Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Masih Bersama Bang Rian


__ADS_3

Tanpa terasa hari pun sudah mulai terang. Setelah beristirahat selama beberapa jam, aku pun mulai membuka mata perlahan.


"Lah, udah terang rupanya." gumam ku sembari melihat samar-samar ke arah jendela kamar hotel.


Aku menguap dan mengucek-ngucek mata, yang masih terasa berat dan perih karena masih mengantuk.


Setelah pandangan ku mulai normal kembali, aku menoleh ke samping dan memandangi wajah tampan, yang sedang tertidur pulas di sebelah ku.


Tangan kekar nya masih saja setia melingkar di atas perut ku, dan hembusan nafas nya pun terasa hangat menerpa pipi kanan ku.


Saat hendak menggeser kan tangan bang Rian secara perlahan, tiba-tiba dia terbangun dan semakin mengeratkan tangan nya di perut ku.


"Hayo, mau kemana?" tanya bang Rian sembari tersenyum sumringah kepada ku.


"Loh, kok abang udah bangun? Perasaan tadi aku lihat mata nya masih merem." balas ku heran.


"Sebenarnya abang udah terbangun duluan dari tadi. Abang lihat kamu masih nyenyak banget tidur nya. Abang jadi gak tega mau bangunin nya." jelas bang Rian.


"Maka nya abang pura-pura tidur aja, sampe kamu bangun sendiri." lanjut bang Rian.


"Hah, jadi abang tadi lihatin aku tidur ya?" tanya ku sembari membelalakkan mata.


Aku merasa sangat malu, bila ada orang yang memperhatikan ku saat tidur, apa lagi orang itu adalah laki-laki.


"Jangan-jangan aku tidur nya ngiler lagi. Aduh, malu nyaaaa." batin ku sembari menenggelamkan wajah ku di dalam selimut.


"Ada apa, Ndah? Kok muka nya di masukin ke dalam selimut?" tanya bang Rian.


Dia terlihat bingung melihat tingkah aneh ku itu. Karena tidak ada jawaban dari ku, bang Rian pun langsung menyingkirkan selimut dan membuang nya ke lantai.


Sehingga terpampang lah tubuh polos kami berdua dengan jelas, di bawah sinar lampu kamar yang sangat terang benderang.


Bang Rian tersenyum menyeringai, karena melihat pemandangan indah yang ada di depan mata nya.


Begitu juga dengan ku, mata ku langsung terbelalak lebar saat menoleh ke arah bang Rian. Dan tanpa sengaja, pandangan ku langsung tertuju pada benda keras, yang sudah berdiri tegak tepat di hadapan ku.


"Apa itu, bang? Bentuk nya kok aneh gitu." ledek ku.


Aku menggigit bibir bawah ku, sambil menunjuk ke arah benda itu dengan dagu ku.

__ADS_1


"Ini nama nya tombak kenikmatan, sayang." jawab bang Rian sembari mengelus-elus benda tersebut.


"Tombak kenikmatan?" tanya ku pura-pura bingung dengan kening mengkerut.


"Iya, sayang. Kalau sudah di tusuk dengan tombak ini, pasti bakalan ketagihan. Trus mata nya juga pasti merem melek saking enak nya." jelas bang Rian dengan senyum genit nya.


"Masa sih, bang?" tanya ku lagi.


"Iya bener, sayang. Kalo gak percaya, mari kita buktikan sama-sama! Kamu pasti bakalan ketagihan dengan tombak kenikmatan abang ini, hahahaha."


Bang Rian menjawab sambil tertawa dengan suara yang cukup memekakkan telinga.


"Helehh, modus! Bilang aja abang mau minta jatah lagi, ya kan!" cibir ku.


"Hehehe, tau aja." balas bang Rian salah tingkah.


"Tuh kan, bener dugaan ku tadi. Mau minta jatah aja kok ngomong nya pake acara muter-muter segala, bang...bang..." ledek ku.


"Ya kan maksud abang biar romantis loh, Ndah. Biar ada kesan nya pertemuan kita ini." jelas bang Rian.


"Oh iya, ada bener nya juga sih." balas ku.


"Boleh banget, bang. Apa sih yang enggak buat abang." jawab ku.


"Hmmmm, udah berani nantang abang sekarang ya!" balas bang Rian mulai mendekati ku dan merangkak naik ke atas tubuh ku.


Tanpa ba-bi-bu lagi, bang Rian pun langsung menyerang ku tanpa ampun. Dia melakukan olahraga pagi nya, dengan keringat yang mengucur deras di seluruh tubuh nya.


Setelah selesai melakukan kegiatan nya, bang Rian pun langsung merebahkan tubuh nya di samping ku, dengan nafas yang terengah-engah.


"Capek ya, bang?" tanya ku dengan nada meledek.


"Gak lah, masa gitu aja capek. Emang nya kenapa, sayang? Kamu mau minta lagi ya?" tanya bang Rian sembari mengerlingkan sebelah mata nya.


"Emang nya tenaga abang masih kuat?" tanya ku balik.


"Ya masih lah, sayang. Kalau soal beginian mah, keciiiiil. Sepuluh kali lagi pun abang masih sanggup kok."


"Apa mau abang buktikan lagi? Kalo mau, ayo kita main lagi!" jawab bang Rian panjang lebar.

__ADS_1


Dia menganggap sepele ucapan ku sambil menjentikkan jari nya di depan ku. Mata ku langsung mendelik mendengar penuturan bang Rian.


"Malas ah, ini aja badan ku masih capek kok!" balas ku sembari memanyunkan bibir.


"Hahahaha, masa tenaga anak muda kalah sama yang lebih tua sih!" sindir bang Rian.


"Ya beda lah, bang. Jangan sama rata kan tenaga perempuan dengan tenaga laki-laki. Udah pasti jauh beda lah, aneh!" balas ku sewot.


"Hehehe, iya juga ya." balas bang Rian sembari menggaruk-garuk kepala nya.


Selesai otot-ototan dengan bang Rian, aku pun bangkit dari ranjang dan duduk di sebelah bang Rian, yang masih tampak anteng dengan posisi rebahan nya.


"Jam berapa kita keluar, bang?"


Aku bertanya sambil membingkai dada bidang bang Rian dengan jari tangan ku.


Mendapat perlakuan seperti itu dari jari-jari nakal ku, bang Rian pun menggeliat-geliat kan badan nya karena merasa kegelian akibat ulah ku.


Karena sudah tidak sanggup menahan geli, bang Rian pun akhirnya menghentikan perbuatan ku. Dia menggenggam tangan ku dan menempel bibir nya di telapak tangan ku.


"Nakal sekali tangan nya ini ya. Bikin abang gelisah aja, nanti kalau tombak kenikmatan abang bangun gimana coba? Apa kamu mau tanggung jawab?" tanya bang Rian.


"Ogah ah, capek tauuuu!" tolak ku dengan nada manja.


"Kalo capek, kamu gak usah membalas. Kamu cukup diam aja di bawah, sambil memejamkan mata menikmati permainan abang. Biar abang sendiri aja yang pegang kendali." balas bang Rian.


Setelah mendengar ucapan bang Rian, aku pun berinisiatif untuk mengalihkan pembicaraan. Agar dia tidak membahas tentang masalah itu lagi.


"Emang abang gak kerja, ya?" tanya ku.


Bukan nya menjawab, bang Rian malah menggeser posisi rebahan nya. Dia meletakkan kepala nya di pangkuan ku. Setelah itu, dia pun kembali membuka suara nya.


"Hari ini abang libur, sayang." jawab bang Rian.


"Abang masih ingin bersenang-senang bersama mu. Abang masih ingin bersenda gurau dengan mu. Dan abang juga masih ingin bermanja-manja dengan mu, sayang." jelas bang Rian.


"Emang nya nanti gak ada yang nyariin, kalau abang gak pulang-pulang ke rumah?" tanya ku penasaran.


"Siapa yang mau nyariin abang?" tanya bang Rian balik.

__ADS_1


"Lah, di tanya kok malah balik nanya sih, bang!" gerutu ku sambil mengelus-elus rambut bang Rian yang ada di atas paha ku.


__ADS_2