Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
I love you


__ADS_3

Setelah kepergian bang Hendra, aku mengambil ponsel dari dalam tas. Kemudian aku duduk di pinggir ranjang, dan segera mengaktifkan ponsel.


Saat ponsel sudah menyala, ada beberapa pesan masuk dari Haris. Aku mulai membaca satu persatu pesan itu, dengan hati yang gelisah dan berdebar-debar.


"Udah pulang belum, Ndah? Kenapa ponsel mu jarang aktif, selama di nginap di kos Ririn? Apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan, Ndah? Kalau kamu sudah membaca pesan dari abang, tolong di balas secepatnya ya, Ndah!"


Itu lah pesan yang di kirim kan oleh Haris pada ku. Setelah membaca semua pesan Haris, aku pun segera menonaktifkan ponsel kembali, dan menyimpan nya ke dalam tas.


"Gak usah di balas sekarang lah, nanti aja balas nya kalo udah di kos." gumam ku.


Sambil menunggu bang Hendra datang, aku berdiri di depan kaca meja rias, lalu memoles wajah dengan bedak padat dan lipstik. Setelah itu, aku menyemprot kan sedikit parfum ke seluruh badan ku.


Setelah selesai berdandan, tak lama berselang bang Hendra pun muncul dengan membawa beberapa bungkusan di tangan nya.


"Wah, cantik nya wanita ku ini."


Bang Hendra memuji, sembari meletakkan bungkusan yang di bawa nya ke atas meja.


"Wangi banget kamu, Ndah. Abang jadi ingin menerkam mu lagi."


Bang Hendra berbisik, sembari memeluk ku dari belakang. Dia mulai mengecupi leher dan juga bahu ku, dengan nafas yang memburu.


Mendapat perlakuan seperti itu, aku pun langsung melepaskan pelukan nya. Lalu, aku memutar badan untuk menghadap pada bang Hendra.


"Aku udah lapar, bang. Kita makan, yok! Nanti aja kalo mau nerkam lagi, sekarang kita makan dulu." balas ku.


"Oke, sayang. Tapi beneran ya, nanti kita main lagi!" jawab bang Hendra.


"Iyaaaa," balas ku sembari tersenyum manis pada nya.


"Aduuuuh, senyum mu itu loh, Ndah. Bikin abang merinding aja." ucap bang Hendra.


"Kok malah merinding sih? Emang nya aku demit ya, bisa bikin abang merinding? Aneh-aneh aja." balas ku.


"Bisa jadi, Ndah. Soal nya kalo abang dekat-dekat dengan mu, bawaan nya merinding terus, hehehe." jawab bang Hendra.


"Edan, hahaha." balas ku sembari tertawa lepas.


Setelah bercanda ria bersama, aku dan bang Hendra duduk berhadapan di atas kursi. Kemudian, kami berdua pun mulai menyantap makanan yang di bawa bang Hendra tadi.


Selesai makan, aku dan bang Hendra menyala kan rokok masing-masing. Bang Hendra terus saja memperhatikan gerak-gerik ku, yang sedang fokus menghisap rokok di depan nya.


"Gak usah di lihatin terus, bang! Ntar abang jatuh cinta beneran loh, sama aku." ledek ku.


Aku tersenyum miring melihat bang Hendra, yang sedari tadi tampak asyik memandangi wajah ku.


"Bukan ntar lagi, Ndah. Saat ini aja, abang udah jatuh cinta dengan mu, sayang." jawab bang Hendra dengan raut wajah yang serius.


"HAH, serius?" pekik ku dengan mata yang membulat sempurna.


"Iya, abang serius, sayang." jawab bang Hendra.


"Waduhhh, padahal niat nya tadi cuma ingin bercanda aja, kok malah jadi beneran gini sih." gerutu ku dalam hati.


Melihat reaksi ku yang diam membisu, bang Hendra pun langsung beranjak dari tempat duduk nya. Dia menarik satu tangan ku, dan mengajak ku untuk duduk di atas ranjang. Aku hanya menurut dan mengikuti langkah nya.


Setelah naik ke atas ranjang, bang Hendra duduk selonjoran di belakang ku. Setelah itu, bang Hendra menempel kan badan nya di punggung ku. Kemudian, dia meletakkan dagu nya di bahu kiri ku, sembari bertanya...


"Kenapa, Ndah? Kok malah diem. Emang nya salah ya, kalau abang jatuh cinta dengan mu?" tanya bang Hendra.


"Ya gak salah sih, bang. Setiap orang berhak mencintai atau pun di cintai. Tapi..."


Aku menjeda ucapan ku, aku bingung harus ngomong apa lagi dengan bang Hendra.


"Tapi apa, Ndah?" desak bang Hendra.


"Masih ada satu hati yang harus aku jaga, bang." jawab ku lirih.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban ku, bang Hendra tampak sangat kecewa. Dia menghembuskan nafas kasar, dan mengangkat dagu nya dari bahu ku.


Kemudian, bang Hendra menjatuhkan tubuh nya ke belakang, masih dengan posisi kedua kaki nya di sisi kanan dan kiri ku.


Melihat bang Hendra sudah telentang di belakang ku, aku pun ikut membaringkan diri ke belakang, dan posisi kepala ku tepat berada di atas perut bang Hendra.


Suasana berubah menjadi hening dan mencekam seketika. Tidak ada perbincangan apa pun lagi di antara kami berdua.


Karena merasa tidak enak hati dengan bang Hendra. Akhirnya, aku pun mulai mengalihkan pembicaraan.


"Kapan kita keluar dari sini, bang?" tanya ku.


"Besok," jawab bang Hendra dingin.


"Apa?" pekik ku.


Aku langsung bangkit, dan duduk di atas perut bang Hendra dengan mata yang terbelalak lebar. Lalu, aku merentang kan kedua tangan bang Hendra, dan menggenggam nya dengan erat.


"Jangan bercanda lah, bang! Aku nanya nya serius loh." rengek ku.


"Siapa yang lagi bercanda? Abang juga serius kok. Besok kita keluar dari sini." jawab bang Hendra santai.


"Gak bisa gitu lah, bang! Nanti malam kan aku harus kerja." balas ku.


"Gak usah kerja, biar abang yang akan menggantikan uang kerja mu malam ini. Yang penting, kita nginap lagi disini sampe besok siang." jawab bang Hendra tegas.


"Tapi, bang..."


"Gak ada tapi-tapian lagi! Keputusan abang sudah bulat, gak bisa di ganggu gugat lagi." tambah bang Hendra.


"Huuuuu, dasar batu. Keras kepala kali jadi orang." sungut ku kesal.


Aku melepaskan tangan bang Hendra. Kemudian, aku melipat kedua tangan ku di atas perut, dan memalingkan wajah ku dari tatapan mata nya.


Bang Hendra tersenyum miring melihat wajah ku, yang sedang cemberut dengan bibir mengerucut.


"Jangan cemberut gitu dong, sayang!" goda nya.


Bang Hendra mulai menggeser posisi nya kembali. Dia menyandarkan tubuhnya di bahu ranjang. Lalu, meletakkan satu bantal di belakang punggung nya.


"Kamu marah ya, Ndah? Kamu gak suka ya, berlama-lama menemani abang disini?" selidik bang Hendra.


"Bukan gitu, bang. Aku kan harus kerja, aku juga harus pulang ke kos. Pekerjaan ku masih banyak di kos, bang." jawab ku ketus.


"Ya udah deh, nanti jam dua belas kita keluar." balas bang Hendra pasrah.


"Beneran, bang?" tanya ku dengan senyum yang merekah.


"Iya beneran, sayang. Tapi ada syarat nya." jawab bang Hendra.


"Syarat apa?" tanya ku dengan kening mengkerut.


"Sebelum pulang, kita harus main dulu. Gimana, mau gak, sayang?" tanya bang Hendra dengan senyum yang menyeringai.


"Oke, siapa takut." jawab ku penuh semangat.


Mendengar jawaban ku yang menantang, bang Hendra pun langsung menarik ku ke dalam dekapan nya.


"I love you, Indah Permata Sari." bisik bang Hendra.


"I love you to, bang." jawab ku pelan.


Bang Hendra tampak tersenyum bahagia, karena mendengar kata-kata ku barusan. Tanpa pikir panjang lagi, dia pun langsung menindih tubuh ku, dan mulai melancarkan serangan nya kembali pada ku.


Dan pada akhirnya, pergumulan panas pun kembali terjadi di atas ranjang hotel tersebut. Setelah melakukan aksinya selama beberapa jam, bang Hendra pun menyelesaikan kegiatan nya.


"Terima kasih ya, Ndah. Abang sangat bahagia, bisa bersama mu hari ini." ujar bang Hendra.

__ADS_1


"Iya, sama-sama, bang. Aku juga bahagia, bisa menemani lelaki baik seperti abang." jawab ku.


Bang Hendra mengecup kening ku, dan mengajak ku untuk membersihkan diri ke kamar mandi.


"Kita mandi, yok! Siap tu, kita langsung pulang." ucap bang Hendra sembari melilitkan handuk di pinggang nya.


"Oke, bang." jawab ku.


Aku dan bang Hendra mandi bersama, di bawah guyuran air shower yang hangat. Setelah selesai, kami berdua langsung bergegas memakai pakaian, dan menyimpan barang masing-masing ke dalam tas.


"Udah selesai, Ndah?" tanya bang Hendra sembari memakai sepatu pantofel nya.


"Udah, bang." jawab ku.


"Oke, kita keluar yok!" ajak bang Hendra menggenggam tangan ku.


"Ayok!" balas ku.


Aku dan bang Hendra keluar dari kamar, dan berjalan menuruni anak tangga menuju ke meja resepsionis.


Setelah menyerahkan kunci kepada petugas resepsionis, aku dan bang Hendra kembali berjalan beriringan menuju parkiran mobil.


"Abang antar sampai ke kos ya, Ndah!"


Bang Hendra berucap, sembari membuka kan pintu mobil nya untuk ku.


"Iya, bang." jawab ku.


Setelah masuk ke dalam mobil, bang Hendra langsung melajukan kendaraan roda empat nya menuju ke arah kos ku.


Sekitar lima belas menit kemudian, kami berdua pun sudah tiba di depan gerbang kos, tempat tinggal ku. Saat aku hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba bang Hendra menggenggam tangan ku.


"Tunggu bentar, Ndah!"


Bang Hendra, mengeluarkan segepok uang dari saku celana nya. Lalu, dia menyerahkan uang itu ke tangan ku.


"Untuk tambahan bayar kos mu, Ndah." ucap bang Hendra sembari mengecup kening dan pipi ku.


"Ini sih bisa untuk bayar kos setahun, bang." balas ku sembari tersenyum.


"Hahahaha, ada-ada saja kamu, Ndah. Masa uang segini bisa untuk bayar kos setahun. Yang tidak-tidak saja jawaban nya." jawab bang Hendra tidak percaya.


"Aku serius, bang. Kalo gak percaya ya sudah." balas ku sewot dengan wajah cemberut.


"Iya iya, abang percaya, sayang. Masa gitu aja ngambek sih, senyum dong!"


Bang Hendra menoel-noel hidung ku, sembari tersenyum geli melihat tingkah laku ku.


"Siapa yang ngambek?" tanya ku pura-pura bingung.


"Oh, gak ngambek ya. Abang kira tadi dirimu ngambek, hehehe." jawab bang Hendra cengar-cengir salah tingkah.


"Gak lah, bang. Ngapain aku mesti ngambek, aku kan udah dapat uang banyak dari abang, hihihi." jawab ku sembari terkikik geli.


"Huuuuu, dasar." balas bang Hendra mengacak-acak rambut ku.


"Ya udah kalo gitu, abang pulang ya, sayang. Kapan-kapan kita jumpa lagi." pamit bang Hendra.


"Oke, bang. Hati-hati di jalan ya, bang." balas ku.


"Siap, nona manis." jawab bang Hendra.


Selesai berpamitan, bang Hendra kembali memeluk ku dan mengecup kilat bibir ku. Setelah itu, aku pun langsung keluar dari mobil dan berdiri di depan pintu gerbang.


Aku melambaikan tangan, sambil tersenyum kepada bang Hendra. Begitu juga dengan nya, dia membalas lambaian tangan ku sembari menyunggingkan senyum manis nya.


Setelah itu, bang Hendra pun mulai melajukan mobil nya secara perlahan, menuju ke jalan raya.

__ADS_1


"Lumayan, dapat uang banyak dari bang Hendra."


Aku bergumam sembari melangkah menapaki anak tangga, menuju ke lantai tiga. Tempat dimana kamar ku berada.


__ADS_2