
Bang Hendra mulai menyalakan mesin mobil nya, dan melajukan kendaraannya menuju hotel yang berada tidak jauh dari tempat kerja ku.
Sesampainya di depan gedung hotel, bang Hendra langsung menggandeng tangan ku dan membawa ku untuk berjalan bersama nya.
Setelah mendapatkan kunci kamar, kami berdua kembali berjalan menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.
Sampai di depan kamar, bang Hendra segera membuka pintu dan mengajak ku untuk masuk ke dalam.
Saat hendak menutup pintu kembali, tiba-tiba ada seseorang yang menahan pintu itu dengan kuat. Hingga membuat pintu kamar itu kembali terbuka lebar.
"Tunggu, Hen! Jangan di tutup dulu pintu nya, aku mau ikut masuk bersama kalian." ujar Alex dengan nafas ngos-ngosan.
Aku dan bang Hendra langsung terlonjak kaget, ketika melihat kehadiran Alex yang secara tiba-tiba di depan pintu kamar.
"Ck, kau ini kok nekat kali sih sampe nyusul kesini segala. Mau mu itu apa sebenarnya, hah?" tanya bang Hendra geram.
"Tadi waktu di tempat karaoke kan udah aku bilang, aku mau ikut dengan kalian. Aku mau nginap dengan kalian berdua di sini." jawab Alex sambil melirik ke arah ku.
Aku yang sedari tadi berdiri di belakang bang Hendra pun langsung terperangah, dengan mulut yang menganga lebar setelah mendengar penuturan Alex yang cukup aneh menurut ku.
"Gila kau, ya! Mana mungkin kita bertiga nginap di kamar in, yang gak-gak aja permintaan mu itu." omel bang Hendra kesal.
"Udah, pergi sana! Kami mau bersenang-senang dulu di dalam." usir bang Hendra.
"Gak, aku gak mau pergi. Minggir, aku mau masuk ke dalam!"
Balas Alex sembari nyelonong masuk ke dalam kamar yang akan kami huni tersebut. Alex melewati bang Hendra begitu saja, tanpa memperdulikan wajah bang Hendra yang sudah merah padam akibat menahan amarah nya.
Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya bang Hendra pun mengalah dan segera menutup pintu lalu menguncinya.
Setelah itu, bang Hendra menatap tajam pada Alex yang terlihat santai, duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponsel nya. Aku dan bang Hendra pun saling pandang-pandangan melihat tingkah aneh Alex.
Setelah beberapa saat suasana hening, bang Hendra pun kembali mempertanyakan maksud Alex yang sebenarnya.
"Kau itu sebenarnya mau ngapain ngikutin kami sampe kesini sih, Lex? Kau kan tau sendiri kalau kami mau bercinta di kamar ini. Masa iya kau mau nonton adegan ranjang kami?"
Tanya bang Hendra sembari bersidekap dan menyandarkan punggung nya di dinding, yang berada tepat di samping Alex.
Mendengar pertanyaan bang Hendra, Alex pun langsung mendongak dan menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana panjang nya.
"Aku kesini bukan cuma mau nonton aja, Hen. Tapi aku juga mau ikut main bersama kalian, seperti yang kita lakukan waktu di VIP room haritu."
Jelas Alex sembari tersenyum sumringah kepada bang Hendra.
"Gimana, Ndah? Apa kamu keberatan kalau aku ikut bergabung bersama kalian?" tanya Alex mengalihkan pandangannya pada ku.
"APA?"
Aku dan bang Hendra memekik kuat dengan mata yang membulat sempurna. Kami berdua sangat terkejut mendengar ucapan Alex barusan.
"Kau ini benar-benar gak waras ya, Lex? Mana mungkin si Indah mau melayani kita berdua sekaligus, gak usah bertingkah yang aneh-aneh lah!" omel bang Hendra.
"Kenapa gak mau? Haritu aja Indah mau kok melayani kita berdua, kenapa sekarang jadi gak mau?" tanya Alex pada bang Hendra.
"Kalau itu beda lah, Lex. Haritu kan Indah lagi mabok, dia gak sadar kalau dia lagi melayani dua orang." jelas bang Hendra sembari menyalakan rokok nya.
"Lah trus, apa beda nya sama sekarang?" tanya Alex lagi.
"Ya udah pasti beda lah, kamvret! Sekarang kan Indah lagi sadar, gak mabok kayak haritu. Kalo lagi sadar gini, mana mungkin dia mau melayani kita berdua." tambah bang Hendra lagi.
"Kenapa mesti gak mau, yang penting kan bayaran nya cocok. Ya gak, Ndah?" tanya Alex pada ku.
__ADS_1
Aku yang sedang melamun dan tidak fokus dengan percakapan mereka berdua pun, langsung tersentak kaget karena mendengar pertanyaan Alex.
"Hah, apa? Nanya apa tadi?" tanya ku gelagapan.
Bang Hendra dan Alex memandangi ku dengan tatapan yang sulit di artikan. Mereka tampak bingung dan heran melihat reaksi ku seperti itu.
"Loh, jadi dari tadi kamu gak dengar kami ngomongin apa ya, Ndah?" tanya bang Hendra.
"Enggak," jawab ku sembari menggelengkan kepala.
"Oalah, jadi kamu ngelamun terus ya dari tadi?" sambung Alex menimpali ucapan bang Hendra.
"Iya, hehehe." jawab ku sembari cengar-cengir salah tingkah.
Bang Hendra dan Alex pun langsung tersenyum dan menggelengkan kepala masing-masing, karena melihat tingkah konyol ku.
"Jadi gimana, Ndah? Apa kamu mau melayani kami berdua?" tanya Alex.
"HAH, melayani kalian berdua?" pekik ku dengan mata yang terbelalak lebar.
"Iya, emang nya kenapa? Kamu gak mau ya?" tanya Alex balik.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Alex. Aku hanya terdiam dan kembali merenung tentang dua lelaki yang ada di depan ku itu.
Sedangkan bang Hendra dan Alex, mereka berdua menunggu jawaban ku dengan wajah serius, sambil terus memperhatikan gelagat ku yang kembali terpaku di tempat.
"Ndah, kok malah bengong lagi sih. Ayo di jawab dong, sayang!" desak Alex.
"Heh, kamvret! Sembarangan aja kau manggil-manggil wanita ku ini sayang, mau minta di tabok mulut mu itu ya!"
Bang Hendra mengomeli Alex sambil mendekati ku dan merangkul pundak ku. Bang Hendra juga menciumi bibir ku di depan Alex, hingga membuat Alex kepanasan dan langsung beranjak dari tempat duduk nya.
Alex mengoceh sembari melepaskan rangkulan bang Hendra dari pundak ku, dan mendorong pelan tubuh bang Hendra agar sedikit menjaga jarak dengan ku.
"Kau ini apa-apa an sih, ganggu kesenangan orang aja!" gerutu bang Hendra.
"Maka nya kau jangan dekat-dekat gitu lah sama si Indah, gatal kali sih jadi orang!" omel Alex.
Alex tampak tidak rela jika bang Hendra mencumbui ku di depan mata nya. Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku hanya terkikik geli menonton perdebatan antara kedua lelaki tampan itu.
"Loh, kok kau pulak yang marah! Sedangkan yang punya badan aja gak marah, kalau aku mencium nya kayak tadi. Kenapa malah kau pulak yang kayak cacing kepanasan?" tanya bang Hendra heran.
Aku menoleh kepada Alex yang terlihat kebingungan, setelah mendengar celotehan bang Hendra.
Dia tampak sedang berpikir keras, untuk mencari alasan yang tepat atas pertanyaan bang Hendra barusan. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Alex pun kembali bersuara.
"Karena...karena..."
Alex menjeda kata-kata nya. Dia tampak ragu dan tidak enak hati untuk meneruskan ucapan nya.
"Karena apa?" desak bang Hendra.
"Ka-karena aku menyukai Indah." jawab Alex
"Apa?" pekik ku dan bang Hendra serempak.
Kami berdua kembali di buat terkejut oleh penuturan Alex. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Alex menyukai ku.
Bahkan dia sampai berani terang-terangan menyatakan perasaannya, di hadapan ku dan juga bang Hendra.
"Jangan macam-macam dengan wanita ku ya, Lex! Kau kan tau sendiri kalau aku sangat menyayangi Indah. Apa kau mau menusuk teman mu sendiri dari belakang?" tanya bang Hendra sinis.
__ADS_1
"Bu-bukan gitu, Hen. Aku kan hanya sekedar menyukai nya, bukan ingin memiliki nya." jawab Alex mulai gelisah.
Aku menatap Alex dan bang Hendra secara bergantian, dengan kening yang mengkerut. Aku bingung melihat tingkah kekanak-kanakan mereka berdua.
"Pokoknya aku gak mau tau. Apa pun alasannya, kau gak boleh mendekati wanita ku, ingat itu!" ujar bang Hendra penuh penekanan.
"Ta-tapi, Hen..."
"Udah-udah, gak usah pada berisik! Kalian berdua ini kok kayak anak kecil aja, pake acara berantem segala." omel ku menengahi perdebatan mereka berdua.
"Malu lah sama umur, udah pada tua juga! Bikin malu aja dari tadi." lanjut ku kesal.
Sesudah mendengar ocehan ku, Alex dan bang Hendra pun langsung terdiam dan saling pandang-pandangan satu sama lain.
Setelah beberapa saat saling memandangi, tiba-tiba Alex dan bang Hendra tertawa berjamaah. Mereka berdua tampak saling mentertawai diri nya sendiri.
"Yang udah tua si Hendra, Ndah. Kalau aku sih masih jauh dari kata tua, hahaha." ujar Alex sembari tertawa terbahak-bahak.
"Hihihi," aku langsung cekikikan mendengar ledekan Alex pada bang Hendra.
Melihat aku dan Alex sedang meledek nya, bang Hendra pun langsung mengoceh panjang lebar pada Alex.
"Heh heh heh, jangan sembarangan kalo ngomong ya, tua-tua gini pun jiwa nya masih muda tau gak!" balas bang Hendra tak mau kalah.
"Hahaha, sadar diri juga dia rupanya." ujar Alex kembali meledek bang Hendra.
"Kau..."
Sebelum bang Hendra meneruskan ucapan nya, aku pun dengan cepat memotong nya.
"Stooop! Udah di bilangin jangan berantem lagi, kok malah makin menjadi-jadi pulak." pekik ku kuat.
"Alex tuh, Ndah. Dari tadi kerjaan nya ledekin abang terus." rengek bang Hendra sembari bergelayut manja di lengan ku.
"Ngomong sih ngomong, tapi jangan ngambil kesempatan gini lah, Hen!"
Protes Alex sembari melepaskan tangan bang Hendra dari lengan ku. Dia kembali menjauhkan bang Hendra dari badan ku.
"Ck, apa an sih, Lex! Kau itu kok sibuk kali sih dari tadi. Bikin emosi juga lama-lama tingkah bocah gila satu ini." gerutu bang Hendra.
"Berisiiiik!"
Aku memekik dengan suara melengking, dan itu berhasil membuat kedua lelaki tampan itu langsung terdiam. Bang Hendra dan Alex menatap wajah ku yang sedang emosi tingkat dewa, dengan tatapan aneh mereka.
"Silahkan kalian lanjutin berantem nya! Tapi ingat, suara nya jangan kuat-kuat ya. Soal nya aku mau tidur." unar ku tegas.
Aku langsung membuka seluruh pakaian ku, dan hanya menyisakan pakaian dalam saja.
Lalu kemudian, aku segera merangkak naik ke atas ranjang, dan mulai menyelimuti seluruh tubuh dengan selimut tebal yang sudah di sediakan oleh pihak hotel.
Alex dan bang Hendra hanya terpaku di tempat masing-masing, sambil terus memperhatikan gerak-gerik ku dengan mata yang membulat sempurna.
Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua pun langsung membuka pakaian masing-masing dan ikut naik ke atas ranjang.
Alex membaring kan tubuh nya di sisi kanan ku, sedangkan bang Hendra berada di sisi kiri ku. Mereka berdua memeluk erat tubuh ku dan menenggelamkan wajah nya di ceruk leher ku.
Alex dan bang Hendra mulai menciumi dan mencumbui ku secara bersamaan. Tidak ada yang mau mengalah sedikit pun di antara mereka berdua.
"Ndah, gimana ini? Abang udah gak tahan lagi nih." bisik bang Hendra di telinga kiri ku.
"Sama, Ndah. Aku juga udah gak tahan lagi nih, pengen main sama mu lagi." bisik Alex di telinga kanan ku.
__ADS_1