Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Ajakan bang Hendra


__ADS_3

Setelah kepergian bang Hendra, aku segera beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku kembali membersihkan diri, akibat ulah nakal bang Hendra.


Selesai dengan urusan kamar mandi, aku kembali ke dalam kamar, dan merapikan kasur yang berantakan dan acak-acakan. Setelah semua nya beres, aku mulai membuka satu persatu bungkusan yang di bawa bang Hendra tadi.


"Waaahh, enak nih." gumam ku girang.


Aku membuka kotak nasi ayam bakar, dan jus jeruk. Setelah makanan dan minuman itu terhidang di atas lantai, aku langsung memakan nya sampai habis tak bersisa.


Selesai makan, aku duduk bersandar di tepi kasur sembari menyalakan rokok. Aku menatap ke arah jendela dengan tatapan menerawang.


Aku mengingat kembali kejadian bersama bang Hendra. Hingga tanpa sadar, aku sampai tersenyum-senyum sendiri karena khayalan ku itu.


"Loh, kok aku jadi mikirin bang Hendra terus sih. Udah mulai korslet kayak nya otak ku ini."


Aku menggerutu, sembari mengetuk-ngetuk pelan kepala ku sendiri.


"Ternyata, bang Hendra pandai juga memanjakan tubuh ku. Aku jadi merinding, kalau mengingat permainan panas tadi." gumam ku.


Aku kembali menghisap rokok, dan menghembuskan asap nya ke udara dengan kasar.


"Kalau Haris tau, kira-kira dia marah gak ya? Apa lebih baik aku jujur aja ya sama dia. Biar dia tau, kalau aku sudah berhubungan dengan lelaki lain selain dia."


"Tapi kalau aku jujur, aku gak tega menyakiti hati Haris. Dia pasti akan sangat terluka, jika mengetahui kalau aku sudah mengkhianati nya." gumam ku lagi.


"Ah, lebih baik diam-diam aja lah. Kalau aku bungkam, Haris pasti gak bakalan tau tentang hubungan ku dengan bang Hendra."


Aku terus saja berperang dengan isi kepala ku sendiri. Aku bingung dengan cinta segitiga yang sedang aku jalani saat ini.


"Harus kah aku memilih satu di antara mereka? Atau, aku jalani saja dua-duanya?" batin ku.


Di tengah kegalauan hati ku itu, tiba-tiba ponsel ku berdering di atas meja, yang berada tepat di samping ku.


Kring kring kring...


"Hadehh, siapa lagi sih! Ganggu orang lagi ngayal aja." gerutu sembari melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Haris, kira-kira ada apa ya dia menghubungi ku?"gumam ku dengan kening yang mengkerut.


"Halo, assalamualaikum." salam ku.


"Wa'laikum salam, lagi ngapain, Ndah? Udah makan belum?" tanya Haris.


"Udah, bang. Baru aja siap, abang sendiri udah makan belum?" tanya ku balik.


"Udah, sayang. Abang udah makan barusan sama si Ferdi." jawab Haris.

__ADS_1


"Oh, syukur lah kalau sudah." balas ku.


"Beli makanan dimana tadi, Ndah? Pergi keluar, atau pesan di online?" tanya Haris.


"Pesan di online, bang. Aku lagi malas keluar, badan ku capek banget rasa nya." bohong ku.


"Oh, gitu. Ya udah, abang mau lanjut kerja lagi ya, Ndah. Assalamualaikum," pamit Haris.


"Iya, bang. Wa'laikum salam." balas ku.


Setelah panggilan berakhir, aku merebahkan diri di atas kasur, dan menatap langit-langit kamar sambil tersenyum. Aku kembali merenung tentang bang Hendra. Bayangan wajah nya selalu mengganggu pandangan ku.


"Ada apa dengan hati ku ini? Apakah aku mulai jatuh cinta pada bang Hendra? Kenapa wajah nya selalu saja menghantui pikiran ku?" batin ku.


Sedang asyik merenung, ponsel ku pun kembali memekik kuat di atas meja.


"Lama-lama ku banting juga ni ponsel. Dari tadi kok berisik terus, gak bisa lihat orang tenang apa?"


Aku mengumpat sembari duduk menyandar di dinding. Lalu aku kembali menerima panggilan, tanpa melihat nama di layar ponsel yang sedang menyala itu.


"Ya halo, assalamualaikum." salam ku dengan nada malas.


"Wa'laikum salam, Indah sayang." jawab si penelepon.


Mata ku langsung membulat, mendengar suara yang tidak asing di telinga ku.


Aku reflek melihat layar ponsel, dan ternyata memang benar. Panggilan itu dari bang Hendra, orang yang aku pikir kan sedari tadi.


"Ada apa, bang?" tanya ku.


Aku berpura-pura cuek pada bang Hendra, padahal di dalam hati lagi berdebar-debar tidak karuan, karena mendengar suara nya.


"Makanan yang abang bawa tadi, udah di makan belum, sayang?" tanya bang Hendra.


"Udah, makasih ya, bang. Jadi ngerepotin." balas ku basa-basi.


"Gak ngerepotin kok, sayang. Abang malah senang, karena dirimu mau memakan makanan dari abang. Tadi nya abang pikir, makanan dari abang itu bakalan di buang." ujar bang Hendra.


"Ya gak lah, bang. Mana mungkin aku membuang-buang makanan." jawab ku.


"Ya, siapa tau, Ndah." lanjut bang Hendra.


"Gak ada alasan untuk aku menolak makanan seenak itu, bang. Lagian, emang nya makanan dari abang kenapa? Apa ada racun nya, ya?" canda ku.


"Hahaha, ya gak mungkin lah, Ndah. Aneh-aneh aja pertanyaan mu itu." gelak bang Hendra.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar suara tawa bang Hendra, yang tampak senang dengan candaan ku barusan. Setelah beberapa saat hening, bang Hendra pun kembali membuka suara nya.


"Nanti malam kerja gak, Ndah?" tanya bang Hendra.


"Kerja, bang. Emang kenapa?" tanya ku penasaran.


"Abang ada niat mau ngajak teman-teman abang, buat minum di tempat kerja mu, Ndah." jawab bang Hendra.


"Oh gitu, ya udah datang aja lah, bang! Biar aku temani nanti."


"Beneran ya, Ndah? Awas kalau bohong, abang gak mau di temani cewek lain, selain dirimu, sayang." goda bang Hendra.


"Iya, bang. Aku janji, aku yang akan menemani abang minum nanti malam." jawab ku.


"Tapi, kita minum nya jangan di ruangan bawah ya, Ndah!" ujar bang Hendra.


"Lah, trus mau nya dimana?" tanya ku bingung.


"Di VIP room aja, Ndah. Abang lebih nyaman kalau minum di sana. Kita gak terganggu sama tamu-tamu lain nya." jawab bang Hendra.


"Oh, oke lah. Terserah abang aja mau dimana." jawab ku.


"Serius nih, terserah abang mau minum dimana?" tanya bang Hendra.


"Iya, serius. Terserah abang mau minum di mana. Aku ngikut aja." jawab ku.


Bang Hendra terdiam sejenak, begitu juga dengan ku. Aku juga terdiam, aku menunggu sampai bang Hendra bersuara kembali.


"Hmmmm, kalau abang ajak minum di dalam hotel, kira-kira dirimu mau gak, Ndah?" tanya bang Hendra dengan nada ragu.


Degh...


Dada ku langsung berdebar-debar mendengar keinginan bang Hendra. Aku menelan ludah dengan kasar, dan kembali menatap layar ponsel, yang masih terhubung dengan bang Hendra.


"Hmm, aku...aku..."


Aku menggantung kata-kata ku. Aku masih bingung, harus menjawab apa pada bang Hendra.


"Kenapa diam, Ndah? Gak mau ya? tanya bang Hendra lagi.


"Eh bukan gitu, bang. Iya, aku mau." jawab ku sembari menggigit bibir bawah ku.


"Yes, makasih ya, Ndah. Ya udah kalo gitu, sampai jumpa nanti malam ya. Bye, Indah ku sayang." pamit bang Hendra menutup panggilan nya.


Setelah panggilan terputus, aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja. Kemudian, aku merebahkan diri di atas kasur sembari bergumam...

__ADS_1


"Aduuuh, kenapa tadi aku jawab iya, sih. Kalau aku di ajak ke hotel beneran, gimana coba? Kalau sampai Haris tau, bisa gawat urusan nya."


Aku mengacak-acak rambut, dan menghentak-hentak kan kedua kaki ku di atas kasur.


__ADS_2