Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Pegal dan Kram


__ADS_3

Selesai bergosip ria tentang Andre, aku dan bang Rian segera keluar dari gerbang, dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Setelah memasang sealbeat ke badan masing-masing, bang Rian pun mulai menyalakan mesin mobil nya, dan pergi meninggalkan halaman kos, tempat tinggal baru ku tersebut.


Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tiba di depan gedung hotel tempat kami menginap. Selesai memarkirkan mobil, aku dan bang Rian segera keluar, lalu berjalan menuju pintu utama hotel dengan bergandengan tangan.


Setelah menapaki beberapa anak tangga, kami berdua pun tiba di depan kamar. Bang Rian melepas genggaman tangan nya pada ku, lalu merogoh saku celana nya untuk mengambil kunci.


Sesudah mendapatkan nya, bang Rian langsung membuka pintu dan kembali menggenggam tangan ku. Dia membawaku masuk ke dalam, lalu mengunci pintu kembali.


"Abang mau mandi gak?" tanya ku.


Aku mulai membuka satu persatu pakaian ku, sampai habis tak bersisa. Kemudian mengambil handuk yang tergantung di samping pintu kamar mandi, dan melilitkan nya ke badan ku.


"Ya mandi dong, sayang. Kalau abang gak mandi, entar kamu gak mau peluk abang, gara-gara badan abang bau acem." jawab bang Rian sembari mengendus ketiak nya sendiri.


"Hahaha, udah filing dia rupanya." gelak ku.


"Ya iya lah, siapa juga yang mau deket-deket sama orang bau? Abang juga ogah, kalau meluk orang yang belum mandi." oceh bang Rian.


"Nah, tu tau. Ya udah, gak usah merepet terus muncung nya. Yok, kita mandi bareng!" ajak ku.


Aku melangkah masuk ke kamar mandi, tanpa menghiraukan bang Rian yang masih berdiri di samping ranjang.


"Loh, kok abang di tinggal sih, Ndah?" gerutu bang Rian.


"Bodo, siapa suruh dari tadi merepet terus kayak sepur." balas ku cuek.


"Sepur? Hewan apaan tuh?" tanya bang Rian bingung.


"Kereta api loh, bambaaaang! Masa gitu aja gak ngerti sih." balas ku kesal.


"Oooohhh, kirain sejenis hewan, hehehe." ujar bang Rian menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Udah ah, nanya mulu dari tadi. Capek aku jawab nya." omel ku ketus.


"Iya iya, cerewet kali sih nyonya meneer satu ini." oceh bang Rian.


Bang Rian mulai mempereteli pakaian nya sampai polos, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Sedang asyik membasahi diri di bawah guyuran shower, tiba-tiba bang Rian memeluk ku dari belakang, hingga membuat ku terkejut tidak karuan.


"Astaga, kaget aku." gerutu ku kesal.

__ADS_1


"Maaf sayang, abang khilaf. Hehehe," ujar bang Rian lalu menempelkan bibir nya di ceruk leher ku.


"Eh eh eh, abang mau ngapain? Kok nempel-nempel gitu? Udah kayak anak nyet aja." tanya ku pura-pura tidak tahu.


Bukan nya menjawab, bang Rian malah semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya. Dia mulai menjalar kan jari-jari nakal di tubuh ku, hingga membuat ku bergidik ngeri karena kegelian.


"Sembarangan, bilangin orang anak nyet. Mau minta di hukum ya?" tanya bang Rian dan kembali melanjutkan kegiatan nya di leher ku.


"Emang mau di kasih hukuman apa? Kalau yang enak-enak sih aku mau. Tapi kalau yang berat-berat mah ogah." tanya ku penasaran.


"Ya pasti yang enak-enak lah, sayang. Mana mungkin abang menghukum mu yang berat-berat." jawab bang Rian dengan suara serak, akibat di selimuti oleh gairah nya sendiri.


"Iya, tapi apa?" tanya ku lagi.


"Ini," jawab bang Rian lalu memegang tangan ku, dan meletakkan nya ke tongkat pusaka nya.


"Hah, apa ini? Kok keras banget?" pekik ku dengan mata membulat.


"Itu mainan kesayangan mu, sayang. Masa kamu lupa sih, sama mainan sendiri." goda bang Rian dengan senyum menyeringai di bibir nya.


Bang Rian terus saja menggoda ku dengan perbuatan-perbuatan nakal nya. Dia berusaha memancing ku, agar aku mau menuruti keinginan nya.


"Bukan nya lupa, bang. Aku cuma kaget aja, belum di apa-apain kok udah keras gini." balas ku sembari mengelus-elus dengan lembut, mainan kesayangan ku tersebut.


Aku menggigit bibir bawah ku, sambil terus memegangi mainan ku itu. Karena sudah mulai bergairah akibat perbuatan bang Rian, akhirnya aku pun memutar posisi untuk menghadap pada nya.


"Good, anak pintar. Tau aja apa yang abang inginkan, hehehe." ujar bang Rian sembari cengar-cengir melihat perbuatan ku pada nya.


Aku tidak menghiraukan ucapan bang Rian, yang sedari tadi masih setia dengan senyam-senyum tak jelas nya tersebut. Aku tetap melanjutkan kegiatan ku dengan serius dan telaten.


Hingga pada akhirnya, bang Rian pun memuncak dan mengeluarkan cairan kental nya di dalam mulut ku. Setelah menelan habis pemberian bang Rian, aku pun langsung berdiri di hadapan nya, lalu bertanya...


"Udah puas kan?" tanya ku sembari tersenyum miring.


"Ya belum lah, sayang. Itu kan baru permulaan nya aja, yang ini baru permainan aslinya."


Jawab bang Rian, lalu membalikkan badan ku untuk membelakangi nya, dan menghentakkan mainan ku itu ke dalam milik ku. Bang Rian mulai memacu gerakan nya dengan kecepatan tinggi, di bawah guyuran air shower yang hangat.


Dengan posisi berdiri dan berpegangan dinding, aku pun mulai memejamkan mata dan menikmati hasil kerja keras bang Rian. Suara-suara indah nan merdu dari mulut ku pun, mulai menggema di kamar mandi hotel tersebut.


Ritual mandi yang seharusnya hanya memakan waktu sekitar sepuluh menitan, kini menjadi berjam-jam karena ulah nakal bang Rian.


Setelah melakukan kegiatan nya selama hampir dua jam, bang Rian pun kembali memuncak dan menyudahi aksinya, dengan nafas yang naik turun tidak karuan.

__ADS_1


"Huh, akhirnya selesai juga." gumam ku lega.


Aku menghela nafas panjang, saat mengetahui bang Rian sudah menyelesaikan permainan nya. Rasa nya aku sudah tidak sanggup lagi, untuk menahan kaki dan lutut yang sudah terasa pegal dan sedikit kram, akibat perbuatan bang Rian.


"Capek ya, sayang?" tanya bang Rian setelah mendengar gumaman ku barusan.


"Kalau capek sih enggak, cuma kaki sama lutut ku aja yang pegel." jawab ku sembari meringis memegangi kedua lutut ku.


"Aduuuh, kasian nya wanita ku ini. Ya udah, siap mandi nanti, abang pijatin ya kaki nya." ujar bang Rian menatap iba pada ku.


"Iya," jawab ku lirih.


Selesai berbincang-bincang, aku dan bang Rian pun melanjutkan acara mandi yang sempat tertunda tadi. Setelah selesai, bang Rian pun kembali mengangkat tubuh ku, dan meletakkan nya secara perlahan di atas ranjang.


Hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya, bang Rian menarik kedua kaki ku, dan meletakkan nya di atas pangkuan nya.


Dia mulai memijat-mijat paha, lutut, dan juga betis ku dengan lembut dan hati-hati. Sedangkan aku, aku hanya terdiam sambil terus menatap roti sobek, yang sangat indah dan juga sangat menggiurkan, yang ada di depan ku saat ini.



"Gak usah di pandangi terus, sayang. Entar ngences loh, hihihi."


Ledek bang Rian sembari cekikikan, saat melihat ekspresi wajah ku yang tampak terpesona, dengan keindahan tubuh nya.


Mendengar ledekan bang Rian, aku pun langsung tersadar, dan memalingkan wajah ku ke samping. Aku merasa sangat malu, karena sudah tertangkap basah oleh si empunya badan.


"Yeeee, siapa juga yang mandangin abang? Narsis amat sih jadi orang." cibir ku dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.


"Halah, gak usah ngeles deh! Abang tau kok, kalau mata mu nengokin badan abang terus dari tadi. Ya kan, hayo ngaku!" lanjut bang Rian dengan senyum genit nya.


"Gak lah, mana ada aku nengokin abang. Perasaan abang aja kali tuh." balas ku tetap kekeuh menolak tuduhan nya.


Bang Rian hanya tersenyum menanggapi ocehan receh ku barusan. Dia seakan-akan tahu, kalau aku sangat malu karena sudah ketahuan oleh nya.


Agar tidak membahas masalah itu lagi, aku pun mengalihkan pembicaraan dan membahas masalah lain.


"By the way, abang besok kerja gak?" tanya ku basa-basi.


Mendapat pertanyaan dari ku, bang Rian langsung menghentikan pijatan nya dan berbalik menanyaiku.


"Emang kenapa?" tanya bang Rian sembari menautkan kedua alisnya.


"Ya... Gak papa sih, cuma pengen tau aja." jawab ku.

__ADS_1


Aku berpura-pura cuek dan acuh di depan bang Rian. Padahal di hati sudah dag-dig-dug tidak karuan, akibat menatap mata indah nya tersebut.


"Duuuh, ini orang kok ganteng banget sih, bikin nyut-nyutan aja." gerutu ku dalam hati.


__ADS_2