
"Hmmm, mulai genit sekarang ya!" ujar Haris.
Haris menggelitik pinggang ku dengan senyum yang menyeringai. Karena mendapat serangan mendadak dari Haris, aku langsung terlonjak kaget dan terpekik.
"Auww! Ampun geli, bang."
"Maka nya jangan membangun kan benda yang lagi tidur. Kalau dia udah bangun, dia pasti minta jatah nya!" balas Haris.
Dia menunjuk ke arah pangkal paha nya yang mulai menonjol di bawah selimut. Aku langsung tersenyum salah tingkah, melihat benda yang menonjol itu.
"Iiihh, apa an, sih!" ucap ku tersipu malu.
Haris pun ikut tersenyum melihat tingkah ku itu. Dia langsung menarik tubuhku ke dalam dekapan nya dan mencium bibirku.
"Kita main lagi ya, sayang." pinta Haris.
Haris berbisik di telinga ku sambil menenggelamkan wajah nya di ceruk leher ku. Aku pun mengangguk menyetujui permintaan nya.
Tanpa pikir panjang lagi, Haris langsung menyerang ku dengan ganas. Dan akhirnya, pergumulan panas pun kembali terulang untuk yang kesekian kalinya.
Setelah selesai melakukan kegiatan yang nikmat itu, aku dan Haris pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.
Haris menyabuni dan menggosok seluruh tubuh ku. Dan tanpa aba-aba, Haris kembali menyerang ku dari belakang. Dia melakukan aksinya itu dengan beringas dan gerakan yang cepat di dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Haris pun selesai menuntaskan kegiatan nya dan kami berdua pun langsung mandi bersama di bawah guyuran shower.
Setelah selesai, aku dan Haris kembali ke dalam kamar dan memakai pakaian masing-masing.
"Mau makan apa, Ndah?" tanya Haris.
"Nasi padang aja, bang. Lauk nya ikan bakar!" jawab ku.
"Trus, apa lagi? Cemilan nya mau apa, sayang?" tanya Haris lagi.
"Jus wortel dan roti abon, udah itu aja, bang!" balas ku.
"Oke, tunggu bentar ya!" jawab Haris.
"Iya, sayang." balas ku sembari tersenyum manis pada nya.
Haris langsung bergegas keluar dari kamar untuk membeli makanan. Dia berlalu pergi dengan mengendarai mobil nya menuju rumah makan yang cukup besar di kota Batam ini.
Setelah kepergian Haris, aku mulai merapikan kasur yang sudah berantakan seperti kapal pecah. Setelah semua nya rapi dan bersih, aku kembali merebahkan tubuh ku di atas kasur.
"Huh, lelah nya." gumam ku sambil menghela nafas panjang.
Setelah beristirahat sejenak, aku kembali duduk bersila di atas lantai dan mengambil rokok. Kemudian aku menyalakan nya dan menghisap nya perlahan.
Aku menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong, sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangan ku.
Sedang asyik mengkhayal, tiba-tiba ponsel ku berdering nyaring di atas meja. Aku segera meraih benda pipih itu dan langsung menerima panggilan.
__ADS_1
"Halo assalamualaikum, yah," salam ku.
Ya, ternyata panggilan itu dari ayah ku yang berada di kota Medan.
"Wa'laikum salam." balas ayah.
"Ada apa, yah?" tanya ku langsung to do point.
"Udah gajian, Ndah?" tanya ayah.
"Udah, yah. Nanti malam aku kirimkan uang nya kalo gak ada halangan." jawab ku.
"Oh ya udah, assalamualaikum." ucap ayah menutup panggilan.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Setelah menerima panggilan dari ayah, aku kembali menghisap rokok ku dan merenung dengan tatapan mata yang kosong.
Tanpa ku sadari, air mata ku tiba-tiba jatuh membasahi kedua pipi ku. Aku bingung, entah apa yang membuat ku bersedih seperti ini.
Tak lama berselang, ponsel ku kembali berdering. Aku melihat nama yang tertera di layar ponsel yang sedang menyala di dalam genggaman tangan ku.
"Nenek," gumam ku.
"Assalamualaikum, nek." salam ku.
"Wa'laikum salam, Ndah." jawab nenek.
"Iya, Ndah. Nenek sehat-sehat aja kok disini. Gimana kabar mu di sana, sehat-sehat juga kan?" tanya nenek.
"Iya, nek. Alhamdulillah, aku baik-baik saja disini." jawab ku.
"Kapan kau pulang, Ndah? Nenek rindu kali sama mu!" tanya nenek.
"Aku pasti pulang kok, nek. Sabar ya, tunggu ngumpulin uang dulu buat ongkos!" jawab ku.
Aku berucap sambil meneteskan air mata. Aku merasa sangat sedih jika nenek sudah berkata demikian.
"Jangan nunggu nenek udah di ikat pakai kain putih baru kau pulang, Ndah. Percuma, kita gak akan ketemu."(ucapan nenek ini, artinya sudah meninggal ya, guys)
Tangis ku pun langsung pecah, mendengar penuturan nenek yang sungguh menyayat hati ku.
"Jangan ngomong gitu, nek! Aku gak suka dengar nya." balas ku.
"Ya kalau sudah terjadi seperti itu, untuk apa lagi kau pulang? Udah ak ada guna nya lagi, toh kita juga gak bakalan jumpa!" balas nenek.
"Aku pasti pulang, nek. Rumah ku kan di sana, aku pasti pulang kok."
Aku menjawab sambil mengusap air mata ku yang semakin mengucur deras membasahi kedua pipi ku.
"Iya, Ndah. Nenek akan tunggu sampai kau pulang ya!" jawab nenek lirih.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu, jaga diri baik-baik di sana ya, Ndah! Jaga kesehatan mu, jangan lupa makan yang teratur. Dan satu lagi, jangan lupa sholat!" nasehat nenek pada ku.
"Ya udah, nenek tutup dulu ya, assalamualaikum." pamit nenek menutup panggilan nya.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Setelah selesai menerima panggilan dari nenek, aku kembali merenung kata-kata terakhir yang di ucap kan nenek tadi.
"Nenek nunggu, sampai aku pulang? Maksud nya gimana ya?" gumam ku bingung.
Beberapa saat kemudian, aku tersentak dari lamunan karena mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum," salam Haris.
Haris mengucapkan salam sambil membuka pintu yang tidak terkunci.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Haris melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Dia meletakkan semua bungkusan makanan itu di atas meja.
Setelah itu, Haris langsung terpaku menatap mata ku yang merah dan berair serta wajah ku yang sembab akibat menangis tadi.
"Kamu kenapa, Ndah? Kok malah nangis?" tanya Haris heran.
"Gak papa, bang. Biasa lah, baru siap telponan sama nenek dan ayah." jawab ku sambil tersenyum kecut.
"Oh, kirain ada apa! Gimana kabar mereka di sana?" tanya Haris lagi.
"Alhamdulillah sehat." balas ku.
"Syukur lah, kalo gitu. Ya udah, gak usah sedih lagi lah, Jelek tau gak!"
Haris meledek ku sambil mencubit kedua pipi ku dengan gemas.
"Iiihh, apa an sih sakit tau!" balas ku kesal.
"Kita makan, yok! Perut abang udah lapar banget nih."
Haris mengajak aku makan sambil meringis dan memegangi perut nya.
"Iya, bawel. Yok kita makan sekarang!" balas ku.
Aku segera membuka bungkusan yang berada di atas meja dan menghidangkan nya di depan Haris. Setelah itu, aku mengambil dua gelas air putih dari dispenser.
Setelah semua nya terhidang, aku dan Haris pun mulai menyantap makanan itu dengan lahap dan hening tanpa perbincangan apa pun lagi.
"Eeeggh, alhamdulillah."
Aku bersendawa pelan sambil menutup mulut dengan satu tangan ku.
__ADS_1