
"Iya sama-sama, bang. Aku juga ucap kan terima kasih atas traktiran makan malam nya." balas indah sambil tersenyum dan menunduk malu.
"Iya, Ndah." balas ku.
Dengan perasaan gugup dan hati yang berdebar-debar, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Indah.
"Ndah, boleh gak aku mencium pipi mu? Tapi kalau kamu merasa keberatan, gak papa kok, Ndah." tanya ku ragu.
Indah yang tadi nya menunduk, langsung mendongak kan kepala nya dan menatap ku dengan mata sayu nya. Beberapa detik kemudian, akhirnya Indah mengangguk dan kembali tersenyum kepada ku.
Karena sudah mendapatkan izin dari Indah, aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka itu.
Aku segera mengecup kening nya, lalu turun ke pipinya dan yang terakhir aku mengecup kilat bibir tipis nya. Aku juga menarik pelan tubuh nya ke dalam dekapan ku.
Aku memejamkan mata sejenak, sambil mengelus-elus rambut panjang nya yang di biar kan tergerai bebas di belakang punggung nya.
"Sekali lagi makasih ya, Ndah." bisik ku.
"Iya, bang." jawab Indah.
Hanya itu lah kata-kata yang keluar dari bibir Indah. Aku pun mulai melepaskan pelukan ku dari tubuh nya.
Setelah itu, aku merogoh saku celana dan mengambil dompet, lalu mengambil uang pecahan seratus ribuan sebanyak lima lembar dari dompet ku.
"Untuk beli bedak ya, Ndah!" ujar ku.
"Makasih banyak ya, bang." balas Indah.
Aku menyerahkan uang itu ke tangan Indah, dan dia pun menerima uang itu sambil tersenyum manis pada ku.
"Aku pamit ya, bang. Mau istirahat di kamar!"
Indah pamit sambil mengambil tangan ku, dan mengecup punggung tangan ku secara takzim.
"Iya, Ndah istirahat lah! Abang balek dulu ya, sayang. Nanti kapan-kapan kita jumpa lagi." jawab ku.
Aku menatap mata sayu nya dan membelai rambut nya kembali.
"Iya, bang. Hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya! Pelan-pelan saja asal kan selamat sampai tujuan." ujar Indah.
"Iya, sayang ku." jawab ku.
Indah memberi peringatan pada ku, dan aku merasa sangat bahagia karena mendapatkan perhatian dari nya.
Ya, walaupun perhatian itu hanya sebatas, kata-kata saja. Tapi, aku merasa cukup senang mendengar nya.
Setelah berpamitan, Indah langsung keluar dari kendaraan ku dan melambaikan tangan nya pada ku.
Selanjutnya, Indah masuk ke dalam gerbang kos nya dan mulai melangkah masuk ke dalam gedung yang berlantai tiga tersebut.
Aku pun membalas lambaian tangan nya dengan senyum yang terus mengembang di bibir ku.
Setelah bayangan indah menghilang dari penglihatan ku. Aku pun mulai menyalakan mesin mobil, dan menjalankan nya perlahan kembali ke jalan raya menuju ke rumah tempat tinggal ku.
Sampai di rumah, aku memarkir kan kendaraan roda empat ku itu ke dalam garasi. Setelah itu, aku masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuh ku di atas ranjang.
__ADS_1
Sambil menatap langit-langit kamar, aku tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian bersama Indah tadi.
"Indah, jujur ku akui kalau aku jatuh cinta pada mu sejak pandangan pertama tadi." gumam ku.
"Aku akan terus berusaha untuk bisa mendapatkan cinta mu, Ndah. Aku akan terus meyakinkan mu, bahwa aku benar-benar sangat menyayangi mu."
Aku berucap seolah-olah Indah ada di hadapanku saat ini.
"Selamat malam, sayang. Mimpi yang indah ya, seindah nama mu di hati ku." lanjut ku.
Selesai menghayal, aku mulai memejamkan mata sambil memeluk guling. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku terlelap dan masuk ke alam kahyangan yang sangat indah.
Itu lah awal mula pertemuan ku dengan Indah. Wanita yang ada di hati ku saat ini. Hari-hari ku jadi lebih berwarna sejak kehadiran nya.
Hidup ku yang telah lama hampa, kini bersemangat lagi karena diri nya. Gairah hidup ku yang sempat rapuh kini telah bangkit kembali.
Aku selalu berharap, agar Indah bisa menjadi milik ku selama- lamanya. Dan alhamdulillah, cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Indah membalas cinta ku.
Indah menyambut uluran tangan ku. Dan dia juga mencintai ku seperti aku mencintai nya.
Aku bahagia bahkan sangat bahagia. Terima kasih ya Allah, engkau telah mempertemukan ku dengan wanita yang baik seperti Indah.
"Semoga dia lah jodoh hamba kelak. Amin amin ya rabbal a'lamin." doa ku pada sang pencipta alam semesta.
*Kembali ke Indah*
Setelah selesai berobat ke klinik, Haris memapah ku kembali ke kamar kos.
Sesampainya di dalam kamar, Haris membaringkan tubuhku secara perlahan di atas kasur.
Selesai menyelimuti ku, dia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping ku. Setelah itu, dia mendekap ku dengan sangat erat. Seakan-akan tidak ingin melepaskan nya lagi.
"Apa kata dokter tadi, Ndah?" tanya Haris.
Haris membuka percakapan sambil mengecup kening ku dan membelai lembut rambut ku.
"Gak ada, bang. Cuma demam biasa aja, trus magh ku juga kambuh. Itu aja kok gak ada penyakit lain lagi." jawab ku menjelaskan.
"Tadi di suntik gak?" tanya Haris lagi.
"Iya, bang. Aku minta di suntik tadi biar cepat sembuh nya." jawab ku.
"Oh, jadi sekarang mau makan apa, Ndah? Biar abang belikan di luar." tanya Haris.
Haris menatap wajah ku yang pucat seperti mayat hidup itu dengan serius.
"Gak selera apa-apa, bang. Mulut ku masih pahit soal nya. Kepala ku juga masih pusing banget. Aku mau tidur aja, bang." jawab ku.
"Nanti kalau udah agak mendingan, baru aku akan makan sekalian minum obat."
"Oh ya udah kalo gitu, kita tidur bareng aja ya." ujar Haris.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Waktu terus berlalu, tidak terasa sore pun tiba. Haris terbangun lebih dulu karena ada pergerakan, aku pun ikut membuka mata dan sedikit menggeliat.
"Bang, aku haus.Tolong ambil kan minum, bang!"
__ADS_1
Aku meminta Haris untuk mengambilkan air minum, sambil berusaha duduk dan menyandarkan punggung ku di dinding yang sudah di lapisi dengan bantal.
"Mau minum apa, sayang?" tanya Haris.
"Teh manis hangat aja, bang! Itu gula dan teh nya ada di dalam bufet." jawab ku.
Aku menunjuk ke arah bufet yang ada di pojok samping lemari pakaian.
"Oke, tunggu bentar ya, sayang. Abang buat kan teh nya sekarang." balas Haris.
"Iya, bang." jawab ku.
Haris mengambil gula dan teh yang ada di dalam bufet. Lalu dia pun langsung membuat kan teh hangat untuk ku.
Selesai membuat teh, Haris meletakkan nya di atas meja yang berada tepat di samping ku. Haris juga mengambil toples kecil yang berisikan roti kering dari dalam bufet.
"Kalau belum selera makan nasi, makan ini aja dulu, Ndah! Biar ada isi perut mu, biar bisa minum obat juga." ucap Haris.
"Iya, bawel." balas ku.
Aku mengambil empat keping roti kering dan mencelupkan nya ke dalam teh. Tiba-tiba Haris mencubit hidung pesek ku.
"Di bilangin kok malah meledek pulak ini bocah." canda Haris.
Aku pun langsung terpekik kaget, karena mendapatkan serangan mendadak dari Haris.
"Auww! Sakit, bang." rengek ku manja.
"Helehh, cuma pelan gitu aja kok sakit, dasar manja!"
Aku langsung nyengir sambil memasang wajah seimut mungkin pada nya.
"Gak usah di imut-imut kan gitu muka nya! Malah jadi serem abang lihat nya, hahaha." ledek Haris sambil tertawa lepas.
"Iiihhh, apa an sih, bang." rengek ku.
Aku melempar kan bantal ke wajah Haris yang sedang duduk di hadapan ku.
"Gak kena, weeek." ledek Haris.
Haris mengelak kan lemparan ku dan menjulurkan lidah nya pada ku.
"Awas aja nanti kalau aku udah sembuh, aku akan balas kan dendam ku." ancam ku pada Haris.
"Kalau balas dendam nya di atas kasur, abang pasti akan layani dengan senang hati, sayang." goda Haris.
"Idih, ogah." balas ku dengan bibir yang mengerucut.
Haris mulai mendekati ku dengan senyum menyeringai. Dia mencubit kedua pipi ku dengan gemas.
"Gemes banget sih lihat muka nya." ujar Haris.
"Adooh! Sakit, bang. Kapan aku sembuh nya kalau di aniaya terus kayak gini?" gerutu ku kesal.
"Hahaha." gelak Haris.
__ADS_1
Haris hanya tertawa mendengar semua ocehan ku pada nya.