Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Urusan Resign Selesai


__ADS_3

Sesudah berbincang dengan Billy, Ririn pun datang menghampiri ku dan mengajak ku untuk duduk di bangku panjang, dan bergabung dengan teman-teman lain nya.


"Yok kita keluar, Ndah! Gerah badan ku lama-lama dekat sama si jomblo akut ini," cibir Ririn melirik ke arah Billy dengan tatapan sinis.


Mendengar nama nya di sebut, Billy pun langsung menoleh dan membalas tatapan Ririn dengan mata elang nya.


"Heh heh heh, aku lempar pake botol ini nanti, baru tau!" oceh Billy sembari memegang botol minuman yang ada di sebelah nya.


"Waduhhh, jomblo akut nya ngamuk tuh, Ndah. Kabooorrr!" ujar Ririn sambil terus menarik tangan ku ke luar dari ruangan karaoke.


Aku tidak menanggapi celotehan mereka berdua. Aku hanya tersenyum kecut, dan turut mengekori langkah Ririn dari belakang. Sampai di bangku panjang, aku dan Ririn pun duduk berdampingan lalu menyalakan rokok masing-masing.


Setelah beberapa kali menghisap rokok, aku pun celingukan kesana kemari untuk mencari keberadaan sang kapten waiters yaitu Lisa.


"Heh, lampir! Kau lagi nyariin siapa?" tanya Ririn saat melihat ku mengedarkan pandangan.


"Nyariin Lisa," jawab ku.


"Ooohhh, Lisa toh. Tuh dia, lagi makan di kantin," ujar Ririn menunjuk ke arah kantin yang berada tepat di depan tempat duduk kami.


Aku pun mengikuti arah telunjuk Ririn, dan segera bangkit dari bangku. Saat hendak melangkah, tiba-tiba Ririn mencengkram tangan ku dan bertanya...


"Mau kemana?" tanya nya.


"Jumpain Lisa," jawab ku.


"Mau ngapain jumpain dia?" tanya Ririn lagi.


"Ck, banyak kali pun pertanyaan mu. Udah kayak emak-emak rempong aja," gerutu ku kesal.


Aku melepaskan cengkraman tangan Ririn dan mengajak nya untuk makan di kantin.


"Makan, yok! Perut ku lapar nih," seru ku.


"Woke, tapi kau yang traktir ya? Aku lagi bokek soal nya, hehehe," balas Ririn sembari nyengir kuda.


"Iya, baweeel. Udah ah, gak usah cengar-cengir mulu. Yok, kita kesana!" ujar ku menunjuk ke arah kantin dengan dagu ku.


"Oke siap, bos!" jawab Ririn.


Kami berdua berjalan beriringan menuju kantin, dan duduk satu meja dengan Lisa yang sedang sendirian menyantap makanan nya.


"Boleh kami gabung di sini, Lis?" tanya ku.


"Boleh, silahkan aja!" jawab Lisa.


"Oke," jawab ku.


Aku dan Ririn pun duduk berdampingan di depan Lisa. Setelah itu, aku pun memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Mbak e, sini!" panggil ku melambaikan tangan ke arah wanita paruh baya tersebut.


"Oke, tunggu bentar, kak!" jawab nya.


Tak lama kemudian, pelayan itu pun datang menghampiri meja kami dan berdiri di samping ku.


"Mau pesan apa, kak?" tanya nya.


"Bentar, mbak. Aku tanya teman ku dulu," jawab ku.


Lalu aku pun menoleh pada Ririn yang sedang celingak-celinguk, memandangi orang-orang yang sedang asyik menyantap makanan nya masing-masing.


"Heh, gombreng! Kita makan apa nih?" tanya ku menepuk bahu nya.


"Pecel lele sama es teh," jawab Ririn.


"Oke," balas ku.


Kemudian aku pun kembali menoleh pada pelayan kantin, dan berkata...


"Pecel lele nya dua porsi, mbak. Trus, es teh nya dua juga ya!" ujar ku.


"Oke, di tunggu ya, kak!" jawab nya.


"Ya," balas ku.


Setelah itu, sang pelayan pun kembali ke dapur nya untuk menyiapkan pesanan ku. Kemudian, aku pun menatap Lisa yang tampak sudah menyelesaikan santap malam nya.

__ADS_1


"Lis, mulai malam ini aku mau resign," tutur ku membuka percakapan.


Mendengar penuturan ku, mata Lisa pun langsung terbelalak seketika. Ia tampak sangat terkejut dengan keputusan ku itu.


"Hah, serius? Emang kenapa? Kok tiba-tiba mau resign? Apa ada masalah dengan kerjaan mu disini?" tanya Lisa.


"Nggak ada masalah apa-apa kok. Dalam waktu dekat ini, aku ingin menikah. Maka nya aku mau resign sekarang," jelas ku memberikan jawaban yang sama seperti yang aku katakan kepada Billy.


"Oooohh, gitu. Kirain mau resign karena ada masalah disini," tutur Lisa.


"Nggak lah," balas ku.


Setelah mencuci tangan dan membersihkan bibir nya dengan tisu, Lisa pun kembali melontarkan pertanyaan nya pada ku.


"Kau udah ngomong sama Mas bos belum, tentang masalah ini?" tanya Lisa.


"Belum, ini lah maksud nya aku mau ngomong. Tapi Mas bos nya lagi keluar," jawab ku.


"Iya sih, tadi Mas bos keluar sama keluarga nya. Mungkin mereka pergi ke kondangan, soal nya pakaiannya rapi semua," tebak Lisa.


"Hmmmm, bisa jadi sih," lanjut ku sembari manggut-manggut membenarkan ucapan Lisa.


Ririn yang sedari tadi diam pun, mulai ikut mengeluarkan suara cempreng nya.


"Emang nikah nya kapan, Ndah?" tanya Ririn tanpa menoleh, dan tetap fokus menatap layar ponsel nya.


"Belum tau juga sih, karena kami mau ngurus surat-surat nya dulu. Kalau sudah selesai, baru nanti di tentukan tanggal dan hari nya," jawab ku.


"Oohhh, trus acara nya pesta nya dimana?" tanya Ririn lagi.


"Gak ada pesta-pestaan. Kami ini kan duda dan janda, cukup buat syukuran kecil-kecilan aja. Bukan kayak pernikahan gadis dan bujang, yang harus pesta besar-besaran," jelas ku.


"Hmmmm, iya juga sih. Lagian sayang juga uang nya. Lebih baik di tabung aja uang nya, dari pada di hambur-hamburin gitu. Ya kan, bener gak?" oceh Ririn.


"Yupz, betul sekaleee," jawab ku dan Lisa serempak.


Setelah percakapan selesai, kami bertiga pun kembali terdiam dan mulai sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Kira-kira Mas bos masih lama gak, Lis?" tanya ku kembali bersuara.


"Iya," bohong ku.


Aku sengaja berbohong, agar tidak berlama-lama di tempat karaoke itu. Karena aku tidak ingin bertemu dengan para tamu yang pernah aku temani minum, dan juga aku temani ke hotel. Termasuk bang Hendra, Alex, dan Haris.


"Ya udah, gak papa. Nanti biar aku saja yang sampaikan ke Mas bos, kalau kau mau resign," tutur Lisa.


Aku langsung tersenyum lebar mendengar ucapan Lisa yang sesuai dengan harapan ku.


"Oke, makasih banyak ya, Lis. Kau memang kapten yang terdebest lah pokoke, hehehehe!" canda ku sembari mengacungkan jempol pada nya.


"Helehh, lebay. Kalau ada mau nya ya gitu itu, manis kali muncung nya. Coba kalau nggak ada mau nya, cuek-cuek aja kayak nggak pernah kenal," cibir Lisa memanyunkan bibir nya.


"Hehehehe, maklum lah, bestie. Kau kan tau sendiri sifat ku selama ini gimana? Aku kan dari dulu memang agak tertutup orang nya," jelas ku sembari cengar-cengir salah tingkah.


"Iya, Lis. Maklum aja lah, sama lampir gila satu ini. Soal nya, dia kan agak gini orang nya," sambung Ririn sambil menempelkan jari telunjuk di kening nya dengan posisi miring.


Melihat kode yang di berikan Ririn, tawa Lisa pun langsung pecah seketika. Ia tampak terhibur dengan tingkah nyeleneh Ririn barusan.


Sedangkan Ririn, ia hanya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal, sambil sesekali melirik ke arah ku dengan ekor mata nya. Aku hanya acuh dan tidak merespon apapun ledekan nya tersebut.


Setelah selesai dengan tawa nya, Lisa pun pamit dan kembali bergabung dengan teman-teman waiters lain nya.


"Oke lah kalo gitu, aku balek ke sana dulu ya! Jangan lupa undangan nya. Ingat kami-kami ini, kalau lagi makan enak. Oke, bye!" pamit Lisa sembari melambaikan tangan nya.


"Iya, tenang aja. Kalian semua pasti aku undang kok," jawab ku tersenyum lebar dan membalas lambaian tangan nya.


Setelah kepergian Lisa, makanan yang aku pesan pun tiba dan tertata rapi di atas meja.


"Heh, sundel! Makanan mu aku kasih kucing aja ya?" canda ku saat melihat Ririn yang masih tampak asyik dengan ponsel nya.


"Eh eh eh, enak aja mau kasih kucing. Aku juga mau keles," omel Ririn lalu menghentikan game nya, dan menyimpan ponsel butut nya di saku celana.


"Oooohhh, kirain tadi nggak mau, hihihi," canda ku sembari cekikikan.


Ririn hanya memanyunkan bibir nya menanggapi candaan receh ku. Setelah itu, kami berdua pun mulai menyantap makanan lezat itu dengan lahap dan hening, tanpa perbincangan apa pun lagi. Selesai makan, aku segera membayar tagihan nya dan pamit pulang pada Ririn.


"Rin, aku balek duluan ya," ujar ku.

__ADS_1


"Loh, kok cepat kali sih?" tanya Ririn heran.


"Iya, soal nya ada bang Rian di kos. Kasian dia sendirian di sana," jawab ku.


"Ooohhh, ya udah deh. Hati-hati ya, salam buat si ganteng," balas Ririn.


"Oke," jawab ku lalu beranjak dari kursi, dan berjalan menuju kos tempat tinggal ku.


Setibanya di depan kamar, aku pun langsung mengetuk pintu dan memanggil-manggil bang Rian.


Tok tok tok...


"Bang, buka pintu nya! Ratu agung udah pulang nih!" pekik ku kuat.


"Ya, bentar!" jawab bang Rian.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar, dan nampak lah bang Rian yang sedang berdiri tegak di depan ku, hanya dengan menggunakan handuk pendek yang melilit di pinggang nya.


Glek...


Aku menelan ludah dengan kasar, karena terpesona dengan keindahan tubuh nya yang terpampang jelas di depan mata ku. Melihat reaksi ku yang mematung di tempat, bang Rian pun melambai-lambai kan tangan nya ke depan wajah ku, dan berkata...


"Heh, sayang! Kok malah bengong gitu sih? Ayo masuk, ntar di lihat orang nggak enak loh!" seru bang Rian.


"Eh, iya," balas ku langsung tersadar, dan melangkah masuk ke dalam kamar.


Setelah mengunci pintu, bang Rian pun membuka handuk nya dan duduk di tepi kasur. Aku kembali melongo saat melihat penampilan nya, yang hanya menggunakan celana pendek dan super ketat.


Hingga terlihat sangat jelas, tonjolan yang cukup besar di balik celana pendek tersebut. Lagi-lagi, aku terpana melihat pemandangan yang sangat menggiurkan di depan mata ku.


"Udah, nggak usah di lihatin terus! Entar ngences loh!" sindir bang Rian sembari tersenyum miring.


"Bukan entar lagi, sekarang aja aku udah ngences lihat nya," balas ku dengan tidak tahu malu nya.


"Apa kamu mau merasakan nya lagi ya?" tanya bang Rian.


Aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan ku, dari tombak keras yang ada di balik celana nya. Tombak itu seakan-akan sedang melambai-lambai padaku, dan ingin segera keluar dari sarang nya.


Melihat anggukan ku, bang Rian pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


"Baik lah, abang akan turuti keinginan mu itu," ujar bang Rian dengan senyum menyeringai di wajah tampan nya.


Ia langsung bangkit dari duduknya, dan mengangkat tubuh ku ke atas kasur. Bang Rian menciumi bibir dan seluruh wajah ku dengan rakus, hingga membuat ku semakin tidak terkendali.


Kedua tangan nya pun tidak tinggal diam. Ia menempel kan telapak tangan nya di benda kenyal ku dan memilin-milin ujung nya. Setelah puas menciumi bibir, wajah, dan leher ku, bang Rian pun melanjutkan kegiatan nya ke bagian dada ku.


Ia menyantap dua benda kenyal ku dengan lahap dan ganas. Dan itu membuat ku semakin menggeliat-geliat tidak karuan, akibat menahan rasa geli dan nikmat yang bercampur aduk jadi satu.


Selesai dengan cumbuan nya, bang Rian pun mulai memposisikan tombak kenikmatan nya tepat di depan gua ku.


Setelah di rasa sudah tepat sasaran, ia pun langsung menghentakkan nya dan, "bless" tombak itu pun masuk dengan sempurna ke dalam gua merah muda ku.


"Aaakkkhhh," pekik ku saat merasakan gua ku terasa penuh dan sesak, akibat benda besar dan keras yang masuk ke dalam nya.


Setelah itu, bang Rian pun mulai melakukan permainan nya dengan semangat menggebu-gebu. Ia terus memacu gerakan cepat nya dengan nafas memburu, dan keringat yang mulai bercucuran di sekujur tubuh nya.


Seperti biasa, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan suara-suara indah, sambil menikmati hasil kerja keras nya dalam melakukan permainan panas nan nikmat tersebut.


Setelah berpacu selama kurang lebih dua jam, bang Rian pun semakin mempercepat gerakan nya. Hingga akhirnya, kami berdua pun memuncak dan memuntahkan cairan masing-masing.


"Makasih ya, sayang," ucap bang Rian lalu mengecup kening ku dan menjatuhkan tubuh lelah nya di samping ku.


"Ya," jawab ku dengan senyum sumringah, dan nafas yang masih naik turun tidak karuan.


Setelah permainan panas nan nikmat itu berakhir, kami berdua pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing. Setelah selesai, aku dan bang Rian pun kembali merebahkan diri di atas kasur dengan posisi telentang.


"Gimana tentang pekerjaan mu tadi, sayang? Sudah selesai belum?" tanya bang Rian.


"Sudah, tadi aku sudah bilang sama Lisa, nanti dia yang akan menyampaikan pengajuan resign ku pada Mas bos," jelas ku.


"Ohhh, syukur lah kalo gitu," balas bang Rian lega.


"Bang, bobok yok! Mata ku udah ngantuk nih," ujar ku sembari mengucek-ngucek mata yang sudah terasa berat dan redup, seperti lampu lima watt.


"Oke," jawab bang Rian lalu menyelimuti tubuh kami berdua, dan membawaku ke dalam dekapan nya.


Aku dan bang Rian pun mulai memejamkan mata. Tak lama berselang, kami berdua pun tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing. Dengan posisi saling berpelukan di bawah selimut tebal, dan keadaan sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


__ADS_2