
Waktu terus bergulir, tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Aku mulai membuka mata perlahan dan melihat Haris yang masih tertidur pulas di samping ku.
Sambil menguap dan menggeliat, ekor mata ku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lalu aku mengucek mata berulang-ulang, seakan tidak percaya dengan penglihatan ku sendiri.
"Apa jam nya yang rusak, atau mata ku yang salah lihat ya?" gumam ku pelan.
Dengan mata yang masih terasa berat, aku berusaha bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Aku celingukan kesana sini melihat ke luar jendela.
"Wah, memang udah malam rupa nya. Kirain mata ku yang salah lihat. Ternyata memang udah gelap." lanjut ku lagi.
Saat hendak menutup gorden, aku di kejutkan dengan suara Haris yang bertanya secara tiba-tiba pada ku.
"Ayok kita mandi, Ndah! Habis tu kita keluar cari makan sekalian pergi jalan-jalan." ajak Haris.
"Eh mampus kau eh mampus." latah ku.
Haris langsung tertawa ngakak melihat ku terkejut sambil melatah. Aku menggelengkan kepala dan mengelus dada karena ulah jahil lelaki ku itu.
"Ya Allah, bang. Bikin kaget aku aja kerjaan nya." gerutu ku sambil terus mengelus dada.
"Maaf, sayang. Abang gak sengaja, hehehe." jawab Haris.
Haris beranjak dari kasur dan berjalan mendekati ku. Dia melingkar kan kedua tangan nya di pinggang ku, kemudian menempel kepala nya di bahu ku sambil berbisik...
"Kita main bentar yok!"
Bulu kuduk ku langsung meremang, akibat hembusan nafas Haris yang menerpa bagian leher dan telinga ku. Aku langsung reflek bergidik di dalam pelukan nya.
"Tadi kata nya ngajak mandi, sekarang kok malah ngajak yang lain pulak?" tanya ku bingung.
Mendengar kata-kata ku, Haris semakin mempererat pelukan nya dan menciumi rambut serta leher ku, dengan nafas yang sudah mulai tidak terkendali.
"Mandi nya nanti aja, sayang. Sekarang kita senang-senang aja dulu." jawab Haris.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ajakan nya. Dan pada akhirnya, Haris pun melakukan kegiatan panas nya kembali. Dia mengangkat tubuh ku ke atas kasur dan mulai menggerayangi tubuh ku.
Haris melakukan kegiatan panas nya dengan semangat yang menggebu-gebu. Dia terus saja memanjakan tubuh ku dengan lidah dan juga tangan-tangan nakal nya.
"Nikmat gak, sayang?" tanya Haris sambil terus melakukan gerakan nya.
"Iya, nikmat banget. Terusin aja ya, aku masih ingin menikmati nya!" rengek ku manja.
"Baik lah, sayang. Abang akan melayani mu sampai kau merasa puas." jawab Haris.
Haris pun terus melancarkan aksinya dengan berbagai gaya dan posisi. Dia sangat lincah dan gesit dalam melakukan permainan nya di atas tubuh ku.
Setengah jam kemudian, Haris pun menyudahi kegiatan panas nya dan membaringkan tubuh nya di samping ku, dengan nafas ngos-ngosan.
Aku segera berdiri dan menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu. Setelah melilitkan handuk ke tubuh ku, aku menarik lengan Haris untuk mengajak nya ke kamar mandi.
"Mandi yok, bang! Lihat udah jam berapa tuh, perut ku udah lapar banget nih." rengek ku.
__ADS_1
"Iya, sayang." jawab Haris.
Haris tersenyum dan segera beranjak dari pembaringan nya. Dia melilitkan handuk di pinggang nya, dan berjalan mengikuti langkah ku dari belakang menuju ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, aku dan Haris kembali masuk ke dalam kamar dan bergegas memakai pakaian masing-masing.
Setelah selesai berdandan rapi, aku dan Haris segera keluar dari kamar dan berjalan menuju parkiran.
Sampai di dalam mobil, Haris menyalakan mesin kendaraan nya dan melajukan nya secara perlahan menuju ke jalan raya.
"Kita mau makan dimana?"
Haris bertanya dan menoleh sekilas pada ku, lalu fokus kembali menatap ke jalanan sambil memegangi stir kemudi nya.
"Di rumah makan ayam bakar aja!" usul ku.
Aku menjawab tanpa menoleh pada Haris, dan tetap fokus memandang lurus ke depan. Setelah mendengar jawaban ku, Haris pun mengangguk setuju.
"Oke, sayang." balas Haris.
Tak butuh waktu lama, Haris menghentikan kendaraan nya di depan rumah makan ayam bakar Taliwang.
Setelah mobil terparkir rapi, aku dan Haris bergegas keluar dan berjalan masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Setelah kami berdua duduk, sang pelayan rumah makan itu pun datang menghampiri dan menanyakan pesanan kepada Haris.
"Mau pesan apa, mas?" tanya si pelayan dengan ramah dan sopan.
"Oke siap, mas. Di tunggu ya, mas!" balas si pelayan.
"Oke, mbak." jawab Haris.
Setelah mendapatkan pesanan dari Haris, si pelayan itu pun bergegas pergi untuk menyiapkan makanan kami berdua.
"Lagi mikirin apa sih, Ndah? Abang perhatiin dirimu melamun terus dari tadi."
Haris bertanya sambil menggenggam erat tangan ku lalu mengecup nya dengan lembut. Aku langsung tertunduk dan tersipu malu, atas perlakuan mesra Haris yang di lakukan nya di depan umum seperti itu.
"Gak ada mikirin apa-apa kok, bang. Lagi malas ngomong aja." jawab ku.
"Oh, kirain ada apa." balas Haris.
Aku dan Haris memperhatikan orang-orang yang sedang asyik menikmati makanan nya masing-masing.
Beberapa menit kemudian, sang pelayan pun tiba dengan nampan di tangan nya. Lalu kemudian, dia menghidangkan makanan dan minuman kami di atas meja.
"Silahkan, mas, mbak!" ujar si pelayan.
"Oke, makasih ya, mbak."
Haris menjawab sambil memberikan senyuman manis nya kepada si pelayan. Sedang kan aku, hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
__ADS_1
Setelah pelayan itu pergi, aku kembali berdiam diri sambil terus memandangi makanan, yang sudah tertata rapi di atas meja.
Haris menautkan alisnya, dia heran melihat gelagat ku yang hanya terpaku dan terdiam di samping nya.
"Kok malah bengong lagi sih, sayang? Ayo di makan makanan nya, mumpung masih hangat nih!" ajak Haris.
Haris menyenggol lengan ku dan menatap mata ku dengan serius. Karena merasa di perhatikan, aku menoleh pada Haris dan tersenyum pada nya.
"Iya, bang." balas ku.
Setelah acara makan malam selesai, aku dan Haris keluar dari rumah makan dan berjalan masuk ke dalam mobil.
"Kita mau jalan-jalan kemana?" tanya ku sembari memasang sealbeat di dada ku.
"Ke jembatan Barelang, sayang." jawab Haris.
Haris mulai melajukan kendaraan roda empat nya ke jalan raya, dengan kecepatan yang cukup tinggi dari biasa nya.
"Oh," balas ku singkat.
Di sepanjang perjalanan menuju jembatan Barelang, aku dan Haris sama-sama membisu. Tidak ada percakapan apa pun di antara kami berdua.
Sekitar kurang lebih setengah jam perjalanan, aku dan Haris pun tiba di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobil nya di pinggir jembatan, Haris mengajakku untuk turun dari kendaraan nya.
"Ayo, kita duduk di situ aja biar romantis!" ajak Haris.
Haris menunjuk ke arah tepi jembatan sambil melepaskan sealbeat nya. Aku pun mengangguk dan segera keluar dari mobil. Sampai di luar, Haris pun langsung menggandeng lengan ku.
Dia mengajak ku berjalan ke tempat yang di tunjukkan nya tadi. Setiba nya di lokasi, aku dan Haris duduk bersila di tepi jembatan sambil menyalakan rokok masing-masing.
"Pemandangan nya bagus ya, Ndah." ujar Haris membuka perbincangan.
"Iya, bagus banget angin nya juga sejuk." balas ku.
Aku menyandarkan kepala di bahu Haris, dan memandangi lautan yang terbentang luas di hadapan ku sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangan ku.
Begitu juga dengan Haris, pandangan mata nya juga tertuju ke arah lautan sembari mengelus-elus lembut lengan ku.
"Sampai kapan hubungan kita seperti ini, Ndah? Kapan abang bisa memiliki mu seutuh nya? Sampai kapan abang harus menunggu mu?" tanya Haris.
Aku menghela nafas panjang, mendengar pertanyaan Haris. Aku bingung harus menjawab apa pada nya.
Aku takut hanya akan menjadi beban untuk nya. Apa lagi aku masih punya tanggungan yang harus aku penuhi setiap bulan nya.
"Maaf, bang. Untuk saat ini, aku masih belum bisa menjawab pertanyaan mu. Aku masih ragu dengan diriku sendiri." jawab ku.
Aku menghentikan ucapan ku sejenak, dan kembali menghisap rokok dengan pandangan menerawang menatap laut.
Setelah terdiam beberapa saat, aku pun melanjutkan kembali ucapan ku tadi.
"Aku takut kalau suatu saat nanti, abang akan menyesal karena telah menikahi wanita malam seperti ku." jawab ku lirih.
__ADS_1