
Setibanya di depan gerbang kos, aku dan bang Rian keluar dari mobil, lalu berjalan beriringan masuk ke dalam kos-kosan berlantai empat tersebut.
Setelah menyusuri lorong yang cukup panjang, kami berdua pun tiba di depan kamar ku. Aku segera merogoh tas untuk mengambil kunci, lalu membuka pintu.
Setelah pintu terbuka lebar, aku dan bang Rian melangkah masuk sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," salam bang Rian.
"Wa'laikum salam," sahut ku lalu menutup pintu kembali dan mengunci nya.
Sesudah meletakkan tas di atas meja, aku pun mengajak bang Rian untuk duduk di tepi kasur.
"Ayo, duduk sini, bang!" seru ku sembari mendudukkan diri.
"Ya," balas bang Rian lalu duduk di sebelah ku.
Bang Rian mengambil dompet dari saku celana nya, lalu mengeluarkan uang merah yang cukup tebal. Kemudian dia menyerahkan uang itu kepada ku, sembari berkata...
"Abang gak bisa lama-lama disini, Ndah. Soalnya abang mau ngecek toko dulu. Ini uang belanja mu. Kalau kamu butuh sesuatu, hubungin abang ya!" ujar bang Rian.
"Oke, makasih banyak ya, bang." balas ku lalu menerima uang itu, dan menyimpan di dalam saku celana ku.
"Ya udah, abang pamit ya. Kalau ada waktu luang, nanti abang datang lagi." ujar bang Rian.
Kami berdua sama-sama bangkit dari tepi kasur, lalu berdiri berhadap-hadapan. Bang Rian memeluk tubuh ku, dan mendarat kan kecupan-kecupan mesra nya di seluruh wajah ku.
"Iya, hati-hati di jalan ya, bang." ujar ku lalu membalas pelukan hangat nya dan mengecup kilat bibir nya.
"Ya, sayang." balas bang Rian dengan wajah berbinar, dan senyum yang mengembang.
Selesai berpamitan, bang Rian pun melangkah keluar dari kamar, dan berlalu pergi meninggalkan ku, yang masih terpaku di depan pintu menatap kepergian nya.
Setelah bayangan bang Rian hilang dari pandangan, tiba-tiba mata ku menangkap sosok wanita yang sangat ku kenal. Dia sudah tampak rapi dengan gaun merah menyala, dan tas selempang yang tergantung di bahu nya.
Visual : Ririn
Usia 25 tahun
Pekerjaan : Waiters karaoke
"Lah, itu kan Ririn. Mau kemana dia? Kok udah rapi aja tuh bocah gendeng?" batin ku mulai kepo dengan sahabat karib ku tersebut.
__ADS_1
"Woy, kamvret! Mau kemana kau?" pekik ku sembari bersidekap dan menyandarkan bahu di pintu.
Mendengar suara cempreng ku, Ririn pun langsung menoleh dan menyipitkan mata nya. Dia tampak sedikit kebingungan dengan keberadaan ku, yang sudah tinggal satu kos dengan nya.
Setelah mengunci pintu kamar nya, Ririn pun datang menghampiri ku dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, dan wajah aneh nya.
Bukan nya menjawab pertanyaan ku, Ririn malah balik bertanya pada ku.
"Loh, ngapain kau disini? Ini kamar siapa?"
Selidik Ririn sembari celingukan, dan memanjangkan leher nya untuk melihat ke dalam kamar ku.
"Ya, kamar ku lah. Kau pikir aku maling, main masuk gitu aja ke kamar orang?" jawab ku ketus.
Mendengar jawaban ku, Ririn pun semakin menajamkan tatapan mata nya pada ku. Dia juga menautkan kedua alisnya, lalu kembali bertanya pada ku.
"Serius?" selidik Ririn tidak percaya.
"Ya serius lah, dodol. Kau pikir aku ini tuti (tukang tipu) apa?" jawab ku masih ketus.
"Hehehe, siapa tau aja kau bohong." balas Ririn cengar-cengir salah tingkah.
"Ya enggak lah, untuk apa juga aku bohong? Gak ada guna nya juga." balas ku lagi.
Aku memandangi penampilan Ririn dari atas sampai bawah, dengan tatapan menyelidik. Karena merasa di perhatikan, Ririn pun menepuk bahu ku, lalu bertanya...
"Heh, lampir. Ngapain kau mandangin aku kayak gitu? Kenapa, aku cantik ya?" tanya Ririn sembari tersenyum centil, dan berputar-putar di depan ku, persis seperti penari balet.
"Yeeee, pede amat sih mak kunti satu ini. Siapa juga yang bilang kau cantik? Aku tuh cuma pengen tau aja, mau keluyuran kemana kau pagi-pagi buta gini?" selidik ku penasaran.
"Hahahaha, emak-emak rempong mulai kepo kayak nya nih." balas Ririn dengan tawa meledek.
Ririn tampak sengaja menggoda ku, agar aku semakin penasaran dengan gelagat aneh nya tersebut. Dengan hati yang mulai dongkol, aku pun kembali menjawab ucapan nya.
"Ya, aku memang kepo. Kenapa rupanya, hah? Kalau aku gak kepo, ngapain juga aku nanya sama mu, kamvreeet!" umpat ku kesal lalu menoyor jidat Ririn.
"Eits, selow lah tangan nya itu." ujar Ririn sembari mengelak, dan sedikit menjauhkan diri dari ku.
"Ngomong sih ngomong, tapi tangan nya jangan ikut main juga lah. Rusak nanti dandanan ku." oceh Ririn dengan bibir mengerucut.
Halah, dandanan kayak hantu aja sok kali. Bukan nya tambah cantik, malah tambah serem tau gak." cibir ku.
"Biarin, week. Sirik aja lu." balas Ririn menjulurkan lidah nya pada ku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum miring, melihat tingkah kocak sahabat gila ku tersebut. Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, kami berdua pun terdiam seketika. Aku dan Ririn sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing.
Setelah beberapa saat hening, akhirnya Ririn pun kembali membuka percakapan. Dia mempertanyakan perihal hubungan ku dengan Haris.
"By the way, gimana hubungan mu dengan pacar mu itu, Ndah? Apa kalian lagi ada masalah ya?" tebak Ririn.
Kening ku langsung mengkerut, saat mendengar penuturan Ririn. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa Ririn tiba-tiba bisa berpikiran seperti itu tentang hubungan kami berdua.
"Emang nya kenapa? Kok nanya nya gitu?" tanya ku balik.
Ririn menghela nafas panjang. Dia terlihat sedikit kebingungan, karena mendapat pertanyaan seperti itu dari ku.
"Hufff, sudah ku duga. Pasti kalian lagi bermasalah, iya kan?" selidik Ririn.
"Iya, kok bisa tau sih? Emang siapa yang ngomong sama mu, Haris ya?" tanya ku penasaran.
Ririn menghela nafas kembali, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Dia tampak tidak enak hati, untuk menyampaikan nya pada ku.
"Bang Haris gak ada ngomong apa-apa. Cuma..." Ririn menggantung kata-kata nya.
"Cuma apa? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan bertele-tele kayak gitu. Bikin tensi ku naik aja nih bocah." umpat ku semakin kesal.
"Iya iya, cerewet kali sih lampir satu ini." balas Ririn tak mau kalah.
"Tapi janji ya, kau jangan marah setelah mendengar kata-kata ku nanti." ujar Ririn memperingati ku.
"Iya, aku janji. Cepetan ngomong, ada apa sebenarnya?" desak ku.
Melihat ketidak sabaran ku, akhirnya Ririn pun mengatakan tentang penglihatan nya terhadap Haris semalam.
"Bang Haris semalam minum di tempat kita, Ndah. Tapi...tapi dia bawa cewek. Mereka berdua nampak mesra banget, kayak orang pacaran gitu." tutur Ririn.
"Oooohhh, itu toh. Kirain tadi apaan." balas ku dengan santai dan tenang, seperti tidak terjadi apa-apa.
Ririn langsung mengernyitkan dahi nya. Dia memegangi kedua bahu ku, lalu memandang ku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kau sehat-sehat aja kan, Ndah?" tanya Ririn.
Ririn menempel kan punggung tangan nya di kening ku, dan menepuk-nepuk pelan kedua pipi ku.
"Heh heh heh, kalo ngomong sama orang tua itu yang sopan. Jangan sembarangan pegang-pegang muka orang kayak gini." omel ku ketus.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Ririn, aku pun langsung menepis tangan-tangan jahil nya, dan mendorong pelan badan nya. Agar sedikit menjauh dari ku. Bukan nya marah, Ririn malah cengengesan mendengar ocehan ku tersebut.
__ADS_1
"Iya iya, bawel amat sih, mak." ledek Ririn.