Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Pijatan Bang Rian


__ADS_3

Aku menghela nafas dalam, ketika bang Rian mengucapkan kata "nginap di hotel." Sebenarnya aku ingin menolak keinginan nya itu, tapi aku merasa tidak enak hati, karena bang Rian sudah terlalu baik dengan ku.


"Ah, ikut aja lah. Gak enak juga kalau di tolak." batin ku.


Aku sesekali melirik ke arah bang Rian yang masih terlihat fokus menatap jalanan, dengan stir kemudi di tangan nya.


Tak lama berselang, kami berdua pun sudah tiba di depan gedung hotel, tempat kami menginap tempo hari.


Setelah mobil terparkir rapi di halaman hotel, bang Rian langsung melangkah keluar dan memutar dengan langkah cepat, untuk membukakan pintu mobil nya untuk ku.


"Silahkan, nona manis!"


Ujar bang Rian sembari membungkukkan sedikit badan nya, lalu meletakkan satu tangan di dada nya. Aku langsung tertawa ngakak saat melihat tingkah aneh nya tersebut.


"Hahahaha, edan." umpat ku lalu memukul pelan lengan bang Rian.


Aku keluar dari kendaraan bang Rian, lalu melangkah bersama nya dengan bergandengan tangan.


Sesampainya di meja resepsionis, bang Rian memesan satu kamar kepada resepsionis wanita tersebut.


"Mbak, ada kamar kosong?" tanya bang Rian.


"Ada, bentar ya, pak!" jawab wanita itu.


Bang Rian hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu menoleh pada ku sembari tersenyum.


Tak lama kemudian, wanita itu pun menyodorkan kunci kepada bang Rian sembari berkata...


"Ini kunci nya, pak! Kamar nya nomor 155 di lantai dua ya." tutur wanita itu.


"Oke," balas bang Rian.


Selesai pembayaran, bang Rian kembali menggandeng tangan ku, lalu membawaku menaiki tangga untuk menuju ke lantai dua.


Sampai di depan pintu kamar, bang Rian segera membuka pintu itu dengan kunci yang ada di tangan nya.


"Ayo silahkan masuk, nona manis!" ujar bang Rian.


"Iya, abang ganteeeng." canda ku sembari melangkah masuk ke dalam.


"Hehehehe, beneran nih bilangin abang ganteng?" tanya bang Rian.


"Ya beneran lah, masa bohongan sih." balas ku pura-pura cuek.


"Ya, siapa tau aja kamu cuma bercanda, biar abang seneng." balas bang Rian masih tidak percaya dengan ucapan ku tadi.


"Gak lah, memang kenyataan nya abang ganteng kok. Coba aja abang lihat di cermin tuh!" balas ku sembari menunjuk ke arah cermin meja rias.


Aku mendudukkan diri di pinggir ranjang, lalu mulai membuka kotak ponsel pemberian bang Rian.


Setelah selesai mengotak-atik ponsel baru itu, aku meletakkan nya kembali ke atas meja rias, lalu membaringkan tubuh lelah ku di atas ranjang dengan posisi kaki yang masih menjuntai ke bawah.


"Eh, udah pasrah aja dia rupanya." ledek bang Rian sembari mendekat dan berbaring di sebelah ku.


"Bukan pasrah, bang. Tapi lagi ngelurusin pinggang." balas ku.


"Emang pinggang nya kenapa? Sakit ya?" tanya bang Rian.


"Iya, kayak nya aku lagi kena penyakit 5 L nih." jawab ku sembari memegangi pinggang dan memijat-mijat nya perlahan.


"Hah, penyakit 5 L? Penyakit apaan tuh?" tanya bang Rian kaget.

__ADS_1


"Lemah, letih, lesu, lunglai, letoi." jawab ku.


"Oooohhh, kirain penyakit apaan. Ternyata cuma kecapekan toh, hahahaha." gelak bang Rian.


Aku hanya tersenyum melihat bang Rian, yang sedang tertawa terbahak-bahak di sebelah ku. Setelah selesai dengan tawa nya, bang Rian pun kembali berceloteh ria pada ku.


"Sini, abang pijatin pinggang mu itu!" ujar bang Rian.


Bang Rian bangkit dari baring nya, lalu menyuruh ku untuk membetulkan posisi baring ku di tengah ranjang.


Setelah itu, bang Rian mulai membuka seluruh pakaianku dengan perlahan, lalu meletakkan nya di atas nakas yang berada tepat di samping ranjang.


Selanjutnya, bang Rian menyuruh untuk berbaring telungkup membelakangi nya.


"Telungkup lah, biar abang mulai minat nya!" titah bang Rian sembari membuka pakaian nya juga.


"Iya," balas ku.


Aku langsung merubah posisi ku menjadi telungkup, lalu menyanggul rambut ku, agar tidak mengganggu pijatan bang Rian nanti nya.


Setelah selesai membuka semua pakaian nya, bang Rian langsung naik ke atas dan duduk di atas pinggul ku.


Bang Rian mulai memijat-mijat pinggang dan punggung ku dengan telaten, sambil sesekali menggoda ku dengan tingkah-tingkah nakal nya.


Hingga membuat ku bisa merasakan ada sesuatu yang mengeras, di antara kedua pahaku.


"Hm hm hm, kapan selesai nya kalau mijat nya kayak gitu?" omel ku.


"Hehehe, gak papa lah, sayang. Biar abang makin semangat mijat nya." balas bang Rian sembari cengengesan.


"Iya, tapi siapin dulu lah kerjaan nya. Habis tu, baru kita ehem-ehem." ujar ku.


"Oke, siap laksanakan." balas bang Rian dengan semangat.


Setelah tugas nya selesai, bang Rian kembali membaring tubuh nya di sebelah ku dengan senyum yang mengembang di bibir nya.


"Jadi gimana? Udah bisa tempur gak nih?" tanya bang Rian sembari menaik turun kan kedua alisnya.


"Emang nya abang gak capek ya, kan baru siap mijatin aku?" tanya ku heran.


"Ya enggak lah, sayang. Masa gitu aja capek sih. Stok tenaga abang masih banyak kok, untuk bermain-main dengan mu." jawab bang Rian.


"Ya, mana tau aja abang masih capek." balas ku santai.


"Enggak lah, biasa aja. Jadi gimana nih? Kita mulai sekarang aja, yok!" seru bang Rian.


"Ayok, siapa takut? Abang jual aku beli." tantang ku sembari nyengir kuda.


"Wah wah wah, udah berani nantangin abang sekarang ya! Emang nya kamu gak takut, kalau abang gempur sampe lemes?" tanya bang Rian menatap genit pada ku.


"Gak lah, ngapain mesti takut? Malah makin enak pun jadi nya, hahahaha." jawab ku sembari tertawa ngakak.


"Huuuuu, dasar bocah nakal!" umpat bang Rian sambil menoel-noel pipi ku.


"Kok bocah sih? Orang udah bangkotan gini pun, malah di bilang bocah pulak." protes ku.


Mendengar ocehan ku, bang Rian pun kembali tertawa lepas. Setelah itu, dia memiringkan badan nya dan memeluk ku dengan erat.


"Udah ah, gak usah ngoceh terus! Lihat nih dedek abang, jadi tidur lagi gara-gara ulah mu."


Ujar bang Rian sembari merenggang kan pelukan nya, lalu menunjuk ke arah milik nya yang sudah tampak lemas kembali.

__ADS_1


"Bukan gara-gara ulah ku, bang. Tapi dia itu kecapekan, maka nya dia tidur lagi, hihihi." canda ku sambil cekikikan.


"Gak lah, dia itu gak pernah merasa capek kalau untuk di ajak yang enak-enak. Malahan dia makin kesenangan, pengen nambah terus." tutur bang Rian.


"Oh, ya? Emang nya abang tau dari mana kalau dia kesenangan?" tanya ku iseng.


"Ya tau lah, kan punya abang." jawab bang Rian.


"Oh, bener juga sih." balas ku sembari manggut-manggut.


Selesai berceloteh ria bersama, aku dan bang Rian kembali terdiam. Kami berdua sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing.


Setelah beberapa saat suasana hening mencekam, akhirnya bang Rian kembali membuka suara nya.


"Jadi sekarang gimana nih? Abang udah boleh mulai belum?" tanya bang Rian.


Bang Rian kembali memeluk ku dan menempelkan wajah nya di ceruk leher ku. Dia juga meletakkan satu kaki nya di atas perut ku, lalu melingkarkan tangan nya di atas dada ku.


"Iya boleh, mulai lah!" jawab ku.


Aku mulai gelisah akibat ulah bang Rian, yang semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya. Dia memberikan kecupan-kecupan nakal nya di seluruh leher dan wajah ku. Selanjutnya, kecupan terakhir nya pun berhenti tepat di bibir ku.


Setelah puas mengabsen isi mulut ku, bang Rian pun kembali melancarkan serangan nya. Dia kembali memanjakan tubuh ku dengan sentuhan-sentuhan lembut nya. Hingga membuat ku semakin terlena menikmati perbuatan nya tersebut.


Suara-suara aneh pun mulai bermunculan dari bibir ku, dan menggema di seluruh sudut ruangan kamar. Setelah mendengar suara-suara merdu ku itu, bang Rian pun tampak semakin bergairah.


"Kita mulai ya, sayang!" bisik bang Rian.


"Iya, bang." balas ku dengan mata terpejam.


Tanpa berkata apa-apa lagi, bang Rian langsung memasukkan milik nya dan mulai memacu gerakan nya dengan cepat.


Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku terus saja memejamkan mata, untuk menghayati dan menikmati permainan bang Rian.


Setelah berpacu selama hampir dua jam, dengan berbagai gaya dan posisi, bang Rian pun menyudahi permainan nya dan terbaring lemas di atas tubuh ku.


Dengan nafas yang masih ngos-ngosan dan keringat yang membasahi badan nya, bang Rian pun mulai bangkit dari atas tubuh ku, lalu mengecup kening ku sembari berkata...


"Terima kasih ya, sayang. Abang sangat puas dengan pelayanan mu hari ini." ujar bang Rian.


Bang Rian memandangi wajah ku dengan senyuman yang mengembang di bibir nya.


"Iya sama-sama, abang ku sayang. Aku juga merasa puas dengan pelayanan abang tadi."


Balas ku sembari mengelus pipi kanan nya, dan menyunggingkan senyum termanis ku pada nya.


Mendapat perlakuan seperti itu dari ku, bang Rian pun kembali tersenyum bahagia. Dia tampak begitu senang, mendengar godaan maut ku barusan.


"Kita bersihin dulu yok, bang! Biar gak tumpah kemana-mana ini." seru ku sambil menunjuk ke arah milik ku.


"Ayo!" balas bang Rian.


Bang Rian segera turun dari ranjang, lalu mengangkat tubuh ku ala bridal style ke dalam kamar mandi. Selesai membersihkan diri, kami berdua kembali naik ke atas ranjang lalu masuk ke dalam selimut.


"Kita istirahat dulu ya, bang. Mata ku ngantuk banget nih, hoamm." ujar ku sembari menguap lebar.


"Oke, sayang." balas bang Rian.


Bang Rian mengangkat kepala ku dari atas bantal, dan meletakkan nya di atas lengan nya. Kemudian dia membelai-belai rambut ku, lalu mendekap erat tubuh ku ke dalam pelukan hangat nya.


Karena sudah merasa nyaman, aku pun mulai memejamkan mata dan tertidur pulas di dalam pelukan nya.

__ADS_1


Begitu juga dengan bang Rian, dia juga ikut tertidur lelap bersama ku, dan mulai menjelajah ke alam mimpi masing-masing.


__ADS_2