
Selesai menggoda Ririn, aku pun kembali mengotak-atik ponsel lalu menyalakan rokok. Tak lama kemudian, para tamu karaoke pun mulai berdatangan memenuhi meja-meja yang ada di dalam ruangan.
Seperti malam-malam biasa nya, kami para waiters menemani mereka minum yang bersenang-senang di bawah sinaran lampu kelap-kelip dan dentuman musik DJ yang sangat memekakkan telinga.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, hingga tanpa sadar waktu bekerja pun telah usai.
Setelah para tamu pulang, kami para pekerja pun mengambil tas masing-masing di boks penyimpanan. Setelah itu, kami pun pulang ke kos masing-masing.
"Lampir, tungguin! Cepat banget sih jalan nya. Udah kayak di kejar-kejar setan aja lu," gerutu Ririn yang sedang berjalan tergopoh-gopoh di belakang ku.
"Cepat dikit lah, lelet banget sih! Masa lebih cepat jalan siput dari pada jalan mu?" ledek ku tanpa menoleh ke belakang, dan terus melangkah menuju kos yang berada tidak jauh dari tempat kami bekerja.
Melihat langkah ku yang semakin cepat, Ririn pun segera berlari untuk mengimbangi gerakan ku.
"Kau itu kenapa sih? Lagi kebelet ya?" tanya Ririn yang sudah berjalan di samping ku.
"Bukan kebelet, tapi mual. Aku pengen cepat-cepat ke kamar mandi, mau muntah. Udah, jangan bnyak tanya. Entar aku muntah di sini pulak!" jawab ku sambil terus menahan perut yang terasa sangat mual.
"Oh, oke lah," balas Ririn langsung mengerti akan kondisi ku saat ini.
Ririn tidak bertanya apa pun lagi pada ku. Ia terus saja membisu dan berjalan di samping ku sampai tiba di depan gerbang kos.
"Aku duluan ya, Rin. Udah gak tahan banget nih," ujar ku lalu berlari menuju kamar dan meninggalkan Ririn begitu saja.
"Oke, duluan lah!" jawab Ririn sembari mengangguk.
Sampai di depan kamar, aku bergegas membuka pintu dan kembali berlari menuju kamar mandi.
"Uwek uwek uwek..."
Aku terduduk di lantai dan terus memuntahkan isi perut ke dalam kloset. Setelah selesai, aku pun segera keluar dan membaringkan tubuh lemas ku di atas kasur.
"Aduuuuh, pusing banget kepala ku!" rintih ku sembari memegangi kepala yang berdenyut nyeri.
Dengan keadaan lemah tak berdaya, aku pun berusaha untuk berdiri dan mencoba membuka sepatu, serta seluruh pakaian kerja yang masih lengkap di tubuh ku. Setelah bersusah payah mempereteli semua nya, aku pun kembali menjatuh diri di atas kasur.
"Ck, ini kepala kenapa sih, sakit banget?" gerutu ku sambil menarik-narik rambut dengan cukup kuat.
Setelah beberapa saat menikmati sakit kepala, akhirnya aku pun terlelap dengan sendiri nya. Karena rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat, membuat ku tertidur hingga siang hari.
Kring kring kring... Kring kring kring...
Suara dering ponsel yang cukup kuat, telah membangun tidur panjang ku. Dengan mata yang masih terasa perih dan lengket. Aku pun merentangkan tangan untuk meraih ponsel yang masih tersimpan di dalam tas kerja.
"Hadooohhh, siapa sih telpan-telpon pagi-pagi buta gini? Ganggu tidur ku aja, hoamm!" gerutu ku kesal sembari menguap.
Karena saking lelap nya tidur, hingga aku tidak mengetahui kalau hari sudah siang. Setelah mendapatkan ponsel, aku pun langsung menerima panggilan itu, tanpa melihat nama si pemanggil.
"Ya halo, siapa nih?" tanya ku dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
"Ini abang, sayang. Masa bisa lupa sih?" jawab bang Rian.
"Ooohhh, abang toh. Kirain siapa? Ada apa, bang?" tanya ku masih dengan posisi telentang, dan mata terpejam di atas kasur.
"Udah bangun belum? Suara nya kok berat banget kayak nya?" tanya bang Rian balik.
"Tadi sih belum, sekarang udah. Kalau aku belum bangun, trus yang nerima telpon ini siapa? Hantu?" oceh ku.
Mendengar ocehan ku, tawa bang Rian pun langsung meledak seketika.
"Hahahaha, iya juga ya," gelak bang Rian.
Selesai dengan tawa nya, bang Rian pun kembali berceloteh dan bertanya...
"By the way, kamu udah makan belum, sayang?" tanya bang Rian.
"Belum, emang kenapa?" tanya ku dengan polos nya.
"Nggak kenapa-napa kok. Oke lah, abang kesana sekarang. Mau bawakan makanan untuk mu," jawab bang Rian lalu menutup panggilan sepihak.
"Ya," balas ku.
Setelah panggilan terputus, aku pun meletakkan ponsel secara asal di lantai, dan kembali melanjutkan tidur ku yang sempat terganggu oleh bang Rian.
"Molor lagi, ahhh!" gumam ku lalu kembali terlelap dan masuk ke alam mimpi.
Tok tok tok...Tok tok tok...
"Ndah, buka pintu nya! Kamu tidur lagi ya? Indah, buka pintu nya, sayang!" ujar bang Rian dari luar kamar.
"Ya, tunggu bentar, bang!" pekik ku.
Dengan langkah yang masih sempoyongan dan mata mengantuk, aku pun berjalan menuju pintu dan membuka nya. Bang Rian mengulum senyum, saat melihat keadaan ku yang masih acak adut tidak karuan.
Muka bantal dan rambut acak-acakan seperti singa, membuat wajah ku tampak lucu di mata bang Rian, hingga membuat nya kembali mentertawai ku.
"Hahahaha, jelek kali wanita ku ini kalau lagi semrawut kayak gini," ledek bang Rian.
"Hm hm hm, ejek aja lah terus. Nggak aku kasih jatah nanti, baru tau!" ancam ku lalu memutar badan, dan kembali menjatuhkan diri di atas kasur dengan posisi telungkup.
Aku tidak menghiraukan bang Rian, yang masih berdiri di depan pintu dengan wajah aneh nya.
"Eh eh eh, jangan dong, sayaaaang! Kalau nggak di kasih jatah, trus nasib junior abang gimana? Masa kamu tega sih, lihat junior abang karatan karena nggak di pakai-pakai?" oceh bang Rian sembari melangkah masuk, dan mengunci pintu kembali.
"Bodo," jawab ku cuek lalu menenggelamkan wajah ke bantal.
Setelah meletakkan bungkusan yang di bawa nya ke atas meja, bang Rian pun ikut merebahkan diri di sebelah ku. Ia melingkarkan tangan nya di pinggang ku dan memeluk erat tubuh ku.
"Jangan dekat-dekat! Aku masih bau jigong, belum mandi," ujar ku berusaha melepaskan diri dari pelukan nya.
__ADS_1
"Nggak papa, sayang. Walau pun dirimu bau jigong dan bau acem, abang tetap suka kok, hehehehe!" balas bang Rian terkekeh.
Bang Rian semakin mengeratkan pelukan nya, hingga membuat ku sedikit sesak untuk bernafas.
"Halah, modus. Kalau sudah merayu-rayu gini, pasti ada udang di balik bakwan nih!" tebak ku.
"Hahahaha, kok udang di balik bakwan sih? Bukan nya di balik batu ya?" tanya bang Rian sembari tergelak.
"Batu nya sudah pecah, maka nya udang nya pindah ke balik bakwan," jawab ku asal.
"Oalah, kok abang baru tau ya? Hahahaha, ada-ada saja!" gelak bang Rian lagi.
Karena sudah tidak sanggup menahan sesak, aku pun kembali meronta-ronta dan merengek manja pada lelaki tampan itu.
"Bang, lepasin, iiiiihhhh! Makin lama makin sesak nafas ku ini abang buat," oceh ku sambil terus berusaha melepaskan diri.
"Eh, iya ya? Sorry-sorry, abang kebablasan, hehehe!" ujar bang Rian cengar-cengir, dan mulai melepaskan pelukan erat nya di badan ku.
"Hufff, akhirnya lepas juga," gumam ku menghela nafas lega.
Setelah itu, aku pun segera bangkit dari kasur, dan menyampirkan handuk ke bahu. Melihat pergerakan ku, bang Rian pun kembali berceloteh.
"Mau kemana?" tanya bang Rian.
"Mau ke emoll, abang mau ikut gak? Ayo, kalau mau ikut!" jawab ku asal lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Hahahaha, dasar gemblung! Masa ke kamar mandi di bilang ke emoll? Aneh-aneh bae nih bocah," gelak bang Rian.
"Hihihi, udah tau gitu pun masih aja nanya!" balas ku sembari cekikikan.
Selesai berhaha-hihi dengan bang Rian, aku pun mulai membersihkan diri di bawah guyuran air shower yang hangat.
Lima menit kemudian, aku pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuh dan rambut yang tergerai basah.
Bang Rian langsung terpana dan menelan ludah nya dengan kasar, ketika melihat keadaan ku yang sudah tampak segar dan fresh di depan nya. Ia segera beranjak dari kasur dan mulai mendekati ku dengan senyum menyeringai.
"Eits, mau ngapain?" tanya ku sembari menyilangkan kedua tangan di dada, dan menatap tajam pada bang Rian.
"Mau mimik cucu, hehehe!" jawab bang Rian.
Kemudian ia pun kembali memeluk ku, dan melepaskan handuk yang melekat di tubuh ku, lalu mencampakkan nya ke sembarang arah.
"Hadeehh, bocah kolot ku ini minta mimik cucu pulak! Bikin merinding aja," gerutu ku sembari memutar bola mata malas.
Bang Rian tidak menghiraukan ocehan ku. Ia tetap melakukan kegiatan nya di dua benda kenyal ku. Ia menyantap nya dengan lahap dan rakus, hingga membuat ku semakin gelisah tidak karuan akibat perbuatan nya tersebut.
Melihat reaksi ku yang sudah kegatalan seperti ulat bulu, bang Rian pun menghentikan kegiatan nya, lalu menatap wajah ku dengan mata sayu.
"Sayang, abang pengen. Kita main bentar yok! Boleh gak?" tanya bang Rian.
__ADS_1