
Setelah kepergian ibu kos, kami bertiga pun mulai mengangkat barang-barang kos ku, yang ada di mobil pickup bang Rian.
"Udah, kamu gak usah ikut ngangkat. Biar abang sama Andre aja. Kamu susun aja baju-baju itu ke dalam lemari, biar cepat beres." titah bang Rian.
Dia menunjuk ke arah koper dan lemari boks, yang sudah di bawa nya ke dalam kamar.
"Oke, bang." balas ku sembari mengangguk.
Bang Rian kembali keluar untuk mengangkat barang-barang lain nya bersama Andre. Setelah beberapa bolak-balik, akhirnya urusan angkat-mengangkat pun selesai.
Andre dan bang Rian tampak kelelahan dan duduk kelesotan di lantai. Dengan nafas yang masih naik turun, bang Rian pun menyuruh Andre untuk membeli minuman dingin di luar.
"Ndre, beli minuman gih! Haus banget nih." titah bang Rian sambil mengelus-elus leher nya sendiri.
"Oke, mana uang nya?" tanya Andre sembari menadahkan tangan pada bang Rian.
Bang Rian mengambil dompet dari dalam saku nya, lalu menyerahkan selembar uang merah ke tangan Andre.
"Kamu mau minum apa, sayang?" tanya bang Rian pada ku.
"Jus wortel aja, bang." jawab ku.
"Trus, apa lagi?" tanya bang Rian.
"Hmmmm, sate Padang, ketoprak, martabak keju, soto, mie ayam..."
Belum sempat aku meneruskan kata-kata ku, tiba-tiba bang Rian menghentikan ocehan panjang ku tersebut.
"Stop! Kamu itu mau jualan atau mau makan, hah? Banyak bener, apa kamu sanggup menghabiskan semua makanan itu?" tanya bang Rian heran dengan kening mengkerut.
"Hehehehe, kan kita makan nya bertiga, bukan aku sendiri aja." balas ku cengar-cengir.
"Ooohh, iya juga ya." balas bang Rian manggut-manggut.
"Hmmmm, ya udah deh. Ndre, kau beli aja semua makanan yang di sebut Indah tadi. Masih ingat kan?" tanya bang Rian.
Andre yang sedari tadi plonga-plongo mendengar penuturan ku pun langsung tersentak, saat bang Rian menyebut nama nya.
"Hah, apa? Bos tadi ngomong apa?" tanya Andre gelagapan.
"Oalah, masa kau gak denger sih, aku tadi ngomong apa?" gerutu bang Rian kesal.
"Hehehe, maaf bos. Tadi aku gak fokus." balas Andre sembari nyengir kuda dan mengelus-elus tengkuk leher nya.
"Hufff, ya udah gak papa. Sekarang kau tanya aja sama Indah, makanan apa saja yang di minta nya tadi." titah bang Rian menghela nafas panjang.
"Oh, itu. Emang nya berapa macam makanan nya, Ndah?" tanya Andre lalu mengalihkan pandangan nya pada ku.
"Gak banyak-banyak kok, cuma 5 macam aja." jawab ku santai.
Mendengar jawaban ku, mata Andre pun langsung terbelalak selebar-lebar nya. Dia tampak sangat terkejut, mendengar penuturan ku yang tidak masuk akal menurut nya.
__ADS_1
"Hah, kok banyak betul. Emang nya kamu mau mukbang ya, makan sebanyak itu?" tanya Andre heran.
"Ya, enggak lah. Kan bukan cuma untuk ku aja sih. Emang kau gak mau makan juga ya?" tanya ku balik.
"Eh, ya mau lah. Masa iya aku cuma lihatin kalian makan, tega bener." gerutu Andre.
"Maka nya jangan banyak protes. Beli aja apa yang ku minta tadi." balas ku sewot.
Andre hanya cengengesan mendengar ocehan-ocehan ku. Sedangkan bang Rian, dia hanya melongo melihat perdebatan kami berdua.
"Hehehe, iya iya. Aku belikan deh. Emang apa aja tadi makanan nya?" tanya Andre.
"Sate Padang, ketoprak, martabak keju, soto, mie ayam. Minum nya jus wortel, ingat ya jangan sampe ada yang lupa!" ujar ku penuh penekanan.
"Oke, siap nyonya besar. Bos mau minum apa?" tanya Andre mengalihkan pandangan nya pada bang Rian.
"Samain aja kayak punya Indah. Kira-kira cukup gak uang nya tuh?" tanya bang Rian.
"Kayak nya sih kurang, bos. Tambahin lah satu lembar lagi." jawab Andre.
Bang Rian pun kembali membuka dompet nya, lalu menyerahkan selembar uang kepada Andre.
"Nah, ini uang nya. Belikan rokok juga ya, dua bungkus!" ujar bang Rian.
"Oke, bos." balas Andre lalu beranjak dari tempat duduk nya, dan melangkah keluar dari kamar.
Setelah Andre pergi, bang Rian pun segera bangkit dari duduk nya untuk menutup pintu. Kemudian dia melangkah mendekati ku, yang masih sibuk merapikan pakaian ke dalam lemari, dan tiba-tiba...
Bang Rian mendarat kan kecupan-kecupan kilat nya di wajah, pipi, dan juga bibir ku. Setelah itu, dia pun kembali duduk di tempat semula.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah nakal nya tersebut.
"Sayang, malam ini kita nginap dimana? Disini atau di hotel?" tanya bang Rian membuka percakapan.
"Di hotel aja, bang. Biar lebih bebas jerit-jerit nya, hehehe." jawab ku malu-malu kucing.
"Oh gitu, ya udah deh. Terserah kamu aja, abang sih ngikut aja kemana pun kamu mau." balas bang Rian.
"Good, anak pintar." ujar ku sembari mengacungkan jempol pada bang Rian.
"Hahaha, gendeng." umpat bang Rian sembari tergelak.
Aku tidak menghiraukan bang Rian, yang sedari tadi masih saja mentertawai ku. Dia tampak sangat terhibur dengan segala tingkah aneh ku.
"Heh heh heh, gak usah ketawa-ketiwi terus, entar kesurupan loh." ledek ku.
Mendengar ucapan ku, bang Rian langsung menghentikan tawa nya dan reflek menutup mulut nya. Dia celingukan kesana kemari dengan pandangan yang tidak biasa.
Melihat gelagat aneh nya itu, aku pun jadi penasaran dan menanyakan sesuatu pada nya.
"Abang nyariin apa? Kok celingukan gitu?" tanya ku bingung.
__ADS_1
"Gak nyari apa-apa kok. Abang cuma teringat penampakan di kamar yang tadi aja, serem banget soal nya." balas bang Rian sedikit gelisah.
"Emang abang nampak apaan?" tanya ku semakin penasaran.
Bang Rian langsung terdiam mendapatkan pertanyaan dari ku. Dia tampak sedang berpikir, apakah harus menjelaskan nya pada ku atau tidak.
Karena tidak mendengar jawaban bang Rian, aku pun menepuk pelan kaki nya yang berada di dekat ku. Setelah itu, aku pun mengulang pertanyaan ku kembali.
"Bang, kok malah bengong sih? Emang tadi abang nampak apaan?" tanya ku dengan mimik wajah serius.
Bang Rian langsung tersentak kaget, ketika mendapat tepukan di kaki nya. Dia mengelus-elus dada nya, lalu berkata...
"Astaga, kaget abang, Ndah." ujar bang Rian dengan mata mendelik menatap ku.
"Ups, sorry. Habis nya abang bengang-bengong terus sih dari tadi, bikin jiwa kepo ku meronta-ronta aja, hihihi." balas ku sembari cekikikan.
"Abang lagi bingung, harus cerita atau tidak dengan mu. Takut nya nanti kamu gak bisa tidur pulak, gara-gara terbayang terus sama cerita abang." tutur bang Rian ragu.
Aku terdiam sejenak, setelah mendengar ucapan bang Rian. Sebenarnya aku orang nya penakut, kalau masalah yang begituan. Apa lagi ini kos baru, suasana nya agak berbeda dari kos yang lama.
Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak bertanya lagi kepada bang Rian.
"Iya ya, ada bener nya juga sih, apa yang abang bilang tadi. Takut nya nanti gak nyenyak pulak tidur ku di kamar ini, gara-gara mikirin omongan abang terus." ujar ku membenarkan ucapan bang Rian.
"Tu lah, maka nya abang gak berani ngomong yang aneh-aneh dengan mu." lanjut bang Rian.
"Ya udah lah, abang gak usah cerita apa-apa sama ku. Biar aku tenang tinggal di sini." ujar ku pasrah.
"Oke, sayang." balas bang Rian sembari tersenyum manis pada ku.
Selesai berbincang-bincang mengenai penampakan, tiba-tiba aku dan bang Rian terlonjak kaget, karena mendengar ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok...
"Bos, buka pintu nya!" pekik Andre.
"Ya Allah, bikin jantungan aja tu bocah." gerutu ku sembari mengelus dada.
"Sama sayang, abang juga kaget." ujar bang Rian.
Bang Rian segera bangkit dari lantai, lalu berjalan menuju pintu. Setelah pintu terbuka, Andre langsung masuk dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, dan nafas yang naik turun tidak karuan.
"Kau kenapa, Ndre? Kayak habis di kejar-kejar setan aja." ledek bang Rian.
"Emang iya, bos." jawab Andre dengan keringat yang membasahi kening nya.
"HAH, yang bener?" pekik ku dan bang Rian bersamaan.
Mata ku langsung terbelalak dengan mulut menganga, saat mendengarkan jawaban Andre. Begitu juga dengan bang Rian, ekspresi wajah nya juga tak jauh beda dengan ku. Dia juga terkejut mendengar penuturan bawahan nya tersebut.
"Jangan bercanda gitu ah, gak lucu tauuuu!" cibir ku.
__ADS_1
"Siapa yang bercanda? Aku serius kok, aku memang beneran di kejar-kejar setan tadi." balas Andre dengan wajah serius menatap ku.