Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Ke Hotel


__ADS_3

"Abang ingin...Hmmm, abang ingin memiliki mu seutuh nya, Ndah." bisik bang Hendra.


Degh...


Dada ku langsung berdegup kencang, setelah mendengar penuturan bang Hendra.


"Ma-maksud abang apa, ngo-ngomong seperti itu dengan ku?" tanya ku gugup.


"Tolong tinggalkan kekasih mu itu, Ndah! Abang ingin mengganti kan posisi nya di hati mu." jawab bang Hendra.


Aku reflek menoleh pada bang Hendra. Aku menatap wajah nya yang tampak serius dengan ucapan nya tadi.


"Gak semudah itu, bang. Dia itu adalah lelaki terbaik yang pernah aku kenal. Aku tidak akan pernah meninggalkan nya, kecuali dia yang pergi meninggalkan ku." balas ku.


"Kenapa gak bisa sih, Ndah? Abang juga bisa kok, berbuat baik kepada mu, seperti yang di lakukan kekasih mu itu." ujar bang Hendra berusaha meyakinkan ku.


"Maaf, bang. Aku tetap gak bisa." jawab ku tegas.


"Oke gak papa, sekali ini abang ngalah. Tapi, abang tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan mu, Ndah. Abang akan terus berusaha untuk bisa meluluhkan hati mu." balas bang Hendra.


Bang Hendra masih tetap kekeuh dengan keputusan nya. Aku hanya tersenyum kecut, menanggapi ucapan nya tersebut.


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa malam pun semakin larut. Minuman juga sudah pada habis. Hanya tinggal menyisakan botol-botol kosong, yang tertata rapi di atas meja.


"Sudah jam satu lewat dua puluh, Ndah. Gimana, kita keluar sekarang?" tanya bang Hendra sambil melihat jam tangannya.


"Terserah abang aja." jawab ku pasrah.


"Oke, kita turun yok!" ajak bang Hendra.


Aku mengangguk setuju, dan mulai bangkit dari tempat duduk. Bang Hendra langsung menggandeng lengan ku, dan mengajak ku untuk keluar dari ruangan VIP room.


Begitu juga dengan Ririn, Rara dan kedua teman bang Hendra. Mereka mengikuti langkah kami dari belakang, sambil bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing.


Sampai di lantai dasar, kami semua berhenti di depan meja kasir. Bang Hendra membayar tagihan minuman nya sebesar dua juta tiga ratus ribu.


Kemudian, dia juga membayar uang chas keluar untuk aku dan Ririn, sebesar empat ratus ribu. Selesai pembayaran, aku dan Ririn bergegas mengambil tas masing-masing, di dalam boks penyimpanan tas para waiters.


Setelah itu, aku dan Ririn pun mengikuti langkah bang Hendra dan teman-teman nya, menuju parkiran mobil. Sedangkan Rara, dia kembali duduk di bangku panjang, dan bergabung bersama teman lain nya.


Setelah sampai di depan mobil, bang Hendra menyuruh ku untuk duduk di depan, di samping bangku kemudi.


"Kamu duduk di depan aja, Ndah! Temani abang menyetir." ujar bang Hendra.


"Oke, bang." balas ku.

__ADS_1


Dan Ririn, dia duduk di bangku tengah bersama kedua teman bang Hendra.


"Udah siap semua?" tanya bang Hendra.


"Udah," jawab kami serempak.


"Oke, kita jalan sekarang." balas bang Hendra.


Bang Hendra mulai melajukan mobil nya secara perlahan, untuk keluar dari parkiran, dan masuk ke jalan raya.


Pasangan mu gimana, Mar? Siapa wanita yang akan kau ajak malam ini?"


Bang Hendra bertanya kepada teman nya yang bernama Mardi. Lelaki yang di temani Rara di VIP room tadi. Berhubung Rara tidak bisa ikut dengan kami, jadi lelaki itu tidak ada pasangan nya untuk menginap di hotel.


"Kalau aku sih gampang, Hen. Aku akan menghubungi wanita yang menemani ku minum kemarin." jawab Mardi sambil mengotak-atik ponsel nya.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas bang Hendra sambil terus memainkan stir kemudi nya.


Mardi mulai menghubungi wanita, yang akan menemani nya di hotel nanti. Dia mengaktifkan pengeras suara di ponsel nya. Sehingga membuat kami semua, bisa mendengar kan percakapan, antara Mardi dan teman wanita nya.


"Halo, sayang. Lagi dimana sekarang?" tanya Mardi.


"Lagi di kos, bang. Malam ini aku lagi of kerja. Emang nya kenapa, bang?" tanya wanita itu balik.


"Kamu bisa temani abang di hotel gak?" tanya Mardi lagi.


"Oke, kamu datang aja ke hotel X, ya! Abang tunggu sekarang." balas Mardi.


"Oke siap, bang. Aku on the way sekarang." jawab si wanita sambil menutup panggilan dari Mardi.


"Nah, sekarang udah beres kan, Hen. Kalau masalah cari pasangan tidur sih gampang. Yang penting kantong nya harus tebal, hehehe." ujar Mardi kepada bang Hendra.


"Hahaha, dasar playboy cap kadal lu, Mar!" ledek bang Hendra.


"Siapa dulu dong, Mardi gitu loh, hahaha!" balas Mardi dengan gaya angkuh nya.


"Hahahaha," karena mendengar ucapan Mardi yang kocak, kami semua pun akhirnya tertawa berjamaah.


Setelah selesai berhaha hihi bersama, bang Hendra pun mulai menghentikan mobil nya, di depan gedung hotel yang cukup besar dan tinggi.


"Udah sampai, guys. Ayo kita turun!" seru bang Hendra sambil membuka pintu kendaraan nya, dan melangkah keluar.


"Oke," jawab kedua teman bang Hendra.


Kami semua pun keluar dari mobil, dan mengikuti langkah bang Hendra, untuk masuk ke dalam gedung hotel tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di meja resepsionis, bang Hendra dan teman-teman nya langsung memesan kamar masing-masing.


Setelah mendapatkan kunci kamar dari resepsionis, kami berlima pun mulai menyusuri lorong, dan menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.


Di sepanjang perjalanan menuju kamar, bang Hendra terus saja menggenggam tangan ku dengan erat. Dia sama sekali tidak ingin melepaskan genggaman nya di tangan ku.


"Kalian berdua ini, dari tadi gandengan terus. Kayak mau nyebrang jalan aja, hahaha!" ledek Mardi.


Ririn dan pasangan nya pun langsung tertawa ngakak, mendengar ocehan Mardi.


"Berisik kali kau, kamvret!"


Bang Hendra mengumpat, tanpa menoleh sedikit pun kepada Mardi, yang sedang berjalan di belakang nya.


"Hihihi," Mardi terkikik geli mendengar umpatan bang Hendra.


Sampai di lantai dua, kami mulai berpencar mencari kamar masing-masing. Ririn dan pasangan nya sudah menemukan kamar nya, dan mereka berdua pun langsung masuk ke dalam.


Sedangkan Mardi, dia masih celingukan kesana kemari mencari kamar nya. Tak lama kemudian, dia pun sudah menemukan kamar nya, dan bergegas masuk ke dalam.


Tinggal aku dan bang Hendra saja, yang masih ketinggalan di luar. Kami berdua masih celingak-celinguk mencari kamar, yang sesuai dengan nomor yang tertera di kunci.


"Itu kamar kita, Ndah. Ayo kita kesana!" ujar bang Hendra sambil menunjuk ke arah kiri nya.


"Iya, bang." jawab ku.


Sampai di depan kamar, bang Hendra langsung bergegas membuka pintu nya. Setelah itu, aku segera masuk ke dalam. Lalu, bang Hendra pun langsung mengunci pintu kembali.


Aku mulai melepaskan sepatu, dan meletakkan tas ransel di atas meja yang berada di samping tv.


Kemudian, aku mengambil remote untuk menyetel suhu AC. Sedang fokus mendongak ke atas menatap AC, tiba-tiba aku terlonjak kaget, karena mendapatkan serangan mendadak dari bang Hendra.


Bang Hendra memeluk tubuh ku dari belakang, dan dia juga menempel kan wajah nya di ceruk leher ku, sembari berbisik...


"Abang mencintai mu, Ndah."


Hembusan nafas yang keluar dari mulut dan hidung bang Hendra, mampu membuat bulu kuduk ku meremang. Aku sampai bergidik, akibat ulah nya tersebut.


"Apakah kamu juga mempunyai perasaan yang sama seperti abang, Ndah?" tanya bang Hendra sambil mengecupi tengkuk leher ku.


"Hhmmm, maaf ya, bang. Aku gak bisa jawab sekarang. Biar lah waktu yang akan menjawab nya." balas ku.


"Baik lah, sayang. Abang akan sabar menunggu jawaban mu." ujar bang Hendra.


Bang Hendra memutar badan ku, untuk berhadapan dengan nya. Lalu, dia menatap wajah ku dengan tatapan sayu.

__ADS_1


"Bolehkah abang melakukan nya sekarang, sayang?" tanya bang Hendra.


__ADS_2