Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kembali Tersakiti Oleh Ayah


__ADS_3

Setelah pacet sawah itu pergi dari kamar ku, aku pun langsung mengunci pintu dan kembali merebahkan diri di atas kasur.


Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba aku tersentak kaget karena mendengar dering ponsel yang cukup memekakkan telinga.


Kring kring kring...


"Ya Allah, kaget aku." gumam ku.


Aku langsung menoleh ke samping, dan memandangi ponsel yang sedang menyala di atas meja dengan wajah kesal.


"Ck, baru aja mau istirahat. Eeehh, udah ada yang ganggu lagi."


Gerutu ku sambil merentangkan tangan, untuk meraih ponsel yang sedari tadi tak henti-hentinya memekik. Setelah mendapatkan nya, kening ku langsung mengkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.


"Ayah," gumam ku.


Setelah membuang nafas kasar, aku pun menerima panggilan dari ayah, dan menempel kan ponsel itu ke telinga ku.


"Ya halo, assalamualaikum, yah." salam ku.


"Wa'laikum salam, apa kabar, Ndah?" tanya ayah.


"Alhamdulillah sehat, yah. Gimana kabar ayah, sehat-sehat juga kan?" tanya ku balik.


"Ya, ayah sehat-sehat aja. Kantong nya aja yang gak sehat." jawab ayah.


"Kenapa kantong nya gak sehat? Kan baru seminggu yang lalu aku kirim kan uang." tanya ku heran.


"Udah habis, Ndah. Buat bayar ini itu." jawab ayah dengan enteng nya.


Aku mengelus dada sambil menghela nafas panjang, setelah mendengar penuturan ayah. Sambil memijat-mijat dahi yang mulai berdenyut, aku pun kembali bertanya kepada ayah.


"Masa uang tiga juta lima ratus bisa habis dalam satu minggu sih, yang bener aja dong? Itu gaji ku sebulan loh, yah. Masa kalian tega menghabiskan nya hanya dalam satu minggu aja." tanya ku kesal.


Ayah terdiam sejenak, beberapa detik kemudian dia pun kembali membuka suara nya.


"Ya... Habis mau gimana lagi? Semua nya serba mahal. Belum lagi biaya kuliah Anisa, ayah juga pusing mikirin nya." jelas ayah.


"Hadeeh, dia lagi dia lagi. Bosan aku denger nya." ujar ku.


"Haritu kan udah pernah kita bahas. Kalau dia gak bisa membiayai sekolah nya sendiri, mendingan suruh berhenti aja." lanjut ku.


"Aku gak sanggup menanggung semua nya. Lama-lama bisa mati berdiri aku di sini, gara-gara memikirkan biaya mereka semua." omel ku panjang lebar.


Ayah kembali terdiam, mendengar ocehan-ocehan ku yang benar ada nya. Setelah beberapa saat hening, ayah pun kembali berceloteh. Beliau menanyakan uang yang sedang aku pegang saat ini.


"Sekarang kau ada pegang uang berapa, Ndah?" tanya ayah.


"Cuma ada lima ratus ribu aja. Itu pun untuk pegangan sehari-hari. Emang kenapa, yah?" tanya ku pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Padahal sebenarnya aku sudah tahu, maksud dari pertanyaan ayah barusan. Beliau pasti ingin meminta uang lagi dengan ku. Aku sengaja berbohong pada ayah, agar beliau tidak semena-mena terus terhadap ku.


"Masa cuma lima ratus sih?" tanya ayah tidak percaya.


"Ya memang ada nya cuma segitu, mau gimana lagi?" bohong ku lagi.


Aku mendengar suara ayah yang sedang berdecak kesal, setelah mendengar jawaban ku. Beliau seperti nya marah dan kecewa dengan ku, karena aku tidak bisa memberikan uang kepada nya.


"Kalau pinjam sama bos mu dua juta, bisa gak Ndah?" tanya ayah.


"Gak bisa, yah. Karena tanggal gajian ku masih lama, jadi gak ada yang boleh minjam yang." jawab ku.


Ayah kembali berdecak dan menghembuskan nafas kasar. Sedangkan aku, aku hanya diam sambil terus mendengarkan kekesalan ayah dari ponsel ku.


"Ya udah lah kalo gitu, yang lima ratus itu pun jadi lah. Kirim kan sekarang ya, ayah perlu hari ini juga soalnya!" titah ayah.


"Gak bisa, yah. Uang lima ratus ribu ini untuk pegangan ku sampe gajian nanti. Kalau aku kirimkan semua, trus aku makan apa disini?" tanya ku.


"Kan bisa ngutang-ngutang dulu sama kawan mu. Masa gitu aja mesti di ajarin sih, bodoh kali jadi orang." umpat ayah dengan nada ketus.


"Ya Allah, yah. Tega banget bilangin anak sendiri seperti itu." jerit ku dalam hati.


Mendengar kata bodoh dari mukut ayah, hati ku pun langsung terasa perih. Aku memegang kuat dada ku, dengan kedua mata yang mulai berembun.


Karena tidak ingin mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan lagi dari ayah, akhirnya aku pun menuruti keinginan nya lalu menutup panggilan sepihak.


"Ya udah, nanti aku kirim kan uang itu semua nya. Biar lah aku gak makan disini, asalkan ayah senang di sana." balas ku.


Aku menangis sejadi-jadinya, dengan posisi telungkup sambil memukul-mukul bantal. Begitu sakit ku rasa, saat mendengar kata-kata itu dari ayah kandung ku sendiri.


Ingin rasa nya aku menjerit sekuat-kuatnya, untuk meluap segala duka lara yang ada di hati ku saat ini. Tapi semua itu aku urungkan, karena takut di marahi oleh penghuni kos lain nya.


Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Hari pun sudah mulai gelap. Tiba lah saat nya untuk kembali bekerja.


Dengan langkah gontai dan wajah yang tampak sembab akibat menangis, aku pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, aku pun bergegas memakai pakaian kerja dan berdandan ala kadarnya. Setelah menyemprotkan sedikit parfum ke tubuh ku, aku pun lanjut memakai sepatu dan menyampirkan tas di bahu ku.



Sebelum pergi untuk mengais rezeki, aku sempat kan untuk berdiri di depan cermin panjang.


Aku tersenyum memandangi wajah ku sendiri dari pantulan cermin, yang masih tampak sembab dengan mata yang masih terlihat merah.


"Semangat, Ndah. Kau pasti bisa melewati ini semua." gumam ku menyemangati diri sendiri.


Sedang asyik memandangi diri sendiri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu beberapa kali.


Tok tok tok...

__ADS_1


"Ndah, udah siap belom? Ayo kita berangkat, udah hampir telat nih!" pekik Ririn dari luar.


"Ya, bentar!" balas ku.


Aku bergegas membuka pintu lalu mengunci nya kembali. Setelah itu, aku pun menggandeng lengan Ririn sambil berkata...


"Ayo, jalan!" seru ku.


Bukan nya mulai melangkah kan kaki nya, Ririn malah terpaku sambil memperhatikan wajah sembab ku.


"Heh, lampir! Muka mu kenapa? Kok kayak habis di sengat tawon gitu? Mata mu juga nampak merah tuh." tanya Ririn heran.


"Gak papa, tadi kelilipan biji kedondong, maka nya jadi gini. Udah ah, gak usah di bahas lagi. Ayo kita jalan!" ujar ku.


"Halah, bohong. Pasti kau habis nangis tadi kan? Ngaku aja deh, ngapain di tutup-tutupi segala?" tebak Ririn.


"Hehehe, tau aja dia." balas ku sembari nyengir kuda.


"Gak usah cengar-cengir, kau hutang penjelasan dengan ku." cibir Ririn.


"Iya iya, nanti aku jelasin. Ayo buruan jalan, entar kita telat loh!" desak ku sambil menarik lengan Ririn.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Ririn pun langsung menurut dan berjalan beriringan dengan ku.


Setelah berjalan kaki selama hampir lima menit, kami berdua pun tiba di depan gedung karaoke, tempat dimana kami mencari nafkah untuk orang-orang terkasih.


Sesudah mengisi absen di meja kasir, aku dan Ririn pun berjalan menuju kantin yang berada tidak jauh dari lokasi kerja kami. Setelah sampai, kami berdua pun duduk berhadapan dan mulai memesan makanan.


"Mau makan apa, Ndah?" tanya Ririn.


"Nasi goreng seafood sama teh hangat." jawab ku.


"Oke, bentar ya aku pesan dulu." balas Ririn lalu beranjak dari kursi, dan berjalan menuju steling jualan.


"Ya," balas ku singkat lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana.


Aku mulai mengaktifkan ponsel kembali, lalu membaca beberapa pesan masuk. Pesan yang pertama datang dari bang Rian. Dia mengirimkan tiga pesan sekaligus pada ku.


"Hai sayang, apa kabar? Lagi dimana sekarang? Kita bisa ketemuan gak? Abang kangen banget nih, udah beberapa hari gak lihat dirimu."


Itu lah isi pesan yang dikirim kan oleh bang Rian, lelaki tampan ku itu. Setelah selesai membaca nya, aku pun langsung membalas nya dengan cepat.


"Alhamdulillah, aku baik-baik aja bang. Sekarang aku lagi di tempat kerja. Kalau mau ketemuan, nanti aja sesudah jam kerja ku habis." balas ku.


Tak lama kemudian, balasan pesan dari bang Rian pun muncul di layar ponsel ku.


"Oh, oke sayang. Hati-hati ya kerja nya, i love you." balas bang Rian dengan emosi love yang berjejer.


"Ya, i love juga." balas ku menutup percakapan dengan bang Rian.

__ADS_1


Setelah itu, aku pun mulai membaca dua pesan yang dikirim kan oleh Haris.


"Ndah, lagi dimana? Kenapa kamar kos mu di gembok? Kamu udah pindah ya? Kenapa gak kasih tau abang, kalau kamu udah pindah kos?" Itu lah bunyi pesan yang dikirim kan oleh Haris.


__ADS_2