
"Ya enggak lah, ngawur aja." balas bang Rian.
Selesai berhaha-hihi dengan bang Rian, aku segera bangkit dari kasur lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan hasil dari perbuatan bang Rian barusan.
Begitu juga dengan bang Rian, dia turut mengekori langkah ku dari belakang dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
Selesai membersihkan diri masing-masing, aku dan bang Rian kembali masuk ke dalam kamar, lalu duduk selonjoran di atas lantai.
"Jadi sekarang ponsel mu udah gak ada lagi ya, Ndah?" tanya bang Rian membuka percakapan.
"Hehehe, iya." jawab ku salah tingkah.
Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal di depan bang Rian. Sebenarnya aku malu menjawab pertanyaan nya itu, tapi ya apa boleh buat, memang itu lah kenyataan nya sekarang.
Aku tidak memiliki ponsel, dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun, termasuk dengan lelaki yang ada di hadapanku saat ini.
"Ya udah kalo gitu, cepat pakai pakaian mu! Biar kita keluar sekarang."
Titah bang Rian sembari beranjak dari duduk nya, lalu memakai pakaian dan sepatu nya kembali.
"Loh, emang nya kita mau kemana?" tanya ku bingung.
"Udah gak usah banyak tanya, yang penting ikut aja!" jawab bang Rian.
"Hmmmm, oke lah." balas ku pasrah.
Tanpa bertanya apa pun lagi, aku bergegas memakai celana panjang jeans hitam dan baju kaos berwarna putih.
Setelah itu, aku memoles sedikit wajah agar tampak lebih fresh dan segar, tidak terlihat pucat seperti mayat hidup.
Selanjutnya, aku memakai sepatu sport berwarna putih dan menyampirkan tas ransel hitam di bahu kiri ku.
Bang Rian yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik ku pun langsung tersenyum, saat melihat penampilan ku yang sudah seperti anak ABG di depan nya.
"Wah wah wah, cantik sekali wanita ku ini. Udah kayak anak kuliahan aja gaya nya."
Puji bang Rian sembari tersenyum, dan menggeleng-gelengkan kepala nya. Dia tampak sangat terpana melihat penampilan ku itu.
"Ah, abang bisa aja." balas ku sembari malu-malu kucing.
"Iya beneran, sayang. Coba deh, kamu lihat penampilan mu di cermin. Pasti kelihatan kayak anak remaja yang mau pergi ke kampus." tambah bang Rian lagi.
Mendapat pujian yang bertubi-tubi dari bang Rian, seketika hati ku langsung berbunga-bunga dan semakin tersipu malu.
"Udah ah, gak usah di puji-puji terus! Entar kuping ku makin tinggi nih naik nya, hihihi." balas ku sembari cekikikan.
"Ah, mana ada naik. Dari tadi kuping mu letak nya di situ terus kok." sanggah bang Rian.
"Iya lah, terserah abang lah situ." jawab ku kembali pasrah.
"Hehehe, ngambek niyeee." ledek bang Rian sembari menoel-noel hidung ku.
"Gak lah, siapa juga yang ngambek!" balas ku sambil memalingkan wajah ke samping.
Aku malu melihat ulah bang Rian, yang sedari tadi terus saja menggoda dan memuji ku dengan rayuan-rayuan maut nya.
"Kirain ngambek tadi, hahaha." gelak bang Rian.
Bang Rian kembali mentertawai ku. Dia merasa lucu dan kocak, melihat raut wajah ku yang sudah memerah seperti kepiting rebus, akibat godaan-godaan nya tersebut.
Aku hanya tersenyum menanggapi ledekan bang Rian. Setelah lelah mentertawai ku, bang Rian pun kembali membuka suara nya.
__ADS_1
"Ya udah deh, ayo kita berangkat!" seru bang Rian sembari menggandeng lengan kiri ku.
"Oke," jawab ku.
Setelah mengunci pintu kamar kos, aku dan bang Rian mulai melangkah menapaki anak tangga, untuk menuju ke lantai satu dengan bergandengan tangan.
Sampai di bawah, kami terus melangkah sampai ke parkiran mobil, lalu masuk ke dalam kendaraan roda empat milik bang Rian.
"Emang nya kita mau kemana sih, bang?" tanya ku lagi.
"Ssstttt, gak usah berisik. Ikut aja lah pokoknya!"
Oceh bang Rian sembari menempelkan jari telunjuk nya di bibir ku. Mendapat respon seperti itu dari bang Rian, aku pun langsung terdiam dan tidak bertanya apa pun lagi pada nya.
Sesudah memasang sealbeat masing-masing, bang Rian pun mulai melajukan mobil nya secara perlahan masuk ke jalan raya, dan bergabung dengan kendaraan bermotor lain nya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir lima belas menit, bang Rian pun menghentikan laju kendaraan nya, lalu memarkirkan nya di depan sebuah toko bertingkat tiga yang cukup besar.
Mata ku langsung membulat sempurna, saat melihat steling kaca yang menampilkan berbagai macam jenis ponsel, yang ada di dalam toko tersebut.
"Mau ngapain kita kesini, bang?" tanya ku dengan kening mengkerut.
"Mau beli ponsel untuk mu."
Jawab bang Rian sembari membuka sealbeat, lalu melangkah keluar dari mobil nya. Bang Rian meninggal kan ku begitu saja, tanpa mengajak ku untuk keluar bersama nya.
Melihat reaksi bang Rian yang sedang mengacuhkan ku, aku pun langsung bergegas keluar dari mobil.
Lalu aku pun berjalan dengan langkah cepat, untuk menghampiri bang Rian yang sudah duduk di dalam toko ponsel tersebut.
"Kamu mau yang mana, Ndah?" tanya bang Rian tanpa menoleh pada ku.
Tatapan mata nya tampak fokus, memandangi satu persatu ponsel yang berjejer rapi di dalam steling kaca.
"Yakin?" tanya bang Rian sambil menoleh pada ku.
"Ya," jawab ku lagi.
"Oke lah kalo gitu, merek yang ini aja ya!" ujar bang Rian meminta pendapat ku.
"Ya, itu aja." balas ku sembari tersenyum dan menganggukkan kepala.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Rian pun langsung menyuruh si penjaga toko untuk membungkus ponsel yang di pilih nya tersebut.
Selesai pembayaran, penjaga toko itu pun menyerahkan bungkus ponsel itu ke tangan bang Rian sembari berucap...
"Terima kasih ya, pak. Sudah mampir ke toko kami."
Ujar si penjaga toko lelaki itu dengan ramah, sembari menyunggingkan senyum manis nya kepada bang Rian.
"Oke, sama-sama." balas bang Rian.
Setelah itu, bang Rian menyerahkan bungkusan itu ke tangan ku, lalu kembali menggandeng tangan ku untuk menuju ke parkiran.
Sesampainya di dalam mobil, bang Rian pun kembali menjalankan kendaraan nya ke jalan raya, lalu berkata...
"Jangan di banting lagi ponsel nya ya, Ndah!" ujar bang Rian.
"Hehehe, ya enggak lah, bang. Mana berani aku merusak barang pemberian abang ini." balas ku sembari nyengir kuda.
"Bagus, mudah-mudahan aja ucapan mu itu bisa di percaya." balas bang Rian penuh penekanan.
__ADS_1
"Iya, percayalah. Aku gak akan membanting atau pun merusak ponsel ini." jawab ku lagi sembari menunduk lesu.
"Syukur lah kalo gitu." balas bang Rian sambil menoleh sekilas pada ku.
Melihat ekspresi wajah ku yang di tekuk lesu, bang Rian pun langsung mengerutkan kening nya. Dia tampak bingung, setelah melihat perubahan wajah ku tersebut.
"Lololoh, cuma di bilangin gitu aja kok malah merajuk pulak nih bocah." ledek bang Rian sembari menoel-noel dagu ku.
Mendapat perlakuan seperti itu dari bang Rian, aku sama sekali tidak merespon apa pun pada nya. Aku tetap diam dengan pandangan yang lurus menatap jalanan.
"Apa karena ucapan abang tadi ya, maka nya dirimu langsung lemes gitu?" tanya bang Rian sedikit panik.
"Enggak, bang. Bukan karena itu." jawab ku.
"Lah, trus karena apa kalau bukan karena itu? Emang nya kamu lagi ada masalah ya?" selidik bang Rian.
"Iya, aku memang lagi ada masalah dengan ayah." jawab ku lirih
"Oooohhh, tentang ayah mu toh. Kirain masalah apa tadi." balas Rian lega.
"Emang nya ayah mu kenapa lagi? Apa dia minta uang lagi dengan mu?" tanya bang Rian.
"Iya," jawab ku jujur sembari mengangguk.
"Ya udah, gak usah di pikirkan lagi. Nanti abang bantu." balas bang Rian.
"Eh, gak usah, bang! Aku jadi gak enak, kalau abang terus membantu ku seperti itu." ujar ku.
"Udah gak papa, santai aja. Abang ikhlas kok membantu mu." balas bang Rian sembari tersenyum manis pada ku.
"Tapi, bang..."
Belum sempat aku meneruskan kata-kata ku, tiba-tiba bang Rian langsung memotong nya dengan cepat.
"Gak ada tapi-tapian lagi, pokonya nurut aja, oke!" ujar bang Rian tegas.
"Huh, ya udah deh. Terserah abang aja, aku ngikut aja." jawab ku pasrah sembari menghela nafas panjang.
"Naaah, gitu dong! Kalau di bilangin itu harus nurut, jangan ngeyel terus kerjaan nya." ledek bang Rian sembari mengacak-acak rambut ku.
"Iya, baweeel." balas ku.
Setelah melewati perdebatan kecil, aku dan bang Rian pun saling berdiam diri. Suasana menjadi hening seketika, tidak ada percakapan apa pun lagi di antara kami berdua.
Untuk memecah keheningan, aku pun kembali melontarkan pertanyaan kepada bang Rian.
"By the way, kita mau kemana lagi, bang?" tanya ku sembari menoleh ke arah bang Rian.
"Ke hotel." jawab bang Rian santai.
"HAH, ke hotel?" pekik ku sedikit terkejut.
"Iya, emang nya kenapa? Kamu gak mau ya?" tanya bang Rian.
"Ya...Ya mau sih. Tapi, mau ngapain kita kesana?" tanya ku pura-pura bingung.
"Nginap." jawab bang Rian dengan enteng nya.
"Whaaaattt? Nginap?" pekik ku lagi.
"Yes, sayang." jawab bang sembari tersenyum genit pada ku.
__ADS_1
"Waduhhh, mati aku. Bakalan libur kerja lagi nih kayak nya." gerutu ku dalam hati.