Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Terbongkar


__ADS_3

"Hahaha, baru nyadar dia rupanya." gelak ku.


"Iya, dari tadi gak ngeh aku. Kirain lagi ngomongin apaan. Eeehh, ternyata tentang junior ku sendiri." balas Alex salah tingkah.


Aku hanya senyam-senyum sendiri melihat reaksi Alex yang tampak malu-malu kucing di depan ku.


"Ya udah deh, kita mulai sekarang ya tempur nya." ujar Alex.


"Oke, silahkan aja." balas ku sembari menggigit bibir bawahku sendiri.


Setelah mendapat persetujuan ku, Alex pun mulai membuka pakaian nya satu persatu hingga polos, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh nya.


Kemudian dia merangkak naik ke atas ranjang dengan senyum menyeringai di bibir nya. Alex mendekat kan wajah nya pada ku, lalu mencium bibir ku dengan posisi menindih tubuh ku.


Alex juga menggenggam kedua telapak tangan ku, lalu menaruh nya di atas kepala ku.


"Bibir mu manis sekali, sayang. Bikin candu aja ingin terus mencium nya." bisik Alex.


"Iya, tadi aku olesi madu dikit, hihihi." jawab ku asal sambil cekikikan.


"Hahaha, ada-ada aja." gelak Alex.


Selesai mengabsen seluruh wajah ku, kini Alex beralih mengabsen seluruh tubuh ku. Dia memberikan sentuhan-sentuhan lembut dan penuh kehangatan pada ku.


Apa lagi di area pribadi ku, dia sangat pandai memberikan sensasi yang berbeda, dari para lelaki yang pernah bercinta dengan ku di atas ranjang.


"Udah cukup, Lex. Aku udah gak sanggup lagi, geli banget rasa nya." rengek ku manja sambil memegang kepala Alex yang masih terus aktif memainkan lidah nya.


"Tahan sebentar ya, masih nanggung banget nih. Aku masih ingin memanjakan nya. Kalau mau keluar, ya keluarkan aja di mulut ku. Biar ku lahap semua nya sampai bersih." balas Alex.


"Oke, sayang." jawab ku sembari tersenyum genit pada nya.


Alex kembali melanjutkan kegiatan nya hingga membuat ku semakin tidak karuan akibat ulah nakal Alex. Hingga akhirnya aku pun mencapai puncak sambil memekik.


"Alex, aku sampai, sayang!" pekik ku sembari menggeliat dan menggenggam seprai ranjang dengan kuat.


Setelah mendengar suara ku yang cukup melengking, Alek pun langsung sigap memasukkan lidahnya ke dalam, lalu melahap semua nya dengan rakus sampai bersih tanpa sisa sedikit pun.


Sesudah membersihkan bagian bawah, kini Alex mulai naik ke atas tubuh ku, lalu memasukkan benda pusaka nya kedalam milik ku dengan satu hentakan saja.


Setelah masuk dengan sempurna, Alex pun mulai melakukan gerakan nya dengan kecepatan tinggi.


Aku dan Alex saling memberi dan menerima kembali di atas ranjang, dengan keringat yang terus mengalir di tubuh kami berdua.


Setelah melakukan kegiatan panas selama satu setengah jam, Alex pun menyelesaikan tugas nya dan mengecup kening ku, lalu berkata...


"Makasih ya, sayang. Kau memang sangat luar biasa. Kau mampu mengimbangi permainan ku." puji Alex.


"Iya, sama-sama. Kau juga tak kalah hebat, tangguh, dan juga perkasa." balas ku.


"Ah, masa sih?" tanya Alex tak percaya.


"Iya, beneran. Kau memang lelaki kuat, aku suka itu." jawab ku kembali menyunggingkan senyum pada nya.


"Iya deh, aku percaya." balas Alex sambil membalas senyuman ku.

__ADS_1


Setelah selesai bertempur, aku dan Alex langsung beranjak dari ranjang dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Sesudah membersihkan diri, kami berdua segera bergegas memakai pakaian masing-masing, lalu keluar dari kamar hotel dengan bergandengan tangan menuju ke lantai satu.


Sesampainya di meja resepsionis, Alex menyerahkan kunci kamar dan kembali menggandeng tangan ku menuju parkiran mobil nya.


Setelah berada di dalam mobil, aku dan Alex langsung memasang sealbeat ke tubuh masing-masing. Selanjutnya Alex mulai menyalakan mesin kendaraan nya, lalu melaju kan nya menuju arah kos tempat tinggal ku.


Setiba nya di depan gerbang kos, Alex mematikan mesin mobil nya dan merogoh tas ransel milik nya.


Alex mengeluarkan satu ikat uang pecahan lima puluh ribuan dari dalam tas nya, lalu menyerahkan nya ke tangan ku.


"Ini uang belanja dari papi ya, sayang. Kapan-kapan papi akan menemui mu lagi." canda Alex sembari memeluk ku dan mengecup bibir ku.


"Iya, makasih ya, papi. Sering-sering ya kunjungi mami, biar mami gak kesepian." balas ku sambil nyengir kuda.


"Oke, mami. Dua atau tiga hari lagi, papi pasti akan mengunjungi mami lagi." balas Alex.


"Oke siap, pi. Mami akan tunggu kedatangan papi kembali. Ya udah deh, pi. Mami pamit dulu ya, bye. Hati-hati di jalan ya, papi ku sayang." tutur ku.


"Iya, mami sayang." balas Alex.


Aku mengecup kedua pipi Alex, lalu mencium kilat bibir nya dan memeluk erat tubuh nya. Setelah itu, aku keluar dari mobil Alex dan berdiri di samping pintu gerbang sambil melambaikan tangan pada nya.


Alex membalas lambaian tangan ku, dan kembali menjalankan kendaraan nya menuju jalan raya. Setelah Alex pergi dan hilang dari pandangan, aku pun mulai melangkah naik ke lantai tiga tempat dimana kamar ku berada.


Sampai di depan kamar, mata ku langsung mendelik saat melihat sepasang sepatu sport yang tergeletak di depan pintu.


"Waduh, ini kan sepatu Haris. Apa dia ada di dalam ya? Tapi kok mobil nya gak ada di parkiran." batin ku gelisah.


"Assalamualaikum," salam ku pelan.


"Wa'laikum salam," jawab Haris yang sedang berdiri di depan jendela sambil memandang ke halaman bawah.


"Lah, masih disini, toh. Kirain lagi di tempat kerja." tutur ku basa-basi.


Haris tidak menjawab atau pun menoleh pada ku. Dia masih tetap mematung di depan jendela dengan tatapan sinis nya.


Melihat ekspresi wajah horor Haris, aku pun tidak berani membuka percakapan apa pun lagi. Aku langsung berganti pakaian dengan daster pendek selutut.


Setelah itu, aku menyimpan tas ransel ke dalam lemari pakaian lalu mengunci nya. Selanjutnya aku duduk bersila di atas lantai lalu menyalakan rokok.


"Siapa laki-laki yang mengantar mu pulang?" tanya Haris dengan nada dingin dan wajah datar nya.


Mendengar pertanyaan Haris, aku langsung tersentak kaget dan reflek menoleh ke arah nya.


"Dari mana abang tau, kalau aku di antar pulang oleh laki-laki?" tanya ku balik.


"Aku sudah melihat dengan mata kepala ku sendiri, apa saja yang kalian lakukan di dalam mobil tadi." jawab Haris.


Degh...


Dada ku langsung berdegup kencang saat mendengar penuturan Haris. Karena tidak mendengar jawaban ku, Haris pun akhirnya menoleh dan menatap tajam pada ku.


"Kenapa gak di jawab? Takut ketahuan ya?" tanya Haris.

__ADS_1


Aku masih tetap diam dan kembali menghisap rokok, dengan tangan yang sedikit gemetaran.


"Siapa lelaki itu? Kenapa kalian berdua tampak begitu mesra tadi?" lanjut Haris lagi.


Bukan nya menjawab, aku malah menunduk dan memejamkan mata sejenak. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada Haris.


Dia sudah mengetahui semua nya, dan dia juga sudah mencurigai gelagat ku selama beberapa bulan ini.


"AYO, JAWAB!" pekik Haris dengan suara menggelegar.


Aku langsung terlonjak kaget, setelah mendengar bentakan Haris yang cukup memekakkan telinga ku.


"Seperti nya udah gak ada yang perlu di tutup-tutupi lagi. Ini lah saat nya aku harus berkata jujur dengan nya." batin ku


"Huh, bismillahirrahmanirrahim. Semoga saja ini keputusan yang tepat buat ku." lanjut ku.


Setelah berpikir sejenak, aku pun mau membuka suara dan menjelaskan yang sebenarnya kepada Haris.


"Dia itu tamu minum dan juga tamu kencan ku." jawab ku pelan.


"APA? Jadi selama ini benar dugaan ku. Kau sudah mengingkari janji mu, dan kau juga sudah mengkhianati kepercayaan ku." pekik Haris lagi.


"Ya, maafkan aku. Aku gak bisa memegang janji ku. Aku sudah menduakan mu, dan aku juga sudah mengkhianati kepercayaan mu." jawab ku jujur.


"Sekarang keputusan terakhir ada di tangan mu. Kalau kau ingin pergi meninggalkan ku silahkan, aku tidak akan menahan mu. Dan aku juga tidak akan melarang mu untuk menjauhi ku." lanjut ku.


Aku berucap dengan mata yang sudah berembun. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat lemah di depan Haris. Aku berusaha menahan air mata, agar tidak mengalir di kedua pipi ku.


"Semudah itu kah kau mencampakkan ku, setelah apa yang sudah kita lalui selama setahun lebih ini?" tanya Haris.


"Aku tidak mencampakkan mu. Aku hanya sadar diri kalau aku ini hanya perempuan hina dan kotor, yang tidak pantas mendapatkan cinta mu." jawab ku.


"Kau cari lah perempuan lain yang lebih baik dariku. Jangan campuri hidup ku dan juga dunia ku lagi." sambung ku.


Haris tampak frustasi saat mendengar penuturan ku barusan. Dia mengusap wajah nya dengan kasar, dan menarik-narik rambut nya sendiri sambil berteriak histeris.


"Aaagghhh, kenapa kau jadi berubah gini, hah? Kenapa, NDAH?" pekik Haris sembari menendang lemari pakaian ku.


Aku sama sekali tidak merespon apa pun perbuatan nya. Aku masih tetap tenang sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan ku.


"Apa hanya karena uang, kau sampai menjual harga diri mu sendiri, hah?" tanya Haris.


"Jangan diam aja, ayo jawab aku, Ndah!" lanjut Haris masih dengan mode emosi nya.


"Ya," jawab ku singkat.


"Ya Allah, Ndah. Aku benar-benar gak nyangka perbuatan mu sampai serendah itu sekarang." oceh Haris.


"Ya, aku memang rendah dan hina. Kalau kau mau pergi dari hidup ku, silahkan. Dan jangan usik kehidupan ku lagi." balas ku dingin.


Dengan emosi yang masih meledak-ledak, Haris pun melangkah keluar lalu membanting pintu dengan kuat. Hingga membuat dinding kamar kos ku sedikit berguncang.


Setelah kepergian Haris, aku langsung mematikan api rokok di dalam asbak lalu menjatuhkan diri di atas kasur.


Air mata yang sedari tadi aku tahan, kini akhirnya tumpah dan membasahi bantal yang ada di bawah kepala ku.

__ADS_1


"Andai saja kau tau, kenapa aku sampai berbuat seperti itu. Apakah kau masih mau menerima diri yang hina ini, bang." gumam ku.


__ADS_2