Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kembali Berdebat


__ADS_3

"Oke, sayang." balas bang Rian dengan senyum mengembang di bibir nya.


Setelah memutuskan untuk kembali ke hotel, bang Rian pun melirik ke arah Andre dengan mata elang nya.



"Woy, kamvret! Ngapain masih nonggok disitu? Pulang sana, kami mau balek ke hotel nih." usir bang Rian lalu beranjak dari duduk nya.


"Iya iya, berisik banget sih." balas Andre memanyunkan bibir nya.


Andre juga ikut beranjak dari tempat duduk nya, dan mulai berjalan ke arah pintu. Sampai di luar Andre pun menghentikan langkah nya, lalu celingukan kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu.


"Ada apa, Ndre? Kok celingukan gitu?" tanya bang Rian penasaran.


Bang Rian keluar dari kamar, dan memakai sepatu nya kembali. Setelah itu, dia berdiri di samping Andre sambil memperhatikan situasi di sekeliling nya.


"Gak ada apa-apa, bos. Aku cuma teringat yang tadi aja." balas Andre.


"Ssstttt, jangan kenceng-kenceng ngomong nya! Kasian si Indah, takut nya nanti dia gak betah tinggal disini."


Bisik bang Rian, sembari melirik ke arah ku yang sedang menutup mengunci pintu. Mendengar bisikan gaib dari bang Rian, Andre pun langsung reflek menutup mulut nya.


"Ups, sorry bos. Aku gak sengaja." balas Andre pelan.


"Iya, gak papa. Tapi lain kali, apa pun yang kau lihat di sekitaran sini, jangan pernah di omongin di depan Indah ya. Ngerti kan maksud ku?" bisik bang Rian lagi.


"Oke siap, bos. Aku ngerti kok." balas Andre.


Sesudah mengunci pintu, aku mulai melangkah untuk menghampiri kedua lelaki gagah, yang sedang berdiri sejajar di depan kamar ku tersebut.


"Kalian lagi ngomongin apaan sih? Dari tadi kok bisik-bisik terus? Kayak emak-emak kompleks aja pake acara ngegosip segala, hihihi." ledek ku sembari cekikikan.


Mendengar pertanyaan ku, bang Rian dan Andre pun saling pandang-pandangan. Mereka berdua tampak kebingungan, untuk menjawab pertanyaan ku tadi. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya bang Rian pun membuka suara nya.


"Gak ada ngomongin apa-apa kok, sayang. Cuma ngebahas masalah kerjaan aja tadi. Ya kan, Ndre?" ujar bang Rian sembari menyikut lengan Andre.


"Ehh, iya bener. Ngomong masalah kerjaan aja kok. Gak ada ngomongin yang aneh-aneh." sambung Andre gelagapan.


"Ooohhh, gitu. Hhmm, ya udah deh. Yok, kita jalan sekarang!" balas ku lalu menggandeng lengan bang Rian.


"Oke, yok!" balas bang Rian dan Andre serempak.


Kami bertiga mulai berjalan beriringan. Bang Rian di tengah, sedangkan aku di menggandeng lengan kiri nya. Dan Andre, dia berjalan di sebelah kanan bang Rian sambil terus celingukan kesana kesini.


Kami menyusuri lorong yang cukup panjang, dan juga melewati beberapa kamar yang terlihat sepi, seperti tak berpenghuni.


Sesampainya di pintu gerbang, Andre tampak menghela nafas lega sambil menyeka keringat yang bermunculan di dahi nya. Aku terus saja memperhatikan gerak-gerik Andre, yang terlihat sedikit aneh dengan kening mengkerut.

__ADS_1


"Kau itu kenapa sih, Ndre? Dari tadi kok aku perhatiin gelisah terus, kayak lagi ketakutan gitu?" selidik ku.


"Eng-enggak kok, aku gak papa. Perasaan mu aja kali." jawab Andre gugup.


Andre mengalihkan pandangan nya ke arah bang Rian, yang masih tampak anteng dengan wajah dingin nya. Karena merasa di perhatikan, bang Rian pun menoleh kepada Andre. Bang Rian seperti memberikan isyarat, melalui tatapan mata nya pada Andre.


Andre yang sudah paham maksud bang Rian pun, langsung mengangguk kan kepala nya. Selesai berbicara melalui telepati bersama bang Rian, Andre pun kembali menatap ku lalu berkata...


"Oke lah kalo gitu, aku pamit pulang dulu ya, Ndah. Kapan-kapan aku main kesini lagi." ujar Andre.


Belum sempat aku menjawab ucapan Andre, tiba-tiba bang Rian langsung menyambar nya dengan cepat.


"Gak boleh, kau gak boleh main kesini lagi, kecuali bareng dengan ku." jawab bang Rian tegas.


Bang Rian menatap sinis kepada Andre. Dia sama sekali tidak mengizinkan bawahan nya itu, untuk mengunjungi ku lagi, kecuali mereka datang bersamaan.


"Widiih, pelit amat sih, bos! Masa gak boleh berkunjung sih? Aku ini kan abang sepupu nya Indah juga. Ya kan Ndah, hehehe."


Protes Andre sembari nyengir kuda, dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Aku hanya tersenyum menanggapi tingkah kocak Andre.


Tapi tidak dengan bang Rian, dia masih saja memasang wajah dingin nya, dan kembali menjawab ucapan Andre.


"Kalo ku bilang gak boleh, ya gak boleh. Pekak kuping mu ya?" ujar bang Rian mulai kesal.


Bang Rian mengulurkan tangan nya ke arah telinga Andre. Dia ingin menjewer telinga bawahan nya tersebut.


Tapi sebelum itu terjadi, Andre dengan cepat mengelak dan menyilang kan kedua tangan nya, untuk menghindari tangan nakal bang Rian.


"Apa bos gak malu, jalan sama Indah yang masih muda? Nanti di kira orang-orang, Indah lagi jalan sama bapak nya pulak, hahaha." ledek Andre lalu tertawa terbahak-bahak.


"Heh, bocah gendeng! Jangan sembarangan kalo ngomong ya. Orang masih muda gini kok, di bilang kayak bapak-bapak pulak. Udah rabun mata mu ya?" omel bang Rian dengan pede nya.


"Muda dari Hongkong. Udah ubanan gitu kok di bilang masih muda, mimpi kaleee! Hahaha," balas Andre.


Tawa Andre kembali pecah, saat mendengar ocehan receh bang Rian. Sedangkan bang Rian, wajah nya tampak memerah dengan mata yang membulat sempurna. Dia terlihat sangat kesal, dengan ledekan yang di lontarkan oleh Andre.


Melihat ekspresi wajah bang Rian yang mulai tak bersahabat, aku yang sedari tadi hanya diam, sambil mendengar kan perdebatan mereka pun kembali bersuara.


"Udah ah, kok malah jadi berantem sih? Udah pada tua pun, masih aja kayak anak-anak." omel ku menengahi percekcokan kedua lelaki tampan tersebut.


"Kita jadi balek ke hotel gak nih?" tanya ku pada bang Rian.


"Ya jadi dong, sayang."


Jawab bang Rian sembari tersenyum manis, dan mengecup kilat kening ku. Melihat kelakuan nyeleneh bos nya, Andre pun membelalak kan mata nya, lalu berucap...


"Uluh-uluh, so sweet banget sih. Ternyata singa galak bisa romantis juga ya, hihihi." ledek Andre terkikik geli.

__ADS_1


"Singa galak kepala mu itu! Asal kau tau ya bocil, aku ini singa paling romantis tau gak?" oceh bang Rian.


"Ya ya ya, aku percaya kok. Bos memang paling romantis sepulau Batam ini." balas Andre memutar bola mata malas.


"Good, anak pintar. Akhirnya, kau akui juga kemampuan ku, hahaha." gelak bang Rian.


Bang Rian merangkul pundak ku dan membawaku ke dalam dekapan hangat nya. Sedangkan Andre, raut wajah nya tampak kesal melihat kemesraan kami berdua.


"Idih, kepedean banget sih. Baru di puji gitu aja kok, seneng nya gak ketulungan. Dasar, orang aneh!" cibir Andre pelan.


Setelah mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hati nya, Andre pun langsung keluar dari gerbang, dan berjalan menuju mobil pickup nya.


Sampai di dalam mobil, Andre segera menyalakan mesin kendaraan nya, dan berlalu pergi begitu saja, tanpa berkata apapun lagi kepada kami berdua.


"Kayak nya Andre merajuk tuh, bang." ujar ku sambil terus menatap kepergian Andre dengan mobil nya.


"Biarin aja, sayang. Dia memang gitu orang nya, mudah baperan kalo kata anak muda sekarang mah." jelas bang Rian.


"Ooohhh, gitu toh." balas ku sembari manggut-manggut.


"Tapi sebenarnya dia orang baik kok, ya walaupun kadang-kadang kumat juga gilak nya, hahaha." oceh bang Rian kembali tergelak.


Aku hanya tersenyum menanggapi celotehan bang Rian. Lalu aku pun iseng untuk mencubit pinggang nya. Dan itu berhasil membuat bang Rian terlonjak kaget, sambil memekik kesakitan.


"Adoooh! Jahat banget sih, sakit tau gak?" pekik bang Rian.


"Sokor, maka nya jangan sembarangan bilangin anak orang gilak. Nanti aku bilangin ke ibu nya Andre loh, biar abang kena omel sekalian." oceh ku.


"Hahaha, emang kamu tau dimana orang tua Andre?" tanya bang Rian.


"Enggak, emang dimana?" tanya ku balik.


"Di sana." balas bang Rian sembari menunjuk ke atas langit.


"Hah, serius?" tanya ku dengan mata terbelalak dan mulut yang sedikit menganga.


"Iya, serius. Andre itu yatim piatu. Kedua orang tua nya udah meninggal tiga tahun yang lalu." jelas bang Rian.


Aku semakin terkejut mendengar penuturan bang Rian. Aku sama sekali tidak menyangka, jika Andre sudah tidak memiliki orang tua lagi sekarang.


"Innalillahi wainnailaihi roji'un. Maaf ya, bang. Aku gak tau kalau..."


"Udah gak papa, santai aja. Abang ngerti kok maksud mu." balas bang Rian.


Aku langsung menunduk dan terdiam seketika. Aku membayangkan betapa sedih nya hati Andre, saat kehilangan kedua orang tua nya.


Melihat reaksi ku yang sedang murung, bang Rian pun memutuskan untuk mengajak ku kembali ke hotel, tempat kami menginap.

__ADS_1


"Udah, gak usah di bahas lagi. Kita balek sekarang, yok!" ujar bang Rian sembari membelai lembut rambut panjang ku.


"Iya," balas ku singkat.


__ADS_2