Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Perasaan yang Terpendam


__ADS_3

Aku langsung terperangah, ketika mendengar penuturan Billy yang cukup aneh menurut ku. Aku tidak habis pikir dengan isi kepala Billy. Dia mengatakan cemburu dengan ku, sedangkan kami berdua tidak memiliki hubungan apa pun saat ini.


"Kau lagi sakit ya, Bil?" tanya ku sambil menempelkan punggung tangan ku ke dahi nya.


"Gak lah, aku sehat kok. Emang kenapa?" tanya Billy balik.


"Ya...Gak papa sih. Aku pikir kau lagi sakit, soalnya omongan mu ngelantur tadi." jawab ku.


"Siapa yang ngelantur? Aku ngomong serius loh. Aku cemburu melihat perbuatan kalian tadi." jelas Billy.


"Cemburu? Kok bisa?" tanya ku heran dengan kening mengkerut.


Billy menghela nafas panjang, kemudian dia pun memandang ku dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Cerita nya panjang, Ndah. Aku gak bisa jelasin sekarang. Nanti lah kita bicarakan lagi kalau kita jumpa di luar." jawab Billy.


"Oh, ya udah kalo gitu. Balek sana gih, entar ada yang lihat bisa berade urusan nya." ujar ku sambil mendorong pelan tubuh Billy ke arah pintu.


"Oke, tapi ingat ya! Besok siang aku jemput ke kos mu." balas Billy kembali mengingatkan ku.


"Iya baweeel." balas ku.


"Oke lah, aku keluar dulu ya, bye. Sampai ketemu besok, cup." pamit Billy lalu mengecup kilat bibir ku.


Setelah itu, dia pun lari kocar-kacir karena takut terkena omelan ku lagi. Aku hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat aksi kocak nya tersebut.


"Dasar, gendeng!" umpat ku lalu menutup pintu dan lanjut membuang air kecil.


Setelah selesai, aku bergegas keluar dari toilet dan kembali ke meja bang Rian. Dan ternyata, bang Rian sudah menunggu ku sedari tadi.


"Dari mana, sayang? Kok lama bener ilang nya?" tanya bang Rian penasaran.


"Dari toilet, bang. Tadi ngantri, makanya agak lama." bohong ku lalu duduk di sebelah bang Rian, dan bergelayut manja di lengan nya.


"Oh, abang kira di culik tamu lain, hehehe." sindir bang Rian sembari tersenyum.


"Gak lah, mana ada yang mau sama perempuan jelek kayak aku ini." elak ku.


"Mana pulak jelek, orang cantik gini kok di bilang jelek. Rabun mata nya kalau ada yang bilang dirimu jelek." balas bang Rian.


Aku tidak menggubris perkataan bang Rian. Aku hanya diam dan berpura-pura menguap di samping nya. Melihat reaksi ku seperti itu, bang Rian pun langsung tanggap dan mengerti akan maksud dari menguap ku tersebut.


"Kamu udah ngantuk ya, Ndah?" tanya bang Rian.


"Iya," balas ku sambil mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah, ambil nota nya sana! Biar kita langsung istirahat di hotel." titah bang Rian.


"Oke," balas ku lalu beranjak dari kursi, dan berjalan dengan langkah gontai menuju meja kasir.


Sesampainya di depan Billy, aku pun meminta nya untuk menghitung tagihan minuman kami.


"Bil, hitung nota ku!" ujar ku kepada lelaki yang sudah menyekap ku di toilet tadi.


"Kok cepat kali? Emang kalian mau kemana?" tanya Billy penasaran, sembari mengambil mesin penghitung nya dan mulai mentotal tagihan kami.


"Aku mau pulang, mau istirahat." bohong ku.


"Halah, alasan. Bilang aja mau ke hotel, ya kan?" tebak Billy dengan memasang wajah masam nya.


Aku hanya tersenyum kecut mendengar penuturan nya. Setelah itu, aku pun mengalihkan pandangan ku ke sembarang arah.


Melihat reaksi ku yang enggan menjawab pertanyaan nya, Billy pun langsung paham dan dia pun tidak berani bertanya apa-apa lagi pada ku.


"Ya udah deh, kalo kau gak mau jawab juga gak papa kok. Aku gak akan memaksa. Nah, ini nota nya!" ujar Billy lalu menyodorkan kertas tagihan itu ke tangan ku.


"Oke, makasih ya." balas ku dingin, lalu bergegas kabur dari hadapan Billy.



Billy hanya senyum-senyum menatap kepergian ku. Dia terus saja memusatkan perhatian nya pada ku, sampai ke meja bang Rian.


"Ini nota nya, bang." ujar ku.


"Oh, iya." balas bang Rian lalu mengambil kertas kecil itu dari tangan ku.


Sesudah melihat jumlah nya, bang Rian pun langsung merogoh saku celana nya untuk mengambil dompet. Setelah itu dia pun mengeluarkan beberapa lembar uang merah, lalu menyerahkan nya pada ku.


"Nah, ini uang nya. Sekalian bayarkan uang chas keluar mu." ujar bang Rian.


"Ya, ayo sekalian jalan keluar!" ajak ku.


"Oke," balas bang Rian.


Setelah itu, aku dan bang Rian pun segera beranjak dari tempat duduk masing-masing. Kami berdua berjalan beriringan menuju meja kasir, kemudian bang Rian melanjutkan langkah nya menuju pintu keluar dan menunggu ku di dalam mobil nya.


Sedangkan aku, aku masih berdiri di depan meja kasir untuk membayar tagihan kepada Billy.


"Bil, ini uang minuman sama chas keluar ku." ujar ku sambil menyodorkan uang pemberian bang Rian tadi ke depan Billy.


Billy tidak merespon ucapan ku. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, dia pun memalingkan wajah nya ke arah lain, dan berpura-pura sibuk menyusun minuman di atas rak.

__ADS_1


Melihat reaksi Billy yang sedang mengacuhkan ku, aku pun hanya mengendikkan bahu lalu berjalan ke arah boks penyimpanan tas para waiters.


Setelah mengambil tas, aku pun kembali berjalan menuju pintu keluar sambil menundukkan kepala. Saat melewati meja kasir, Billy pun menyindirku dengan kata-kata yang menampakkan kecemburuan nya.


"Selamat bersenang-senang ya, Ndah. Ingat, pulang nya jangan malam-malam, pagi aja sekalian." ujar Billy dengan senyum miring di bibir nya.


"Ya," jawab ku singkat tanpa menoleh sedikit pun pada nya.


Setelah itu, aku pun melanjutkan langkah ku dan keluar dari ruangan karaoke. Sedangkan Billy, dia menatap kepergian ku dengan wajah sendu nya.


Tampak sangat jelas ada nya kesedihan di kedua mata nya, tapi dia tetap berusaha untuk selalu tersenyum, untuk menutupi perasaan nya tersebut.


"Ndah, apakah kau pernah menyadari, kalau dalam diam ku selama ini, aku sudah jatuh cinta dengan mu?" batin Billy.


"Tunggu aja besok, aku pasti akan ungkap kan perasaan yang selama ini terpendam kepada mu, Ndah." lanjut Billy.


Billy memantapkan hati untuk berkata jujur pada ku. Dia ingin mengutarakan perasaannya yang selama ini ia pendam dengan ku.


Setelah bayangan ku hilang dari pandangan mata nya, Billy pun kembali melanjutkan pekerjaan nya. Sedangkan aku, aku menghampiri bang Rian yang sudah stand by, menunggu kedatangan ku di dalam mobil nya.


"Udah selesai, sayang?" tanya bang Rian.


"Udah, ayo jalan!" jawab ku sambil memasang sealbeat ke tubuh ku.


"Oke siap, nyonya." balas bang Rian.


Lalu dia pun mulai menyalakan mesin mobil nya dan melajukan nya menuju hotel. Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tiba di parkiran hotel tempat biasa kami menginap.


Setelah mobil terparkir rapi, aku dan bang Rian pun segera keluar, dan berjalan dengan bergandengan tangan menuju meja resepsionis.


"Ada kamar kosong, mbak?" tanya bang Rian kepada wanita yang sedang berjaga.


"Ada, mas. Kamar nomor 207 lantai dua, dan ini kunci nya." jawab si wanita, sambil menyodorkan kunci kamar itu ke depan bang Rian.


Setelah menerima kunci itu, bang Rian pun langsung membayar uang sewa nya. Setelah beres, dia menggandeng tangan ku kembali, dan membawa ku menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.


Setiba nya di depan kamar, bang Rian langsung membuka pintu dan mengajak ku untuk masuk ke dalam. Setelah itu, dia pun mengunci pintu kembali dan langsung memeluk ku dari belakang.


"Abang kangen banget, sayang." bisik bang Rian, dengan hembusan nafas yang terasa hangat di telinga ku.


"Sama dong, aku juga kangen sama abang. Baru aja dua hari kita gak ketemu, rasa nya kayak udah setahun lama nya, hehehe." canda ku sembari tersenyum.


"Ah, yang bener?" tanya bang Rian.


"Iya beneran, aku gak bohong." jawab ku.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban ku, bang Rian pun melepas pelukan nya, dan memutar posisi ku untuk menghadap pada nya.


Setelah itu dia menatap mata ku dalam-dalam, dan mulai mendekat kan bibir nya ke wajah ku.


__ADS_2