Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Aku Lelah


__ADS_3

"Suara mu kok serak gitu, Ndah. Kamu habis nangis ya?" tanya Haris.


Haris tampak khawatir dengan keadaan ku. Dia sangat cemas saat mendengar suara ku yang serak akibat menangis tadi. Tanpa sadar, aku langsung tersenyum setelah mendengar kekhawatiran nya.


"Emang nya ada masalah apa sih, Ndah? Siapa yang jahat, bilang sama abang? Biar abang hajar orang nya." desak Haris semakin penasaran.


"Gak papa, sayang. Gak ada yang jahatin aku kok. Tadi itu aku barusan telponan sama ayah, jadi ya biasa lah. Pasti ada tangisan setiap kali habis telponan dengan ayah." jawab ku.


"Oh, kirain ada apa." balas Haris.


"Lagi dimana, bang?" tanya ku.


"Lagi di proyek, emang nya kenapa kangen ya?" tanya Haris balik.


"Idiiiih, ge er banget sih. Aku tu cuma mau tanya jam berapa abang pulang dari proyek?" balas ku ketus.


"Sekitar jam lima baru bisa pulang. Emang nya mau pesan apa? Nanti biar sekalian abang bawa kan ke kos mu." tanya Haris.


"Nah, itu maksud ku tadi. Aku mau minta tolong belikan ketoprak sama jus alpukat. Bisa gak, bang?" tanya ku balik.


"Bisa dong, sayang. Apa sih yang gak bisa buat wanita ku ini?" balas Haris sambil menggodaku.


"Hmm, mulai lagi lebay nya." balas ku sambil tersenyum sendiri.


"Mana ada lebay, kenyataan nya memang gitu kok, sayang!" jawab Haris tak mau kalah.


"Ya lah ngalah aja." jawab ku pasrah.


"Hahaha, oke lah kalo gitu. Abang kerja dulu ya, sayang! Ntar lagi abang pulang sekalian bawakan pesanan tuan putri." balas Haris.


"Baik, tuan raja. Ya udah, abang kerja sana biar cepat pulang nya!" jawab ku.


"Oke, sayang assalamualaikum," pamit Haris.


"Wa'laikum salam." balas ku menutup percakapan.


Setelah panggilan berakhir, aku kembali merebahkan tubuh di atas kasur merilekskan badan dan pikiran yang sangat lelah.


Lelah badan, lelah pikiran, lelah batin. Lelah semua lah pokok nya. Aku mulai memejamkan mata kembali dan tak berselang lama aku pun terlelap dengan tenang dan damai.


Tok tok tok...


"Ya, bentar!" pekik ku kuat.


Aku tersentak dan langsung terbangun dari tidur lelap ku karena mendengar suara ketukan pintu dari luar. Aku pun segera berdiri dan membuka kan pintu dengan langkah sempoyongan.


"Ceklek,"


Aku membuka pintu dan melihat Haris yang sedang tersenyum sambil menenteng bungkusan di tangan nya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," salam Haris.


"Wa'laikum salam." balas ku.


Haris melangkah masuk dan meletakkan bungkusan itu di atas meja. Aku mengekori langkah Haris dari belakang dan langsung duduk bersila di lantai.


Haris juga ikut duduk di hadapan ku, dan mulai membuka bungkusan itu satu persatu. Dengan telaten Haris menghidangkan semua makanan itu di depan ku.


"Ini ketoprak dan jus alpukat nya, Ndah!" ucap Haris sambil menyerah kan piring itu ke tangan ku.


"Makasih ya, cayang." balas ku manja.


Aku menerima ketoprak yang sudah di salin ke dalam piring dari tangan Haris. Sebagai ucapan terima kasih ku pada nya, aku pun mengecup kilat pipi kiri nya. Dan Haris pun langsung tersenyum melihat tingkah jahil ku itu.


"Cukup kilat aja ya, bang. Kalau lama bisa bahaya nanti nya, hihihi!" goda ku sambil cekikikan.


"Lagi lah, Ndah! Masa cuma sebentar aja ngecup nya." protes Haris.


Haris mencondongkan tubuh nya ke arah ku dan mendekat kan wajah nya ke hadapan ku.


"Nanti kita sambung lagi ya, sayang! Sekarang kita makan aja dulu! Perut ku udah lapar banget nih." balas ku.


"Cuci muka nya dulu lah sana! Lihat tuh masih ada bekas iler nya di bibir mu itu. Jorok banget sih jadi cewek." omel Haris.


Aku langsung berdiri di depan cermin dan melihat rambut ku yang acak-acakan seperti singa. Lalu beralih melihat bagian bibir ku untuk membuktikan omongan Haris tadi.


"Mana ada sih bekas iler, bohong aja kerjaan nya." jawab ku sambil terus menatap cermin.


"Iya, bawel." gerutu ku.


Aku segera berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah selesai, aku kembali ke dalam kamar dan menyisir rambut ku. Setelah itu, aku memoles sedikit wajah dengan bedak dan lipstik.


"Udah siap, bang. Sekarang udah bisa makan belom?" tanya ku.


"Nah, gitu kan cantik, sayang. Ya udah, ayo kita makan!" ajak Haris sambil melambaikan tangan nya pada ku.


Aku kembali duduk bersila di depan Haris, dan kami berdua pun mulai memakan makanan itu dengan lahap. Selesai makan, aku duduk selonjoran menghadap jendela sambil menyalakan rokok.


Begitu juga dengan Haris, dia duduk di samping ku dan menghisap rokok yang ada di tangan nya. Pandangan ku lurus ke depan sambil sesekali menghisap rokok aku bertanya pada Haris.


"Gimana kerja nya tadi, bang?" tanya ku basa-basi.


"Alhamdulillah lancar dan tidak ada halangan apa pun, sayang." jawab Haris.


"Syukur lah kalo gitu." balas ku.


"Tadi ngomong apa aja sama ayah, Ndah? Apa ada masalah di sana?" tanya Haris penasaran.


"Gak ada, bang." jawab ku.

__ADS_1


"Jangan bohong, Ndah! Jujur aja sama abang ada apa sebenarnya?" desak Haris.


Aku bingung harus ngomong apa dengan Haris. Aku takut kalau Haris akan berpikiran yang tidak-tidak tentang ayah nanti nya. Mendingan Haris tidak usah tahu tentang masalah ku dengan ayah.


"Gak ada apa-apa, bang. Udah lah, gak usah di pikir kan lagi ya!" bohong ku.


"Oh, ya udah kalo gak mau cerita sekarang. Nanti kapan-kapan cerita ya sama abang!" balas Haris.


"Iya." balas ku singkat.


Setelah selesai tanya jawab, aku dan Haris pun terdiam sejenak. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Haris dari atas meja. Haris pun langsung mengambil ponsel nya dan menerima panggilan tersebut.


"Halo ada apa, Fer?" tanya Haris.


"Oh, oke. Bentar lagi aku cek kesana!" jawab nya.


Setelah menerima panggilan dari teman nya yang bernama Ferdi, Haris kembali meletakkan ponsel nya di atas meja.


"Ada apa, bang?" tanya ku.


"Gak ada apa-apa, cuma masalah kecil aja kok." jawab Haris santai.


"Iya, tapi masalah kecil nya itu apa?" tanya ku makin penasaran.


"Yang punya ruko minta di buat kan kolam ikan di tanah sisa yang ada di samping tembok sebelah kiri." jelas Haris.


Karena mendengar desakan ku akhirnya Haris menjelaskan tentang percakapan nya dengan Ferdi tadi. Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan nya.


"Oh, kirain apa an. Ya udah sana lah berangkat, tadi kata nya mau ngecek kesana!" ujar ku.


"Iya, Ndah. Abang kesana dulu ya!" jawab Haris.


"Iya, bang. Hati-hati di jalan ya. Ingat, ada hati yang menanti kepulangan mu disini!" balas ku sambil tersenyum manis pada nya.


"Iya, sayang. Ya udah, abang berangkat sekarang ya." pamit Haris.


"Iya, bang." jawab ku.


Haris memeluk dan mencium kening ku dengan lembut dan mesra. Aku pun membalas pelukan hangat nya dan menenggelamkan wajah ku di dada nya. Beberapa saat kemudian Haris pun mulai merenggang pelukan nya.


Sebelum Haris berjalan ke pintu, aku sempat kan untuk mencium punggung tangan nya secara takzim. Setelah itu, Haris pun mulai melangkah kan kaki nya ke luar kamar.


Dia menuruni anak tangga satu persatu, untuk menuju ke lantai satu dan terus melangkah ke parkiran mobil nya.


Sesampainya di dalam mobil, Haris langsung menyalakan mesin kendaraan roda empat nya dan melajukan nya perlahan ke jalan raya.


Setelah kepergian Haris, aku kembali rebahan di atas kasur. Pikiran ku kembali tertuju kepada ayah yang meminta uang lagi pada ku.


"Kalau ayah terus-menerus meminta uang seperti ini, kapan aku bisa nabung nya?"

__ADS_1


Gumam ku sambil memejamkan mata. Aku kembali beristirahat untuk stok bergadang nanti malam.


Berhubung pekerjaan ku itu sangat melelahkan jiwa dan raga. Jadi aku harus banyak-banyak istirahat sebelum memulai pekerjaan itu kembali.


__ADS_2