan bibir nya.
Ririn seolah-olah sedang bertanya, ada apa dengan Billy. Aku hanya mengendikkan bahu tanda tidak tahu.
Setelah kepergian Billy, aku dan Ririn pun beranjak dari kursi masing-masing dan berjalan menuju bangku panjang, tempat berkumpulnya para waiters lain nya.
"Gimana kabar ayah mu, Ndah? Apa masih minta duit terus?" tanya Ririn.
"Ya...begitu lah." jawab ku lalu mengeluarkan bungkus rokok dari saku celana dan menyalakan nya.
Dengan tatapan kosong memandang lurus ke depan, aku pun mulai bercerita kepada sohib karib ku tersebut.
"Sebenarnya sih, aku gak masalah membiayai semua kebutuhan ayah dan nenek ku. Tapi ya, jangan sampai melewati batas kemampuan ku." ujar ku.
"Kau kan tau sendiri gaji kita disini berapa? Paling banyak cuma empat juta aja. Kadang-kadang cuma dapat tiga juta setengah aja. Belum lagi potong ini itu." lanjut ku.
"Sedangkan ayah ku kalau minta uang gak kira-kira, bisa sampe sepuluh juta dalam sebulan nya. Apa gak mau pecah rasa nya otak ku ini memikirkan nya." tambah ku lagi.
Aku menghela nafas panjang, dan kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku. Sedangkan Ririn, dia hanya manggut-manggut mendengar celotehan ku.
"Iya juga sih, Ndah. Siapa pun orang nya, pasti bakalan setres kalau menghadapi masalah seperti itu." balas Ririn membenarkan perkataan ku.
"Kalau aku yang ada di posisi mu, mungkin aku bakalan mati berdiri mikirin nya." lanjut Ririn.
"Tu lah, maka nya aku sampe bela-belain menerima ajakan kencan mereka. Itu semua hanya demi memenuhi permintaan ayah ku." balas ku lalu menundukkan kepala.
Melihat reaksi ku seperti itu, Ririn pun merangkul pundak ku dan memberi semangat pada ku.
"Yang sabar ya, Ndah. Mudah-mudahan aja suatu saat nanti ayah mu bisa berubah dan mengerti tentang penderitaan kita disini." tutur Ririn.
"Iya, mudah-mudahan aja." balas ku.
Setelah berkeluh-kesah dengan Ririn, aku pun mengambil ponsel dari dalam tas, lalu mulai bermedia sosial. Begitu pun dengan Ririn, ia juga mulai memainkan game kesukaan nya.
Tak lama kemudian, para tamu pun mulai berdatangan memenuhi ruangan karaoke. Kami para waiters pun mulai sibuk melayani dan menemani para lelaki itu, untuk bersenang-senang dan bercanda ria bersama.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tanpa terasa waktu kerja pun telah usai. Saat hendak mengambil tas di boks penyimpanan, tiba-tiba Billy menarik tangan ku.
"Pulang bareng yok, Ndah!" bisik Billy.
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun mengangguk dan menerima ajakan nya.
"Oke," jawab ku.
Billy langsung tersenyum mendengar jawaban ku. Ia tampak bahagia karena aku tidak menolak ajakan nya tersebut. Saat hendak naik ke atas motor Billy, tiba-tiba Ririn menepuk pundak ku.
"Heh, lampir! Mau kemana kau?" tanya Ririn penasaran.
"Ya mau pulang lah, masa mau arisan? Aneh-aneh aja." jawab ku ketus.
__ADS_1
"Pulang sama si brokokok ini?" tanya Ririn sambil menunjuk ke arah Billy dengan dagu nya.
"Iya, emang kenapa?" tanya ku balik.
Bukan nya menjawab, Ririn malah menajamkan pandangan nya pada ku dan juga Billy secara bergantian. Dia seakan-akan sedang mencurigai kami berdua.
"Kayak nya, ada yang gak beres nih." sindir Ririn sembari bersidekap menatap kami berdua.
"Gak beres apaan sih? Jangan ngaco kalo ngomong." omel ku kesal.
"Halaaah, kalian pikir aku ini bego apa? Yang bisa kalian kibulin, yang bisa kalian tipu-tipu seenaknya." oceh Ririn.
"Nih bocah ngomong apa sih? Bikin puyeng kepala ku aja." gerutu ku lalu naik ke atas motor Billy, dan mengajak nya untuk pergi.
"Ayo kita jalan, Bil! Biarin aja si Wewe gombel ini ngoceh-ngoceh sendirian disini." seru ku.
"Oke," balas Billy lalu menyalakan mesin kendaraan nya, dan melajukan nya dengan kecepatan sedang.
"Bye, cayang!" ledek ku pada Ririn sembari melambaikan tangan, dan menjulurkan lidah ku pada nya.
Wajah Ririn langsung berubah masam, ketika melihat kepergian kami. Ia menunjukkan kepalan tangan nya ke arah ku, sambil berucap...
"Awas kau ya, akan ku balas kau nanti!" ancam Ririn.
"Hahahaha," aku hanya tergelak mendengar ancaman receh nya tersebut.
Karena keasyikan menikmati angin malam, hingga membuat ku tidak sadar kalau jalan yang kami lalui bukan lah jalanan menuju kos ku.
"Ssstttt, berisik! Gak usah banyak tanya, ikut aja lah pokoknya." jawab Billy sambil terus melajukan motor gedenya.
"Hufff, bakalan di culik lagi kayak nya nih." gerutu ku.
Lalu aku pun mengeratkan pelukan ku ke punggung nya, dan menempel kan dagu ku di bahu kanan nya. Billy yang sedang fokus mengemudikan motor nya pun langsung tersenyum, karena mendapat perlakuan seperti itu dari ku.
Setelah melakukan perjalanan selama hampir sepuluh menit, Billy pun menghentikan laju kendaraan nya di halaman hotel, tempat kami memadu kasih tadi siang.
"Loh, kok kesini lagi sih?" protes ku.
"Emang kenapa, gak mau ya?" tanya Billy balik.
"Bukan gak mau, tapi aku malu sama resepsionis nya. Masa satu hari sampe dua kali check in disini?" omel ku.
"Ya gak papa lah, ngapain mesti malu? Kan kita bayar, bukan gratis. Udah gak usah banyak protes, ayo masuk!" ujar Billy.
Kemudian ia pun menarik tangan ku, dan mengajak ku untuk masuk ke dalam hotel berlantai tiga tersebut. Sesampainya di meja resepsionis, hati ku sedikit lega karena petugas yang berjaga sudah berganti orang.
"Huh, untung aja orang nya udah ganti. Kalau tidak, mau taruh dimana muka ku yang gak seberapa ini?" gerutu ku dalam hati.
Sesudah mendapatkan kunci, aku dan Billy pun kembali berjalan menuju lantai dua sambil bergandengan tangan. Setelah menapaki beberapa anak tangga, kami pun tiba di depan kamar tujuan.
Setelah pintu terbuka lebar, aku dan Billy pun melangkah masuk ke dalam dan mengunci pintu kembali.
__ADS_1
"Kita nginap sampe besok siang ya, Ndah!" ujar Billy sambil melepaskan sepatu dan tas ransel nya.
"Hah, sampe besok siang?" pekik ku dengan mata terbelalak lebar.
Melihat keterkejutan ku, Billy pun langsung cengar-cengir salah tingkah lalu mulai mendekati ku.
"Iya, sayang. Aku masih ingin berlama-lama dengan mu. Mau ya, pliiiiss!" rengek Billy sembari bergelayut manja di lengan ku.
Melihat tingkah Billy, aku pun menghela nafas berat lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Yey, makasih ya sayang." ujar Billy girang, dengan senyum yang mengembang di bibir nya.
Setelah mendengar jawaban ku, Billy pun mulai membuka pakaian nya dan melilitkan handuk ke pinggang. Kemudian ia berjongkok di depan ku, dan memandangi wajah ku dengan tatapan aneh nya.
Aku yang sedang duduk di tepi ranjang pun langsung menunduk, dan membalas tatapan nya lalu bertanya...
"Ada apa? Kenapa nengokin aku kayak gitu? Apa ada yang aneh dengan muka ku?" tanya ku heran.
"Gak lah, gak ada yang aneh kok. Yang ada malah semakin imut." jawab Billy santai.
Billy bangkit dari jongkok nya, dan mulai mendekatkan wajah nya pada ku. Aku yang sudah paham akan maksud nya itu pun langsung memejamkan mata, dan membiarkan nya melakukan apa pun pada ku.
Melihat reaksi ku yang sudah pasrah, Billy pun tersenyum dan mulai menciumi bibir ku dengan lembut dan mesra. Billy juga mulai membuka pakaian ku satu persatu sampai polos tak bersisa.
Karena sudah terbakar gairah, ciuman yang tadi nya lembut dan mesra, kini semakin ganas dan brutal. Dengan nafas yang naik turun tidak karuan, Billy terus melakukan cumbuan nya dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Bil, akhh... racau ku saat bibir Billy menempel di pucuk benda kenyal ku.
Billy tidak menghiraukan suara ku. Ia terus saja menikmati kegiatan nya tersebut. Setelah puas bermain-main dengan kedua benda kenyal ku itu, Billy pun melanjutkan aksinya di gua merah muda ku.
Setelah mengelus-elus nya dengan lembut, Billy pun menjulurkan lidah nya ke dalam dan mulai mengabsen isi gua ku itu dengan sentuhan-sentuhan lembut nya.
Billy tampak sangat menikmati kegiatan nya. Ia terus saja melahap nya sambil sesekali memainkan jari-jari nakal nya.
Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku semakin menggeliat-geliat dan meracau tidak karuan, karena menikmati hasil perbuatan nya.
Hingga akhirnya, pergumulan panas pun terjadi di ranjang hotel tersebut. Aku dan Billy saling memberi dan menerima satu sama lain. Suara desah*n kami pun saling bersahutan, memenuhi setiap sudut ruangan tersebut.
Setelah melakukan permainan selama hampir dua jam, Billy pun semakin mempercepat gerakan nya. Dan pada akhirnya, kami berdua pun memuncak secara bersamaan.
Billy menyemburkan cairan kental nya dengan tubuh yang menegang, dan kepala yang mendongak ke atas. Begitu juga dengan ku, aku memekik sambil menggenggam erat seprai ranjang.
"Aaakkkhhh," teriak ku.
Selesai melakukan penyatuan, kami berdua pun segera beranjak dari ranjang, dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku dan Billy pun kembali membaringkan diri di atas ranjang.
"Kita istirahat ya, Ndah. Besok kita sambung lagi ehem-ehem nya." bisik Billy lalu mencium kening ku, dan membawa ku ke dalam dekapan hangat nya.
"Iya," jawab ku.
Aku melingkarkan tangan ke pinggang Billy, dan membalas pelukan nya. Setelah itu, kami berdua pun mulai memejamkan mata masing-masing.
__ADS_1
Tak lama berselang, aku dan Billy pun tertidur lelap dengan posisi yang saling berpelukan, dan keadaan sama-sama polos di bawah selimut.